INICIAR SESIÓNAisyah sendirian mengobati para penumpang dan kru pesawat. Dia memeriksa semua orang baik itu para penjahat.
“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Pria itu menembaki mereka tepat di jantung. Benar-benar ahli.” Aisyah melihat pada Sean yang rebahan di lantai pesawat.
“Rena! Bangun Rena!” Pramugari menangis memeluk rekannya yang telah meninggal dunia akibat tebakan penjahat.
“Tenangkan diri kamu. Kita harus memikirkan yang masih bisa diselamatkan. Doakan dia tenang.” Aisyah menenangkan pramugari yang kehilangan rekan kerja.
“Dokter.” Pramugari menangis tersedu-sedu memeluk Aisyah. Tubuh mereka benar-benar lemas melihat darah yang bersimpah di badan teman dan lantai serta kursi pesawat.
“Apa kamu sudah menghubungi tim penyelamat?” tanya Sean.
“Sudah, Tuan. Kita harus berhati-hati. Takutnya musuh datang lebih dulu.” Elio membantu Sean duduk.
“Di mana wanita tadi?” Sean melihat sekeliling.
“Dia sedang membantu persalinan wanita hamil di balik kursi belakang,” jawab Elio melihat sekeliling. Pria itu harus waspada untuk melindungi tuannya.
“Apa masih ada yang selamat?” Sean menyandarkan tubuhnya di kursi.“Ada. Para kru dan seorang ibu hamil,” jawab Elio.
“Oek! Oek!” Suara tangis bayi di keheningan malam. Semua terdiam menyambut kelahiran kehidupan baru di tengah badai dan hutan belantara serta puing-puing pesawat yang berantakan.
“Terima kasih, Dokter Aisyah.” Wanita itu menangis memeluk tangan Aisyah.
“Ini adalah kehendak Tuhan. Saya hanya pelantara saja.” Aisyah tersenyum.
“Bayi yang cantik.” Para pramugari ikut bahagia melihat bayi perempuan yang baru lahir. Air mata sedih dan haru menyatu menjadi satu.
“Apa kita bisa bertahan di dalam pesawat? Atau keadaan akan lebih bahaya?” tanya Aisyah pada pilot yang baru saja datang. Tangan pria itu patah karena berusaha menjaga keseimbangan pesawat.
“Pak. Ada sinyal bebahaya,” ucap copilot berlari.“Apa?” semua orang terkejut. Rasa takut yang baru saja hilang kini datang lagi. Mereka hanya tinggal beberapa orang saja. Pilot dan copilot. Dua pramugari, ibu dan bayi yang baru lahir. Aisyah, Sean dan Elio.
“Kita sudah menyiapkan perlengkapan darurat ketika terdampar. Siapkan semuanya. Kita buatkan tenda agak jauh dari bangkai pesawat!” perintah Matteo.
“Kita harus membawa ibu yang baru melahirkan dengan tempat tidur darurat,” ucap Aisyah.
“Kami akan mempersiapkannya.” Dua pramugari segera membuka pintu bagasi dan kabin. Mereka mencari alat bantu untuk membawa pasien.
“Ayo Elio. Kita harus membantu mereka,” ucap Sean.“Tuan. Anda terluka.” Elia menahan tubuh Sean agar tetap duduk di pesawat.
“Kita juga harus keluar dari pesawat,” tegas Sean.
“Baik, Tuan.” Elio ingin membantu Sean, tetapi pria itu menolak. Dia tidak terlihat lemah sama sekali.
“Semuanya. Kita harus meninggalkan pesawat dan mencari tempat berlindung yang lebih jauh!” teriak Matteo.
“Apa pesawat akan meledak?” tanya Aisyah.
“Sepertinya begitu. Lebih baik kita menjauh.” Matteo memperhatikan Aisyah. Dia sangat ingin melihat wajah di balik cadar hitam. Bola mata hijau yang berkilau keabuan dan kadang menjadi biru itu sangat menarik perhatian. Apalagi bulu mata yang lentik dan panjang. Pahatan hidung yang jelas mancung.
Mereka semua berlari dengan susah payah menjauh dari pesawat yang sudah rusak. Hujan telah berhenti, tetapi rerumputan dan daun masih basah. Aisyah tidak kesulitan sama sekali berlari dengan gamis panjangnya. Dia terlihat sudah biasa.
Satu-satunya orang dengan luka lecet kecil adalah Aisyah dan ibu hamil. Dia benar-benar dilindungi sehingga bisa menolong para korban kecelakaan pesawat.
“Aaah!” Ketika berlari cadar Aisyah terlepas karena angin yang sangat kencang dan terangkut di ranting. Kedua tangan yang membawa kotak obat dan koper tidak bisa menutupi wajahnya.
