Masuk“Alhamdulilah.” Aisyah tersenyum melihat kedatangan para penyelamat. Dia berlari menuju tenda darurat.
“Dia.” Sean mengikuti Aisyah dengan tubuh yang sakit.
“Semuanya. Tim penyelamat datang.” Aisyah benar-benar bersemangat untuk menyampaikan kabar bahagia kepada semua orang yang masih selamat.
“Syukurlah.” Semua orang keluar dari tenda dan tersenyum bahagia. Mereka saling berpelukan.“Dokter Aisyah.” Sean berdiri di depan Aisyah yang baru selesai berkemas.
“Ada apa? Kenapa kembali lagi?” tanya Aisyah.
“Terima kasih. Ini kartu nama pribadiku. Aku akan membayar bantuan yang telah kamu berikan.” Sean memberikan kartu khusus miliknya pada Aisyah.
“Tidak perlu. Allah yang akan membayarku. Mulai dari naik pesawat, aku sudah ditakdirkan untuk merawat dan mengobati kalian.” Aisyah menolak kartu nama dari Sean.
“Kamu bisa meminta apa pun sebagai bayaran,” tegas Sean.
“Terima kasih.” Aisyah meninggalkan Sean.
Aisyah membantu pramugari dan ibu serta bayi keluar dari tenda menuju helikopter. Dia memberikan pelukan dan ciuman perpisahan.
“Dokter, tolong berikan nomor ponsel Anda,” pinta ibu bayi.
“Mari bertukar nomor.” Aisyah mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
“Terima kasih, Dok.” Pramugari memeluk erat Aisyah. Mereka saling tukar nomor ponsel. Tangis sedih dan haru menyatu.
Semua orang telah naik helicopter dan tidak dengan Aisyah. Wanita itu harus memastikan dan mendahulukan para korban.
“Mari ikut denganku.” Sean benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari bola mata hijau Aisyah. Ada kerinduan yang tidak bisa diungkapkan.
“Aku akan bersama dengan bayi.” Aisyah tersenyum. Dia tidak tahu bahwa semua helicopter adalah milik Sean.
“Baiklah.” Sean pergi naik helicopter. Dia melihat Aisyah yang juga sudah naik ke helicopter lain.
Para korban dibawa ke rumah sakit kota untuk mendapatkan perawatan dan akan dipulangkan ke tujuan masing-masing setelah sembuh. Sean langsung pindah ke jet pribadi dan melihat Aisyah yang juga akan terbang ke negaranya.
“Aisyah.” Seorang pria tampan dan tinggi mendekati Aisyah. Wajah Arab yang menawan. Hidung mancung dengan alis dan rambut tebal. Bola mata abu-abu.“Kak Khaled.” Aisyah tersenyum
“Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka?” Khaled hanya bisa berdiri dengan jarak di depan Aisyah. Dia belum bisa menyentuh tunangannya karena belum halal.
“Alhamdulilah.” Aisyah terlihat jelas sangat senang melihat Khaled.“Apa ada yang terluka?” tanya Khaled lagi. Pria itu sangat mengkhawatirkan calon istrinya.
“Tidak. Hanya lecet sedikit di dahiku. Aku baik-baik saja.” Aisyah tersenyum di balik cadarnya.
“Apa sudah diobati?” tanya Khaled khawatir. “Sudah. Aku adalah dokter. Ayo pulang.” Aisyah berjalan bersama dengan Khaled menuju jet pribadi yang mewah.“Siapa pria itu?” tanya Sean memperhatikan Khaled. Langkah kakinya terhenti di ujung tangga pesawat jet.
“Apa aku harus cari tahu?” Elio balik bertanya.
“Tidak perlu.” Sean ingin melupakan Aisyah karena wanita itu menolak kartu namanya sehingga dia tidak bisa membayar biaya penyelamatan yang dilakukan sang dokter.
“Kenapa aku merasa wanita itu adalah Maria? Bola mata langka yang tidak dimiliki semua orang, tetapi tidak mungkin.” Sean melihat Aisyah yang sudah masuk ke dalam pesawat bersama tunangannya.
“Wajahnya.” Sean ingat wajah cantik Aisyah ketika sedang solat dan cadar dibuka.
