LOGIN
“Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”
Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. “Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah. Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada. Plak. Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, kali ini sirna begitu saja. “Diam kamu, Clara! Jangan membuat masalah. Kamu harus membayar semua hutang keluarga kita!” kata Liam dengan tegas. Clara menggelengkan kepala. Masih terisak. Membayangkan dirinya yang akan dijual dengan pria hidung belang benar-benar membuat Clara tidak tahan. Dia meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan. “Sekarang ikut. Kalau sampai kamu berbuat macam-macam, Papa benar-benar akan menghabisimu,” ucap Liam lagi. “Pa, aku tidak mau. Aku mohon, jangan berikan aku dengan mereka,” sahut Clara dengan lirih. Hatinya sudah hancur berkeping-keping karena perlakuan sang Papa yang begitu buruk dengannya. Selama ini, keluarga Athena memang memperlakukannya dengan buruk, tetapi Clara tidak menyangka kalau orang tuanya itu akan menjualnya hanya demi melunasi hutang. Sedangkan Liam yang kembali mendengar rengekan itu semakin merasa kesal. Dia langsung menarik rambut panjang Clara dan berkata, “Kamu itu hanya anak pungut, Clara. Selama ini keluarga Athena sudah membiayaimu, memberimu kehidupan yang layak dan tidak kalah dengan teman-temanmu. Jadi, sekarang waktunya kamu membalas budi keluarga ini. Kamu harus aku serahkan dengan tuan Ethan supaya perusahaan kita bisa bangkit lagi.” Clara menutup mata secara perlahan, membiarkan air matanya mengalir dengan sendirinya. Rasanya benar-benar menyakitkan. Selama ini keluarga Athena memang memberikannya kehidupan, tetapi tidak memperlakukannya dengan baik. Dia hanya dianggap sebagai asisten rumah tangga saja. Setiap pulang dari sekolah, Clara juga harus melakukan pekerjaan rumah. ‘Apakah itu yang dinamakan kehidupan yang layak?’ batin Clara dengan air mata yang semakin deras. “Ingat, Clara. Jangan membuat masalah ini semakin rumit. Lebih baik kamu menurut dan ikuti apa yang aku katakan. Aku akan menjadikanmu jaminan hutang kepada tuan Ethan,” ucap Liam. Tanpa banyak bicara, Liam pun kembali menarik rambut Clara, membuat wanita itu mau tidak mau mengikutinya. Berulang kali Clara meminta untuk dilepaskan, merasa sakit di bagian kepala. Tapi sayangnya Liam tidak mendengarkan sama sekali. Sampai keduanya sampai di depan gerbang rumah dengan tiga lantai. “Kalian dilarang masuk,” ucap penjaga. Liam tersenyum dan berkata, “Aku ingin bertemu dengan Tuan Ethan.” “Kalau begitu, tunggu di sini.” Liam menganggukkan kepala, membiarkan sang penjaga masuk untuk memastikan kebenarannya. Liam pun berulang kali menatap ke arah Clara yang masih berusaha melepaskan cengkramannya. Tatapannya memberikan isyarat supaya wanita itu diam dan tidak membuat masalah. ‘Jangan sampai gadis sialan ini merusak rencanaku. Aku harus bisa melunasi hutang dengan keluarga Evander sekarang juga. Biarkan saja dia dijadikan mainan Ethan. Terpenting, keluarga Athena tetap baik-baik saja,’ batin Liam. “Tuan Ethan menyuruh kalian masuk,” kata sang penjaga setelah kembali. Liam tersenyum lebar. Dia berganti menggenggam pergelangan tangan Clara dan melangkah lebar. Dia menarik kasar, tidak membiarkan Clara mencoba melepaskan diri. Sedangkan Clara yang mulai memasuki rumah tersebut dibuat merinding. Banyak sekali yang berjaga di rumah itu, menandakan jika sang pemilik memanglah orang yang penting. Ditambah dengan nuansa rumah yang begitu gelap, membuat aura mencekam semakin mengikatnya. Hingga pintu yang terdapat tepat di depannya terbuka, membuat Clara dan Liam masuk. Saat itu juga, sang papa mendorongnya, membuat Clara langsung terjatuh di lantai. “Tuan Ethan, ini putri saya, Clara. Dia yang akan saya jadikan jaminan untuk melunasi hutang-hutang saya,” kata Liam. Clara mendongakkan kepala, menatap pria yang saat ini tengah duduk di sofa dengan sebelah kaki disilangkan. Dia mengamati wajah di hadapannya lekat-lekat. Hidung bangir dan alis tebal. Memang terlihat begitu mempesona, tetapi tatapan tajam itu membuat Clara tahu bahwa Ethan bukan orang yang baik. Clara