INICIAR SESIÓN
Seorang pria yang menjadi incaran duduk bersama penumpang lain di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang di langit malam. Sean Costa Nostra. Keturunan keluarga mafia yang kejam. Dia kembali ke tanah air untuk menepati janji pernikahan dengan kekasih masa kecilnya bernama Maria.
Usinya masih muda, tetapi prestasi di dunia bisnis sudah sangat luar biasa. Bisnis legal dan illegal dijalaninya. Ajaran dari sang ayah dan kakek disempurnakan oleh Sean. Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi pola pikirnya sangat matang dalam mengambil keputusan dan bertindak.
“Berapa lama lagi penerbangan ini?” Sean memegang foto Maria yang baru lulus kuliah. Gadis yang sudah siap menikah dengan kekasih pujaan hati. Pria yang menjadi idaman semua wanita di dunia.
“Kita sekarang berada di atas pulau terpencil, Tuan. Ada perubahan jalur penerbangan,” jelas Elio yang merupakan asisten Sean.
“Anda bisa tidur terlebih dahulu, Tuan.” Elio memberikan selimut pada Sean.
“Hmm.” Sean menyimpan foto Maria. Dia memejamkan matanya.Malam itu, langit gelap hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Pesawat komersial yang sedang melaju tenang tiba-tiba diguncang oleh teriakan dan kekacauan: sekelompok penjahat bersenjata berhasil membajak kabin. Mereka memaksa pilot mengubah jalur penerbangan, sementara penumpang dicekam ketakutan.
Di dalam kokpit, pilot berusaha tetap tenang, berkomunikasi dengan menara pengawas secara terselubung, berharap ada jalan keluar. Namun para pembajak semakin brutal, menekan kru dan mengancam keselamatan semua orang. Ketegangan memuncak ketika pesawat kehilangan kendali akibat perebutan paksa di ruang kendali.
“Aaahh. Tolong! Jangan bunuh kami!” teriakan terdengar dari kursi belakang. “Apa yang terjadi?” tanya Sean membuka matanya. Pria itu tetap tenang.Elio terkejut melihat keributan di badan pesawat. Para penumpang yang hanya berjumlah beberapa orang saja itu ketakutan karena ada pembajakan. Tiga orang pria mengeluarkan senjata api dan menodongkan pada seorang pramugari.
“Ada penjahat, tetapi mereka tidak merampok. Apa yang mereka inginkan?” Elio duduk di samping Sean.
“Sean Costa Nostra. Di mana kamu?” teriak seorang pria dengan senjata api di tangannya.“Hari ini adalah jadwal kamu kembali ke Italia. Kami sudah menyelundupkan banyak pasukan untuk menangkap kamu,” ucap pria itu berjalan menyusui pesawat.
“Apa kamu di sini Sean?” tanya pria itu berteriak.
“Keluar! Atau aku akan membunuh satu persatu penumpang yang ada di dalam pesawat ini.” Pria itu menarik seorang wanita hamil.“Tidak! Tolong!” Wanita itu berteriak ketakutan. Air mata telah membanjiri wajahnya.
“Bos, pesawat akan segera mendarat di pulau kosong,” ucap seorang pria yang keluar dari ruangan pilot. “Tuan, tolong tenang.” Pinta pramugari yang juga menjadi sandera.“Oh, kamu saja yang menggantikan wanita hamil ini.” Pria itu menarik tangan pramugari dan menekan tubuh wanita ke dinding pesawat.
“Aaah!” Sang pramugari kesakitan. Kepalanya terbentur.
“Sean! Keluarlah! Aku ingin melihat wajah cucu kesayangan raja mafia!” teriak seorang pria dari pengeras suara. “Subhanallah. Ini adalah takdir Allah. Aku seharusnya pulang dengan pesawat ekonomi, tetapi terjebak di sini.” Seorang wanita dengan pakaian serba hitam lengkap cadar penutup wajah untuk menyembunyikan kecantikannya tersenyum pada takdir yang tidak biasa untuk pertama kali dialaminya.Selama ini, hidupnya sangat tenang dan damai. Tidak ada hal yang mengejutkan. Apalagi bertemu dengan para penjahat di dalam pesawat yang sedang berada di ketinggian. Dia adalah Aisyah. Seorang dokter bedah muda yang sangat terkenal.
