LOGINTerima kasih atas dukungan dan hadiah yang diberikan, teman-teman. Semoga berkah dan mendapatkan balasan rezeki yang melimpah. See soon.
Sean mengantarkan Aisyah ke kamar untuk beristirahat. Pria itu sudah membuat istrinya kelelahan sehingga sulit untuk berjalan.“Sayang, terima kasih untuk hari ini.” Sean melepaskan tubuh Aisyah di atas sofa di kamar menara kaca.“Maaf, aku terlalu kasar karena tidak bisa menahan diri.” Sean mencium dahi Aisyah.“Hm.” Aisyah mengangguk.“Aku akan bekerja.” Sean membuka cadar Aisyah dan mencium bibi istrinya dengan lembut.“Mmm. Aku benar-benar tidak bisa melepaskannnya,” gumam Sean.“Sayang, katakana kepada bibi Rose jika kamu butuh sesuatu,” ucap Sean.“Ya.” Aisyah tersenyun.“Oh God. Istriku benar-benar cantik. Untunglah dia menutupi wajahnya dengan cadar. Jika tidak, para pria akan saling membunuh untuk memilikinya.” Sean menatap wajah Aisyah sehingga membuat wanita itu cukup bingung.“Sayang, ada apa?” tanya Aisyah menyentuh pipi Sean dengan lembut.“Tidak apa, Sayang. Istirahatlah. Aku pergi sekarang.” Sean mengecup bibir Aisyah dan keluar dari kamar istrinya dengan berat hati.“
Aisyah merasa benda milik Sean tidak juga kembali ke bentuk semula. Barang suaminya tetap kekar dan tegang.“Sayang, sudah pukul berapa sekarang? Aku mau mandi,” ucap Aisyah.“Sayang, sepertinya milikku masih bisa menembakan susu panas di dalam sana,” bisik Sean.“Apa?” Aisyah mendongak. “Tidak apa. Kamu diam saja. Aku yang akan berkerja. Aku sudah menyimpan susu ini sejak lama menunggu kamu, Sayang.” Sean kembali berada di atas Aisyah. “Apa? Apa bisa seperti itu?” tanya Aisyah bingung. “Sayang, kita baru selesai sepuluh menit saja. Tidak mungkin kamu bisa mengisi lagi.” Aisyah yang dokter bedah tidak terlalu memperhatikan kemampuan ejakulasi seorang pria yang bisa menembakkan cairannya lagi setelah mendapatkan waktu jeda atau periode refraktori.Pria muda dan sehat hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk kembali ereksi dan kandungan dari cairan putih itu tetap bepontesi membuat seorang wanita hamil, meskipun jumlahnya mungkin lebih sedikit daripada yang pertama. Secara kesel
WARNING ! ADEGAN DEWASA! 21 +++++Aisyah melepaskan diri dan merapikan cadarnya. Dia sadar tidak ada siapa pun di sana, tetapi cctv selalu menyala.“Sean. Sayang, apa kamu sudah salat subuh?” tanya Aisyah.“Tentu saja. Hanya dua rakaat kan?” Sean menatap Aisyah penuh gairah. Pria itu tidak menahan diri lagi untuk mencium dan memeluk istrinya. Dia tidak peduli di mana pun mereka berada.“Syukurlah.” Aisyah tersenyum. “Sayang, bagaimana kita lanjutkan yang tertunda?” Sean menatap Aisyah. “Tidak bisa. Kita baru selesai makan. Kita salat duha berjamaah. Bagaimana?” tanya Aisyah menyentuh hidung mancung Sean. “Aku akan menurut apa pun istriku katakana.” Sean membawa Aisyah ke kamarnya.“Kenapa kemari?” tanya Aisyah.“Ini kamarku,” jawab Sean menaiki tangga dan membuka pintu dengan sidik jarinya.“Hm.” Aisyah memperhatikan kamar Sean dengan nuansa gelap. Tidak ada satu pun warna terang di dalam kamar pria itu.“Duduklah!” Sean menurunkan Aisyah di atas kasur. Pria itu membuka gorden da