“Ada kedekatan dan ketertarikan yang tidak bisa diungkapkan. Aku benar-benar merasa dia adalah Maria.” Sean terus memperhatikan Aisyah hingga pintu pesawat ditutup dan sang dokter hilang dari pandangan.
Sean telah terbang dengan jet pribadi. Dia dibawa menuju rumah sakit keluarga. Pria itu harus diperiksa dan dirawat dengan intensif.
Dari bandara Sean dijemput dengan mobil. Pria itu tidur dengan tenang. Dia cukup lelah setelah mengalami tragedi pesawat jatuh dan mendapatkan tembakan serta luka tambahan.
“Sean!” Jack yang merupakan kakek Sean menyambut kedatangan cucunya di depan pintu rumah sakit.
“Kakek.” Sean tersenyum tipis.
“Bagaimana kamu bisa terluka?” Sang kakek sangat khawatir pada cucu semata wayangnya. Dia hanya punya satu putra dan satu cucu. Menantu yang telah meninggal ketika hamil seorang putri dalam sebuah kecelakaan mobil.
“Luka kecil,” ucap Sean masuk ke ruangan khusus.
“Selamat datang, Tuan muda.” Para perawat dan dokter menyambut Sean.Sean berbaring di atas kasur. Dia telah melepaskan pakaian. Tim dokter terbaik memeriksa luka sang tuan muda.
“Tuan, siapa yang mengeluarkan peluru?” tanya dokter heran.
“Seorang dokter muda bernama Aisyah,” jawab Elio.
“Ini.” Elio memperlihatkan kartu pengenal Aisyah.
“Apa?” Dokter sangat terkejut karena Aisyah memang sangat terkenal dengan kehebatan sebagai dokter bedah. Dia memiliki teknik yang tidak biasa dan cerdas ketika melakukan operasi.
“Anda benar-benar beruntung, Tuan muda.” Dokter tersenyum.
“Apa Anda mengenalnya?” tanya Sean menatap pada dokter yang sedang membersihkan dan mengobati serta mengganti perban pada luka Sean.
“Semua dokter mengenal Sang jenius, dokter Aisyah. Seorang Muslimah dari Kairo Mesir. Dia mendedikasikan diri untuk menyelamatkan orang tanpa bayaran. Dokter Aisyah bahkan pernah pergi ke negara konflik dan menjadi relawan. Dia sudah terbiasa dengan situasi berbahaya,” jelas dokter penuh semangat.
“Pantas saja dia tidak terkejut ketika ada para penjahat. Wanita itu bahkan tidak takut padaku. Walaupun aku membunuh orang di depannya.” Sean tersenyum.
“Anda harus dirawat untuk pemulihan pasca operasi,” ucap dokter.
“Mm.” Sean mengangguk.
“Kakek, bagaimana acara pertunangan aku dan Maria?” tanya Sean duduk di tempat tidur.
“Acara masih satu bulan lagi. Kita akan tunggu hingga kamu pulih. Tidak ada yang boleh tahu bahwa kamu sedang terluka,” jelas Jack.
“Aku mau bertemu dengan Maria sebelum pertunangan.” Sean merebahkan tubuh di kasur.
“Baiklah. Kamu istirahat.” Kakek Jack membawa semua orang keluar.
“Kenapa aku tidak bisa menghapus bayangan wanita itu?” Sean membuka kembali matanya. Dia mengambil ponsel dan melihat foto-foto Maria yang setiap tahun dikirimkan padanya.
“Ada yang beda, tetapi di mana?” Sean menghela napas dengan berat.
“Aisyah. Kenapa kamu memiliki bola mata hijau dan berubah warna menjadi abu ketika terkena cahaya. Persis seperti Maria waktu kecil.” Sean benar-benar gelisah.
“Aku akan bertemu dengan Maria. Dia pasti bisa menghapus bayangan wanita itu. Kami juga tidak akan bertemu lagi.” Sean kembali memejamkan matanya.Kakek Jack mengunjungi Elio yang berada di ruangan lain untuk mendapatkan perawatan. Dia harus mengetahui apa yang telah terjadi di pesawat sehingga Sean terluka
“Elio, apa yang terjadi?” Kakek Jack menatap tajam pada Elio.“Semua ada di dalam rekaman ini.” Elio memberikan ponselnya kepada Jack. Pria itu tidak kesulitan mendapatkan rekaman dari pesawat.
