LOGINLampu kabin redup, hanya menyisakan bayangan wajah-wajah tegang. Sean berdiri tegak keluar dari kursinya dengan tetap tenang, ketika para penjahat maju dengan langkah kasar. Senjata mereka berkilat di bawah cahaya lampu darurat, suara dingin mengancam.
“Jangan coba-coba melawan. Kau ikut aturan kami, atau semua orang di sini akan menanggung akibatnya.” Penjahat berdiri di depan Sean. Pria itu memperhatikan sang mafia muda yang menatapnya tanpa ekspresi.
Sean menatap lurus. Para penjahat semakin mendekat, satu di antaranya menekan bahu Sean, seolah menegaskan bahwa ia kini menjadi pusat perhatian. Penumpang lain menahan napas, menyadari bahwa keselamatan mereka bergantung pada keberanian Sean menghadapi ancaman.
“Hahaha. Benar-benar masih muda dan berani. Apa kamu tidak sejahat ayah dan kakek kamu? sehingga rela berkorban untuk para penumpang.” Pria itu bisa melihat sorot mata Sean yang tidak takut sama sekali.
“Aku tidak sedang berkorban, tetapi kita akan mati bersama di sini.” Sean tersenyum tipis penuh penghinaan.
“Duduk!” tangan penjahat mendorong tubuh Sean hingga terduduk di kursi.
Bayangan malam menekan kabin pesawat yang sunyi. Sean tidak bergeming sama sekali ketika para penjahat mendekat dengan tatapan dingin. Senjata mereka terangkat, suara ancaman bergema di ruang sempit.
“Sekarang kau milik kami. Satu gerakan saja, dan semua orang di sini akan menanggung akibatnya!” Pria itu sangat senang bisa membuat Sean terduduk tidak berkutik.
“Aku penjahat, tetapi kami tidak pernah melecehkan wanita yang tidak berdosa seperti yang kalian lakukan saat ini. Bisnis tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan permainan.” Sean tersenyum dengan menaikkan sudut bibirnya. Di matanya para penjahat hanya kerikil kecil yang tidak mampu menjatuhkannya.
“Diam! Door!” Sebuah tembakan mengena bahu Sean dan darah keluar dengan cepat dari lubang peluru.
“Tuan!” Elio terkejut melihat Sean yang sudah terluka.
“Diam! Door!” Lengan Elio ditembak.
“Bos. Kita harus membawa tuan Sean dengan selamat!” Sang anak buah menahan pemimpin mereka.
“Aarrgh!” Semua orang berteriak ketika terjadi goncangan tiba-tiba.
Pesawat yang meluncur di langit malam tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Alarm berbunyi, lampu darurat berkedip, dan getaran keras terasa di seluruh badan pesawat. Pilot berusaha keras mengendalikan kemudi, tetapi sistem navigasi sudah tak stabil akibat dari tembakan-tembakan yang dilepaskan para penjahat.
“Apa yang terjadi?” Penjahat yang tadi berdiri segera duduk di kursi mereka masing-masing dan memasang sabuk pengaman.
Sean mengambil kesempatan. Pria itu merebut senjata dari tangan penjahat dan menembaki mereka tanpa ampun. Tangannya sangat lincah dan cepat. Sasarannya tepat. Tidak ada yang meleset. Semua peluru bersarang di jantung. Dia mampu menggunakan tangan kiri dan kanan sama hebat.
“Aaarrh!” Semua orang berteriak termasuk juga para kru pesawat. Mereka benar-benar ketakutan.
“Biarkan para penjahat itu mati.” Para penumpang yang takut cukup senang melihat Sean berhasil membunuh penjahat yang telah membajak pesawat dan mengancam nyawa mereka bahkan sudah membunuh pramugari.
Penumpang menahan napas. Mereka berdoa dalam tangis dan berpegangan erat pada kursi. Dari jendela, cahaya kilat terlihat menerangi lahan kosong tidak berpenghuni, seolah menjadi saksi bisu. Suara mesin meraung tak terkendali, menandakan pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat.