“Aaarrgh! Tolong!” Wanita yang sedang hamil berteriak kesakitan. Air ketuban bercampur darah telah mengalir membasahi pakaian dan lantai pesawat.“Tolong! Tolong anakku.” Wanita itu berteriak dan menangis. Dia mengusap perutnya yang sakit.
“Diam!” Penjahat mengarahkan pistol pada wanita yang sedang hamil.
“Allahuakbar.” Aisyah berdiri.“Aku akan menolong wanita ini melahirkan. Apa boleh?” tanya Aisyah menatap tajam pada penjahat. Dia benar-benar tidak tega melihat dua nyawa yang mungkin akan melayang bersama.
“Hey. Kamu adalah teroris. Seorang penjahat dengan wajah ditutupi dan hanya memperlihatkan mata saja. Tetapi, bola mata kamu sangat indah. Hijau kebiruan seperti berlian.” Pria itu mendekati Aisyah.
“Bola mata hijau.” Sean ingat benar bahwa hanya keluarga calon istrinya yang memiliki bola mata hijau langka.
“Aku seorang dokter bedah. Ini kartu dokterku.” Aisyah memperlihatkan kartunya kepada penjahat tanpa ragu.
“Dokter khusus.” Pria itu tersenyum tipis. “Kamu tidak akan menyelamatkan wanita itu kecuali pria bernama Sean keluar,” tegas penjahat.“Apa kamu yakin penumpang bernama Sean ada di sini? Apa Anda memiliki foto atau data dia?” tanya Aisyah tanpa ragu. Wanita muda itu tidak terlihat takut sama sekali. Suaranya tenang dan stabil.
“Sean adalah keturuan mafia. Dia pasti bisa memalsukan identitas diri,” jawab penjahat. “Karena kamu seorang dokter. Nyawa kamu akan kami ampuni.” Pria itu tersenyum. “Apa bisa bukakan cadar kamu? Aku mau melihat wajah di balik kain penutup ini?” Pria itu ingin menyentuh Aisyah, tetapi dengan cepat sang dokter menghidar.“Tidak akan,” tolak Aisyah tegas.
“Dor!” Sebuah tembakan terdengar dari ruang pilot. “Apa yang terjadi?” tanya semua orang panik.“Bos! Pilot tidak mau mendaratkan pesawat. Terjadi pertengkaran di kokpit,” ucap seorang pria.
“Aaarrgh!” Semua orang berteriak karena pesawat yang mulai oleng dan keluar jalur yang seharusnya.
“Aaah!” Aisyah yang sedang berdiri jatuh tepat di pelukan Sean. Pria dengan wajah tampan dan mengenakan topi serta kacamata.
“Bola mata hijau.” Sean menatap bola mata Aisyah yang berubah warna dengan cepat ketika terkena cahaya. Alis tersusun rapi dengan bulu mata panjang dan lentik.“Maria.” Sean terus menatap Aisyah.
“Maaf.” Aisyah segera beranjak dari pangkuan Sean. “Mari. Bu.” Aisyah masih sempat menolong wanita hamil dan membantu untuk duduk di kursi dengan tidak lupa memasang sabuk pengaman. “Semua kenakan sabuk pengaman!” teriak pramugari.“Aaarg!” Tubuh Aisyah terdorong. Dia terjatuh di lantai. Tangan Sean berhasil memegang wanita itu. Bola mata mereka kembali bertemu. Ada tarikan yang tidak mampu ditolak.
“Terima kasih.” Aisyah menarik diri dan menjauh dari Sean.
Pesawat kembali stabil dengan ketinggian seribu kilometer di atas permukaan laut. Pilot tidak bisa mendarat sembarangan tempat. Itu semua demi keselamatan para penumpang.
“Mendarat!” perintah penjahat.
“Tidak ada lintasan terbang di pulau itu,” jelas pilot.“Kita bisa ke pulau sebelahnya,” ucap co-pilot.
“Lakukan pendaratan darurat. Ada padang rumput di pulau itu. Kami telah memeriksanya.” Seorang pria mengarahkan pistol ke kepala copilot.
“Apa kamu mau mati seperti dia?” Penjahat tersenyum melihat seorang pramugrari yang sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah. “Sean! Keluar atau wanita hamil ini akan mati bersama anaknya!” Penjahat berdiri di samping kursi wanita hamil dengan mengarahkan senjata pai.“Aku akan keluarkan bayi dengan tembakan. Hahaha!” Penjahat tertawa puas.
