ANMELDENTerima kasih. Tolong tinggalkan ulasan, like, bintang dan komentar ya. Terima kasih banyak. Muaach.
Keluarga Jordan sedang dalam masa pemulihan. Perusahaan yang kembali stabil karena dilepaskan oleh Sean atas permintaan Aisyah.“Kita tidak bisa bertemu Aisyah, tetapi berkat dia Sean membebaskan kita dari hukuman,” ucap Jordan di ruang makan keluarga. Mereka semua berkumpul termasuk juga Maria.“Pa, apa aku tetap bisa menjadi putri kalian?” tanya Maria sedih.“Tentu saja, Sayang. Kamu adalah putri kami.” Leana membelai rambut Maria.“Terima kasih, Ma. Aku tidak tahu harus pergi kemana jika kalian mengusir ku dari rumah ini.” Maria memeluk Leana.“Tidak akan ada yang mengusir kamu, Maria. Kamu sudah menjadi keluarga ini selama sepuluh tahun. Kami tidak akan sekejam itu membuang kamu,” ucap Noah.“Terima kasih, Kak.” Maria tersenyum manja.“Tetaplah seperti Maria yang dulu. Jalani kehidupan dengan tenang dan bahagia. Lupakan Sean karena dia juga berbahaya,” sambung David.“Iya, Kak. Sean sangat mengerikan. Dia mengurungku di penjara bahwa tanah yang kotor dan lembab. Itu sangat menakut
Paman Rome langsung menghubungi James untuk memberitahu tentang Sean yang telah memeluk Islam dan keluarga Jordan yang menipu mereka.“Apa?” James sangat marah. Dia memang tidak menyukai keluarga Jordan dari sejak istrinya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan yang memang sudah direncanakan.Kebencian James pada Jordan karena mereka tidak berusaha menolong istrinya yang terjebak di dalam mobil dan mengalami pendarahan. Jika waktu itu Jordan dan Leana membawa Sonia ke rumah sakit. Dipastikan ibu Sean dan bayi dalam kandungan dapat diselamatkan.“Mereka penyebab kematian istri dan putriku!” James mengepalkan tangannya dan memutuskan panggilan.“Jordan, aku membiarkan kalian tetap hidup tenang karena Sean yang jatuh cinta pada Maria, tetapi kalian berani menipu keluarga kami!” James terlihat jelas sangat murka.“Akan aku balas kalian semua!” James menghubungi asisten Sonia. Orang-orang yang siap balas dendam atas kematian Nyonya mereka.“James,” sapa Jack melihat James yang murka denga
Sean masih rebahan di kasur. Pria itu tidak benar-benar istirahat. Dia memeriksa pesan dan juga rekaman cctv yang ada di rumah. Memastikan Aisyah tidak lari.“Jaga senjata kamu jangan asal Gerak atau apalah itu. Kamu tidak mau kan aset terpenting rusak?” Leon membuka tirai tempat tidur Sean.“Tentu saja aku akan menjaganya. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang dapat merugikan diriku dan Aisyah.” Sean tersenyum.“Aku rela menunggu berapa pun lamanya,” ucap Sean.“Tidak perlu berlama-lama. Kamu bisa menikahi Aisyah segera, tetapi belum boleh malam pertama,” jelas Leon.“Aku akan menikahi Aisyah di hari Jumat di masjid Agung Roma. Jadi, seminggu lagi.” Sean turun dari kasur.“Aku pulang dulu.” Sean keluar dari klinik.“Tuan, apa Anda baik-baik saja?” tanya Elio khawatir.“Apa yang tidak baik? Mereka hanya membuang sedikit kulit di bawah sana. Itu membuat milikku lebih gagah. Benar-benar berbeda dan aku suka,” jawab Sean masuk ke dalam mobil.“Maksudnya bagaimana?” Elio bingung.“Apa y
Aisyah terlihat gelisah. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Sean telah menjadi mualaf. Itu artinya mereka berdua akan segera menikah. Dia memalingkan wajahnya menghindari sang tunangan.“Aku tumbuh besar bersama Kak Khaled selama sepuluh tahun, tetapi menikah dengan Sean yang baru saja bertemu setelah sepuluh tahun.” Aisyah berbicara di dalam hati.“Apa yang kamu pikirkan, Aisyah?” tanya Sean dan tidak ada jawaban karena wanita itu sedang melamun. Pikirannya ada di Kairo. Rasa rindu pada keluarga angkat dan khawatir dengan kondisi Khaled yang terluka terakhir kali mereka bertemu.“Aisyah!” Sean menarik tangan Aisyah hingga wanita itu hampir jatuh ke dalam pelukannya. Mata mereka bertemu dalam diam dan bingung. Cadar Aisyah tersingkap beberapa detik dan kembali ke tempat semula.“Kenapa kamu melamun, Aisyah? Aku sudah bertanya dan tidak mendapatkan jawaban.” Sean menatap tajam pada Aisyah. Dia menyelami bola mata hijau yang tenang.“Tidak ada,” jawab Aisyah gugup.“Cantik. Dia sangat
Para pemuka agama Islam telah menunggu Sean di depan pintu. Mereka benar-benar bahagia menyambut kedatangan hamba Allah yang baru. Seorang tanpa agama menemukan hidayahnya melalui cinta dan obsesi pada Aisyah.“Nona, Anda bisa ke ruangan sebelah khusus wanita,” ucap seorang perempuan.“Kita tetap bisa mengikuti prosesinya,” jelas wanita itu.“Ya.” Aisyah mengikuti para wanita menuju pintu samping khusus perempuan.Sean duduk bersama dengan para pemuka agama. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam.“Tuan Sean, kami akan menjelaskan tentang prosesi menjadi seorang muslim. Apa boleh?” tanya seorang pemuka agama.“Silakan,” jawab Sean.“Apa yang membuat Anda mau memeluk agama Islam?” tanya pria dengan pakaian serba putih.“Cinta,” jawab Sean jujur.“Cinta?” Lelaki itu tersenyum.“Ya. Aku mencintai seorang wanita yang beragama Islam sehingga aku harus menjadi seorang muslim agar bisa menikahinya,” jelas Sean menoleh pada Aisyah yang berada di sudut ruangan.“Tuan Sean. Anda haru
Ruangan hening. Sean hanya tersenyum dan memandangi Aisyah. Di matanya, wanita itu adalah gadis kecil yang menggemaskan.“Aku sudah tidak sabar ingin membuka cadar dan mencium bibirnya.” Pikiran Sean sangat nakal. Dia sudah menahan diri dari sepuluh tahun yang lalu. Pria itu seakan tahu bahwa Maria akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas sehingga membuatnya ingin memiliki Maria dari sejak dulu. “Pilihanku tidak pernah salah. Dia benar-benar menjadi wanita yang cantik dan cerdas. Pandangan pertama tidak pernah mengecewakan.” Sean terus menatap Aisyah sehingga wanita itu harus mengalihkan pandangan dan mengalah.“Besok aku akan pergi untuk memeluk agama Islam. Apa kamu mau ikut?” tanya Sean menyenderkan tubuhnya ke sofa dan membuka buku.“Ya,” jawab Aisyah cepat. Wanita itu ingin melihat dunia luar karena sudah cukup lama terpenjara di istana milik Sean. “Baiklah.” Sean mengangguk.“Apa kita bisa langsung menikah di hari itu?” tanya Sean menutup buku.“Tidak. Ada beberapa pros