Home / Mafia / Obsesi Cinta Sang Mafia / Bab 2 Tragedi Pesawat

Share

Bab 2 Tragedi Pesawat

last update publish date: 2026-02-09 06:55:24

Lampu kabin redup, hanya menyisakan bayangan wajah-wajah tegang. Sean berdiri tegak keluar dari kursinya dengan tetap tenang, ketika para penjahat maju dengan langkah kasar. Senjata mereka berkilat di bawah cahaya lampu darurat, suara dingin mengancam.

“Jangan coba-coba melawan. Kau ikut aturan kami, atau semua orang di sini akan menanggung akibatnya.” Penjahat berdiri di depan Sean. Pria itu memperhatikan sang mafia muda yang menatapnya tanpa ekspresi.

Sean menatap lurus. Para penjahat semakin mendekat, satu di antaranya menekan bahu Sean, seolah menegaskan bahwa ia kini menjadi pusat perhatian. Penumpang lain menahan napas, menyadari bahwa keselamatan mereka bergantung pada keberanian Sean menghadapi ancaman.

“Hahaha. Benar-benar masih muda dan berani. Apa kamu tidak sejahat ayah dan kakek kamu? sehingga rela berkorban untuk para penumpang.” Pria itu bisa melihat sorot mata Sean yang tidak takut sama sekali.

“Aku tidak sedang berkorban, tetapi kita akan mati bersama di sini.” Sean tersenyum tipis penuh penghinaan.

“Duduk!” tangan penjahat mendorong tubuh Sean hingga terduduk di kursi.

Bayangan malam menekan kabin pesawat yang sunyi. Sean tidak bergeming sama sekali ketika para penjahat mendekat dengan tatapan dingin. Senjata mereka terangkat, suara ancaman bergema di ruang sempit.

“Sekarang kau milik kami. Satu gerakan saja, dan semua orang di sini akan menanggung akibatnya!” Pria itu sangat senang bisa membuat Sean terduduk tidak berkutik.

“Aku penjahat, tetapi kami tidak pernah melecehkan wanita yang tidak berdosa seperti yang kalian lakukan saat ini. Bisnis tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan permainan.” Sean tersenyum dengan menaikkan sudut bibirnya. Di matanya para penjahat hanya kerikil kecil yang tidak mampu menjatuhkannya.

“Diam! Door!” Sebuah tembakan mengena bahu Sean dan darah keluar dengan cepat dari lubang peluru.

“Tuan!” Elio terkejut melihat Sean yang sudah terluka.

“Diam! Door!” Lengan Elio ditembak.

“Bos. Kita harus membawa tuan Sean dengan selamat!” Sang anak buah menahan pemimpin mereka.

“Aarrgh!” Semua orang berteriak ketika terjadi goncangan tiba-tiba.

Pesawat yang meluncur di langit malam tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Alarm berbunyi, lampu darurat berkedip, dan getaran keras terasa di seluruh badan pesawat. Pilot berusaha keras mengendalikan kemudi, tetapi sistem navigasi sudah tak stabil akibat dari tembakan-tembakan yang dilepaskan para penjahat.

“Apa yang terjadi?” Penjahat yang tadi berdiri segera duduk di kursi mereka masing-masing dan memasang sabuk pengaman.

Sean mengambil kesempatan. Pria itu merebut senjata dari tangan penjahat dan menembaki mereka tanpa ampun. Tangannya sangat lincah dan cepat. Sasarannya tepat. Tidak ada yang meleset. Semua peluru bersarang di jantung. Dia mampu menggunakan tangan kiri dan kanan sama hebat.

“Aaarrh!” Semua orang berteriak termasuk juga para kru pesawat. Mereka benar-benar ketakutan.

“Biarkan para penjahat itu mati.” Para penumpang yang takut cukup senang melihat Sean berhasil membunuh penjahat yang telah membajak pesawat dan mengancam nyawa mereka bahkan sudah membunuh pramugari.

Penumpang menahan napas. Mereka berdoa dalam tangis dan berpegangan erat pada kursi. Dari jendela, cahaya kilat terlihat menerangi lahan kosong tidak berpenghuni, seolah menjadi saksi bisu. Suara mesin meraung tak terkendali, menandakan pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat.

