Share

Bab 4 Berpisah

last update publish date: 2026-02-09 07:43:50

“Alhamdulilah.” Aisyah tersenyum melihat kedatangan para penyelamat. Dia berlari menuju tenda darurat.

“Dia.” Sean mengikuti Aisyah dengan tubuh yang sakit.

“Semuanya. Tim penyelamat datang.” Aisyah benar-benar bersemangat untuk menyampaikan kabar bahagia kepada semua orang yang masih selamat.

“Syukurlah.” Semua orang keluar dari tenda dan tersenyum bahagia. Mereka saling berpelukan.

“Dokter Aisyah.” Sean berdiri di depan Aisyah yang baru selesai berkemas.

“Ada apa? Kenapa kembali lagi?” tanya Aisyah.

“Terima kasih. Ini kartu nama pribadiku. Aku akan membayar bantuan yang telah kamu berikan.” Sean memberikan kartu khusus miliknya pada Aisyah.

“Tidak perlu. Allah yang akan membayarku. Mulai dari naik pesawat, aku sudah ditakdirkan untuk merawat dan mengobati kalian.” Aisyah menolak kartu nama dari Sean.

“Kamu bisa meminta apa pun sebagai bayaran,” tegas Sean.

“Terima kasih.” Aisyah meninggalkan Sean.

Aisyah membantu pramugari dan ibu serta bayi keluar dari tenda menuju helikopter. Dia memberikan pelukan dan ciuman perpisahan.

“Dokter, tolong berikan nomor ponsel Anda,” pinta ibu bayi.

“Mari bertukar nomor.” Aisyah mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.

“Terima kasih, Dok.” Pramugari memeluk erat Aisyah. Mereka saling tukar nomor ponsel. Tangis sedih dan haru menyatu.

Semua orang telah naik helicopter dan tidak dengan Aisyah. Wanita itu harus memastikan dan mendahulukan para korban.

“Mari ikut denganku.” Sean benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari bola mata hijau Aisyah. Ada kerinduan yang tidak bisa diungkapkan.

“Aku akan bersama dengan bayi.” Aisyah tersenyum. Dia tidak tahu bahwa semua helicopter adalah milik Sean.

“Baiklah.” Sean pergi naik helicopter. Dia melihat Aisyah yang juga sudah naik ke helicopter lain.

Para korban dibawa ke rumah sakit kota untuk mendapatkan perawatan dan akan dipulangkan ke tujuan masing-masing setelah sembuh. Sean langsung pindah ke jet pribadi dan melihat Aisyah yang juga akan terbang ke negaranya.

“Aisyah.” Seorang pria tampan dan tinggi mendekati Aisyah. Wajah Arab yang menawan. Hidung mancung dengan alis dan rambut tebal. Bola mata abu-abu.

“Kak Khaled.” Aisyah tersenyum

“Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka?” Khaled hanya bisa berdiri dengan jarak di depan Aisyah. Dia belum bisa menyentuh tunangannya karena belum halal.

“Alhamdulilah.” Aisyah terlihat jelas sangat senang melihat Khaled.

“Apa ada yang terluka?” tanya Khaled lagi. Pria itu sangat mengkhawatirkan calon istrinya.

“Tidak. Hanya lecet sedikit di dahiku. Aku baik-baik saja.” Aisyah tersenyum di balik cadarnya.

“Apa sudah diobati?” tanya Khaled khawatir.

“Sudah. Aku adalah dokter. Ayo pulang.” Aisyah berjalan bersama dengan Khaled menuju jet pribadi yang mewah.

“Siapa pria itu?” tanya Sean memperhatikan Khaled. Langkah kakinya terhenti di ujung tangga pesawat jet.

“Apa aku harus cari tahu?” Elio balik bertanya.

“Tidak perlu.” Sean ingin melupakan Aisyah karena wanita itu menolak kartu namanya sehingga dia tidak bisa membayar biaya penyelamatan yang dilakukan sang dokter.

“Kenapa aku merasa wanita itu adalah Maria? Bola mata langka yang tidak dimiliki semua orang, tetapi tidak mungkin.” Sean melihat Aisyah yang sudah masuk ke dalam pesawat bersama tunangannya.