“Hm.” Kakek Jack mengambil ponsel dari tangan Elio dan duduk di sofa. Usianya tidak lagi muda, tetapi tetap tampan dan gagah. Dia memutar rekaman dari dalam pesawat.
“Tembakan yang tepat dan tidak mengecewakan.” Kakek Jack tersenyum melihat Sean membunuh para penjahat dengan satu kali tembakan cepat dan mengenai jantung.
“Tuan muda memang sangat ahli menggunakan semua senjata.” Elio tahu benar kemampuan Sean yang tiada tandingan.
“Lama tidak berjumpa. Sean berkembang luar biasa. Dia telah mengusai dunia di usia yang masih sangat muda.” Kakek Jack sangat bangga pada cucu semata wayangnya.
“Aku mau dia cepat menikah dengan Maria dan memiliki banyak anak.” Kakek Jack tersenyum.“Jangan sampai hanya satu anak saja sehingga keturunan ini akan punah.” Kakek Sean mengepalkan tangannya. Ada amarah setiap kali mengingat sang menantu yang mati ketika sedang hamil.
“Saya rasa Tuan Muda butuh satu bulan untuk pulih,” ucap Elio.
“Satu minggu saja. Anak itu sudah bisa berkuda. Dia terbiasa terluka.” Jack tahu benar pelatihan Sean sejak kecil. Anak lelaki yang tahan banting dan tidak pernah meneteskan air mata pada rasa sakitnya.
“Jika bukan karena Sean menyukai Maria. Aku sudah menghancurkan keluarga Jordan tanpa bersisa. Aku akan ambil otak cerdas mereka dan lakukan penelitian.” Kakek Jack tersenyum tipis.
“Cara Tuan Sean cukup bagus, Tuan besar. Nona Maria adalah calon menantu yang tepat agar bisa melahirkan anak-anak dengan gen terbaik. Kecerdasan, kekuatan dan fisik sempurna.” Seorang pria berdiri di samping Jack. Dia adalah Luca. Asisten sang ketua Mafia.
Ketika ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan pun Sean tidak menangis, tetapi dia membalas dendam dengan menghancur keluarga Jordan dan mengambil putri mereka sebagai gantinya menjadi adik sekaligus istri yang harus melahirkan banyak anak untuknya.
“Ya. Maria harus melahirkan anak setip tahun untuk keluarga ini karena orang tuanya telah membunuh menantu dan cucu perempuanku.” Jack menghela napas dengan berat.
Perjanjian pernikahan terjadi karena kecelakaan yang tanpa disengaja menyebabkan ibu Sean yang sedang hamil meninggal dunia bersama bayi perempuan dalam kandungannya. Di malam yang gelap dan hujan. Jordan berserta istri dan putrinya, Maria sedang terburu-buru menuju bandara sehingga tidak sempat menyelamatkan Sonia yang mengalami kecelakaan mobil.
Terlambat dibawa ke rumah sakit menyebabkan Sonia dan putrinya meninggal dunia di tempat kecelakaan karena pendarahan hebat. Jordan dan istrinya benar-benar tidak tahu.
Jordan dan Leana memiliki dua putra dan seorang putri. Mereka terkenal dengan kecerdasan di atas rata-rata sehingga selalu menjadi kebanggaan dari kecil hingga dewasa.