“Mmm.” Aisyah memejamkan mata dalam doa. Dia telah berpasrah diri kepada sang pencipta. Bibir merah muda terus melantukan ayat suci Al-Quran. Wanita muda itu tersenyum menyambut kedatangan sang malaikat pencabut nyawa yang mungkin akan segera bertemu dengannya karena takdir tiada yang bisa menduga.

Pesawat semakin kehilangan kendali. Alarm berbunyi tanpa henti, lampu darurat berkedip, dan getaran keras membuat kursi berderak. Teriakan para penumpang pesawat terus memekik dalam ketakutan akan kematian.

Pilot berteriak memberi instruksi terakhir, kru berusaha menenangkan penumpang. Semua tahu, pesawat sedang jatuh. Penumpang menjerit, sebagian berdoa, sebagian lain hanya terdiam pasrah.

“Tenang, Bapak-Ibu sekalian… mohon tetap duduk di kursi masing-masing dan kenakan sabuk pengaman dengan benar.” Semua orang dalam panik yang mengerikan. Doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan diri sendiri dan para penumpang.

“Apa kita akan mati? Tuhan, tolong selamatkan kami.” Wanita hamil menatap Aisyah yang duduk di sampingnya.

“Aku berharap Anda selamat.” Wanita itu tersenyum.

“Semoga kita semua selamat dengan izin dan pertolongan Allah.” Aisyah tersenyum di balik cadar hitamnya. Bola mata hijau terlihat sangat tulus.

Aisyah memegang tangan wanita hamil. Dia melihat alam gelap dari jendela. Badai terjadi menambah kerusakan pesawat dan keluar dari jalur yang seharusnya. Cuaca buruk memperparah jatuhnya pesawat.

Sean yang berdiri kehilangan kestabilan dan jatuh terguling. Pria itu berusaha berpegangan di kursi. Aisyah mengulurkan tangan pada Sean, tetapi gagal. Tubuh sang mafia muda sudah terseret menjauh.

“Kami sedang berusaha bersama pilot untuk mengendalikan pesawat. Tolong ikuti instruksi kami, jangan berdiri, dan tetap tenang. Keselamatan Anda adalah prioritas kami.” Kru kabin tetap professional. Walaupun mereka tahu bahwa pesawat terus meluncur ke daratan dan pilot sedang berusaha meminimalisirkan benturan.

“Saya benar-benar takut. Apa bayiku tidak akan bisa melihat dunia ini?” Air mata wanita itu terus mengalir tanpa henti.

“Aaarrggh! Sakit!” Wanita hamil berteriak.

Pesawat berusaha mendarat darurat di atas hamparan rumput yang gelap dan basah. Pilot menurunkan roda dengan paksa, suara gesekan logam melawan tanah terdengar memekakkan telinga. Dalam sekejap, benturan keras mengguncang seluruh badan pesawat, membuat kursi bergetar hebat dan bagasi berjatuhan dari kompartemen atas.

“Aaarrghh!” Semua penumpang ketakutan dan berusaha melindungi diri.

Barang-barang berjatuhan dan menimpa penumpang. Tidak ada yang bisa menghindari. Pergerakan tidak stabil.

Rumput yang basah tidak mampu menahan laju pesawat. Roda terseret, sayap menghantam tanah, dan badan pesawat terpelintir. Kilatan api muncul dari gesekan mesin, menerangi malam dengan cahaya yang menakutkan. Penumpang berteriak, sebagian terlempar dari kursi, sementara kru berusaha tetap memberi instruksi meski suara mereka tertelan oleh kekacauan.

Benturan menyebabkan kabin hancur sebagian. Ada penumpang yang selamat, namun banyak pula yang menjadi korban jiwa. Tangisan, jeritan, dan suara alarm bercampur menjadi satu, menciptakan suasana tragis yang tak terlupakan. Di atas rumput yang kini penuh puing dan api kecil, pesawat berhenti dalam keadaan rusak parah, menjadi saksi bisu dari tragedi malam itu.

Aisyah membuka mata. Dia menyentuh dahinya yang berdarah. Wanita berhijab itu memeluk ibu hamil yang tidak sadarkan diri.