menatap ke arah Liam dan berkata, “Pa, Aku tidak mau. Aku mohon bawa aku pulang. Aku benar-benar tidak mau berada di sini,” kata Clara lagi. Namun, Liam langsung memberikan tatapan tajam, akan memperingati agar putrinya itu diam. Dia memilih kembali menatap ke arah Ethan dan tersenyum lebar. Dia berkata, “Sekarang Clara sudah menjadi milik anda. Terserah apa yang mau anda lakukan dengannya. Menjualnya dengan pria lain juga saya tidak akan peduli. Yang terpenting anda sudah menghapus semua hutang keluarga Athena.” Clara hanya bisa menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa bisa terbendung. Papanya benar-benar begitu tega. Dalam hati dia membatin, ‘Ternyata kehidupanku tidak jauh lebih berarti dari hutang-hutang mereka. Mereka bahkan bisa meninggalkanku di dalam jurang seperti ini hanya demi nama sebuah keluarga.’ Ethan yang sejak tadi diam mulai bangkit. Kakinya melangkah pelan, mengitari Clara yang masih terdiam di lantai yang begitu dingin. Dia menundukkan tubuh, menyamakan dengan Clara. Jemarinya meraih dagu wanita itu dan mengangkat secara perlahan, membuat mata keduanya saling bersitatap. “Tuan, putri saya ini tidak pernah kemana-mana. Dia hanya sekolah dan ke rumah. Saya yakin dia masih perawan,” kata Liam, mencoba merayu Ethan. Ethan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Dia pun kembali bangkit dan menatap ke arah William—anak buahnya—memberikan isyarat yang langsung dimengerti. William pun melangkah ke arah Liam, membawa pria itu keluar. Sekarang, di ruangan hanya tersisa Ethan dan Clara. Ethan tidak membuka suara sama sekali, tetapi dia meraih pergelangan tangan Clara dan menariknya dengan kasar, membuat Clara hanya bisa mengadu dan kembali bangkit. Wajahnya sudah dipenuhi dengan air mata dan juga ketakutan. Namun, Ethan tidak peduli. Dia malah mendekat dan berhenti tepat di sebelah telinga Clara. Dia berbisik, “Sekarang kamu menjadi milikku, Clara. Tubuh, hidup dan bahkan nafasmu adalah milikku.” Clara benar-benar merinding mendengar ucapan Ethan. Pria itu tampak menyeramkan dengan tatapan yang begitu tajam. Hingga Ethan menarik tangannya, membawa ke sebuah ruangan dan melemparnya ke arah ranjang. “Akh,” pekik Clara sembari meringis. “Malam ini aku ingin kamu melayaniku, Clara,” ucap Ethan, diikuti seringai sinis.Liya mendesis pelan ketika merasakan kepalanya terasa sakit. Dia juga mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasanya kaku. Badannya terasa sakti, membuat Liya membuang napas kasar dan menghentikan usahanya.“Benar-benar sial,” gumam Liya dengan wajah kesal. Semua urusannya tertunda hanya karena sebuah kejadian yang tidak diinginkannya sama sekali.‘Kalau aku bertemu dengan pelakunya, aku ingin sekali menghabisi dia saat ini juga,’ batin Liya dengan kedua tangan mengepal. Dia benar-benar kesal. Padahal dia masih harus mencari Clara, tetapi sekarang semua harus berhenti karena tubuhnya yang masih terbaring di rumah sakit. Jangankan untuk mencari sahabatnya. Untuk bergerak saja terasa sakit.“Kamu sudah bangun?”Liya yang masih sibuk mengomel pun lansgung mengalihkan pandangan. Dia menatap pria dengan kacamata yang melangkah masuk. Manik matanya mengamati secara keseluruhan penampilan pria tersebut. Hingga pria itu duduk di pinggir ranjang.“Kamu siapa?” tanya Liya. Dia merasa tidak mengenal
Clara menuruni satu per satu anak tangga dengan perasaan tidak karuan. Dia mengamati sekitar, memastikan tidak ada orang lain di rumah itu. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya terkurung di rumah tersebut. Pasalnya, kalau ada yang tahu dan menyebarkan kabar tidak benar, dia juga yang akan kehilangan nama baik. Sampai Clara sudah berada di anak tangga terakhir dan menghela napas pelan.“Untung sudah tidak ada,” gumam Clara sembari mengelus dada.“Apa yang tidak ada, Clara?”Clara yang awalnya tenang langsung tersentak kaget saat mendengar suara bariton itu terlalu dekat dengannya. Dia pun mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Benar saja, Ethan sudah berdiri di belakangnya menggunakan pakaian formal. Terlihat ketegasan dari sorot mata pria itu, membuat Clara menundukkan kepala.“Bukan apa-apa,” jawab Clara. Jemarinya masih saling bertaut, merasa takut dengan Ethan.“Kalau memang tidak ada, cepat ke meja makan untuk sarapan. Aku tidak mau ada yang mati di rumahku,” kata
