LOGINTerima kasih. Semoga suka.
Aisyah tidak mendapatkan izin lagi keluar dari rumah. Sean tahu bahwa istri sedang dicari banyak orang gara-gara kecelakaan itu.“Apa kamu akan mengurung aku lagi?” tanya Aisyah pada Sean yang berada di ruang kerja. Pria itu dengan mudah pulih.“Untuk sekarang, kamu tidak boleh keluar rumah. Kejadian di atas jembatan benar-benar viral. Semua orang membicarakan kamu,” jelas Sean.“Aku merahasiakan bahwa Aisyah adalah istriku agar dia tidak menjadi sasaran musuh-musuhku.” Sean menatap Aisyah yang hanya diam.“Maaf,” ucap Aisyah lembut.“Sayang, apa kamu marah?” Sean bingung dengan permintaan maaf Aisyah karena dia tahu bahwa istrinya tidak bersalah.“Tidak. Kenapa aku marah?” tanya Aisyah tersenyum.“Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun,” tegas Sean.“Aku minta maaf karena telah membuat suamiku khawatir.” Jari-jari lembut Aisyah menyentuh pipi Sean. Dia duduk di pangkuan sang suami.“Tidak, Sayang. Kamu tidak perlu minta maaf. Aku terlalu mencintai kamu
Sean benar-benar khawatir dengan posisi istrinya yang juga mungkin menjadi incaran Barron. Pria yang memiliki status cukup kuat untuk melawan dirinya. Seorang putra kesayangan presiden Amerika. “Sayang, apa kamu akan kembali lagi ke rumah sakit?” tanya Sean memperhatikan Aisyah yang sedang berganti pakaian di depannya. Wanita itu mengenakan piyama tidur yang cantik dan cukup seksi.“Siapa beli piyama ini?” Aisyah tersenyum melihat dirinya depan cermin.“Aku, Sayang. Itu hanya dipakai di dalam kamar. Tidak boleh keluar,” tegas Sean.“Sayang, aku tidak terbiasa pakai baju seksi.” Aisyah ingin melepas gaun malam yang disiapkan sang suami.“Jangan lepas, Sayang.” Sean hampir turun dari tempat tidur, tetapi Aisyah segera mendekati suaminya.“Kamu harus istirahat, Sayang. Jangan paksakan diri,” ucap Aisyah.“Aku tidak mengenakan pakaian seksi agar siap setiap saat dalam situasi dan kondisi apa pun. Pakaian panjang akan melindungi diriku,” jelas Aisyah.“Bagaimana jika terjadi gempa atau ser
Aisyah dan Sean duduk berdua di sofa. Mereka berpelukan sambil melihat layar tab. Pasangan suami istri itu menunggu Noah yang sedang mengurus kepulangan.“Permisi.” Pintu ruangan diketuk. Sean dan Aisyah menoleh bersama dengan tetap duduk bersama dengan mesranya.Sean segera memasang cadar di wajah Aisyah. Pria itu menutupi kecantikan sang istri. Tidak peduli di depan pria atau pun wanita. “Siapa?” tanya Sean menatap tajam pada dokter wanita yang sudah membuka pintu.“Kami mau menjemput dokter Aisyah.” Edo segera masuk dan menyingkirkan dokter wanita.“Untuk apa?” Sean menarik Aisyah duduk di pangkuannya.“Tuan Barron ingin bertemu dengan dokter Aisyah untuk berterima kasih,” ucap Edo memperhatikan Sean.“Tidak perlu. Istri saya memang suka menolong orang yang terluka. Dia tidak butuh ucapan terima kasih dan juga uang karena suaminya sangat kaya.” Sean tersenyum.“Kamu ini.” Aisyah mencubit hidung Sean dan beranjak dari pangkuan sang suami.“Sayang.” Sean terkejut melihat Aisyah yang
Aisyah hanya diam saja dan merawat serta membersihkan tubuh Sean. Wanita itu menggantikan pakaian sang suami dengan yang baru. Dia tidak pergi ke ruangan Barron. Baginya pasien VIP bukanlah prioritas karena pasti ada banyak tim dokter dan perawat yang membantu pria kaya itu dalam segala hal. “Apa kamu marah?” tanya Sean.“Kenapa marah?” Aisyah balik bertanya dan tersenyum.“Kemarilah.” Sean melepaskan cadar Aisyah. Dia melahab bibir sang istri dengan lembut. Mencium pelan dan bergairah.“Aku merindukan kamu. Kapan kita pulang ke rumah?” tanya Sean menyentuh bibir Aisyah dengan jari jemboplnya.“Setelah rumah sakit ini tenang. Sekarang tenaga medis sangat dibutuhkan karena terlalu banyak korban jiwa,” jelas Aisyah.“Apa kamu mau ke ruangan pasien VIP?” Sean menatap Aisyah. Dia tidak mau sang istri marah padanya karena larangan ke kamar Barron.“Tidak. Biarkan pihak rumah sakit yang mengurus mereka. Aku hanya akan membantu pasien biasa yang mungkin tidak memiliki tunjangan kesehatan,” j