“Dia masih hidup.” Aisyah tersenyum. Dia melihat Sean beranjak dari kursi dan mengambil kotak obat yang jatuh di lantai pesawat.

“Siapa pria ini? Dia berhasil membunuh para penjahat dengan tembakan yang tepat dan tetap sadar walaupun terluka parah. Apa dia benar-benar seorang mafia?” Aisyah memperhatikan Sean.

“Kamu dokter? Obati aku,” titah Sean, terjatuh di lantai, suaranya menipis.

“Aku akan menyelamatkan wanita hamil ini dulu. Bayinya masih hidup.” Aisyah menatap Sean yang penuh luka tambahan selain luka tembakan.

“Tuan lebih dulu.” Elio berusaha bangkit dari lantai untuk mendekati Sean. Pria itu memegang gamis hitam Aisyah. Dia memberikan tatapan tekanan dan melarang sang dokter pergi.

“Tunggu sebentar.” Aisyah beranjak dari lantai. Dia mencari kotak obatnya yang lain.

“Dia hanya lecet di kepala. Bagaimana bisa?” Sean memperhatikan Aisyah yang masih sangat kuat untuk bergerak sedangkan para penumpang lain dan kru pesawat sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka.

“Di sini.” Aisyah mengambil kotak dan menariknya ke tempat wanita hamil. Dia membuka koper berisi alat medis dan kesehatan.

“Aku harus memasangkan infus untuk ibu ini dan memberikan obat. Alhamdulilah tidak ada luka.” Aisyah menyuntikkan obat ke tubuh wanita hamil dan menggantungkan botol infus. Dia berpindah pada Sean yang terbaring di lantai.

“Dia terluka parah karena berdiri ketika pesawat mengalami goncangan hingga jatuh.” Aisyah membuka kemeja Sean. Pria itu terbaring di lantai dengan kepala, tangan, dan bahu terluka.

Sean hanya diam saja. Dia tidak risih sama sekali dengan sentuhan Aisyah. Jari-jari wanita itu telah memakai sarung tangan. Bola matanya terus memperhatikan dokter muda tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun.

“Tolong tekan,” pinta Aisyah pada Elio. Suaranya lembut, tetapi tegas.

“Ya.” Elio melakukan perintah Aisyah.

Aisyah cukup lama merawat Sean. Mengobati dan membalut luka sang mafia muda. Dia bahkan melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan peluru dari bahu pria itu.

“Untung posisi tembakan cukup jauh dari organ vital. Anda tetap berbaring di sini dan jangan banyak bergerak. Aku akan memeriksa kru pesawat.” Aisyah mengambil bantal yang ada di lantai dan meletakkan di bawah kepala Sean.

“Sekarang giliran kamu.” Aisyah mengobati Elio.

“Kalian tetap di sini. Jangan banyak Gerak.” Selesai mengobati Sean dan Elio, Aisyah pergi ke kokpit.

“Cari identitas wanita itu!” Sean menatap Elio.

“Ini kartu pengenalnya, Tuan.” Elio memberikan kartu tanda dokter Aisyah. Pria itu mengambil kartu Aisyah yang jatuh di lantai.

“Seorang muslim dari Kairo Mesir.” Sean memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 99 Sang Idola

    Para korban mulai dievakuasi ke rumah sakit. Api telah dijinakkan. Aisyah bersama tim masih sibuk memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan serta kebakaran dari ledakan mobil.“Aisyah, di mana dia?” Sean beranjak dari aspal. Dia mencari sosok sang istri yang tidak terlihat lagi di kekacauan tim medis dalam menolong para koran.“Tuan, Nyonya terus bergerak. Dia benar-benar tidak bisa diam,” jelas Elio yang juga terluka.“Anda tidak boleh memanggil Nyonya, Tuan. Itu akan memancing para musuh,” ucap Elio.“Aku harus mencari dia. Aku benar-benar khawatir dengan tindakan Aisyah. Dia hanya peduli pada orang lain, tetapi melupakan keselamatan diri sendiri.” Sean sedikit tertatih. Dia menyusuri jalanan untuk menemukan Aisyah.“Aisyah.” Sean melihat sekeliling. Dia berharap segera melihat Aisyah.Sirene mobil polisi dan ambulans masih meraung di jalan raya dan jembatan yang basah oleh hujan. Aisyah berlari cepat menuju tubuh seorang korban kecelakaan yang tergeletak tak sadarkan d