“Wajahnya.” Sean ingat wajah cantik Aisyah ketika sedang solat dan cadar dibuka.

“Ada kedekatan dan ketertarikan yang tidak bisa diungkapkan. Aku benar-benar merasa dia adalah Maria.” Sean terus memperhatikan Aisyah hingga pintu pesawat ditutup dan sang dokter hilang dari pandangan.

Sean telah terbang dengan jet pribadi. Dia dibawa menuju rumah sakit keluarga. Pria itu harus diperiksa dan dirawat dengan intensif.

Dari bandara Sean dijemput dengan mobil. Pria itu tidur dengan tenang. Dia cukup lelah setelah mengalami tragedi pesawat jatuh dan mendapatkan tembakan serta luka tambahan.

“Sean!” Jack yang merupakan kakek Sean menyambut kedatangan cucunya di depan pintu rumah sakit.

“Kakek.” Sean tersenyum tipis.

“Bagaimana kamu bisa terluka?” Sang kakek sangat khawatir pada cucu semata wayangnya. Dia hanya punya satu putra dan satu cucu. Menantu yang telah meninggal ketika hamil seorang putri dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Luka kecil,” ucap Sean masuk ke ruangan khusus.

“Selamat datang, Tuan muda.” Para perawat dan dokter menyambut Sean.

Sean berbaring di atas kasur. Dia telah melepaskan pakaian. Tim dokter terbaik memeriksa luka sang tuan muda.

“Tuan, siapa yang mengeluarkan peluru?” tanya dokter heran.

“Seorang dokter muda bernama Aisyah,” jawab Elio.

“Ini.” Elio memperlihatkan kartu pengenal Aisyah.

“Apa?” Dokter sangat terkejut karena Aisyah memang sangat terkenal dengan kehebatan sebagai dokter bedah. Dia memiliki teknik yang tidak biasa dan cerdas ketika melakukan operasi.

“Anda benar-benar beruntung, Tuan muda.” Dokter tersenyum.

“Apa Anda mengenalnya?” tanya Sean menatap pada dokter yang sedang membersihkan dan mengobati serta mengganti perban pada luka Sean.

“Semua dokter mengenal Sang jenius, dokter Aisyah. Seorang Muslimah dari Kairo Mesir. Dia mendedikasikan diri untuk menyelamatkan orang tanpa bayaran. Dokter Aisyah bahkan pernah pergi ke negara konflik dan menjadi relawan. Dia sudah terbiasa dengan situasi berbahaya,” jelas dokter penuh semangat.

“Pantas saja dia tidak terkejut ketika ada para penjahat. Wanita itu bahkan tidak takut padaku. Walaupun aku membunuh orang di depannya.” Sean tersenyum.

“Anda harus dirawat untuk pemulihan pasca operasi,” ucap dokter.

“Mm.” Sean mengangguk.

“Kakek, bagaimana acara pertunangan aku dan Maria?” tanya Sean duduk di tempat tidur.

“Acara masih satu bulan lagi. Kita akan tunggu hingga kamu pulih. Tidak ada yang boleh tahu bahwa kamu sedang terluka,” jelas Jack.

“Aku mau bertemu dengan Maria sebelum pertunangan.” Sean merebahkan tubuh di kasur.

“Baiklah. Kamu istirahat.” Kakek Jack membawa semua orang keluar.

“Kenapa aku tidak bisa menghapus bayangan wanita itu?” Sean membuka kembali matanya. Dia mengambil ponsel dan melihat foto-foto Maria yang setiap tahun dikirimkan padanya.

“Ada yang beda, tetapi di mana?” Sean menghela napas dengan berat.

“Aisyah. Kenapa kamu memiliki bola mata hijau dan berubah warna menjadi abu ketika terkena cahaya. Persis seperti Maria waktu kecil.” Sean benar-benar gelisah.

“Aku akan bertemu dengan Maria. Dia pasti bisa menghapus bayangan wanita itu. Kami juga tidak akan bertemu lagi.” Sean kembali memejamkan matanya.

Kakek Jack mengunjungi Elio yang berada di ruangan lain untuk mendapatkan perawatan. Dia harus mengetahui apa yang telah terjadi di pesawat sehingga Sean terluka

“Elio, apa yang terjadi?” Kakek Jack menatap tajam pada Elio.

