LOGINJordan dan Leana duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Pasangan suami istri itu tampak gelisah.
“Sayang, Sean akan segera pulang. Mereka akan bertemu di hari ulang tahun Maria yang kedua puluh.” Leana menatap Jordan.
“Ya. Dia akan pulang, tetapi tidak tahu kapan? Maria akan berulang tahun bulan depan.” Jordan menggenggam tangan Leana.“Apa yang kamu khawatirkan? Maria telah kita didik dengan sangat baik dan pantas menjadi istri Sean.” Jordan tersenyum.
“Ya. Maria tidak pernah mengecewakan kita. Dia pasti bisa diterima Sean.” Leana memeluk Jordan. Ada ketakutan yang tidak bisa diungkapkan.
“Sepuluh tahun telah berlalu. Aku merindukan putri kecil kita,” gumam Leana.
“Ini adalah pengorbanan yang yang harus kita lakukan untuk sebuah perlindungan. Putus hubungan dengan keluarga.” Jordan mencium dahi Leana. Pria itu menghela napas dengan berat.
“Seperti diriku yang rela menikahi kamu sehingga pergi ke negara ini.” Jordan mencium bibir Leana dengan lembut.
Maria berdiri di depan cermin. Wanita dengan rambut ikal dan hitam sebahu itu tersenyum melihat wajah cantiknya dengan bola mata hijau.
“Aku akan bertemu dengan Kak Sean. Dia sangat tampan.” Maria melihat foto Sean yang ditempel di cermin. Tatapan tajam tanpa senyuman. Pria itu benar-benar dingin.
“Selama ini kita hanya berkomunikasi lewat ponsel. Aku sudah tidak sabar bertemu langsung dengannya.” Maria menghempas tubuhnya di kasur.“Kak Sean.” Maria tersenyum melihat foto Sean yang juga ada di ponselnya.
“Kita akan bertunangan di hari ulang tahunku. Aku sudah tidak sabar. Ada banyak wanita yang ingin menjadi pasangannya, tetapi hanya aku yang beruntung.” Maria terus tersenyum bahagia. Dia membayangkan tampan dan gagahnya Sean yang telah berusia tiga puluh tahun.
“Kapan Kak Sean kembali? Apa dia akan datang di hari ulang tahunku? Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya sebelum itu.” Maria benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Sean. Pria tampan yang sudah sukses di usia tiga puluh tahun. Dia memiliki kemampuan dan mendapatkan dukungan kuat dari kakek dan papanya.
Noah berada di rumah sakit. Pria itu baru saja keluar dari ruangan operasi. Dia adalah seorang dokter bedah yang cukup popular. Lelaki tampan dan masih lajang. Kakak kedua dari Maria.
“Dokter Noah, Tuan Sean sudah kembali ke Italia,” lapor seorang pria kepada Noah yang baru saja duduk di kursi kerjanya.
“Bukankah dia pulang sebulan lagi tepat di hari ulang tahun Maria?” Noah menatap Enzo yang merupakan asisten pribadinya.
“Saya terus mengawasi keluarga Jack dan mendapatkan bahwa mereka mengirimi helicopter dan jet pribadi pada pesawat terbang yang mengalami kecelakaan dan terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni,” jelas Enzo.
“Apa Sean mengalami luka?” tanya Noah.
“Tidak ada informasi,” jawab Enzo.
“Wajar saja. Dia pasti dilindungi dengan baik. Tidak disangka pesawatnya bisa diserang musuh.” Noah melihat berita tentang kecelakaan pesawat serta daftar para penumpang yang meninggal dunia dan selamat.
“Dua pramugari. Seorang wanita yang baru melahirkan. Sean dan asisten. Pilot dan copilot. Dokter bedah Aisyah.” Noah mendapatkan informasi dengan cara rahasia karena kecelakaan pesawat ditutupi dengan sangat baik sehingga tidak ada berita yang tersebar di media mana pun.
“Para korban mendapatkan santunan yang tinggi dari pihak maskapai dan juga keluarga Sean untuk menutupi kejadian jatuhnya pesawat,” jelas Enzo.
“Dokter Aisyah. Tidak disangka dia bisa terjebak di pesawat bersama Sean. Padahal aku sudah lama ingin bertemu dengannya. Namanya sangat popular.” Noah yang seorang dokter bedah sangat mengagumi Aisyah karena usia yang masih sangat muda sudah ahli di dunia kedokteran khususnya specialis bedah canggih.
“Apa Anda mau ke Kairo untuk bertemu dengan dokter Aisyah? Mereka baru saja menciptakan peralatan baru untuk dunia kedokteran dan akan di resmikan di hari ulang tahunnya bulan depan,” jelas Enzo.“Ulang tahunnya sama dengan Maria.” Noah melihat data diri Aisyah.