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 98 Sang Penyelamat

    Aisyah bisa melihat Sean yang duduk di atas aspal retak. Pria itu terluka ketika keluar dari mobil dan menolong seorang wanita yang terjebak di dalam mobil.“Jangan mendekat!” Sean mengarahkan pistol pada Aisyah. Dia tahu bahwa tim medis dengan pakaian lengkap itu adalah seorang wanita.“Menjauh dari Tuan Sean!” Elio siap menembak Aisyah yang terdiam memperhatikan sang suami yang berdarah.“Dorr!” tembakan mengenai kotak obat milik Aisyah. Wanita itu segera bersembunyi. Dia tidak berisik karena sudah mengerti dengan situasi.“Apa?” Sean dan Elio terkejut.“Tidak ada yang boleh menyelamatkan Sean,” ucap pria itu.“Dia benar-benar tim dokter.” Sean tidak mengenali sang istri dan dia selalu waspada dalam kondisi apa pun.Sean memaksakan diri berdiri dan membunuh pria yang menembaki Aisyah. Peluru pria itu tidak pernah meleset dan target pasti mati karena dia selalu menjadikan organ vital sebagai sasaran. Tidak akan memberikan kesempatan kepada musuhnya untuk bernapas.Dengan dua pistol di

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 97 Pelarian

    Aisyah berusaha menenangkan diri. Dia berharap suaminya baik-baik saja. Wanita itu menatap layar kaca yang menayangkan suasana kacau serta menegangkan. “Aisyah, kenapa belum tidur?” Noah mendekati Aisyah. “Kak, bawa perlengkapan medis. Kita pergi ke lokasi kecelakaan.” Aisyah memegang tangan Noah. “Apa?” Noah terkejut. Pria itu adalah dokter swasta yang bekerja sendiri. Dia tidak berhubungan dengan pemerintahan sehingga tidak akan ada panggilan untuk menjadi tim penolong. “Aisyah, di sana bahaya. Kakak sudah mendengarkan kabarnya,” ucap Noah memegang pundak Aisyah. “Lalu, kenapa Kakak tidak pergi menolong?” tanya Aisyah menatap pada Noah. “Kakak ….” Kalimat Noah terhenti. Pria itu tahu apa yang dipikirkan sang adik yang lebih memilih menjadi relawan tanpa bayaran dari pada bekerja di rumah sakit dengan gaji tinggi. “Baiklah. Kita pergi sekarang. Kita ke klinik dulu,” ucap Noah. “Kak, Kakak harus membawa aku dengan diam-diam.” Aisyah menatap Noah penuh arti. Dia memegang tangan

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 96 Kecelakaan

    Maria membawa Aisyah ke kamarnya. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.“Maaf, aku sudah menggantikan kamu di rumah ini,” ucap Maria memegang tangan Aisyah.“Terima kasih sudah menggantikan aku sehingga rumah ini tidak sepi dan kehilangan.” Aisyah tersenyum pada Maria.“Aku tidak pernah berpikir untuk kembali, tetapi takdir berkata lain sehingga Sean bisa mengenali kamu,” ucap Aisyah.“Ya. Entah bagaimana pria itu bisa mengetahui bahwa aku palsu?” gumam Maria di dalam hati.“Mungkin karena kalian memang berjodoh,” ucap Maria.“Mungkin.” Aisyah memperhatikan kamar Maria.“Malam sudah larut. Aku harus menghubungi Sean. Dia belum kembali.” Aisyah beranjak dari sofa.“Kenapa tidak tunggu di sini saja hingga dia datang?” tanya Maria.“Sean biasanya melakukan panggilan video dan aku harus membuka cadar. Dia juga tidak suka ada orang lain. Aku pergi dulu.” Aisyah keluar dari kamar Maria dan pergi ke kamarnya.“Aku ingin menghancurkan Aisyah. Memisahkannya dari Sean. Sejak kedatangannya, sem