Tim dokter terbaik telah menunggu Sean. Pria itu benar-benar mendapatkan perlakuan khusus. Semua orang harus menampilkan diri untuk memberikan servise terbaik untuk sang penguasa muda.“Cepat! Cepat! Tuan muda Sean terluka,” teriak kepala rumah sakit. Mereka telah menunggu Sean di atas rumah sakit. Disiapkan kursi roda dan juga tempat tidur perawat.Balutan malam masih terasa di atas kota ketika baling-baling helikopter berputar kencang, menimbulkan hembusan angin yang mengguncang kaca-kaca rumah sakit. Lampu sorot dari ekor helikopter menembus kabut tipis, menciptakan bayangan dramatis di dinding gedung.Roda pendarat menyentuh atap rumah sakit dengan hentakan tegas, suara logam beradu bergema di antara sirene ambulans yang meraung di bawah. Pintu samping terbuka perlahan, dan dari dalam, Sean melangkah turun lebih dulu—mantap, penuh kewaspadaan. Jaket hitamnya berkibar tertiup angin baling-baling, matanya tajam menyapu sekeliling, memastikan situasi aman.Aisyah menyusul, hijabnya
Para korban mulai dievakuasi ke rumah sakit. Api telah dijinakkan. Aisyah bersama tim masih sibuk memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan serta kebakaran dari ledakan mobil.“Aisyah, di mana dia?” Sean beranjak dari aspal. Dia mencari sosok sang istri yang tidak terlihat lagi di kekacauan tim medis dalam menolong para koran.“Tuan, Nyonya terus bergerak. Dia benar-benar tidak bisa diam,” jelas Elio yang juga terluka.“Anda tidak boleh memanggil Nyonya, Tuan. Itu akan memancing para musuh,” ucap Elio.“Aku harus mencari dia. Aku benar-benar khawatir dengan tindakan Aisyah. Dia hanya peduli pada orang lain, tetapi melupakan keselamatan diri sendiri.” Sean sedikit tertatih. Dia menyusuri jalanan untuk menemukan Aisyah.“Aisyah.” Sean melihat sekeliling. Dia berharap segera melihat Aisyah.Sirene mobil polisi dan ambulans masih meraung di jalan raya dan jembatan yang basah oleh hujan. Aisyah berlari cepat menuju tubuh seorang korban kecelakaan yang tergeletak tak sadarkan d
Aisyah bisa melihat Sean yang duduk di atas aspal retak. Pria itu terluka ketika keluar dari mobil dan menolong seorang wanita yang terjebak di dalam mobil.“Jangan mendekat!” Sean mengarahkan pistol pada Aisyah. Dia tahu bahwa tim medis dengan pakaian lengkap itu adalah seorang wanita.“Menjauh dari Tuan Sean!” Elio siap menembak Aisyah yang terdiam memperhatikan sang suami yang berdarah.“Dorr!” tembakan mengenai kotak obat milik Aisyah. Wanita itu segera bersembunyi. Dia tidak berisik karena sudah mengerti dengan situasi.“Apa?” Sean dan Elio terkejut.“Tidak ada yang boleh menyelamatkan Sean,” ucap pria itu.“Dia benar-benar tim dokter.” Sean tidak mengenali sang istri dan dia selalu waspada dalam kondisi apa pun.Sean memaksakan diri berdiri dan membunuh pria yang menembaki Aisyah. Peluru pria itu tidak pernah meleset dan target pasti mati karena dia selalu menjadikan organ vital sebagai sasaran. Tidak akan memberikan kesempatan kepada musuhnya untuk bernapas.Dengan dua pistol di
Aisyah berusaha menenangkan diri. Dia berharap suaminya baik-baik saja. Wanita itu menatap layar kaca yang menayangkan suasana kacau serta menegangkan. “Aisyah, kenapa belum tidur?” Noah mendekati Aisyah. “Kak, bawa perlengkapan medis. Kita pergi ke lokasi kecelakaan.” Aisyah memegang tangan Noah. “Apa?” Noah terkejut. Pria itu adalah dokter swasta yang bekerja sendiri. Dia tidak berhubungan dengan pemerintahan sehingga tidak akan ada panggilan untuk menjadi tim penolong. “Aisyah, di sana bahaya. Kakak sudah mendengarkan kabarnya,” ucap Noah memegang pundak Aisyah. “Lalu, kenapa Kakak tidak pergi menolong?” tanya Aisyah menatap pada Noah. “Kakak ….” Kalimat Noah terhenti. Pria itu tahu apa yang dipikirkan sang adik yang lebih memilih menjadi relawan tanpa bayaran dari pada bekerja di rumah sakit dengan gaji tinggi. “Baiklah. Kita pergi sekarang. Kita ke klinik dulu,” ucap Noah. “Kak, Kakak harus membawa aku dengan diam-diam.” Aisyah menatap Noah penuh arti. Dia memegang tangan