“Mmm.” Aisyah memejamkan mata dalam doa. Dia telah berpasrah diri kepada sang pencipta. Bibir merah muda terus melantukan ayat suci Al-Quran. Wanita muda itu tersenyum menyambut kedatangan sang malaikat pencabut nyawa yang mungkin akan segera bertemu dengannya karena takdir tiada yang bisa menduga.
Pesawat semakin kehilangan kendali. Alarm berbunyi tanpa henti, lampu darurat berkedip, dan getaran keras membuat kursi berderak. Teriakan para penumpang pesawat terus memekik dalam ketakutan akan kematian.
Pilot berteriak memberi instruksi terakhir, kru berusaha menenangkan penumpang. Semua tahu, pesawat sedang jatuh. Penumpang menjerit, sebagian berdoa, sebagian lain hanya terdiam pasrah.
“Tenang, Bapak-Ibu sekalian… mohon tetap duduk di kursi masing-masing dan kenakan sabuk pengaman dengan benar.” Semua orang dalam panik yang mengerikan. Doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan diri sendiri dan para penumpang.
“Apa kita akan mati? Tuhan, tolong selamatkan kami.” Wanita hamil menatap Aisyah yang duduk di sampingnya.
“Aku berharap Anda selamat.” Wanita itu tersenyum.
“Semoga kita semua selamat dengan izin dan pertolongan Allah.” Aisyah tersenyum di balik cadar hitamnya. Bola mata hijau terlihat sangat tulus.
Aisyah memegang tangan wanita hamil. Dia melihat alam gelap dari jendela. Badai terjadi menambah kerusakan pesawat dan keluar dari jalur yang seharusnya. Cuaca buruk memperparah jatuhnya pesawat.
Sean yang berdiri kehilangan kestabilan dan jatuh terguling. Pria itu berusaha berpegangan di kursi. Aisyah mengulurkan tangan pada Sean, tetapi gagal. Tubuh sang mafia muda sudah terseret menjauh.
“Kami sedang berusaha bersama pilot untuk mengendalikan pesawat. Tolong ikuti instruksi kami, jangan berdiri, dan tetap tenang. Keselamatan Anda adalah prioritas kami.” Kru kabin tetap professional. Walaupun mereka tahu bahwa pesawat terus meluncur ke daratan dan pilot sedang berusaha meminimalisirkan benturan.
“Saya benar-benar takut. Apa bayiku tidak akan bisa melihat dunia ini?” Air mata wanita itu terus mengalir tanpa henti.
“Aaarrggh! Sakit!” Wanita hamil berteriak.
Pesawat berusaha mendarat darurat di atas hamparan rumput yang gelap dan basah. Pilot menurunkan roda dengan paksa, suara gesekan logam melawan tanah terdengar memekakkan telinga. Dalam sekejap, benturan keras mengguncang seluruh badan pesawat, membuat kursi bergetar hebat dan bagasi berjatuhan dari kompartemen atas.
“Aaarrghh!” Semua penumpang ketakutan dan berusaha melindungi diri.
Barang-barang berjatuhan dan menimpa penumpang. Tidak ada yang bisa menghindari. Pergerakan tidak stabil.
Rumput yang basah tidak mampu menahan laju pesawat. Roda terseret, sayap menghantam tanah, dan badan pesawat terpelintir. Kilatan api muncul dari gesekan mesin, menerangi malam dengan cahaya yang menakutkan. Penumpang berteriak, sebagian terlempar dari kursi, sementara kru berusaha tetap memberi instruksi meski suara mereka tertelan oleh kekacauan.
Benturan menyebabkan kabin hancur sebagian. Ada penumpang yang selamat, namun banyak pula yang menjadi korban jiwa. Tangisan, jeritan, dan suara alarm bercampur menjadi satu, menciptakan suasana tragis yang tak terlupakan. Di atas rumput yang kini penuh puing dan api kecil, pesawat berhenti dalam keadaan rusak parah, menjadi saksi bisu dari tragedi malam itu.
Aisyah membuka mata. Dia menyentuh dahinya yang berdarah. Wanita berhijab itu memeluk ibu hamil yang tidak sadarkan diri.
