LOGINApakah panas, teman? Maaf ya. Semoga suka. Jangan lupa Like dan komentar yaa. hehehe.
Aisyah bangun di pagi hari. Dia duduk dengan sangat susah. Tangannya berpegangan pada pinggir tempat tidur agar mendapatkan bantuan tarikan.“Allahu Akbar.” Aisyah mengatur napas. Dia berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi.“Sayang.” Sean dengan mudah terbangun. Dia melihat Aisyah sudah masuk ke dalam kamar mandi.“Jangan dikunci.” Sean dengan cepat beranjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Dia segera masuk dan menyusul Aisyah.“Sayang, kenapa tidak membangunkan aku?” tanya Sean khawatir. Pria itu segera mencuci muka.“Aku mau buang air kecil dan langsung mandi. Sebentar lagi subuh baru bangunkan kamu.” Aisyah tersenyum.“Jika kamu terbangun. Harus bangunkan aku, Sayang. Apa pun itu,” tegas Sean.“Baiklah.” Aisyah mandi dibantu Sean. Wanita itu duduk du kursi yang memang telah disiapkan.Sean dengan telaten membersihkan tubuh Aisyah. Dia menyampo rambut hitam istrinya. Membilas hingga bersih. Seorang mafia menjadi pria lembut dan perhatian ketika dia dipertemukan Tuhan den
Sean terus berada di sisi Aisyah. Dia tidak pernah meninggalkan istrinya sedetik pun. Sepanjang hari menemani Aisyah yang sedang hamil tua. Tim dokter telah standby di klinik mendekati hari kelahiran. Perut yang besar karena mengandung sepasang bayi kembar yang kuat.“Allahuakbar.” Aisyah sudah kesulitan bergerak.“Pelan-pelan, Sayang.” Sean menggandeng tangan Aisyah. Mereka jalan-jalan di taman menunggu waktu kelahiran.“Iya, Sayang.” Aisyah yang sudah makan sesuai dengan pengaturan ahli gizi masih tidak bisa mengontrol pertumbuhan bayi kembarnya. Dia harus menguras banyak tenaga untuk menjaga dan membawa bayi yang ada di dalam kantung rahim.“Sayang, aku tidak kuat lagi berjalan,” ucap Aisyah menghentikan langkah kakinya.“Duduk di sini, Sayang.” Sean membantu Aisyah duduk di kursi taman.“Langkahnya semakin sedikit setiap hari. Aisyah benar-benar kesulitan dan kelelahan.” Sean menatap Aisyah khawatir.“Pertumbuhan bayi sangat cepat sehingga berat badan mereka terus naik. Padahal dok
Aisyah rutin melakukan pemeriksaan setiap bulan di klinik pribadi yang disiapkan Sean. Uang benar-benar memudahkan segala urusan. Pria itu bahkan mampu mendatangkan tim dokter terkenal dan mahal sekalipun untuk merawat anak serta istrinya. Dia membali semua perlengkapan kesehatan untuk mengisi klinik sehingga Aisyah tidak perlu pergi ke luar untuk pemeriksaan hingga melahirkan.“Selamat pagi, Nyonya Aisyah.” Tim dokter terbaik menyambut kedatangan Aisyah untuk pemeriksaan dan USG di usia kandungan yang telah tujuh bulan. Wanita itu sengaja menunggu hingga tujuh bulan untuk melihat jenis kelamin calon bayi kembarnya.“Silakan, Nyonya.” Dokter Elena membawa Aisyah ke ruangan khusus.“Sayang, aku sudah tidak sabar.” Sean selalu setia mendamping Aisyah.“Tenanglah, Sayang.” Aisyah tersenyum melihat Sean yang selalu gugup setiap kali dia melakukan pemeriksaan.Aisyah telah berbaring di atas tempat tidur. Dokter mengoleskan gel khusus di area tubuh agar transduser bisa menghantarkan gelomban
James tiba di bandara. Dia berjalan dengan santai. Pria itu tidak terlihat seperti seorang Mafia.“Tuan James. Mobil sudah menunggu.” Seorang pria dengan setelan jas hitam berdiri di depan James.“Siapa kalian?” tanya James curiga. Pria itu tidak bisa percaya sembarangan orang.“Kami kiriman tuan muda Sean. Anda bisa memeriksa ponsel,” jawab pria itu.“Mm.” James mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya. Dia melihat pesan dari Elio.“Ini bukti kami anak buah Tuan Sean.” Pria itu memperlihatkan kode di layar ponselnya.“Dia dengan mudah tahu kedatanganku.” James tersenyum. Dia mengikuti anak buah Sean pergi menuju ke tempat parkir.“Silakan, Tuan.” Pria dengan jas dan kacamata hitam membuka pintu untuk James.Mobil melaju dengan kecepatan standar menuju kawasan pribadi milik Sean. Pria itu duduk santai di kursi belakang dan memperhatikan jalanan. Lelaki yang terus melajang setelah istrinya meninggal dan tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.Mobil berhenti di depan taman villa yang me