“Benar, Tuan. Apa Anda tertarik dengan dokter Aisyah? Aku dengar dia sudah memiliki tunangan dari kecil yaitu Profesor Khaled.” Enzo memperhatikan Noah.
“Kita berbeda. Dia tidak akan mungkin jatuh cinta pada pria tanpa agama sepertiku.” Noah tersenyum.
“Lihatlah pakaiannya yang tertutup.” Noah memperlihatkan foto Aisyah yang sedang berada di negara konflik.
“Dia bahkan rela menjadi relawan di negara konflik.” Noah tersenyum.
“Lahir di keluarga kaya raya, tetapi mau hidup susah. Apa itu bukan bukti ketaatan pada agamanya?” Noah sudah menyerah lebih dulu untuk mengejar Aisyah karena dia sadar akan posisinya yang tidak memiliki agama.
“Mm.” Enzo mengangguk.
“Aku sangat ingin hadir di acara peluncuran produk baru mereka, tetapi tidak bisa karena waktunya bersamaan dengan ulang tahun Maria.” Noah menatap undangan terbuka peluncuran peralatan medis canggih yang telah disempurnakan oleh tim ahli dari seluruh dunia.
“Kita pulang. Malam ini ada makan malam keluarga untuk persiapan ulang tahun Maria dan acara pertunangan.” Naoh beranjak dari kursi dan keluar dari ruang kerjanya.
“Baik, Tuan. Saya kembali bekerja.” Enzo menunduk.
Noah mengendari mobil menuju rumah mewah milik keluarga. Mobil putih masuk ke dalam garasi. Dia berjalan menuju kamarnya.
“Noah.” David menunggu Noah di depan pintu kamar adiknya.
“David.” Noah menatap heran pada David.
“Apa kamu sudah tahu tentang Sean?” tanya David.
“Sudah.” Noah menyenderkan punggungnya di dinding pagar pembatas lantai dua.
“Aku khawatir. Pria itu sangat cerdas,” ucap David.
“Papa dan mama sudah mempersiapkan Maria dengan sangat baik. Dia pasti mampu menjadi istri Sean.” Noah tersenyum.
“Dia adalah adik kita dan sudah bersama selama sepuluh tahun. Tumbuh besar bersama.” David mennghela napas dengan berat.
“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya Noah.
“Aku kasian pada Maria,” jawab David.
“Dia adalah pembayar utang untuk keluarga kita,” ucap Noah.
“Apa kamu tidak memikirkan Maria?” David melihat Noah membuka pintu kamar dan pria itu mengikuti adiknya. Dia duduk di sofa.“Hmm.” Noah melepaskan jas putih dan masuk ke kamar mandi. Pria itu membersihkan diri karena tubuhnya gerah sepulang dari rumah sakit.
“Pembersih, tetapi jadi dokter.” David membuka ponsel dan memeriksa laporan dari perusahaan.
“Di mana Maria?” tanya Noah keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang. Otot perut dan dada bidang terlihat seksi.
“Di kamar. Dia mempersiapkan diri untuk bertemu calon suaminya. Pria yang paling digilai semua wanita,” jawab David.
“Kenapa dia memilih menjadi dosen dan bukan menjadi dokter?” Noah membuka lemari dan berpakaian.
“Dosen lebih santai dari pada dokter,” jawab David melihat pada Noah duduk di sofa.
“Maria kecil sangat peduli dengan orang lain. Dulu, dia sangat ingin menjadi dokter seperti aku. Menolong para pasien yang sakit dan terluka,” ucap Noah.
“Lupakan Maria kecil sekarang dia adalah Maria dewasa dan mereka berbeda.” David menatap Noah.
“Hhh!” Noah melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
“Bukankah Sean mau Maria menjadi dokter?” tanya Noah.
“Sean tidak akan memaksa Maria karena cinta,” ucap David.
“Apa kamu lupa bahwa Sean adalah seorang Mafia yang mungkin akan sering terluka? Itu adalah alasan dia menginginkan Maria menjadi dokter yang pemberani,” jelas Noah.
“Hm.” David terlihat berpikir. Mereka tidak bisa memaksakan Maria untuk menjadi dokter bedah seperti Noah.
“Maria lebih tertarik menjadi model dan perancang busana seperti mama,” ucap David.
“Ya, tetapi mama dan papa melarangnya karena Sean mau dia mengusasi dunia kedokteran dan kesehatan,” tegas Noah.
