Share

Bab 29

Author: Sya Reefah
last update publish date: 2026-02-04 23:58:06

Ekspresi Durand datar dan tenang, seolah-olah luka itu bukanlah hal besar yang harus ditakutkan. Matanya menatap cara Sora merawat lukanya.

Menepuk-nepuk lembut, bukan menggesekkan kapas di area lukanya. Setiap pergerakan itu membuat Durand bertanya, bagaimana bisa wanita itu melakukannya seperti seorang ahli.

Setahunya, Sora bukan mahasiswi jurusan kedokteran, bukan pula berasal dari keluarga dokter. Tapi bagaimana bisa gadis itu tahu bagaimana cara merawat luka-lukanya?

Hati kecilnya meron
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 48

    “Apa Durand menyulitkanmu?” Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Sora perlahan memudar. Ia tidak menyangka jika Dmitri bisa menyadari perubahan ekspresinya. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Kedua tangan Sora mengepal di samping tubuhnya. Ada banyak hal yang ia sembunyikan, tetapi mengapa pria di sebelahnya begitu peka?Apakah semua keluarga Volkov memiliki insting tajam?Sora memilih diam. Sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu ia menggeleng pelan.Dentuman kembang api masih belum berhenti, menelan keheningan di antara mereka.***Mobil mewah itu akhirnya memasuki pelataran Mansion tepat lewat tengah malam.Udara dingin menyelimuti halaman yang sunyi, suasana begitu kontras dengan hiruk pikuk kota beberapa menit yang lalu. Dan di sana, Durand duduk bersandar di bagian depan mobilnya dengan ditemani sebatang rokok di sela jarinya. Bara merah kecil di ujung itu menyala, beberapa detik kemudian asap tipis mulai mengepul di udara. Mobil it

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 47

    Makan malam usai, mereka kembali keluar dari restoran. Udara malam semakin dingin, meski begitu, jalanan Moskow semakin ramai, orang-orang mulai bergerak menuju pusat perayaan tahun baru.Semakin malam, kota akan semakin ramai. Menggunakan mobil akan membuat mereka terjebak di tengah kemacetan. Sora memperhatikan Dmitri yang hendak membuka pintu mobil, dan dengan cepat ia menahannya. "Kita tinggalkan saja mobilnya di sini."Dmitri mengerutkan kening. Ia menatap Sora dengan wajah bingungnya. "Kenapa?"Sora memahami ekspresi Dmitri. Ia sangat sadar jika ucapannya barusan terdengar sangat ambigu, tiba-tiba saja. Orang gila mana yang akan meninggalkan mobilnya begitu saja di tempat asing. "Jalanan di Moskow sangat padat di malam tahun baru," jawabnya santai. "Lebih cepat kita gunakan metro, titipkan saja mobilnya di sini sementara."Dmitri terdiam, menatap jalanan yang mulai padat, lalu kembali menatap Sora. Perlahan sudut bibirnya terangkat. “Baiklah. Aku setuju.” Dmitri kembali menyi

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 46

    Sementara di Mansion Volkov, suasana tampak sepi dan ganjil. Ruang makan yang luas itu hanya diisi dengan dentingan alat makan yang beradu dengan porselen mahal. Sementara para pelayan berdiri di setiap sudut ruangan.Hélèna meletakkan garpunya dengan dentingan keras, menunjukkan kekesalannya yang tidak bisa ditutupi. Ia menatap kursi kosong di seberang, milik Durand. "Bahkan malam tahun baru pun dia tidak pulang walau hanya untuk makan malam," gerutunya, nada suaranya dipenuhi ketidaksenangan. "Kesibukannya seperti menelan sisi manusianya!"Viktor yang duduk di ujung meja menyesap red wine dengan tenang. Ekspresinya jauh lebih tenang, meski sang istri dalam suasana hati kesal. "Durand sedang mengurus logistiknya yang memang sangat sibuk, Hélèna. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya logistik di akhir tahun seperti ini," balas Viktor datar. “Itu karena kau membebankan semuanya padanya!” Viktor menghela napas panjang. “Bukankah sama saja dengan Dmitri yang mengurus bisnis di Paris?”

