LOGIN“Duh pantas dikekepin mulu, suamimu tambah hot saja.” Ica ingin menjejalkan sambal ke mulut temannya yang tidak ada rem ini. Di depan sana, Saka yang sudah melihatnya berjalan tenang menghampiri. Ica jadi sebel saat meihat suaminya tebar pesona kayak gitu. Sudah tadi ninggalin dia sendiri sekarang sok-sokan nyusul ke sini. “Ta, mulutnya ya minta aku sumpal sama kaos kaki.” “Duh yang cemburu suaminya tuanya punya banyak penggemar.” Ica makin cemberut saat Tata malah tertawa geli, sedangkan di depan sana Saka berjalan dengan begitu percaya diri melewati beberapa mahasiswi yang menatapnya dengan tatapan memuja. Iyalah percaya diri, bagi saka yang bahkan pernah kuliah di kampus ternama di luar negeri, kampus kecil kayak gini serasa taman bermain. kok dia jadi nyesel ya tadi mendandani suaminya sebelum mereka berangkat ke kota. Saka masih menggunakan baju yang sama dengan yang dia pilihkan kemarin. Harusnya Ica tidak meminta Saka berpakaian serapi itu saat mengantar dan menjempu
“Ayo masuk ke sana.” “Tapi, bu. Kayaknya di sana mahal-mahal.” Ica nggak polos-polos banget ya jadi orang dia tahu mana barang murah dan barang mahal. dan toko yang baru saja mereka masuki jelas kategori toko mahal. bayangkan satu buah tas yang biasanya dia beli ratusan ribu di pasar di tempat ini harganya bisa sama dengan satu buah sederhana di desa. “Sudah nggak apa-apa, barang di sini memang kualitasnya bagus.” sang ibu mertua melenggang santai sambil memperhatikan sebuah tas mungil yang bisanya digunakan para artis ke kondangan. Ica meringis. Memang sih bagi orang kota tas kayak gitu mungkin akan bernilai investasi tapi kalau di desa bisa dikatakan orang gila. “Bagaimana? baguskan?” Ica berusaha menarik sudut bibirnya saat melihat harga tas yang mertuanya bawa. “Paling tidak kamu harus punya satu tas bagus, mungkin saja istrinya Raka undang kalian ke rumahnya.” Ica jadi terdiam memang sih masuk akal kalau itu dipake ke rumah kakak Saka. Mereka pejabat pasti su
“Mas mau kemana kok sudah rapi.” Seperti di rumah Saka, di rumah mertuanya Ica juga bangun lebih awal dan membantu bi Ina membersihkan rumah dan memasak sarapan pagi, meski dia hanya bertugas mencuci dan memotong sayuran saja. Niat Ica mau kembali ke kamar yang dia tempati dengan Saka untuk mandi baru setelah itu membangunkan suaminya untuk sholat. “Pulang.” “Hah! Kok nggak bilang-bilang kalau pulang pagi buta begini.” “Mas yang pulang kamu di sini saja nanti mas jemput.” Ica terdiam, dia berusaha mengerti kalau suaminya sibuk. Tapi bukankah kemarin sudah berjanji mereka akan pulang malam sekalian mengantar Ica ke kampus. “Ada masalah di kebun?” Tanya Ica sambil membantu Saka mengemasi dompet dan ponselnya ke dalam tas kecil yang pria itu bawa. “Bukan tapi ada janji dengan seseorang.” “Balik ke sini jam berapa nanti?” “Belum tahu mungkin agak sore.”Ica terdiam, hatinya kecewa, padahal Saka sudah berjanji akan mengantarnya ke kampus setelah itu mereka akan ke perusahaan tem
“Maafin Ica ya bu, tidak menjaga ibu saat sakit kemarin, Ibu boleh marah sama Ica.” Ica menunduk dalam di depan ibu mertuanya. Wanita tua itu menatap menantunya dengan pandangan tak terbaca. Pasti marah lah, dibilang menantu tak becus, apalagi Ica berasal dari keluarga sederhana sangat berbeda jauh dengan keluarganya. Meksi ibu mertuanya menampilkan wajah biasa-biasa saja sama sekali tidak keberatan kalau dirawat orang bayaran, tapi akan lebih nyaman dengan keluarga sendiri. “Kamu memang pernah merawat orang sakit keras, Ca?” tanya sang ibu mertua. Ica terdiam sejenak, dia pernah membantu ibu merawat bapak yang masuk rumah sakit karena tipes kumat. Waktu itu hanya tiga hari karena ibu sangat telaten memperhatikan makanan yang masuk ke tubuh bapak. Selebihnya bapak beristirahat penuh selama seminggu di rumah, sedangkan urusan toko di serahkan pada orang kepercayaan bapak. Apa hal seperti itu bisa termasuk? “Maksud ibu yang sampai nggak bisa apa-apa?” tambah sang ibu lagi.
“Ibu sudah sehat, Ka. Memangnya kamu tidak kasihan pada Ica?” Tubuh Ica menegang saat tak sengaja mendengar namanya disebut. Sebenarnya setelah sampai di rumah ibu mertuanya, Ica rencananya akan meminta maaf secara khusus kepada wanita yang melahirkan suaminya itu. Suka atau tidak suka dia sebagai menantu harusnya membantu suaminya untuk merawat ibu mertuanya yang sakit, bukan malah menyerahkan sepenuhnya pada kakak sepupu Saka, yang meski sangat kompeten tapi tentu saja itu bukan kewajibannya. Saka dan kakaknya harusnya yang merawat ibu mereka, tapi karena sang kakak tinggal jauh dan pasti sangat sibuk tentu saja kewajiban itu jatuh pada Saka yang terdekat dan sebagai istri dia juga ikut wajib menjaga ibu mertuanya. Bukan Ica sok baik hati ya, tapi menurut guru ngaji Ica waktu kecil dulu seperti itu, apalagi mana tega sih Ica membiarkan orang tua mereka terlantar. Akan tetapi tidak seperti bayangan Ica sebelumnya. Begitu datang, banyak mobil mewah terparkir di halaman rumah in
Ibu mertuanya ramah dan terlihat sangat keibuan. Wanita tua itu juga sama sekali tidak menentang hubungan mereka, jadi Ica bisa tenang. Meski ya ada sedikit rasa bersalah di hati Ica karena selama menjadi menantunya hanya satu kali dia mengunjungi ibu mertuanya di rumah sakit, itupun berakhir dengan mereka diminta kembali ke rumah. “Jadi bagaimana kita akan menginap atau tidak?” tanya Ica saat mempersiapkan baju untuk dibawa ke rumah ibu mertuanya. Saka menatap Ica yang sudah mengeluarkan baju mereka dan siap mengepaknya. Sebenarnya dia mau bilang nggak usah bawa baju saja, toh di sana ada bajunya yang tertinggal dan Ica bisa meminjam baju Kak Sovia atau kalau tidak mau ya mereka bisa beli baru untuk di simpan di sana. Tapi melihat wajah sang istri yang begitu antusias, Saka jadi menelan kalimatnya lagi. Biar saja, mungkin memang ada barang-barang kesayangan yang ingin Ica pake di depan mertuanya. “Kamu mau nginap di sana?” tanya Saka. Ica mengangguk. “Sekalian aku mau bimbinga
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere







