Home / Mafia / Obsesi Cinta Sang Mafia / Bab 3 Keberuntungan

Share

Bab 3 Keberuntungan

last update publish date: 2026-02-09 07:05:47

Aisyah sendirian mengobati para penumpang dan kru pesawat. Dia memeriksa semua orang baik itu para penjahat.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Pria itu menembaki mereka tepat di jantung. Benar-benar ahli.” Aisyah melihat pada Sean yang rebahan di lantai pesawat.

“Rena! Bangun Rena!” Pramugari menangis memeluk rekannya yang telah meninggal dunia akibat tebakan penjahat.

“Tenangkan diri kamu. Kita harus memikirkan yang masih bisa diselamatkan. Doakan dia tenang.” Aisyah menenangkan pramugari yang kehilangan rekan kerja.

“Dokter.” Pramugari menangis tersedu-sedu memeluk Aisyah. Tubuh mereka benar-benar lemas melihat darah yang bersimpah di badan teman dan lantai serta kursi pesawat.

“Apa kamu sudah menghubungi tim penyelamat?” tanya Sean.

“Sudah, Tuan. Kita harus berhati-hati. Takutnya musuh datang lebih dulu.” Elio membantu Sean duduk.

“Di mana wanita tadi?” Sean melihat sekeliling.

“Dia sedang membantu persalinan wanita hamil di balik kursi belakang,” jawab Elio melihat sekeliling. Pria itu harus waspada untuk melindungi tuannya.

“Apa masih ada yang selamat?” Sean menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Ada. Para kru dan seorang ibu hamil,” jawab Elio.

“Oek! Oek!” Suara tangis bayi di keheningan malam. Semua terdiam menyambut kelahiran kehidupan baru di tengah badai dan hutan belantara serta puing-puing pesawat yang berantakan.

“Terima kasih, Dokter Aisyah.” Wanita itu menangis memeluk tangan Aisyah.

“Ini adalah kehendak Tuhan. Saya hanya pelantara saja.” Aisyah tersenyum.

“Bayi yang cantik.” Para pramugari ikut bahagia melihat bayi perempuan yang baru lahir. Air mata sedih dan haru menyatu menjadi satu.

“Apa kita bisa bertahan di dalam pesawat? Atau keadaan akan lebih bahaya?” tanya Aisyah pada pilot yang baru saja datang. Tangan pria itu patah karena berusaha menjaga keseimbangan pesawat.

“Pak. Ada sinyal bebahaya,” ucap copilot berlari.

“Apa?” semua orang terkejut. Rasa takut yang baru saja hilang kini datang lagi. Mereka hanya tinggal beberapa orang saja. Pilot dan copilot. Dua pramugari, ibu dan bayi yang baru lahir. Aisyah, Sean dan Elio.

“Kita sudah menyiapkan perlengkapan darurat ketika terdampar. Siapkan semuanya. Kita buatkan tenda agak jauh dari bangkai pesawat!” perintah Matteo.

“Kita harus membawa ibu yang baru melahirkan dengan tempat tidur darurat,” ucap Aisyah.

“Kami akan mempersiapkannya.” Dua pramugari segera membuka pintu bagasi dan kabin. Mereka mencari alat bantu untuk membawa pasien.

“Ayo Elio. Kita harus membantu mereka,” ucap Sean.

“Tuan. Anda terluka.” Elia menahan tubuh Sean agar tetap duduk di pesawat.

“Kita juga harus keluar dari pesawat,” tegas Sean.

“Baik, Tuan.” Elio ingin membantu Sean, tetapi pria itu menolak. Dia tidak terlihat lemah sama sekali.

“Semuanya. Kita harus meninggalkan pesawat dan mencari tempat berlindung yang lebih jauh!” teriak Matteo.

“Apa pesawat akan meledak?” tanya Aisyah.

“Sepertinya begitu. Lebih baik kita menjauh.” Matteo memperhatikan Aisyah. Dia sangat ingin melihat wajah di balik cadar hitam. Bola mata hijau yang berkilau keabuan dan kadang menjadi biru itu sangat menarik perhatian. Apalagi bulu mata yang lentik dan panjang. Pahatan hidung yang jelas mancung.

Mereka semua berlari dengan susah payah menjauh dari pesawat yang sudah rusak. Hujan telah berhenti, tetapi rerumputan dan daun masih basah. Aisyah tidak kesulitan sama sekali berlari dengan gamis panjangnya. Dia terlihat sudah biasa.

Satu-satunya orang dengan luka lecet kecil adalah Aisyah dan ibu hamil. Dia benar-benar dilindungi sehingga bisa menolong para korban kecelakaan pesawat.

“Aaah!” Ketika berlari cadar Aisyah terlepas karena angin yang sangat kencang dan terangkut di ranting. Kedua tangan yang membawa kotak obat dan koper tidak bisa menutupi wajahnya.

“Sangat Cantik!” Mata Sean melebar. Dia adalah satu-satunya pria yang beruntung melihat wajah Aisyah.

“Astaqfirullah alazim.” Aisyah melepaskan kotak obat dan mengambil cadar yang tesangkut di ranting. Dia segera memakainya. Wanita itu mencari lokasi yang tepat untuk membangun tenda darurat.

“Apa di sini sudah aman?” tanya Aisyah pada Matteo.

“Ya. Semoga tidak terjadi ledakan,” ucap Matteo.

Para pria yang terluka tetap kuat untuk membangun tenda. Mereka membuat dua ruang yang berbeda untuk memisahkan perempuan dan laki-laki atas permintaan Aisyah.

“Apa karena dia dokter sehingga Tuhan sangat menjaganya?” Semua orang menyadari bahwa Aisyah hanya tergores di dahi saja.

Tenda selesai didirikan dan mereka semua bisa beristirahat dengan tenang. Lokasi yang cukup jauh dari pesawat dan bersembunyi di balik pohon besar.

Sean menghubungi keluarganya. Dia mengecek lokasi jatuhnya pesawat dan mengirim titik tepat ke papa dan kakeknya.

Aisyah telah ganti pakaian. Dia menjaga dan merawat ibu serta bayi dibantu dua pramugari.

“Istirahatlah. Kalian terluka,” ucap Aisyah memeriksa luka pramugari.

“Terima kasih, Dok. Untung Anda bersama kami.” Pramugari memeluk Aisyah.

“Ya. Saya memang dititipkan Allah di pesawat ini.” Aisyah tersenyum. Dia merebahkan tubuh di atas tikar.

“Harusnya aku belum pulang, tetapi ini adalah kehendak Allah yang tidak diketahui oleh manusia.” Aisyah memejamkan matanya.

Pagi datang dengan embun dan kabut. Aisyah tidak menghubungi keluarganya. Dia tidak ingin mereka khawatir. Wanita muda itu hanya menunggu bantuan dari pemerintah dan pihak penerbangan.

“Aku akan mencari sumber air.” Aisyah melihat semua orang yang masih terlelap karena mereka baru tidur tiga jam saja.

Aisyah menjelajahi hutan. Dia menemukan aliran air yang sangat jenih dan alami. Wanita itu mandi dan melaksanakan salat di samping pohon besar. Sean yang menyadari kepergian sang dokter mengikuti dan memperhatikan dari kejauhan.

“Dia membuka cadar ketika beribadah. Kenapa?” Sean bisa melihat wajah cantik Aisyah dari cahaya yang remang. Kulit putih dan bersih itu tampak bersinar dengan bantuan terangnya bulan di subuh.

Setelah melaksanakan solat subuh, Aisyah mengenakan hijab dan melantunkan ayat suci Alquran dengan suaranya yang merdu dan lembut berpadu dengan hembusan angin. Daun bergoyang mengikuti irama indah dari mulut sang dokter muda.

“Srek!” Sebuah suara terdengar dari balik semak. Aisyah menghentikan lantunan ayat suci Alquran.  Dia memperhatikan sekeliling dengan tenang.

Langit mulai terang. Cahaya Matahari menyelinap masuk melalui celah dedaunan. Embun menguap ke langit menjadi asap putih yang indah.

“Sudah terang. Aku akan membuatkan sarapan untuk semua orang.” Aisyah melipat sajadah dan memasukan ke dalam tas. Dia berkemas dan kembali ke tenda. Dimana semua orang masih tidur.

“Aku akan mencari bahan makanan di pesawat.” Aisyah bersiap pergi ke pesawat.

“Bahaya!” Sean memegang ujung hijab Aisyah.

“Maaf.” Dengan cepat Aisyah menjauh dari Sean.

“Kenapa kamu mau kembali ke pesawat?” tanya Sean.

“Aku akan mencari bahan makanan yang pasti ada di pesawat. Kamu terluka. Kembalilah ke tenda dan beristirahat.” Aisyah melanjutkan kaki menuju bangkai pesawat.

“Hm. Pemberani.” Sean mengikuti Aisyah. Mereka membongkar koper yang ada di pesawat untuk mendapatkan makanan.

“Tenyata para penjahat ini membawa banyak makanan.” Aisyah tersenyum di balik cadar.

“Ini cukup untuk kita semua.” Aisyah mengambil makanan dan mengumpulkan pada tas yang telah kosong.

“Aku akan membawanya.” Sean mengambil tas berisi makanan dari tangan Aisyah.

“Kamu terluka.” Aisyah melihat Sean dan menahan tas.

“Aku bukan pria lemah.” Sean segera menarik tas dan membawa keluar dari pesawat. Pria itu merasa terhina jika dianggap tidak mampu. Walaupun dirinya sedang terluka.

Helicopter penyelamat milik keluarga Sean yang datang lebih awal. Mereka bergerak cepat untuk menjembut tuan muda kebanggaan dan kesayangan kakek Jack.

Atas permintaan Sean. Helikopter dikirim lebih dari satu agar bisa membawa para korban lain keluar dari pulau kosong dan mendapatkan pertolongan serta penyelamatan karena mereka semua terluka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 145 TAMAT

    Sepasang anak kembar memiliki nama yang indah telah diberikan oleh Sean dan Aisyah. Zayden Sean Mahendra dan Zayra Aisyah Maharani dengan panggilan Zay dan Ayra. Dua bayi kembar yang tampan dan cantik. Keduanya tampak berbeda pada warna rambut. Zayden memiliki rambut hitam sedangkan Ayra mempunyai rambut berwarna perak berkilau sehat. Bola matanya abu-abu kehijauan dan Zayden dengan bola hitam pekat. Tatapannya mampu menenggelamkan semua orang.Bayi kembar tumbuh dengan sehat dan cerdas. Mereka tidak kekurangan apa pun. Sang ahli gizi dan kedua orang tua yang selalu memberikan yang terbaik untuk putra serta putri kembar. Usia masih muda, tetapi sudah memiliki tinggi badan yang melebihi anak-anak usia mereka.“Terima kasih, Sayang.” Sean memeluk Aisyah. Mereka berdua duduk di rumput beralaskan tikar. Melihat sepasang anak kembar yang sedang bermain dengan kakek dan nenek di taman. Ada David dan Noah yang semakin betah di rumah karena memiliki keponakan yang tampan dan cantik.“Bagaiman

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 144 Kebahagiaan yang Sempurna

    Leana membuka pintu yang tidak dikunci perlahan. Dia melihat kepala Sean yang rebah di samping kasur Aisyah. Pria itu terlihat lelah hingga tertidur dengan mata yang masih basah.“Bagaimana kondisi Aisyah?” tanya Leana pada perawat yang berjaga di dekat pintu.“Kondisi Nyonya Aisyah sudah stabil dan semakin membaik,” jawab perawat.“Syukurlah. Aku tidak akan mengganggu mereka.” Leana mendekat dan mencium dahi Aisyah. Dia langsung keluar agar tidak membangun Sean.Cahaya sore menembus tirai tipis ruang perawatan, jatuh lembut di wajah Aisyah. Setelah berjam-jam dalam kondisi tak sadar akibat bius total dan operasi yang penuh risiko, matanya perlahan terbuka. Pandangannya masih kabur, tubuhnya terasa berat, namun detak jantung di monitor menunjukkan stabilitas.Aisyah mengatur napas. Dia melihat sekeliling. Wanita itu berusaha mengumpulkan kembali ingatan sebelum dirinya tidak sadarkan diri setelah dibius total. Jari-jari Aisyah meraba perut uang sudah kempis dan perih.“Sayang.” Sean de

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 143 Pascaoperasi

    Setelah perdarahan berhasil dikendalikan dan kondisi vital Aisyah stabil, tim medis segera mempersiapkan pemindahan ke ruang perawatan. Suasana masih penuh kewaspadaan, karena meski krisis telah teratasi, tubuh Aisyah tetap rapuh setelah operasi besar. Perawat membersihkan area operasi, mengganti kasa, dan menutup luka dengan balutan steril. Dokter anestesi memeriksa kembali tekanan darah, saturasi oksigen, dan memastikan Aisyah tetap dalam kondisi stabil.Noah dibantu perawat dengan hati-hati mengangkat tubuh Aisyah ke atas brankar khusus pasca operasi. Jalur infus, oksigen, dan monitor tetap terpasang, agar kondisi vital bisa terus diawasi selama pemindahan. Sean, yang masih mengenakan pakaian steril, berdiri di samping brankar, menatap istrinya dengan mata penuh haru.“Sayang.” Sean menyentuh pipi Aisyah yang tampak pucat dan dingin.“Sean, kamu ganti pakaian. Kami akan membawa Aisyah pindah ke kamar sebelah,” ucap Noah.“Ya.” Sean mengangguk. Pria itu menghapus air matanya.Pintu r

