Home / Mafia / Obsesi Cinta Tuan Mafia / [1] Menjadi Miliknya

Share

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Obsesi Cinta Tuan Mafia
Author: Kim Meili

[1] Menjadi Miliknya

Author: Kim Meili
last update Last Updated: 2026-02-25 05:52:25

“Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”

Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya.

“Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah.

Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada.

Plak.

Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, kali ini sirna begitu saja.

“Diam kamu, Clara! Jangan membuat masalah. Kamu harus membayar semua hutang keluarga kita!” kata Liam dengan tegas.

Clara menggelengkan kepala. Masih terisak. Membayangkan dirinya yang akan dijual dengan pria hidung belang benar-benar membuat Clara tidak tahan. Dia meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan.

“Sekarang ikut. Kalau sampai kamu berbuat macam-macam, Papa benar-benar akan menghabisimu,” ucap Liam lagi.

“Pa, aku tidak mau. Aku mohon, jangan berikan aku dengan mereka,” sahut Clara dengan lirih. Hatinya sudah hancur berkeping-keping karena perlakuan sang Papa yang begitu buruk dengannya. Selama ini, keluarga Athena memang memperlakukannya dengan buruk, tetapi Clara tidak menyangka kalau orang tuanya itu akan menjualnya hanya demi melunasi hutang.

Sedangkan Liam yang kembali mendengar rengekan itu semakin merasa kesal. Dia langsung menarik rambut panjang Clara dan berkata, “Kamu itu hanya anak pungut, Clara. Selama ini keluarga Athena sudah membiayaimu, memberimu kehidupan yang layak dan tidak kalah dengan teman-temanmu. Jadi, sekarang waktunya kamu membalas budi keluarga ini. Kamu harus aku serahkan dengan tuan Ethan supaya perusahaan kita bisa bangkit lagi.”

Clara menutup mata secara perlahan, membiarkan air matanya mengalir dengan sendirinya. Rasanya benar-benar menyakitkan. Selama ini keluarga Athena memang memberikannya kehidupan, tetapi tidak memperlakukannya dengan baik. Dia hanya dianggap sebagai asisten rumah tangga saja. Setiap pulang dari sekolah, Clara juga harus melakukan pekerjaan rumah.

‘Apakah itu yang dinamakan kehidupan yang layak?’ batin Clara dengan air mata yang semakin deras.

“Ingat, Clara. Jangan membuat masalah ini semakin rumit. Lebih baik kamu menurut dan ikuti apa yang aku katakan. Aku akan menjadikanmu jaminan hutang kepada tuan Ethan,” ucap Liam.

Tanpa banyak bicara, Liam pun kembali menarik rambut Clara, membuat wanita itu mau tidak mau mengikutinya. Berulang kali Clara meminta untuk dilepaskan, merasa sakit di bagian kepala. Tapi sayangnya Liam tidak mendengarkan sama sekali. Sampai keduanya sampai di depan gerbang rumah dengan tiga lantai.

“Kalian dilarang masuk,” ucap penjaga.

Liam tersenyum dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan Tuan Ethan.”

“Kalau begitu, tunggu di sini.”

Liam menganggukkan kepala, membiarkan sang penjaga masuk untuk memastikan kebenarannya. Liam pun berulang kali menatap ke arah Clara yang masih berusaha melepaskan cengkramannya. Tatapannya memberikan isyarat supaya wanita itu diam dan tidak membuat masalah.

‘Jangan sampai gadis sialan ini merusak rencanaku. Aku harus bisa melunasi hutang dengan keluarga Evander sekarang juga. Biarkan saja dia dijadikan mainan Ethan. Terpenting, keluarga Athena tetap baik-baik saja,’ batin Liam.

“Tuan Ethan menyuruh kalian masuk,” kata sang penjaga setelah kembali.

Liam tersenyum lebar. Dia berganti menggenggam pergelangan tangan Clara dan melangkah lebar. Dia menarik kasar, tidak membiarkan Clara mencoba melepaskan diri.

Sedangkan Clara yang mulai memasuki rumah tersebut dibuat merinding. Banyak sekali yang berjaga di rumah itu, menandakan jika sang pemilik memanglah orang yang penting. Ditambah dengan nuansa rumah yang begitu gelap, membuat aura mencekam semakin mengikatnya. Hingga pintu yang terdapat tepat di depannya terbuka, membuat Clara dan Liam masuk. Saat itu juga, sang papa mendorongnya, membuat Clara langsung terjatuh di lantai.

“Tuan Ethan, ini putri saya, Clara. Dia yang akan saya jadikan jaminan untuk melunasi hutang-hutang saya,” kata Liam.

Clara mendongakkan kepala, menatap pria yang saat ini tengah duduk di sofa dengan sebelah kaki disilangkan. Dia mengamati wajah di hadapannya lekat-lekat. Hidung bangir dan alis tebal. Memang terlihat begitu mempesona, tetapi tatapan tajam itu membuat Clara tahu bahwa Ethan bukan orang yang baik.

Clara menatap ke arah Liam dan berkata, “Pa, Aku tidak mau. Aku mohon bawa aku pulang. Aku benar-benar tidak mau berada di sini,” kata Clara lagi.

Namun, Liam langsung memberikan tatapan tajam, akan memperingati agar putrinya itu diam. Dia memilih kembali menatap ke arah Ethan dan tersenyum lebar. Dia berkata, “Sekarang Clara sudah menjadi milik anda. Terserah apa yang mau anda lakukan dengannya. Menjualnya dengan pria lain juga saya tidak akan peduli. Yang terpenting anda sudah menghapus semua hutang keluarga Athena.”