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 45

    Langit sudah gelap sepenuhnya. Kini, jalanan dipenuhi lampu-lampu hias yang menggantung sepanjang jalan, memantul di permukaan salju. Orang-orang berjalan cepat, membungkus diri mereka dengan mantel tebal dan syal. Moskow akan tampak terlihat lebih hidup ketika menjelang tahun baru. Mereka akan berbelanja, membawa kantong belanja penuh makanan menyambut tahun baru. Suasana di dalam mobil hening. Namun, Sora merasa tidak ada tekanan seperti biasanya. Jalanan yang cukup padat membuat arus perjalanan mereka sedikit terganggu. Dmitri sesekali melirik ke arah Sora. Waktu sudah menunjukkan makan malam. Harusnya, makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat."Harusnya kita makan malam dulu sebelum berkeliling," ucap Dmitri sambil mendengus kesal. Ia menoleh ke arah Sora, menunjukkan senyum santai, kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan sesuatu, Sora?"Sora menoleh. "Aku ikut saja." Baginya, makan apa saja tidak ada bedanya. "Kau yang lebih tahu banyak tentang Moskow, Sora. Aku tidak

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 44

    Pagi di kediaman Volkov terasa sangat dingin, hingga menusuk tulang. Sora terbangun dengan perasaan ringan. Setelah rentetan zachyot—ujian kualifikasi yang menguras tenaga—akhirnya tuntas, meski ujian akhir di bulan Januari nanti sudah menantinya. Setidaknya, selama dua hari ini ia terlepas dari buku-buku tebalnya. Sora memilih untuk mengurung diri dalam kamar yang luas dan dingin. Sesekali keluar hanya untuk keperluan mendesak saja.Suasana di bawah mulai riuh dengan persiapan tahun baru. Para pelayan berlalu lalang, dan aroma khas pohon pinus mulai tercium. Namun, bagi Sora, kamar adalah tempat paling aman dari tatapan mata-mata Durand yang selalu membuatnya merasa seperti buronan yang harus diawasi. Mata-mata, pembangkang, adalah julukan yang selalu Durand tanamkan pada dirinya. Ketika sore tiba, Sora duduk di depan jendela, menatap butiran salju yang turun. Salju itu menutupi semua halaman, seperti kain putih yang membentang. Jauh dari tembok Mansion, suara tawa dan dan musi

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 43

    Satu jalur pelabuhan dipindahkan untuk menghindari pemeriksaan internasional. Beberapa pengiriman dialihkan ke terminal lain agar lebih aman. Sementara itu, jalur darat diperketat untuk memastikan tidak ada gangguan dari para rivalnya. Durand mengawasi semuanya dengan ketelitian. Layar besar di depannya menampilkan laporan keluar masuk dari berbagai wilayah. Baltik, Laut Hitam, hingga jalur distribusi Eropa Tengah. Bukan hanya itu, perusahaan logistiknya menjadi penghubung wilayah Asia-Eropa. Beberapa pesan datang dari orang yang tidak terdaftar di dokumen resmi. Durand membacanya tanpa bersuara, hanya sesekali memberikan perintah yang langsung dijalankan. Kesibukan ini hingga berhari-hari. Bahkan malam tiba, kantor tidak pernah tidur. Dokumen terus berganti di mejanya. Laporan kontrak, laporan pengiriman, hingga catatan operasi dunia bawahnya yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Stepan bahkan keluar masuk membawa pembaharuan laporan yang terjadi di lapangan. Dalam k

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 18

    Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meres

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 17

    Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 14

    Sora tak langsung menjawab. Ia tetap berdiri di tempatnya, wajahnya tenang, tampak tak seperti berusaha menenangkan suasana hatinya. Tak ada rasa takut yang biasanya muncul ketika Durand meninggikan suaranya. “Apa aku perlu mengingatkanmu lagi siapa dirimu?” Durand memandang Sora dengan rahang men

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 12

    Sora berusaha mengotak-atik lubang kunci itu dengan penuh harap, menekan dan memutarnya sebisanya, hingga terdengar bunyi ‘ceklek’ di tengah kesunyian.Ia tersenyum kecil, ia yakin usahanya berhasil. “Kenapa tidak kulakukan saja ini sejak semalam.”Tanpa ragu, Sora menarik gagang pintu dan membukany

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status