Clara menatap Ethan yang masih mengancingkan satu per satu kancing pakaian. Pria itu terlihat tenang. Padahal mereka baru saja menghabiskan waktu bersama. Sekarang saja, napas Clara masih terdengar memburu karena permainan gila yang baru saja Ethan lakukan. Ditambah dirinya yang masih menggunakan selimut sebagai penutup. Clara merasa tidak memiliki tenaga, tetapi sepertinya hal itu tidak terjadi dengan Ethan. Stamina pria itu benar-benar mengagumkan.“Ponsel untukmu.”Clara yang masih melamun pun tersentak kaget ketika Ethan melempar sebuah kotak di depannya. Buru-buru, dia mengambil dan membukanya. Seketka, bibirnya mengulas senyum lebar, menatap ke arah Ethan yang masih memasang wajah dingin.“Ini untukku?” tanya Clara memastikan.“Iya. Kata Citra kamu bosan. Jadi, aku membelikanmu ponsel. Anggap saja supaya kamu tidak kabur lagi,” jawab Ethan.Clara yang sejak tadi tersenyum pun langsung diam. Dia menatap ke arah Ethah penuh selidik. Padahal dirinya bukanlah orang penting. Dia juga
Clara membuka mata secara perlahan, menatap langit kamar dan membuang napas kasar. Hari yang membosankan akan kembali dilaluinya, membuat Clara tidak betah sama sekali. Dia bahkan malas untuk bangun. Pasalnya, semua aktivitasnya juga tidak akan berubah sama “Aku benar-benar malas menjalani hari,” gumam Clara. Lagu-lagi mendesah kasar.Namun, dia tidak mungkin terus berada di kamar. Dia cukup ingat dimana dirinya tinggal, membuat Clara mau tidak mau turun dari ranjang dan menuju ke arah kamar mandi. Clara tidak mau kalau mendapat masalah lagi dan membuat Ethan marah.Tiga puluh menit kemudian.Clara keluar dari kamar hanya menggunakan handuk. Dia sengaja tidak membawa pakaian ganti. Semalma Ethan tidak masuk ke kamarnya, menandakan jika pria itu tidak pulang ke rumah. Jadi, kamar itu adalah miliknya. Tidak ada selain dirinya. Itu sebabnya, Clara tidak membawa pakaian kering untuk digunakan.Namun, saat dia baru membuka handuk yang sejak tadi melilit tubuh, pintu ruangan terbuka. Sonta
“Ethan, kenapa kamu diam saja? Tidak biasanya kamu begini.”Ethan yang sejak tadi hanya duduk sembari memegang gelas berisi minuman beralkohol itu pun mengalihkan pandangan. Dia menatap ke arah Austin yang tampak penasaran dengan kebungkamannya kali ini. Tapi, dia tidak berniat untuk menjawabnya. Ethan hanya memainkan gelas, membuat isi di dalamnya ikut bergerak.“Tapi ngomong-ngomong, Ethan. Wanita di rumahmu itu siapa?” tanya Austin lagi.“Dia hanya seorang budak yang sudah kubeli,” jawab Ethan tanpa perasaan. Dia bahkan mengatakan dengan cukup gamblang, tidak ada rasa bersalah.Mendengar itu, Austin menganggukkan kepala beberapa kali. Dia meneguk minumannya hingga tandas dan meletakkan di meja dengan keras. Pandangannya beralih, menatap Ethan dan berkata, “Aku cukup tertarik dengannya. Jadi, bagaimana kalau aku membayarnya saja.”Kali ini, Ethan masih bungkam. Tapi, tatapannya berubah menjadi tajam. Ekspresi wajahnya menyeramkan, siap memangsa kapan saja. Hal itu membuat Austin yan
“Hah, benar-benar membosankan.”Clara yang sedang duduk di pinggir kolam hanya mendesah kasar. Entah sudah berapa kali dia menghela napas berat, seakan sudah bosan dengan kegiatannya. Dia tidak memiliki aktivitas, membuatnya tidak betah sama sekali. Dia ingin melakukan banyak hal seperti biasanya.Namun, di tempat itu, Clara dilarang melakukan semua. Memasak, menyapu, menyiram tanaman dan hal lainnya. Bahkan Clara yang berniat menanam bunga pun tidak diperbolehkan. Dia hanya dibolekan duduk, makan, berjalan dan tidru. Selebihnya, dia tidak mendapat izin.‘Benar-benar seperti zombie,’ batin Clara. Dia menundukkan kepala, menatap kolam yang ada di depannya. Tangannya terulur dan bergerak, membuat gelombang kecil terlihat.“Andai saja aku bisa berenang. Aku pasti akan menenggelamkan diri di tempat ini supaya tidak bosan,” gumam Clara.“Nona, anda sudah di sini seharian. Anda tidak mau masuk?” tanya Citra. Sejak tadi dia mengamati Clara dari kejauhan.Clara yang mendengar pun mendongakkan