“Sangat Cantik!” Mata Sean melebar. Dia adalah satu-satunya pria yang beruntung melihat wajah Aisyah.
“Astaqfirullah alazim.” Aisyah melepaskan kotak obat dan mengambil cadar yang tesangkut di ranting. Dia segera memakainya. Wanita itu mencari lokasi yang tepat untuk membangun tenda darurat.
“Apa di sini sudah aman?” tanya Aisyah pada Matteo.
“Ya. Semoga tidak terjadi ledakan,” ucap Matteo.
Para pria yang terluka tetap kuat untuk membangun tenda. Mereka membuat dua ruang yang berbeda untuk memisahkan perempuan dan laki-laki atas permintaan Aisyah.
“Apa karena dia dokter sehingga Tuhan sangat menjaganya?” Semua orang menyadari bahwa Aisyah hanya tergores di dahi saja.Tenda selesai didirikan dan mereka semua bisa beristirahat dengan tenang. Lokasi yang cukup jauh dari pesawat dan bersembunyi di balik pohon besar.
Sean menghubungi keluarganya. Dia mengecek lokasi jatuhnya pesawat dan mengirim titik tepat ke papa dan kakeknya.
Aisyah telah ganti pakaian. Dia menjaga dan merawat ibu serta bayi dibantu dua pramugari.
“Istirahatlah. Kalian terluka,” ucap Aisyah memeriksa luka pramugari.
“Terima kasih, Dok. Untung Anda bersama kami.” Pramugari memeluk Aisyah.
“Ya. Saya memang dititipkan Allah di pesawat ini.” Aisyah tersenyum. Dia merebahkan tubuh di atas tikar.
“Harusnya aku belum pulang, tetapi ini adalah kehendak Allah yang tidak diketahui oleh manusia.” Aisyah memejamkan matanya.Pagi datang dengan embun dan kabut. Aisyah tidak menghubungi keluarganya. Dia tidak ingin mereka khawatir. Wanita muda itu hanya menunggu bantuan dari pemerintah dan pihak penerbangan.
“Aku akan mencari sumber air.” Aisyah melihat semua orang yang masih terlelap karena mereka baru tidur tiga jam saja.Aisyah menjelajahi hutan. Dia menemukan aliran air yang sangat jenih dan alami. Wanita itu mandi dan melaksanakan salat di samping pohon besar. Sean yang menyadari kepergian sang dokter mengikuti dan memperhatikan dari kejauhan.
“Dia membuka cadar ketika beribadah. Kenapa?” Sean bisa melihat wajah cantik Aisyah dari cahaya yang remang. Kulit putih dan bersih itu tampak bersinar dengan bantuan terangnya bulan di subuh.Setelah melaksanakan solat subuh, Aisyah mengenakan hijab dan melantunkan ayat suci Alquran dengan suaranya yang merdu dan lembut berpadu dengan hembusan angin. Daun bergoyang mengikuti irama indah dari mulut sang dokter muda.
“Srek!” Sebuah suara terdengar dari balik semak. Aisyah menghentikan lantunan ayat suci Alquran. Dia memperhatikan sekeliling dengan tenang.
Langit mulai terang. Cahaya Matahari menyelinap masuk melalui celah dedaunan. Embun menguap ke langit menjadi asap putih yang indah.
“Sudah terang. Aku akan membuatkan sarapan untuk semua orang.” Aisyah melipat sajadah dan memasukan ke dalam tas. Dia berkemas dan kembali ke tenda. Dimana semua orang masih tidur.
“Aku akan mencari bahan makanan di pesawat.” Aisyah bersiap pergi ke pesawat.
“Bahaya!” Sean memegang ujung hijab Aisyah.
“Maaf.” Dengan cepat Aisyah menjauh dari Sean.
“Kenapa kamu mau kembali ke pesawat?” tanya Sean.
“Aku akan mencari bahan makanan yang pasti ada di pesawat. Kamu terluka. Kembalilah ke tenda dan beristirahat.” Aisyah melanjutkan kaki menuju bangkai pesawat.
“Hm. Pemberani.” Sean mengikuti Aisyah. Mereka membongkar koper yang ada di pesawat untuk mendapatkan makanan.
“Tenyata para penjahat ini membawa banyak makanan.” Aisyah tersenyum di balik cadar.
“Ini cukup untuk kita semua.” Aisyah mengambil makanan dan mengumpulkan pada tas yang telah kosong.
“Aku akan membawanya.” Sean mengambil tas berisi makanan dari tangan Aisyah.
“Kamu terluka.” Aisyah melihat Sean dan menahan tas.