“Tolong ampuni kami.” Wanita hamil benar-benar ketakutan.
“Harusnya aku pulang dengan jet pribadi.” Sean mengepalkan tangannya.
“Ya Allah. Apa yang akan terjadi?” Aisyah melihat pada wanita yang sudah mengalami pendarahan.
“Bunuh seorang ibu hamil, pramugari dan lecehkan wanita bercadar itu.” Penjahat tersenyum pada Aisyah.“Aku yakin. Dia adalah penumpang paling cantik di pesawat ini. Seorang dokter yang masih sangat muda dan memiliki passport serta visa khusus.” Pria itu memegang kartu identitas Aisyah.
“Ya Allah lindungilah kesucian hamba hingga ajal menjemput.” Aisyah hanya bisa membaca doa. Tidak ada yang mampu dilakukan karena mereka sedang berada di langit.
“Mulai dari pramugari itu.” Penjahat mengarahkan pistol pada pramugari yang duduk di kursinya.
“Dor!” Sebuah tembakan tepat di dada pramugari.
“Ya Allah. Apa pria bernama Sean itu benar-benar ada di dalam pesawat? Apa dia akan keluar dengan berani atau akan tetap bersembunyi?” Mata Aisyah mencari sosok yang dicurigai sebagai Sean.
“Penumpang pesawat ini hanya sedikit. Selebihnya mereka adalah penjahat.” Aisyah berusaha untuk tenang dalam tasbih dan tahmid yang tidak pernah luput dari lidahnya.
Tasbih digital terselip di jari manis tangan kanan. Hapalan Alquran yang tidak pernah hilang dari ingatan. Wanita muda itu benar-benar mampu mengontrol emosinya selama tidak ada pria yang menyentuhnya.
“Kamu! Buka kain penutup wajah!” teriak penjahat dengan mengarahkan pistol pada Aisyah.
“Hentikan!” Sean berdiri. Pria itu seakan tidak rela melihat wanita Muslimah dilecehkan. Dia bukan seorang muslim, tetapi cukup menganggumi wanita berhijab dan menutup aurat karena perempuan dengan pakaian seksi bahkan telanjang biasa dimatanya.
“Tuan.” Elio terkejut karena tidak biasanya majikannya peduli pada orang asing.“Aku Sean Costa Nostra.” Sean melihat pada Aisyah yang sudah duduk di kursi. Bola mata hijau itu benar-benar mengingatkannya pada Maria yang merupakan calon istrinya. Ada kilatan tidak biasa yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Jordan dan Leana duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Pasangan suami istri itu tampak gelisah.“Sayang, Sean akan segera pulang. Mereka akan bertemu di hari ulang tahun Maria yang kedua puluh.” Leana menatap Jordan. “Ya. Dia akan pulang, tetapi tidak tahu kapan? Maria akan berulang tahun bulan depan.” Jordan menggenggam tangan Leana.“Apa yang kamu khawatirkan? Maria telah kita didik dengan sangat baik dan pantas menjadi istri Sean.” Jordan tersenyum.“Ya. Maria tidak pernah mengecewakan kita. Dia pasti bisa diterima Sean.” Leana memeluk Jordan. Ada ketakutan yang tidak bisa diungkapkan.“Sepuluh tahun telah berlalu. Aku merindukan putri kecil kita,” gumam Leana.“Ini adalah pengorbanan yang yang harus kita lakukan untuk sebuah perlindungan. Putus hubungan dengan keluarga.” Jordan mencium dahi Leana. Pria itu menghela napas dengan berat.“Seperti diriku yang rela menikahi kamu sehingga pergi ke negara ini.” Jordan mencium bibir Leana dengan lembut.Maria berdiri di depan cermin. Wa