“Semua ada di dalam rekaman ini.” Elio memberikan ponselnya kepada Jack. Pria itu tidak kesulitan mendapatkan rekaman dari pesawat.

“Hm.” Kakek Jack mengambil ponsel dari tangan Elio dan duduk di sofa. Usianya tidak lagi muda, tetapi tetap tampan dan gagah. Dia memutar rekaman dari dalam pesawat.

“Tembakan yang tepat dan tidak mengecewakan.” Kakek Jack tersenyum melihat Sean membunuh para penjahat dengan satu kali tembakan cepat dan mengenai jantung.

“Tuan muda memang sangat ahli menggunakan semua senjata.” Elio tahu benar kemampuan Sean yang tiada tandingan.

“Lama tidak berjumpa. Sean berkembang luar biasa. Dia telah mengusai dunia di usia yang masih sangat muda.” Kakek Jack sangat bangga pada cucu semata wayangnya.

“Aku mau dia cepat menikah dengan Maria dan memiliki banyak anak.” Kakek Jack tersenyum.

“Jangan sampai hanya satu anak saja sehingga keturunan ini akan punah.” Kakek Sean mengepalkan tangannya. Ada amarah setiap kali mengingat sang menantu yang mati ketika sedang hamil.

“Saya rasa Tuan Muda butuh satu bulan untuk pulih,” ucap Elio.

“Satu minggu saja. Anak itu sudah bisa berkuda. Dia terbiasa terluka.” Jack tahu benar pelatihan Sean sejak kecil. Anak lelaki yang tahan banting dan tidak pernah meneteskan air mata pada rasa sakitnya.

“Jika bukan karena Sean menyukai Maria. Aku sudah menghancurkan keluarga Jordan tanpa bersisa. Aku akan ambil otak cerdas mereka dan lakukan penelitian.” Kakek Jack tersenyum tipis.

“Cara Tuan Sean cukup bagus, Tuan besar. Nona Maria adalah calon menantu yang tepat agar bisa melahirkan anak-anak dengan gen terbaik. Kecerdasan, kekuatan dan fisik sempurna.” Seorang pria berdiri di samping Jack. Dia adalah Luca. Asisten sang ketua Mafia.

Ketika ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan pun Sean tidak menangis, tetapi dia membalas dendam dengan menghancur keluarga Jordan dan mengambil putri mereka sebagai gantinya menjadi adik sekaligus istri yang harus melahirkan banyak anak untuknya.

“Ya. Maria harus melahirkan anak setip tahun untuk keluarga ini karena orang tuanya telah membunuh menantu dan cucu perempuanku.” Jack menghela napas dengan berat.

Perjanjian pernikahan terjadi karena kecelakaan yang tanpa disengaja menyebabkan ibu Sean yang sedang hamil meninggal dunia bersama bayi perempuan dalam kandungannya. Di malam yang gelap dan hujan. Jordan berserta istri dan putrinya, Maria sedang terburu-buru menuju bandara sehingga tidak sempat menyelamatkan Sonia yang mengalami kecelakaan mobil.

Terlambat dibawa ke rumah sakit menyebabkan Sonia dan putrinya meninggal dunia di tempat kecelakaan karena pendarahan hebat. Jordan dan istrinya benar-benar tidak tahu.

Jordan dan Leana memiliki dua putra dan seorang putri. Mereka terkenal dengan kecerdasan di atas rata-rata sehingga selalu menjadi kebanggaan dari kecil hingga dewasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 144 Kebahagiaan yang Sempurna

    Leana membuka pintu yang tidak dikunci perlahan. Dia melihat kepala Sean yang rebah di samping kasur Aisyah. Pria itu terlihat lelah hingga tertidur dengan mata yang masih basah.“Bagaimana kondisi Aisyah?” tanya Leana pada perawat yang berjaga di dekat pintu.“Kondisi Nyonya Aisyah sudah stabil dan semakin membaik,” jawab perawat.“Syukurlah. Aku tidak akan mengganggu mereka.” Leana mendekat dan mencium dahi Aisyah. Dia langsung keluar agar tidak membangun Sean.Cahaya sore menembus tirai tipis ruang perawatan, jatuh lembut di wajah Aisyah. Setelah berjam-jam dalam kondisi tak sadar akibat bius total dan operasi yang penuh risiko, matanya perlahan terbuka. Pandangannya masih kabur, tubuhnya terasa berat, namun detak jantung di monitor menunjukkan stabilitas.Aisyah mengatur napas. Dia melihat sekeliling. Wanita itu berusaha mengumpulkan kembali ingatan sebelum dirinya tidak sadarkan diri setelah dibius total. Jari-jari Aisyah meraba perut uang sudah kempis dan perih.“Sayang.” Sean de