“Dia masih hidup.” Aisyah tersenyum. Dia melihat Sean beranjak dari kursi dan mengambil kotak obat yang jatuh di lantai pesawat.
“Siapa pria ini? Dia berhasil membunuh para penjahat dengan tembakan yang tepat dan tetap sadar walaupun terluka parah. Apa dia benar-benar seorang mafia?” Aisyah memperhatikan Sean.
“Kamu dokter? Obati aku,” titah Sean, terjatuh di lantai, suaranya menipis.
“Aku akan menyelamatkan wanita hamil ini dulu. Bayinya masih hidup.” Aisyah menatap Sean yang penuh luka tambahan selain luka tembakan.
“Tuan lebih dulu.” Elio berusaha bangkit dari lantai untuk mendekati Sean. Pria itu memegang gamis hitam Aisyah. Dia memberikan tatapan tekanan dan melarang sang dokter pergi.
“Tunggu sebentar.” Aisyah beranjak dari lantai. Dia mencari kotak obatnya yang lain.
“Dia hanya lecet di kepala. Bagaimana bisa?” Sean memperhatikan Aisyah yang masih sangat kuat untuk bergerak sedangkan para penumpang lain dan kru pesawat sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka.
“Di sini.” Aisyah mengambil kotak dan menariknya ke tempat wanita hamil. Dia membuka koper berisi alat medis dan kesehatan.
“Aku harus memasangkan infus untuk ibu ini dan memberikan obat. Alhamdulilah tidak ada luka.” Aisyah menyuntikkan obat ke tubuh wanita hamil dan menggantungkan botol infus. Dia berpindah pada Sean yang terbaring di lantai.
“Dia terluka parah karena berdiri ketika pesawat mengalami goncangan hingga jatuh.” Aisyah membuka kemeja Sean. Pria itu terbaring di lantai dengan kepala, tangan, dan bahu terluka.
Sean hanya diam saja. Dia tidak risih sama sekali dengan sentuhan Aisyah. Jari-jari wanita itu telah memakai sarung tangan. Bola matanya terus memperhatikan dokter muda tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun.
“Tolong tekan,” pinta Aisyah pada Elio. Suaranya lembut, tetapi tegas.“Ya.” Elio melakukan perintah Aisyah.
Aisyah cukup lama merawat Sean. Mengobati dan membalut luka sang mafia muda. Dia bahkan melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan peluru dari bahu pria itu.
“Untung posisi tembakan cukup jauh dari organ vital. Anda tetap berbaring di sini dan jangan banyak bergerak. Aku akan memeriksa kru pesawat.” Aisyah mengambil bantal yang ada di lantai dan meletakkan di bawah kepala Sean.
“Sekarang giliran kamu.” Aisyah mengobati Elio.
“Kalian tetap di sini. Jangan banyak Gerak.” Selesai mengobati Sean dan Elio, Aisyah pergi ke kokpit.
“Cari identitas wanita itu!” Sean menatap Elio.
“Ini kartu pengenalnya, Tuan.” Elio memberikan kartu tanda dokter Aisyah. Pria itu mengambil kartu Aisyah yang jatuh di lantai.