“Alhamdulilah.” Aisyah tersenyum melihat kedatangan para penyelamat. Dia berlari menuju tenda darurat.“Dia.” Sean mengikuti Aisyah dengan tubuh yang sakit.“Semuanya. Tim penyelamat datang.” Aisyah benar-benar bersemangat untuk menyampaikan kabar bahagia kepada semua orang yang masih selamat.“Syukurlah.” Semua orang keluar dari tenda dan tersenyum bahagia. Mereka saling berpelukan.“Dokter Aisyah.” Sean berdiri di depan Aisyah yang baru selesai berkemas.“Ada apa? Kenapa kembali lagi?” tanya Aisyah.“Terima kasih. Ini kartu nama pribadiku. Aku akan membayar bantuan yang telah kamu berikan.” Sean memberikan kartu khusus miliknya pada Aisyah.“Tidak perlu. Allah yang akan membayarku. Mulai dari naik pesawat, aku sudah ditakdirkan untuk merawat dan mengobati kalian.” Aisyah menolak kartu nama dari Sean.“Kamu bisa meminta apa pun sebagai bayaran,” tegas Sean.“Terima kasih.” Aisyah meninggalkan Sean.Aisyah membantu pramugari dan ibu serta bayi keluar dari tenda menuju helikopter. Dia
Aisyah sendirian mengobati para penumpang dan kru pesawat. Dia memeriksa semua orang baik itu para penjahat.“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Pria itu menembaki mereka tepat di jantung. Benar-benar ahli.” Aisyah melihat pada Sean yang rebahan di lantai pesawat.“Rena! Bangun Rena!” Pramugari menangis memeluk rekannya yang telah meninggal dunia akibat tebakan penjahat.“Tenangkan diri kamu. Kita harus memikirkan yang masih bisa diselamatkan. Doakan dia tenang.” Aisyah menenangkan pramugari yang kehilangan rekan kerja.“Dokter.” Pramugari menangis tersedu-sedu memeluk Aisyah. Tubuh mereka benar-benar lemas melihat darah yang bersimpah di badan teman dan lantai serta kursi pesawat.“Apa kamu sudah menghubungi tim penyelamat?” tanya Sean.“Sudah, Tuan. Kita harus berhati-hati. Takutnya musuh datang lebih dulu.” Elio membantu Sean duduk.“Di mana wanita tadi?” Sean melihat sekeliling.“Dia sedang membantu persalinan wanita hamil di balik kursi belakang,” jawab Elio melihat sekeliling. Pr
Lampu kabin redup, hanya menyisakan bayangan wajah-wajah tegang. Sean berdiri tegak keluar dari kursinya dengan tetap tenang, ketika para penjahat maju dengan langkah kasar. Senjata mereka berkilat di bawah cahaya lampu darurat, suara dingin mengancam.“Jangan coba-coba melawan. Kau ikut aturan kami, atau semua orang di sini akan menanggung akibatnya.” Penjahat berdiri di depan Sean. Pria itu memperhatikan sang mafia muda yang menatapnya tanpa ekspresi.Sean menatap lurus. Para penjahat semakin mendekat, satu di antaranya menekan bahu Sean, seolah menegaskan bahwa ia kini menjadi pusat perhatian. Penumpang lain menahan napas, menyadari bahwa keselamatan mereka bergantung pada keberanian Sean menghadapi ancaman.“Hahaha. Benar-benar masih muda dan berani. Apa kamu tidak sejahat ayah dan kakek kamu? sehingga rela berkorban untuk para penumpang.” Pria itu bisa melihat sorot mata Sean yang tidak takut sama sekali.“Aku tidak sedang berkorban, tetapi kita akan mati bersama di sini.” Sean t
Seorang pria yang menjadi incaran duduk bersama penumpang lain di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang di langit malam. Sean Costa Nostra. Keturunan keluarga mafia yang kejam. Dia kembali ke tanah air untuk menepati janji pernikahan dengan kekasih masa kecilnya bernama Maria.Usinya masih muda, tetapi prestasi di dunia bisnis sudah sangat luar biasa. Bisnis legal dan illegal dijalaninya. Ajaran dari sang ayah dan kakek disempurnakan oleh Sean. Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi pola pikirnya sangat matang dalam mengambil keputusan dan bertindak.“Berapa lama lagi penerbangan ini?” Sean memegang foto Maria yang baru lulus kuliah. Gadis yang sudah siap menikah dengan kekasih pujaan hati. Pria yang menjadi idaman semua wanita di dunia.“Kita sekarang berada di atas pulau terpencil, Tuan. Ada perubahan jalur penerbangan,” jelas Elio yang merupakan asisten Sean.“Anda bisa tidur terlebih dahulu, Tuan.” Elio memberikan selimut pada Sean.“Hmm.” Sean menyimpan foto Maria. Dia memejam







