LOGIN“Ethan, lama tidak bertemu.”
Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan. Namun, Sophie—teman masa kecil Ethan—seperti tidak mempedulikan reaksi pria itu. Dia memilih melangkahkan kaki, mengulas senyum lebar dan mendekat ke arah Ethan berada. Sampai dia berdiri tepat di sebelah pria itu, memegang pundak Ethan dan mengelus pelan. “Kamu tidak merindukanku?” tanya Sophie. Tatapannya tetap terkesan menggoda. Jemarinya juga tidak berhenti bergerak di pundak Ethan. Sayangnya, saat jemarinya hendak menyentuh dada pria itu, Ethan menghentikannya. Ethan menggenggam erat pergelangan tangan Sophie dan menatap ke arah wanita tersebut. Terlihat jelas kekesalan dari tatapannya. Sampai dia menyingkirkan dengan kasar dan membuang nafas berat. “Untuk apa kamu datang ke sini, Sophie?” tanya Ethan. Meski reaksi yang diberikan tidak ramah sama sekali dan jelas menunjukkan ketidaksukaan, tapi Sophie benar-benar tidak mempedulikannya. Bahkan dia dengan ramah menjawab, “Aku merindukanmu. Aku baru datang pagi ini dan langsung ke sini.” “Tapi sayangnya kamu tidak diterima di tempat ini,” celetuk Ethan. Sophie berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Dengan nada manja dia berkata, “Ethan, berhenti bersikap seperti ini denganku. Kita sudah kenal lama. Rasanya tidak baik kalau kita bermusuhan seperti ini.” “Aku tidak merasa kalau kita pernah saling mengenal. Aku bahkan tidak dekat denganmu. Jadi, berhenti bersikap seolah kita akrab,” sahut Ethan tanpa peduli perasaan wanita tersebut. Sophie membuang nafas kasar. Menghadapi Ethan benar-benar menguras kesabarannya. Meski begitu, dia tetap tidak menyerah sama sekali. Tangannya terulur, menggenggam lengan Ethan dan mulai memasang raut wajah memelas. “Jangan bicara seperti itu. Hatiku terasa sakit,” kata Sophie berusaha melunakan hati pria tersebut. Sayangnya, Semua usaha Sophie tidak berhasil sama sekali. Ethan masih tetap keras dengan pendiriannya. Bahkan kehadirannya seperti tidak dianggap sama sekali. Ethan masih sibuk dengan sarapan di depannya. “Ethan, jangan diam saja. Aku sengaja datang ke sini supaya bisa bertemu denganmu. Kamu tahu? Aku sudah menyelesaikan pendidikanku. Sekarang aku kembali dan tidak akan pergi lagi,” kata Sophie. Benar-benar menyebalkan. Padahal pagi ini Ethan hanya ingin menikmati sarapannya dengan tenang, tetapi kehadiran Sophie malah memperburuk moodnya hari ini. Dia pun langsung menggebrak meja dan bangkit, membuat Sophie tersentak kaget, termasuk Clara yang juga masih berada di sana. “Aku sudah katakan kalau aku tidak peduli dengan apapun yang akan kamu lakukan. Jadi, pergi dari sini. Rumah ini tidak menerimamu!” tegas Ethan sembari menuju ke arah pintu keluar. Sophie yang melihat kemarahan di wajah Ethan langsung menelan saliva pelan. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa mengering. Dia pun berdehem kecil, mencoba menenangkan degup jantung yang semakin tidak karuan. Dia pun bangkit menatap ke arah Ethan dengan rasa takut yang coba ditahan. “Ethan, kamu tidak serius dengan itu, kan?” tanya Sophie, mencoba untuk bersikap tenang. Dia tidak bisa terus-menerus merasa takut seperti ini. Kalau dia menyerah menghadapi sikap kasar Ethan, itu sama saja dengan kalah. Sedangkan Ethan yang ditanya tersenyum sinis dengan sebelah bibir terangkat. Dia melangkahkan kaki, mendekat ke arah Sophie yang masih berdiri dan tidak berani berpindah sama sekali. Sampai dia cukup dekat dengan wanita itu, membuatnya menghentikan langkah. “Aku