Dua bersaudara dengan beda profesi duduk bersama membicarakan masa depan adik mereka yang akan segera bertunangan dengan Sean. David seorang pengusaha sukses dan Noah dokter bedah. Maria memilih menjadi dosen di kampus kedokteran.
Terima kasih. Semoga suka dengan karya baru yang berbeda dari biasanya. Semoga menjadi warna dan wajah baru di GoodNovel, Aaamiin.
Aisyah berusaha menenangkan diri. Dia berharap suaminya baik-baik saja. Wanita itu menatap layar kaca yang menayangkan suasana kacau serta menegangkan.“Aisyah, kenapa belum tidur?” Noah mendekati Aisyah.“Kak, bawa perlengkapan medis. Kita pergi ke lokasi kecelakaan.” Aisyah memegang tangan Noah.“Apa?” Noah terkejut. Pria itu adalah dokter swasta yang bekerja sendiri. Dia tidak berhubungan dengan pemerintahan sehingga tidak akan ada panggilan untuk menjadi tim penolong.“Aisyah, di sana bahaya. Kakak sudah mendengarkan kabarnya,” ucap Noah memegang pundak Aisyah.“Lalu, kenapa Kakak tidak pergi menolong?” tanya Aisyah menatap pada Noah.“Kakak ….” Kalimat Noah terhenti. Pria itu tahu apa yang dipikirkan sang adik yang lebih memilih menjadi relawan tanpa bayaran dari pada bekerja di rumah sakit dengan gaji tinggi.“Baiklah. Kita pergi sekarang. Kita ke klinik dulu,” ucap Noah.“Kak, Kakak harus membawa aku dengan diam-diam.” Aisyah menatap Noah penuh arti. Dia memegang tangan sang ka
Maria membawa Aisyah ke kamarnya. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.“Maaf, aku sudah menggantikan kamu di rumah ini,” ucap Maria memegang tangan Aisyah.“Terima kasih sudah menggantikan aku sehingga rumah ini tidak sepi dan kehilangan.” Aisyah tersenyum pada Maria.“Aku tidak pernah berpikir untuk kembali, tetapi takdir berkata lain sehingga Sean bisa mengenali kamu,” ucap Aisyah.“Ya. Entah bagaimana pria itu bisa mengetahui bahwa aku palsu?” gumam Maria di dalam hati.“Mungkin karena kalian memang berjodoh,” ucap Maria.“Mungkin.” Aisyah memperhatikan kamar Maria.“Malam sudah larut. Aku harus menghubungi Sean. Dia belum kembali.” Aisyah beranjak dari sofa.“Kenapa tidak tunggu di sini saja hingga dia datang?” tanya Maria.“Sean biasanya melakukan panggilan video dan aku harus membuka cadar. Dia juga tidak suka ada orang lain. Aku pergi dulu.” Aisyah keluar dari kamar Maria dan pergi ke kamarnya.“Aku ingin menghancurkan Aisyah. Memisahkannya dari Sean. Sejak kedatangannya, se
Sean benar-benar sibuk. Pria itu seakan tenang ketika Aisyah bersama keluarga Jordan karena ada Noah dan David yang dipastikan akan menjaga adik kandung mereka. Dia juga telah meninggalkan banyak pengawal yang berjaga sepanjang hari.“Sayang, aku masih bekerja. Apa kamu tidak masalah tetap di rumah Jordan?” Sean mengirim pesan kepada Aisyah. Pria itu melakukan perjalanan dinas. Dia benar-benar sibuk.“Tidak apa. Di rumah cukup ramai. Semua orang berkumpul,” balas Aisyah.“Tuan, apa Anda tidak menjemput Nyonya?” tanya Elio.“Biarkan dia menikmati waktu bersama keluarga kandung. Dari pada rindu keluarga di Kairo,” jawab Sean.“Anda benar, Tuan. Di sini Nyonya memiliki orang tua lengkap dan dua saudara yang menyanyangi Nyonya.” Elio.“Ya. Aku mau dia melupakan Kairo dan hanya mengingat Italia,” ucap Sean.Mobil menuju barat. Di mana matahari mulai tenggelam. Sean menyelesaikan banyak bisnis dalam satu hari. Dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.“Aku mau menghancurkan bisnis Vito. Jika b