“Aku bukan pria lemah.” Sean segera menarik tas dan membawa keluar dari pesawat. Pria itu merasa terhina jika dianggap tidak mampu. Walaupun dirinya sedang terluka.
Helicopter penyelamat milik keluarga Sean yang datang lebih awal. Mereka bergerak cepat untuk menjembut tuan muda kebanggaan dan kesayangan kakek Jack.
Atas permintaan Sean. Helikopter dikirim lebih dari satu agar bisa membawa para korban lain keluar dari pulau kosong dan mendapatkan pertolongan serta penyelamatan karena mereka semua terluka.
Setelah sarapan Sean dan Aisyah meninggalkan kastil. Lokasi keluarga yang masih sepi karena semua orang masih terlelap di dalam tidur yang indah. Mereka berdua pergi ke padang rumput di mana terdapat peternakan kuda serta tempat Latihan.“Kita sampai, Sayang.” Sean mengendarai sendiri mobil. Dia berdua saja dengan Aisyah.“Cantik.” Aisyah melihat pemandangan yang hijau. Kuda tampak bebas tanpa ada tali pelana.“Ayo kita berkuda,” ajak Sean.“Ya.” Aisyah dan Sean bergandengan menuju kandang kuda.“Ini kuda milikku, Sayang. Black.” Sean mencium kuda hitam tinggi dan tampak dingin.“Tuan muda.” Pengurus kuda berlari mendekati Sean dan membungkuk.“Kapan Anda kembali?” tanya pria itu.“Kemarin,” jawab Sean.“Tuan ….” Pria itu melihat pada Aisyah.“Dia istriku. Aisyah. Satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini.” Sean merangkul Aisyah dan tersenyum.“Nyonya muda.” Pria itu memberi hormat pada Aisyah. Dia benar-benar terkejut melihat wanita yang berbeda dan menjadi istri Sean.“Pilih
Jack kembali ke aula pesta. Dia meminta semua orang berpindah ke ruang pertemuan untuk membicarakan permintaan Barron.“Ada apa ini? Malam sudah sangat larut dan kita masih harus berkumpul di ruang pertemuan?” tanya beberapa orang yang heran. Mereka sudah lelah dan mengantuk. Siang yang sibuk dan hanya butuh istirahat di malam hari.Semua anggota keluarga dari muda hingga tua telah duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka menunggu berita penting yang ingin disampaikan oleh Jack sehingga tidak bisa menunggu lagi esok hari.“Berita apa yang akan disampaikan oleh kakek Jack?” Mereka bertanya-tanya dan sudah tidak sabar.“Di mana Sean dan istrinya?” tanya kakek Jack memperhatikan ruangan dan tidak melihat cucu kandungnya.“Istri Sean tidak bisa bertahan di aula pesta. Mereka sudah kembali,” jawab seorang pria.“James, hubungi Sean!” perintah Jack dan James segera mengeluarkan ponselnya.“Sean, kita semua berkumpul di ruangan rapat keluarga,” ucap James langsung.“Aisyah sudah tidur. Aku
Sean benar-benar ingin membawa Aisyah meninggalkan aula pesta, tetapi dia dihalangi nenek Heta. Pria itu harus menghentikan kembali langkah kakinya. “Sean, Aisyah tidak bisa terus berada di sisi kamu,” ucap nenek Heta melihat pada Sean.“Kenapa tidak? Kami akan terus bersama dalam situasi dan kondisi apa pun,” tegas Sean merangkul Aisyah menempel pada dirinya.“Sean. Lihatlah! Istrimu tidak pantas berada di dunia kita.” Nenek Heta membentangkan tangan untuk menyadarkan Sean bahwa semua wanita di ruangan itu mengenakan gaun cantik dan seksi sedangkan Aisyah dengan pakaian tertutup rapat bahkan wajahnya pun tidak terlihat.“Istriku istimewa. Dia memang tidak pantas berada di sini karena Aisyah terlalu mulia untuk bisa bersama manusia rendahan.” Sean tersenyum.“Apa, Sean!” Nenek Heta melotot.“Aisyah akan tetap menjadi istri utama kamu, Sean. Kamu hanya perlu menambahkan istri pendamping,” ucap nenek Heta tersenyum.“Tidak akan pernah ada wanita lain di sisiku,” tegas Sean menatap tajam