Kebahagiaan Sean tidak bisa ditutupi. Seluruh dunia hampir tahu karena perubahan sikapnya. Dia mengubah jalur bisnis dan mematikan beberapa bisnis lainnya. Keluarga di Amerika pun merasakan perubahan itu tanpa perlu mendapatkan laporan dari Rome. Mereka kebingungan.“Apa yang dilakukan, Sean?” tanya Kakek Jack kesal. Pria itu melempar berkas ke lantai.“Tuan Sean memutuskan jalur perdagangan senjata ke negera konflik. Dia hanya akan bekerja sama dengan negara yang membeli senjata untuk perdamaian dunia dan melindungi diri,” jelas Luca yang merupakan asisten Jack.“Apa? Kenapa? Apa Sean sudah gila karena menikahi wanita bercadar itu? Dia mematikan bisnis dua keluarga yang telah diwariskan turun temurun.” Jari-jari Jack meremas berkas.“Kita mengalami banyak kerugian dalam beberapa bulan ini. Ternyata ini ulah Sean. Apa dia mau membunuh semua anggota keluarganya yang hidup dari bisnis ini?” Jack yang berdiri karena marah kembali duduk.“Panggilkan James!” perintah Jack.“Baik, Tuan.” Luk
Ruang pemeriksaan klinik terasa sejuk, dengan aroma harum bunga mawar yang samar. Aisyah duduk di kursi, tangannya menggenggam erat jemari Sean. Perutnya belum terlihat besar, namun rasa haru dan bahagia jelas terpancar dari matanya.Sean menatap istrinya dengan penuh perhatian, seolah ingin menyalurkan ketenangan lewat genggaman tangannya. Pria itu terlihat lebih gugup dari Aisyah.“Sayang, aku sudah tidak sabar mau melihat anak kita,” bisik Sean di telinga Aisyah.“Sayang, apa kamu gugup?” tanya Sean yang membuat Aisyah hampir tertawa karena suaminya lah yang gugup."Permisi, Nyonya Aisyah dan Tuan Sean. Kita akan memulai pemeriksaan,” Elena duduk di depan Aisyah dan Sean.“Silakan, Dok.” Aisyah selalu terlihat tenang. Apalagi dia seorang dokter bedah yang sudah terbiasa berada di lingkungan dan situasi menegangkan. Hanya pemeriksaan kehamilan biasa saja. Dia selalu berpikiran baik.“Baiklah. Bagaimana kabarnya? Ada keluhan mual atau lelah? Bagaimana dengan nafsu makan dan jadwal tid
“Alhamdulilah.” Aisyah tersenyum melihat kedatangan para penyelamat. Dia berlari menuju tenda darurat.“Dia.” Sean mengikuti Aisyah dengan tubuh yang sakit.“Semuanya. Tim penyelamat datang.” Aisyah benar-benar bersemangat untuk menyampaikan kabar bahagia kepada semua orang yang masih selamat.“Syu
Aisyah sendirian mengobati para penumpang dan kru pesawat. Dia memeriksa semua orang baik itu para penjahat.“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Pria itu menembaki mereka tepat di jantung. Benar-benar ahli.” Aisyah melihat pada Sean yang rebahan di lantai pesawat.“Rena! Bangun Rena!” Pramugari mena
Lampu kabin redup, hanya menyisakan bayangan wajah-wajah tegang. Sean berdiri tegak keluar dari kursinya dengan tetap tenang, ketika para penjahat maju dengan langkah kasar. Senjata mereka berkilat di bawah cahaya lampu darurat, suara dingin mengancam.“Jangan coba-coba melawan. Kau ikut aturan kam
Seorang pria yang menjadi incaran duduk bersama penumpang lain di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang di langit malam. Sean Costa Nostra. Keturunan keluarga mafia yang kejam. Dia kembali ke tanah air untuk menepati janji pernikahan dengan kekasih masa kecilnya bernama Maria.Usinya masih muda,