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 142 Bayi Kedua

    Tangan dokter akhirnya berhasil menemukan kepala bayi. Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, ia menarik keluar tubuh mungil itu. Sesaat ruangan hening—bayi tak langsung menangis. Semua orang menahan napas.“Putriku….” Suara Sean terhenti. Dia ketakutan melihat tubuh pucat putrinya dengan rambut berwarna perak berkilau seperti ibunya yang telah meninggal. Tidak ada suara tangis dari bibir yang mungil."Segera lakukan stimulasi! Jangan biarkan terlambat!" Suara dokter terdesak.“Berikan padaku!” Noah mengambil ponakannya dari tangan dokter.Noah mengusap tubuh bayi, menepuk lembut punggungnya. Detik terasa seperti jam. Hingga akhirnya, suara tangisan lemah namun nyata terdengar. Tangisan itu membuat seluruh ruangan bergemuruh oleh kelegaan.“Oh God!” Noah memeluk dan mencium keponakan kecilnya. Air mata pria itu telah membasahi wajahnya. Dia menyerahkan bayi perempuan kepada perawat untuk segera dibersihkan.Sean menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata jatuh deras. Dua k

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 141 Bayi Pertama

    Lampu operasi menyinari tubuh Aisyah yang terbaring tak berdaya di meja operasi. Bius total telah membuatnya terlelap, wajahnya tenang namun penuh misteri—seolah berada di ambang batas antara kesadaran dan ketiadaan. Di sekelilingnya, tim medis bergerak cepat, setiap langkah penuh ketegangan.Suara monitor jantung berdetak teratur, namun setiap perubahan angka membuat suasana menegang. Bau antiseptik menusuk, bercampur dengan suara logam instrumen yang bergesekan. Dokter bedah menatap layar monitor dengan mata tajam, sementara perawat menyiapkan alat dengan tangan bergetar halus."Kita mulai insisi. Ingat, bayi pertama dalam posisi aman, tapi bayi kedua melintang. Kita harus bekerja cepat." Suara tegas dokter menembus keheningan. “Kehamilan Aisyah benar-benar beresiko. Padahal dia dan bayi kembar sangat sehat.” Noah meminta untuk tetap di dalam ruangan operasi agar bisa mengawasi kondisi Aisyah dan terus berada di sisi adiknya.“Dokter, apa aku Sean bisa masuk?” tanya Noah.“Tentu saj

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 140 Kontraksi

    Aisyah bangun di pagi hari. Dia duduk dengan sangat susah. Tangannya berpegangan pada pinggir tempat tidur agar mendapatkan bantuan tarikan.“Allahu Akbar.” Aisyah mengatur napas. Dia berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi.“Sayang.” Sean dengan mudah terbangun. Dia melihat Aisyah sudah masuk ke dalam kamar mandi.“Jangan dikunci.” Sean dengan cepat beranjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Dia segera masuk dan menyusul Aisyah.“Sayang, kenapa tidak membangunkan aku?” tanya Sean khawatir. Pria itu segera mencuci muka.“Aku mau buang air kecil dan langsung mandi. Sebentar lagi subuh baru bangunkan kamu.” Aisyah tersenyum.“Jika kamu terbangun. Harus bangunkan aku, Sayang. Apa pun itu,” tegas Sean.“Baiklah.” Aisyah mandi dibantu Sean. Wanita itu duduk du kursi yang memang telah disiapkan.Sean dengan telaten membersihkan tubuh Aisyah. Dia menyampo rambut hitam istrinya. Membilas hingga bersih. Seorang mafia menjadi pria lembut dan perhatian ketika dia dipertemukan Tuhan deng

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 7 Makan Malam

    Kepulangan Sean masih dirahasiakan. David dan Noah pun tidak memberitahu keluarganya. Padahal dua bersaudara itu sudah tahu, tetapi mereka seakan sengaja menutupinya.“Kak!” Maria bersemangat menuruni tangga menuju ruang tengah.“Kak Noah. Kak David.” Maria memeluk dua pria tampan yang berdiri menun

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 6 Sean Costa Nostra

    Sean dirawat di rumah. Pria itu tidak teriasa berada di rumah sakit. Dia duduk di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada karena ada luka yang harus dijaga.“Permisi, Tuan. Kami akan mengganti perban.” Dokter dan perawat mengetuk pintu kamar Sean ditemani kepala asisten rumah tangga. Seorang pria

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 5 Keluarga Maria

    Jordan dan Leana duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Pasangan suami istri itu tampak gelisah.“Sayang, Sean akan segera pulang. Mereka akan bertemu di hari ulang tahun Maria yang kedua puluh.” Leana menatap Jordan. “Ya. Dia akan pulang, tetapi tidak tahu kapan? Maria akan berulang tahun bulan d

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 4 Berpisah

    “Alhamdulilah.” Aisyah tersenyum melihat kedatangan para penyelamat. Dia berlari menuju tenda darurat.“Dia.” Sean mengikuti Aisyah dengan tubuh yang sakit.“Semuanya. Tim penyelamat datang.” Aisyah benar-benar bersemangat untuk menyampaikan kabar bahagia kepada semua orang yang masih selamat.“Syu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status