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 95 Cantik

    Sean benar-benar sibuk. Pria itu seakan tenang ketika Aisyah bersama keluarga Jordan karena ada Noah dan David yang dipastikan akan menjaga adik kandung mereka. Dia juga telah meninggalkan banyak pengawal yang berjaga sepanjang hari.“Sayang, aku masih bekerja. Apa kamu tidak masalah tetap di rumah Jordan?” Sean mengirim pesan kepada Aisyah. Pria itu melakukan perjalanan dinas. Dia benar-benar sibuk.“Tidak apa. Di rumah cukup ramai. Semua orang berkumpul,” balas Aisyah.“Tuan, apa Anda tidak menjemput Nyonya?” tanya Elio.“Biarkan dia menikmati waktu bersama keluarga kandung. Dari pada rindu keluarga di Kairo,” jawab Sean.“Anda benar, Tuan. Di sini Nyonya memiliki orang tua lengkap dan dua saudara yang menyanyangi Nyonya.” Elio.“Ya. Aku mau dia melupakan Kairo dan hanya mengingat Italia,” ucap Sean.Mobil menuju barat. Di mana matahari mulai tenggelam. Sean menyelesaikan banyak bisnis dalam satu hari. Dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.“Aku mau menghancurkan bisnis Vito. Jika bu

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 94 Keluarga Bahagia

    David masih berada di perusahaan. Pria itu sedang rapat penting setelah terlepas dari ancaman Sean. Dia mulai bangkit kembali. “Aisyah.” David melihat pesan dari Leana yang mengatakan Aisyah pulang ke rumah mereka. “Rapat kita ditunda besok!” David beranjak dari kursi. “Apa?” Semua orang di dalam ruangan rapat terkejut karena David tidak pernah menghentikan rapat. Pria itu selalu menyelesaikan tugas tepat waktu. Apalagi mereka sedang proses penstabilan perusahaan. “Tuan David, ada apa?” tanya sekretarisnya. “Aku ada urusan keluar dan harus pulang.” David mengambil kunci mobil dan langsung meninggalkan perusahaan tanpa menunggu lagi. Pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik kesayangan yang telah lama hilang dan baru bertemu beberap kali saja. Ada rindu yang tidak bisa digantikan dengan yang lain. “Ada apa?” Sang sekretaris melihat David tergesa-gesa. “Ini pertama kalinya aku melihat Tuan David meninggalkan rapat.” Wanita itu cukup heran dengan sikap David. Tidak ada y

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 12 Pertunangan

    Hari pertunangan tiba di dua negara berbeda. Khaled dan Aisyah di Kairo. Sean dan Maria di Italia.Jack mengambil acara keluarga yang tidak diketahui orang lain. Begitu tertutup dan rahasia dengan alasan keselamatan. Berbeda dengan keluarga Sawiris yang terbuka untuk umum. Mereka mengundang para pet

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 11 Berbeda

    Maria cukup kecewa dengan sikap Sean yang terlalu dingin dan cuek padanya. Dia berharap pria itu hangat dan romantis. Apalagi hari itu adalah pertama kali bertemu setelah sepuluh tahun lamanya berpisah. Di mana mereka harus mencoba gaun pertunangan dan pengantin. Mengambil foto untuk dipajang.“Tuan

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 10 Bertemu Pertama Kali

    Sean melakukan pemeriksaan untuk memastikan semua luka di tubuhnya sudah sembuh. Pria itu tidak ingin lagi mengingat dokter muda yang telah mengobati lukanya.“Luka Anda sudah sembuh, Tuan. Oleskan salep agar tidak meninggalkan bekas,” ucap dokter.“Terima kasih.” Elio mengambil salep dari tangan do

  • Obsesi Cinta Sang Mafia   Bab 9 Aisyah Khumairah

    Sherine kembali ke rumah utama. Wanita itu menemui suaminya yang sedang berada di ruang kerja.“Suamiku.” Sherine masuk ruangan kerja.“Ada apa, Istriku?” Nassef beranjak dari kursi kerja dan berpindah ke sofa. Pria itu begitu lembut. Dia meninggalkan pekerjaan dan mengutamakan istrinya. “Sayang,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status