Clara hanya bisa menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa bisa terbendung. Papanya benar-benar begitu tega. Dalam hati dia membatin, ‘Ternyata kehidupanku tidak jauh lebih berarti dari hutang-hutang mereka. Mereka bahkan bisa meninggalkanku di dalam jurang seperti ini hanya demi nama sebuah keluarga.’

Ethan yang sejak tadi diam mulai bangkit. Kakinya melangkah pelan, mengitari Clara yang masih terdiam di lantai yang begitu dingin. Dia menundukkan tubuh, menyamakan dengan Clara. Jemarinya meraih dagu wanita itu dan mengangkat secara perlahan, membuat mata keduanya saling bersitatap.

“Tuan, putri saya ini tidak pernah kemana-mana. Dia hanya sekolah dan ke rumah. Saya yakin dia masih perawan,” kata Liam, mencoba merayu Ethan.

Ethan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Dia pun kembali bangkit dan menatap ke arah William—anak buahnya—memberikan isyarat yang langsung dimengerti. William pun melangkah ke arah Liam, membawa pria itu keluar.

Sekarang, di ruangan hanya tersisa Ethan dan Clara. Ethan tidak membuka suara sama sekali, tetapi dia meraih pergelangan tangan Clara dan menariknya dengan kasar, membuat Clara hanya bisa mengadu dan kembali bangkit. Wajahnya sudah dipenuhi dengan air mata dan juga ketakutan.

Namun, Ethan tidak peduli. Dia malah mendekat dan berhenti tepat di sebelah telinga Clara. Dia berbisik, “Sekarang kamu menjadi milikku, Clara. Tubuh, hidup dan bahkan nafasmu adalah milikku.”

Clara benar-benar merinding mendengar ucapan Ethan. Pria itu tampak menyeramkan dengan tatapan yang begitu tajam. Hingga Ethan menarik tangannya, membawa ke sebuah ruangan dan melemparnya ke arah ranjang.

“Akh,” pekik Clara sembari meringis.

“Malam ini aku ingin kamu melayaniku, Clara,” ucap Ethan, diikuti seringai sinis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [5] Gagal Melarikan Diri

    “Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa menjamin hidupnya tetap tenang di tempat yang mengerikan itu. Ethan bisa Kapan saja mengamuk dan membunuhnya. “Aku tidak ingin berdiam diri dan menunggu kematianku,” gumam Clara.Clara mengamati sekitar. Tempat itu tidak seramai sebelumnya. Hanya ada beberapa pelayan yang sejak tadi berlalu-lalang, membersihkan rumah tersebut. Namun, Clara tetap bersikap biasa. Dia hanya berjalan-jalan saja sembari mengamati sekitar. Sebisa mungkin Clara tidak ingin menimbulkan kecurigaan.“Nona Clara.”Clara yang hendak menggeser pintu kaca di depannya langsung berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap asal suara. Di hadapannya sudah ada wanita paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata lembut. Melihat i

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [4] Kedatangan Wanita Lama

    “Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan. Namun, Sophie—teman masa kecil Ethan—seperti tidak mempedulikan reaksi pria itu. Dia memilih melangkahkan kaki, mengulas senyum lebar dan mendekat ke arah Ethan berada. Sampai dia berdiri tepat di sebelah pria itu, memegang pundak Ethan dan mengelus pelan. “Kamu tidak merindukanku?” tanya Sophie. Tatapannya tetap terkesan menggoda. Jemarinya juga tidak berhenti bergerak di pundak Ethan.Sayangnya, saat jemarinya hendak menyentuh dada pria itu, Ethan menghentikannya. Ethan menggenggam erat pergelangan tangan Sophie dan menatap ke arah wanita tersebut. Terlihat jelas kekesalan dari tatapannya. Sampai dia menyingkirkan dengan kasar dan membuang nafas berat.“Untuk apa kamu datang ke sini, So

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [3] Berniat Kabur

    “Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke rumah ini aku tidak melihat sekitar? Sekarang aku jadi bingung sendiri,” gerutu Clara. Dia terus melangkahkan kaki dan mengamati sekitar. Dia juga ingin memastikan kondisi sekeliling, tidak ingin anak buah pria itu mengetahui keberadaannya. Dalam hati Clara sekarang, dia hanya ingin segera keluar dan terbebas dari sarang yang begitu menakutkan. “Aku tidak bisa tinggal di sini. Kalau aku tinggal di sini bisa-bisa hidupku hancur. Bisa saja pria itu membunuhku,” gumam Clara. Sekelebat bayangan terlihat. Clara yang merasa terancam pun mulai bersembunyi di balik dinding dan menatap sekeliling. Ada beberapa pengawal yang saat itu berjaga, mengamati kondisi sekitar rumah. Melihat hal itu, nyali

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [2] Dia Membunuh?

    “Jangan!”Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian dada yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir. “Aku mohon jangan,” kata Clara dengan raut wajah memelas. Dia sedikit memundurkan tubuh, berusaha menghindari Ethan.Namun, bukan Ethan namanya kalau menuruti ucapan orang lain. Dia pun terus mendekat ke arah Clara yang masih berada di ranjang. Jaraknya memang cukup jauh, tetapi itu masih dalam jangkauan pria tersebut. Dia bahkan mengamati lekuk tubuh Clara yang tampak menggoda. Hingga dia melihat wanita itu membalikkan tubuh dan siap pergi. Tepat saat itu, Ethan meraih tangan Clara dan menariknya. “Tidak! Jangan!” teriak Clara dengan isak tangis yang masih terdengar. “Kamu mau kabur, hah?” Ethan menangkup pipi Clara dan mengapitnya dengan keras. Clara tidak bisa mengatakan apapun, tetapi dia teru

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [1] Menjadi Miliknya

    “Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. “Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah. Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada. Plak.Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status