“Seorang muslim dari Kairo Mesir.” Sean memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri.Langit malam mulai diguyur hujan tipis ketika Sean mengendarai mobilnya pulang. Jalanan basah berkilau oleh lampu kota, namun ketenangan itu segera pecah. Dari persimpangan gelap, dua mobil hitam meluncur cepat, memotong jalannya. Rem Sean berdecit keras, mobilnya berhenti mendadak.Pintu mobil musuh terbuka serentak. Anak buah Barron keluar dengan langkah mantap, jas hitam mereka basah oleh hujan, senjata berkilat di bawah lampu jalan. Sean tetap tenang, matanya menyapu sekeliling mencari celah.“Turun, Sean! Malam ini kau tak akan lolos!” teriak salah satu dari mereka, suaranya menembus deru hujan.Sean membuka pintu, berdiri tegak meski tubuhnya basah kuyup. Pria itu tidak pernah melepaskan musuhnya. Apalagi tidak ada sang istri di dekatnya. Tangan kedua tangannya meraih pistol dari jas hitam.Benturan pertama terjadi cepat. Peluru menghantam bodi mobil, memercikkan api kecil. Sean membalas dengan tembakan terarah, membuat dua penyerang langsung terjatuh. Namun jumlah mereka terlalu
Sean pergi ke penjara. Dia harus memastikan bahwa Khaled masih hidup. Pria itu cukup khawatir dengan keadaan mantan tunangan istrinya.“Khaled,” sapa Sean melihat Khaled yang duduk di kursi. Pria itu sudah mendapatkan perawatan.“Kenapa kamu tidak membunuhku? Apa takut Aisyah akan marah?” Khaled hanya mengenakan celana dengan bertelanjang dada. Tubuhnya seksi dan terbentuk sempurna. Sejak mendapatkan keringanan hukuman dan makanan, Khaled fokus merawat diri dengan Latihan di dalam penjara.“Jika kamu tidak menculik Aisyah, maka tidak akan ada permusuhan ini,” ucap Sean tenang.“Aku hanya meniru kamu, Sean. Kamu yang menculik Aisyah di hari pernikahan kami. Pria mana yang rela?” Khaled menatap tajam pada Sean.“Aku akan mengirim kamu pulang ke Kairo dan jadilah saudara Aisyah. Hapus semua rasa cinta dan sayang kamu padanya.” Sean berlalu.“Sean!” teriak Khaled memegang pintu besi. Pria itu benar-benar marah. Cinta yang tersimpan dan terjaga sepuluh tahun dengan harapan bisa bersama sirn
Setelah identitasnya Aisyah terungkap ke public bukan hanya Sean yang dicari, tetapi juga dirinya. Mereka berdua sama-sama dalam bahaya karena obsesi manusia yang ingin memiliki segalanya.“Apa aku akan terkurung lagi di menara kaca ini?” Aisyah berdiri di balkon. Dia memperhatikan sekeliling. Taman indah dan luas begitu tenang karena jauh dari jalan raya. Ruamh mewah itu berada di lahan pribadi yang tidak terganggu sama sekali.“Apa yang kamu pikirkan, Sayang.” Sean memeluk Aisyah dari belakang dan mencium leher yang terbuka dengan tidak lupa menyibak rambut yang sedikit basah. Istrinya tidak mengenakan hijab ketika berada di menara kaca. Itu adalah permintaan sang suami.“Sayang, maaf. Aku sudah membawa kamu dalam bahaya.” Aisyah memutar tubuh menghadap Sean.“Apa maksud kamu, Sayang? Aku memang selalu dalam bahaya sejak dilahirkan di dunia ini.” Sean meletakkan kedua tangannya di leher Aisyah. Dia melumat bibir merah tanpa ada lipstick. Wanita itu cantik alami dengan perawatan mahal
Aisyah dan Sean tiba di bandara internasional Italia. Pria itu benar-benar tidak ingin lagi kembali ke Amerika. Keluarganya telah mempertaruhkan nyawa sang istri sehingga dirinya menjadi benci dan memutuskan hubungan dengan semua anggota keluarganya.“Tuan Muda.” Paman Rome menyambut kedatangan Sean dan Aisyah. Pria itu cukup terkejut dengan kepulangan sang mafia yang mendadak.“Kami mau istirahat.” Sean membawa Aisyah ke menara kaca.Aisyah dan Sean masuk ke kamar. Mereka benar-benar lelah dan butuh istirahat. Sang istri harus ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada lagi racun di tubuhnya.Elio membawa sampel darah Aisyah ke laboratorium untuk diperiksa. Pria itu tidak lelah sama sekali. Dia terus bekerja untuk melindungi majikannya.“Bagaimana?” tanya Elio pada Leon.“Sudah tidak ada lagi racun,” jawab Leon.“Barron benar-benar gila. Dia membunuh banyak orang untuk bisa mendapatkan Nyonya Aisyah,” ucap Elio kesal.“Dia terobesesi pada dokter Aisyah karena pernah diselamatkan dari