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 143 Pascaoperasi

    Setelah perdarahan berhasil dikendalikan dan kondisi vital Aisyah stabil, tim medis segera mempersiapkan pemindahan ke ruang perawatan. Suasana masih penuh kewaspadaan, karena meski krisis telah teratasi, tubuh Aisyah tetap rapuh setelah operasi besar. Perawat membersihkan area operasi, mengganti kasa, dan menutup luka dengan balutan steril. Dokter anestesi memeriksa kembali tekanan darah, saturasi oksigen, dan memastikan Aisyah tetap dalam kondisi stabil.Noah dibantu perawat dengan hati-hati mengangkat tubuh Aisyah ke atas brankar khusus pasca operasi. Jalur infus, oksigen, dan monitor tetap terpasang, agar kondisi vital bisa terus diawasi selama pemindahan. Sean, yang masih mengenakan pakaian steril, berdiri di samping brankar, menatap istrinya dengan mata penuh haru.“Sayang.” Sean menyentuh pipi Aisyah yang tampak pucat dan dingin.“Sean, kamu ganti pakaian. Kami akan membawa Aisyah pindah ke kamar sebelah,” ucap Noah.“Ya.” Sean mengangguk. Pria itu menghapus air matanya.Pintu r

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 142 Bayi Kedua

    Tangan dokter akhirnya berhasil menemukan kepala bayi. Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, ia menarik keluar tubuh mungil itu. Sesaat ruangan hening—bayi tak langsung menangis. Semua orang menahan napas.“Putriku….” Suara Sean terhenti. Dia ketakutan melihat tubuh pucat putrinya dengan rambut berwarna perak berkilau seperti ibunya yang telah meninggal. Tidak ada suara tangis dari bibir yang mungil."Segera lakukan stimulasi! Jangan biarkan terlambat!" Suara dokter terdesak.“Berikan padaku!” Noah mengambil ponakannya dari tangan dokter.Noah mengusap tubuh bayi, menepuk lembut punggungnya. Detik terasa seperti jam. Hingga akhirnya, suara tangisan lemah namun nyata terdengar. Tangisan itu membuat seluruh ruangan bergemuruh oleh kelegaan.“Oh God!” Noah memeluk dan mencium keponakan kecilnya. Air mata pria itu telah membasahi wajahnya. Dia menyerahkan bayi perempuan kepada perawat untuk segera dibersihkan.Sean menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata jatuh deras. Dua k

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 141 Bayi Pertama

    Lampu operasi menyinari tubuh Aisyah yang terbaring tak berdaya di meja operasi. Bius total telah membuatnya terlelap, wajahnya tenang namun penuh misteri—seolah berada di ambang batas antara kesadaran dan ketiadaan. Di sekelilingnya, tim medis bergerak cepat, setiap langkah penuh ketegangan.Suara monitor jantung berdetak teratur, namun setiap perubahan angka membuat suasana menegang. Bau antiseptik menusuk, bercampur dengan suara logam instrumen yang bergesekan. Dokter bedah menatap layar monitor dengan mata tajam, sementara perawat menyiapkan alat dengan tangan bergetar halus."Kita mulai insisi. Ingat, bayi pertama dalam posisi aman, tapi bayi kedua melintang. Kita harus bekerja cepat." Suara tegas dokter menembus keheningan. “Kehamilan Aisyah benar-benar beresiko. Padahal dia dan bayi kembar sangat sehat.” Noah meminta untuk tetap di dalam ruangan operasi agar bisa mengawasi kondisi Aisyah dan terus berada di sisi adiknya.“Dokter, apa aku Sean bisa masuk?” tanya Noah.“Tentu saj