Semua mata melihat pada layar. Mereka menyadari bahwa Aisyah adalah ahli medis dan seorang dokter bedah terkenal dari keluarg Kairo. Mereka memiliki perusahaan teknologi di di bidang kesehatan. Menciptakan perlengkapan kedokteran dan memiliki teknik hebat di ruangan bedah. “Dia dokter Aisyah.” Mata yang tadi fokus ke layar kini berpindah ke Aisyah.“Kita tidak bisa meremehkannya. Pantas saja Sean rela memeluk agama Islam agar bisa menikahi dokter Aisyah.” Orang-orang yang awalnya menganggap Aisyah aneh dan rendah dari mereka tidak menyangka bahwa istri Sean adalah seorang yang cukup terkenal dan dicari.“Kemari, Sayang.” Sean menggandeng tangan Aisyah dan naik ke podium. Pria itu terlihat jelas pada istrinya. Dia tidak ragu dan khawatir lagi akan pandangan orang. “Selamat malam semuanya.” Aisyah memperkenalkan diri di depan semua orang.“Dia pasti cantik,” ucap seorang pria.“Itu sudah jelas. Apa kamu tidak mengenal Leana? Model sekaligus perancang busana.” Para pria.“Benar. Mereka
Aula utama telah ramai oleh semua anggota keluarga mafia. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri Sean. Wanita yang rela ditunggu hingga sepuluh tahun lamanya.“Apa Sean benar-benar sudah tiba di Amerika?” tanya seorang wanita paruh baya.“Tentu saja. Dia tidak akan bisa membantah permintaan Madam Heta.” Para wanita bergaya elit itu berbicara dengan angkuhnya.“Sean benar-benar setia. Tidak ada seorang wanita pun berani mendekatinya,” ucap seorang wanita.“Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendekat. Sean selalu dilindungi pengawal dan penjaga yang ketat sehingga tidak seorang pun bisa masuk ke dalam lingkarannya,” sambung yang lain.“Aku benar-benar penasaran dengan istri Sean. Apa dia sangat cantik?” tanya seorang wanita muda pada dirinya sendiri.Ruangan mewah tampak ramai, tetapi tetap elegan. Mereka adalah keluarga elit yang tahu aturan dalam permainan. Aula pesta berkilau dengan kemewahan yang nyaris tak tertandingi. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lamp
Sean dan Aisyah telah berada di dalam pesawat pribadi. Mereka akan terbang ke Amerika dengan lama penerbangan kurang lebih sebelas jam. Pergi di malam hari dan akan tiba di pagi.“Tidurlah, Sayang.” Sean memeluk Aisyah.“Ya.” Aisyah membenamkan wajahnya di dada Sean dan memejamkan mata. Dia tersenyum tanpa ada rasa takut. Wanita itu percaya apa yang akan terjadi padanya adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan.Penerbangan benar-benar aman. Tidak ada gangguan apa pun. Semua berjalan dengan lancar. Sean cukup heran karena tidak ada drama penyerangan dari mereka berangkat hingga tiba di bandara. Semua terasa tenang dan tidak biasa.“Elio, apa penerbangan ini benar-benar tidak ada yang tahu?” tanya Sean merasa aneh pada perjalanan dirinya sendiri.“Tidak, Tuan,” jawab Elio.“Ini pertama kalinya.” Sean menoleh pada Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Istrinya aman dan kembali padanya tanpa gangguan. “Aku benar-benar takut, laut yang tenang akan diterjang ombak yang ganas.
Sean melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu. Suasana langsung memancarkan keanggunan yang tenang. Lantai marmer putih berkilau memantulkan cahaya alami yang masuk melalui jendela kaca besar, menciptakan kesan luas dan terang.“Silakan duduk, Tuan. Tuan Yasseen Mansour akan segera turun,” ucap seorang
Elio melanjutkan laporan lain dari Italia. Pria itu benar-benar bekerja dengan professional.“Maria belum berhasil diselamatkan,” ucap Elio.“Biarkan saja. Karena di tanganku pun Maria tidak akan selamat?” Sean tersenyum tipis.“Keluarga Jordan harus menerima hukuman karena telah menukarkan Mariaku
Sean tiba di Pesantren di Ma'had Bu'uts Al Azhar. Pria itu datang dengan empat mobil. Dia menurunkan kaca dan memperhatikan sekeliling.“Tuan. Kita tidak bisa melewati gerbang karena harus ada izin masuk,” jelas Elio.“Maaf, Tuan. Anda mau bertemu dengan siapa? Sekarang bukan jadwal kunjungan,” jela
Maria membuka mata dan memperhatikan ruangan yang kosong. Dia memastikan dirinya tidak ternoda.“Aku masih mengenakan gaun semalam. Kemana mereka membawaku? Tempat apa ini?” Maria turun dari kasur kecil yang kumuh. Melihat meja dan kursi yang berdebu.“Di mana ponselku?” Maria mencari ponselnya.“K