David masih berada di perusahaan. Pria itu sedang rapat penting setelah terlepas dari ancaman Sean. Dia mulai bangkit kembali. “Aisyah.” David melihat pesan dari Leana yang mengatakan Aisyah pulang ke rumah mereka. “Rapat kita ditunda besok!” David beranjak dari kursi. “Apa?” Semua orang di dalam ruangan rapat terkejut karena David tidak pernah menghentikan rapat. Pria itu selalu menyelesaikan tugas tepat waktu. Apalagi mereka sedang proses penstabilan perusahaan. “Tuan David, ada apa?” tanya sekretarisnya. “Aku ada urusan keluar dan harus pulang.” David mengambil kunci mobil dan langsung meninggalkan perusahaan tanpa menunggu lagi. Pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik kesayangan yang telah lama hilang dan baru bertemu beberap kali saja. Ada rindu yang tidak bisa digantikan dengan yang lain. “Ada apa?” Sang sekretaris melihat David tergesa-gesa. “Ini pertama kalinya aku melihat Tuan David meninggalkan rapat.” Wanita itu cukup heran dengan sikap David. Tidak ada y
Sean pulang dini hari ketika Aisyah sedang salat tahajud. Wanita itu melihat mobil hitam masuk ke garasi.“Siang hari dia lebih banyak di rumah, tetapi di malamnya bekerja.” Aisyah sangat ingin bertanya tentang pekerjaan Sean.“Dia mengatakan memberiku uang halal,” ucap Aisyah duduk di tepi kasur. Dia menunggu sang suami yang tidak juga datang.“Kenapa belum ke kamar?” tanya Aisyah pada dirinya sendiri.“Apa dia tidak tidur di sini?” Aisyah gelisah karena sudah terbiasa tidur dalam pelukan suami. Pria yang selalu menempel padanya sepanjang hari.“Mungkin dia tidak akan datang.” Aisyah mematikan lampu dan merebahkan tubuh di kasur. Dia menarik selimut dan memeluk guling. Memejamkan mata dalam senyuman. Membiasakan diri ketika sang suami tidak di sisinya.Sean pergi ke kamarnya. Pria itu mandi dan berganti pakaian. Membuang baju, celana dan semua kain yang melekat di tubuhnya ke tempat sampah. Dia mengeringkan diri.“Aisyah.” Sean duduk di sofa. Dia terlihat berpikir sejenak.“Aku akan k
Setelah puas bercinta dengan sang istri. Sean izin pergi bekerja. Selama mencari Aisyah, dia hampir tidak peduli dengan bisnisnya. Beruntung, pria itu memiliki anak buah yang sangat setia padanya. “Sayang, apa malam ini aku boleh pergi?” tanya Sean bersimpuh di hadapan Aisyah.“Kemana?” tanya Aisyah menyentuh kedua pipi Sean.“Memeriksa gudang di ujung kota. Selama mencari kamu, aku hampir tidak bekerja sama sekali,” jelas Sean.“Maafkan aku, Sayang.” Aisyah terlihat sedih.“Tidak, Sayang. Ini bukan salah kamu.” Sean beranjak dari lantai dan memeluk Aisyah.“Ini salah pria gila yang menculik kamu dan memisahkan kita.” Suara Sean terdengar tertekan.“Baiklah. Aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Pergilah. Ingat harus hati-hati.” Aisyah tersenyum cantik.“Terima kasih, Sayang.” Sean mengecup dahi dan bibir Aisyah.“Kamu harus tidur dan tidak usah menungguku karena lokasi gudang sangat jauh dari pusat kota sehingga aku butuh waktu yang lama untuk pergi dan pulang,” jelas Sean.“Ya.” Ais
Sean sibuk mencari informasi sepuluh tahun yang lalu. Dia hampir tidak pulang ke rumah dan lebih sering berada di kantor serta markas rahasia miliknya. Hubungannya dengan tunangan semakin merenggang. Pria itu memberikan kebebasan kepada calon istrinya.Maria yang tidak puas dengan acara pertunangan
Leana terduduk lemas di sofa. Dia masih ditemani Noah yang juga hanya diam menatap sang ibu.“Bagaimana sekarang, Ma?” tanya Noah.“Mama sudah tidak tahu lagi. Mama tidak menyangka semua akan terungkap dengan cepatnya. Kita telah kehilangan Maria.” Leana menangis dan memeluk Noah.“Dosa yang tidak s
Ruang terasa semakin sempit, seolah dinding merapat mendekat. Nafas Maria terputus-putus, bukan hanya karena tekanan yang mengekang, tetapi juga karena rasa panik yang merayap ke seluruh tubuh. Tangannya berusaha memukul lengan kekar Sean, mencari celah untuk melarikan diri. Pikirannya berputar anta
Seorang pria duduk di ruangan kerja yang tenggelam dalam kesunyian. Lampu tidak menyala, hanya cahaya samar dari luar yang nyaris tak menembus tirai tebal. Meja kayu penuh dengan berkas yang tertinggal, seolah menunggu tangan yang tak kunjung kembali. Kursi berputar berdiri diam, bayangannya memanja