Maria membawa Aisyah ke kamarnya. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.“Maaf, aku sudah menggantikan kamu di rumah ini,” ucap Maria memegang tangan Aisyah.“Terima kasih sudah menggantikan aku sehingga rumah ini tidak sepi dan kehilangan.” Aisyah tersenyum pada Maria.“Aku tidak pernah berpikir untuk kembali, tetapi takdir berkata lain sehingga Sean bisa mengenali kamu,” ucap Aisyah.“Ya. Entah bagaimana pria itu bisa mengetahui bahwa aku palsu?” gumam Maria di dalam hati.“Mungkin karena kalian memang berjodoh,” ucap Maria.“Mungkin.” Aisyah memperhatikan kamar Maria.“Malam sudah larut. Aku harus menghubungi Sean. Dia belum kembali.” Aisyah beranjak dari sofa.“Kenapa tidak tunggu di sini saja hingga dia datang?” tanya Maria.“Sean biasanya melakukan panggilan video dan aku harus membuka cadar. Dia juga tidak suka ada orang lain. Aku pergi dulu.” Aisyah keluar dari kamar Maria dan pergi ke kamarnya.“Aku ingin menghancurkan Aisyah. Memisahkannya dari Sean. Sejak kedatangannya, sem
Sean benar-benar sibuk. Pria itu seakan tenang ketika Aisyah bersama keluarga Jordan karena ada Noah dan David yang dipastikan akan menjaga adik kandung mereka. Dia juga telah meninggalkan banyak pengawal yang berjaga sepanjang hari.“Sayang, aku masih bekerja. Apa kamu tidak masalah tetap di rumah Jordan?” Sean mengirim pesan kepada Aisyah. Pria itu melakukan perjalanan dinas. Dia benar-benar sibuk.“Tidak apa. Di rumah cukup ramai. Semua orang berkumpul,” balas Aisyah.“Tuan, apa Anda tidak menjemput Nyonya?” tanya Elio.“Biarkan dia menikmati waktu bersama keluarga kandung. Dari pada rindu keluarga di Kairo,” jawab Sean.“Anda benar, Tuan. Di sini Nyonya memiliki orang tua lengkap dan dua saudara yang menyanyangi Nyonya.” Elio.“Ya. Aku mau dia melupakan Kairo dan hanya mengingat Italia,” ucap Sean.Mobil menuju barat. Di mana matahari mulai tenggelam. Sean menyelesaikan banyak bisnis dalam satu hari. Dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.“Aku mau menghancurkan bisnis Vito. Jika bu
Ruang terasa semakin sempit, seolah dinding merapat mendekat. Nafas Maria terputus-putus, bukan hanya karena tekanan yang mengekang, tetapi juga karena rasa panik yang merayap ke seluruh tubuh. Tangannya berusaha memukul lengan kekar Sean, mencari celah untuk melarikan diri. Pikirannya berputar anta
Seorang pria duduk di ruangan kerja yang tenggelam dalam kesunyian. Lampu tidak menyala, hanya cahaya samar dari luar yang nyaris tak menembus tirai tebal. Meja kayu penuh dengan berkas yang tertinggal, seolah menunggu tangan yang tak kunjung kembali. Kursi berputar berdiri diam, bayangannya memanja
Pagi hari semua anggota keluarga sarapan bersama. Jack dan James bersiap untuk pergi keliling dunia untuk mengawasi bisnis. Rumah besar itu tampak sepi dan tenang. Maria berjalan menuju ruang makan. Dia melihat semua orang sudah duduk di kursi masing-masing.“Selamat pagi,” salam Maria dengan ramah.
Maria melambaikan tangan kepada keluarganya yang sudah meninggalkan kastil mewah keluarga Jack. Dia sendirian di depan pintu. Jack dan James pun telah menghilang. “Sepi sekali.” Maria melihat sekeliling.“Nona Maria. Saya akan mengantarkan Anda ke kamar Tuan Sean.” Seorang wanita tua menghampiri Ma