Ruangan menjadi hening. Semua mata melihat pada Sean. Mereka sedikit takut pada pria yang sedang terluka dan kalah dengan Aisyah. Dia menjadi penurut.“Aku harus ke perusahaan.” David segera keluar.“Papa juga. Sean, kamu istirahat yang cukup. Semoga cepat pulih.” Jordan tersenyum pada Sean dan menyusul David.“Kak Sean, bagaimana kondisi kamu?” tanya Maria mendekati Sean.“Menjauh dariku!” Sean menatap tajam pada Sean.“Maria.” Leana menarik tangan Maria agar menjauh dari Sean. Dia tidak mau membuat suami Aisyah marah dan menghancurkan mereka semua.“Leon, ikuti Aisyah dan kamu harus selalu berada di dekatnya. Lindungi dan jaga dia dengan nyawa kamu!” perintah Sean pada Leon.“Baiklah.” Leon melihat pada Elio yang duduk di sofa.“Aku keluar dulu.” Leon keluar dari ruangan. Pria itu segera menyusul Aisyah dan Noah. Dia masuk dalam tim kerja istri Sean. “Elio, apa yang kamu dapatkan?” tanya Sean. “Seorang memang masuk ke ruangan ini. Dia mengenakan pakaian dokter dan menutup wajah den
Pria itu menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Aisyah. Dia menatap wajah lelah yang tenang dalam tidur.“Aisyah, aku menginginkan kamu,” ucap pria dengan wajah ditutupi masker.“Aisyah.” Pintu kamar diketuk.“Apa?” Pria itu keluar dari jendela dan bersembunyi di balik dinding. “Sean,” sapa Noah mendekati Sean yang berdiri di depan pintu.“Apa kamu meninggalkan Aisyah di kamar sendirian?” tanya Sean.“Aku mengambil sarapan untuknya. Dia sangat lelah.” Noah membuka pintu dan Sean segera masuk. Pria itu hampir membuat sang kakak ipar terjatuh. “Aisyah. Kamu selalu begini. Itu juga yang menjadi alasanku melarang kamu menjadi dokter.” Sean mencium dahi Aisyah.“Hm.” Aisyah membuka mata dan melihat wajah tampan Sean.“Bagaimana luka kamu?” tanya Aisyah tersenyum. “Aku tidak apa-apa, tetapi sangat tersiksa karena menahan rindu.” Sean duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.“Kursi siapa ini? Apa ada yang berkunjung?” Sean benar-benar sangat waspada.“Siapa yang berani ber
Aisyah terdiam menatap Sean yang bersikap lembut padanya. Pria itu bahkan membeli ponsel baru dan memberikan nomor keluarga kandungnya.“Aku akan ke ruang kerja.” Sean meninggalkan Aisyah di ruang tengah. Pria itu pergi bersama Elio.“Mm.” Aisyah melihat Sean yang pergi begitu saja. Itu cukup membua
Sean memandangi pungkung Aisyah. Pria itu menghela napas dengan berat. Di usia tiga puluh tahun, dia benar-benar tidak memiliki pengalaman mendekati wanita mana pun.“Kenapa Aisyah? Apa kamu membenciku? Kamu harus mencintaiku, Aisyah.” Sean keluar dari kamar Aisyah.“Apa dia benar-benar telah membun
Mobil Jordan dan David telah tiba di rumah Sean. Dua kendaraan mewah itu parkir di depan halaman yang luas. Aisyah melihat dari kamarnya. Dia memperhatikan seorang wanita dan tiga pria yang keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.“Apa mereka keluargaku?” tanya Aisyah duduk di dinding balkon. Wanita i
Aisyah duduk di dalam helicopter. Di sampingnya ada Sean. Wanita itu hanya diam saja. Gaun putihnya ada percikan darah dari pelayan yang ditembak. Dia memalingkan wajah dari pria di sebelahnya.“Kamu memang sudah bertunangan denganku sejak usia sepuluh tahun,” ucap Sean menoleh pada Aisyah.“Tidak m