Rahang Sean mengeras. Dia tidak akan pernah menyerahkan istrinya kepada siapa pun. Jika harus mati pria itu siap untuk mati bersama.“Serahkan Penawar!” Sean melepaskan pelukan dan menembaki kaki Barron. Dia dengan cepat merebut jarum dari tangan pria itu dan menancapkan di leher pemiliknya.“Aarrghh!” Barron berteriak kesakitan. Semua terdiam. Tidak ada pasukan yang berani bergerak.“Serahkah Penawar!” Sean menekankan pistol di leher Barron yang telah tertancap jarum beracun.“Tuan.” Edo terkejut melihat gerakan cepat Sean.“Lepaskan Tuan Barron!” Guilia mengarahkan pistol pada Aisyah.“Dorr!” Sean tanpa ragu menembaki tangan Guilia sehingga pistol dari jari-jarinya terlepas.“Berikan Penawar!” teriak Sean di telinga Barron. Dia kembali menekan pistol di leher Barron. “Sean!” Semua orang ketakutan dengan tindakan Sean yang dengan beraninya melukai Barron. Pria itu benar-benar tidak takut pada apa pun. Dia tidak akan menyerahkan istrinya kepada siapa pun. Walaupun telah menjadi mayat.
Sean menggandeng Aisyah berjalan bersama menuju pintu utama. Pria itu merasa tidak aman bahkan di rumah sendiri. Dia tidak ingin jauh dari istrinya.“Ini bukan rumah kita, tetapi sarang musuh,” bisik Sean di telinga Aisyah.“Inilah dunia suamiku. Keluarga pun menjadi musuh demi keuntungan dan keselamatan diri.” Aisyah tersennyum. Dia bisa merasakan bahwa mereka berdua benar-benar dalam bahaya.“Duduklah, Sean.” Nenek Heta dan Kakek Jack duduk di sofa tunggal. Aisyah dan Sean berdampingan. Pasangan yang tidak ingin dipisahkan.“Sean, ini salah Kakek yang terjebak oleh perjanjian Barron.” Jack memberikan Salinan perjanjian kepada Sean.“Apa yang dia minta?” tanya Sean.“Aisyah,” jawab nenek Heta cepat dan melihat pada Aisyah.“Apa?” Sean melempar berkas ke meja.“Aku dan Aisyah akan meninggalkan Amerika hari ini juga. Kalian urus sendiri masalah ini,” tegas Sean berdiri dengan menggenggam tangan Aisyah.“Sean, lihat ini.” Nenek Heta menyalakan televisi dan memperlihatkan para gadis muda
Mata Sean melihat pada Khaled. Pria itu sangat ingin membunuh pria yang telah menculik istrinya.“Sayang.” Aisyah memeluk erat tubuh Sean.“Iya, Sayang.” Sean membawa Aisyah pindah ke speed boad.“Tuan.” Elio memberikan handuk kepada Sean.“Kemari, Sayang.” Sean membungkus tubuhnya dengan Aisyah.“T
Sean yang telah tahu posisi kapal yang membawa Aisyah segera bertindak dan tidak menunggu lama. Pria itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengejar sang istri. Dia tidak peduli jika harus mengejar hingga ke negara lain dan mengeluarkan biaya lebih untuk merebut kembali istrinya.“Siapkan kapal selam!
Mata Aisyah yang terpejam tiba-tibat terbuka. Dia seakan mendengarkan suara Sean yang berteriak memanggil namanya.“Kak Sean.” Aisyah turun dari kasur dan berlari keluar kamar. Dia naik ke atas kapal.“Nona.” Alexa yang hampir terlelap terbangun dan menyusul Aisyah.“Kak Sean!” teriak Aisyah. Dia me
Langit malam diguyur oleh deras yang hujan. Kaca depan mobil Sean dipenuhi butiran air yang berkilau seperti pecahan kaca. Jalanan sepi, hanya suara gemuruh petir dan deru mesin yang menemani kepulangannya. Namun tiba-tiba, dari balik kabut hujan, sekelompok mobil hitam melaju cepat, memotong jalann