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 140 Kontraksi

    Aisyah bangun di pagi hari. Dia duduk dengan sangat susah. Tangannya berpegangan pada pinggir tempat tidur agar mendapatkan bantuan tarikan.“Allahu Akbar.” Aisyah mengatur napas. Dia berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi.“Sayang.” Sean dengan mudah terbangun. Dia melihat Aisyah sudah masuk ke dalam kamar mandi.“Jangan dikunci.” Sean dengan cepat beranjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Dia segera masuk dan menyusul Aisyah.“Sayang, kenapa tidak membangunkan aku?” tanya Sean khawatir. Pria itu segera mencuci muka.“Aku mau buang air kecil dan langsung mandi. Sebentar lagi subuh baru bangunkan kamu.” Aisyah tersenyum.“Jika kamu terbangun. Harus bangunkan aku, Sayang. Apa pun itu,” tegas Sean.“Baiklah.” Aisyah mandi dibantu Sean. Wanita itu duduk du kursi yang memang telah disiapkan.Sean dengan telaten membersihkan tubuh Aisyah. Dia menyampo rambut hitam istrinya. Membilas hingga bersih. Seorang mafia menjadi pria lembut dan perhatian ketika dia dipertemukan Tuhan deng

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 139 Hamil Besar

    Sean terus berada di sisi Aisyah. Dia tidak pernah meninggalkan istrinya sedetik pun. Sepanjang hari menemani Aisyah yang sedang hamil tua. Tim dokter telah standby di klinik mendekati hari kelahiran. Perut yang besar karena mengandung sepasang bayi kembar yang kuat.“Allahuakbar.” Aisyah sudah kesulitan bergerak.“Pelan-pelan, Sayang.” Sean menggandeng tangan Aisyah. Mereka jalan-jalan di taman menunggu waktu kelahiran.“Iya, Sayang.” Aisyah yang sudah makan sesuai dengan pengaturan ahli gizi masih tidak bisa mengontrol pertumbuhan bayi kembarnya. Dia harus menguras banyak tenaga untuk menjaga dan membawa bayi yang ada di dalam kantung rahim.“Sayang, aku tidak kuat lagi berjalan,” ucap Aisyah menghentikan langkah kakinya.“Duduk di sini, Sayang.” Sean membantu Aisyah duduk di kursi taman.“Langkahnya semakin sedikit setiap hari. Aisyah benar-benar kesulitan dan kelelahan.” Sean menatap Aisyah khawatir.“Pertumbuhan bayi sangat cepat sehingga berat badan mereka terus naik. Padahal dok

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 86 Kehilangan

    Langit malam diguyur oleh deras yang hujan. Kaca depan mobil Sean dipenuhi butiran air yang berkilau seperti pecahan kaca. Jalanan sepi, hanya suara gemuruh petir dan deru mesin yang menemani kepulangannya. Namun tiba-tiba, dari balik kabut hujan, sekelompok mobil hitam melaju cepat, memotong jalann

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 83 Obsesi

    Aisyah membuka mata dan mendapatkan satu tangan serta dua kaki yang terikat di tempat tidur mewah. Dia memperhatikan sekeliling. Ruangan yang tampak asing. Di samping meja ada tiang infus yang masih terhubung dengan pergelangan tangannya.“Astagfirullah alazim. Di mana ini?” tanya Aisyah segera dudu

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 34 Keturunan Mafia

    Sean berada di kamar Maria ketika berusia sepuluh tahun dan pernah menginap beberapa hari. Pria itu ingin melepas rindu dengan kenangan masa lalu. Ingatan kebersamaan ketika dia merawat kekasih kecilnya demam akibat ditato.“Aku tahu mereka membohongiku. Wanita itu palsu. Mariaku. Sekarang kamu adal

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 31 Penyelamatan

    Tidak ada yang mengawasi villa Aisyah sehingga tidak ada yang tahu bahwa Fatma telah dibawa ke Italia oleh Sean.Sean yang tidak bisa melakukan apa pun untuk segera bertemu dengan Aisyah menyibukan diri dengan bisnis. Pria itu memikirkan sesuatu yang bisa menjadi luapan emosinya.“Tuan, di depan ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status