Aisyah terbangun di tengah malam mendekati dini hari. Dia mendengar deru helicopter di atap kamarnya. “Apa Sean kembali dengan helicopter.” Aisyah segera mengambil hijab dan cadar. Dia mengeser pintu balkon.Hijab dan gamis Aisyah melayang. Menara kaca yang terang terlihat jelas dari kejauhan. Dia mendongak melihat tangga tali jatuh tepat di depannya. “Kenapa Sean masuk dengan cara seperti ini? Benar-benar membuat keributan.” Aisyah mendekat dan melihat seorang pria turun cepat.“Kak Khaled.” Aisyah mundur. Dia telah menjadi istri Sean sehingga berusaha menghindari pria lain. “Aisyah ayo pulang.” Khaled mengulurkan tangannya pada Aisyah. “Tidak, Kak. Aku sudah menikah dengan Sean,” ucap Aisyah. “Apa? Bagaimana bisa? Aisyah, aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk bisa menghalalkan kamu, tetapi Sean tiba-tiba muncul dan menggagalkan semua rencana kita.” Khaled terlihat jelas sangat kesal karena ucapan Aisyah.“Dia menculik kamu di hari pernikahan kita. Sekarang, aku akan merebut kam
Sean tidak pulang. Dia memeriksa semua gudang yang diserang. Pria itu bahkan masih sempat baku hantam dengan para penyerang.“Tuan, Anda tunggu di mobil. Kami akan menyelesaikan ini,” ucap Elio.“Aku tidak bisa diam saja.” Sean mengeluarkan dua senjata yang biasa digunakannya dalam pertarungan jarak jauh. “Sean, aku sengaja menyerang lokasi ini yang terakhir agar bisa berhadapan langsung dengan kamu.” Vito melihat Sean dari atas puncak menara tua.“Kamu terlalu banyak musuh sehingga wanita pun mau kamu perebutkan.” Vito mengunci target dan siap menempak Sean dari jarak jauh.“Tuan!” teriak Elio melihat cahaya mereka berhenti di dada Sean. “Ini jebakan!” Sean mendongak dan mengetahui sesorang mengintainya.“Lari, Elio!” Sean melompat ke tanah dan masuk ke bawah mobil tank besi. Dia dan Elio merayap. “Bagaimana dia tahu gudang senjata ini?” tanya Sean memperhatikan sekeliling.“Tuan, Anda tidak boleh terluka. Nyonya akan khawatir,” ucap Elio. “Dia seorang dokter.” Sean tersenyum.“Al
Aisyah menyadari Sean hanya mengenakan baju handuk dan terbuka. Dada bidang serta perut ratanya terlihat jelas.“Kak Sean, kenapa tidak berpakaian?” Aisyah segera turun dari kasur.“Aku lihat ada lemari baru di sana. Apa itu berisi pakaian kamu?” tanya Aisyah berjalan menuju lemari pakaian.“Tentu saja, Sayang.” Sean memeluk Aisyah dari belakang.“Mm.” Aisyah membeku. Dia bahkan berhenti bernapas. Tubuhnya gemetar dan ada rasa yang tidak biasa. “Apa apaan aku ini. Kenapa aku ketakutan?” tanya Aisyah memejamkan matanya.“Sayang, apa aku butuh baju?” Sean berbisik di telinga Aisyah yang masih tertutup hijab.“Kak Sean. Mmm.” Aisyah memutar tubuh menghadap Sean dan mundur hingga tubuhnya hampir masuk ke dalam lemari.“Aaah!” Aisyah terkejut dan dengan cepat Sean menarik pinggang istrinya hingga jatuh ke dalam pelukan.“Kenapa Dokter Aisyah menjadi gugup?” Sean tersenyum melihat tingkah Aisyah yang tidak biasa. “Aku belum terbiasa,” ucap Aisyah.“Kenapa sekarang berduaan dengannya terasa