rasa kamu tidak tuli, Sophie. Kamu juga bukan orang yang bodoh dan tidak mengerti dengan ucapan ku barusan. Jadi, segera pergi dari sini dan jangan sampai aku menyuruh satpam untuk mengusirmu,” ucap Ethan. “Tap—” “William!” Sophie dan Clara yang berada di sana langsung tersentak kaget ketika mendengar teriakan Ethan. Sophie langsung terlihat panik, memperhatikan sekitar. Dia tahu kalau pria itu sudah memanggil orang kepercayaannya, berarti Ethan sudah benar-benar dibatas kesabaran. “Ethan, ak—” “William. Cepat!” Tidak lama berselang, William datang menghampiri. Pria dengan ekspresi daftar itu berhenti tepat di depan Ethan. Dia bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Bawa Sophie keluar. Aku tidak ingin bertemu dengannya,” jawab Ethan. “Baik.” Setelah mengatakan itu, William langsung menatap ke arah Sophie berada dan berkata, “Mari ikut saya, Nona.” Sebenarnya Sophie tidak rela untuk pergi dari rumah tersebut. Pasalnya, dia benar-benar datang untuk Ethan. Kali ini pun dia menyempatkan untuk menengok pria itu lebih dulu, tetapi ternyata reaksi Ethan berbeda dari dugaannya. Pria itu benar-benar menolaknya. Tidak ada jalan lain. Sophie pikir untuk datang lain kali saja, berharap Ethan sudah jauh lebih luluh dan mau menerimanya kembali. Hingga dia pun membalikkan tubuh dan bersiap untuk pergi, tetapi saat melihat sosok lain yang duduk di ruang makan, Sophie menghentikan niatnya untuk pergi. “Ethan, dia siapa?” tanya Sophie. Dari tadi dia hanya fokus dengan Ethan saja, sampai tidak memperhatikan sekitar. “Bukan urusanmu,” jawab Ethan. “Tap—” “Pergi dari sini atau aku akan mengusirmu dengan paksa, Sophie,” sela Ethan. Sophie hanya bisa membuang nafas kasar, tidak berani untuk membantah ucapan Ethan. Dia pun membalikkan tubuh dan mulai melangkah pergi. Meski begitu, dia masih bertanya-tanya. Siapa wanita yang duduk di meja makan bersama dengan Ethan? ‘Aku harus menyelidikinya,’ batin Sophie. “William, siapa wanita itu?” tanya Sophie. “Untuk kali ini saya tidak berhak menjawabnya, Nona. Anda bisa tanyakan langsung dengan Tuan Ethan,” jawab William. Menanyakan dengan Ethan? Sophie hanya tersenyum sinis mendengarnya. Tidak mungkin dia bertanya dengan pria tersebut. Bisa dilihat jika Ethan sangat peduli dan Sophie yakin dia tidak akan mendapat informasi apapun Ethan. ‘Kalau begitu aku akan cari tahu sendiri,’ batin Sophie. Sedangkan di dalam rumah, Ethan yang merasa kesal langsung membuang nafas kasar. Kedua tangannya mengepal dengan rahang mengeras. Jelas sekali terlihat amarah dari sorot mata pria itu. Clara yang tidak mengetahui apapun hanya terdiam, memperhatikan Ethan yang tampak jauh lebih menyeramkan. Acara makannya juga dihentikan. Clara bahkan sudah tidak bernafsu lagi, takut terjadi hal buruk dengannya karena ulah wanita yang tidak dikenalnya itu. “Ethan,” panggil Clara. Ethan yang mendengar langsung menatap ke arah Clara berada. Dia membuang nafas kasar dan memilih melangkahkan kaki, menjauh dari ruang makan. Hal yang membuat Clara menatap bingung. ‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ Namun, Baru beberapa langkah Ethan menghentikan niatnya. Dia membalik tubuh dan menatap ke arah Clara sembari berkata, “Aku mau ke kantor. Kamu di rumah saja, Clara. Jangan coba-coba pergi atau kabur dari rumah ini. Kalau sampai kamu melakukannya, aku pastikan kamu akan menyesal.” Setelah mengatakan itu, Ethan kembali melangkah pergi. Clara yang tidak lagi melihat pria itu langsung membuang nafas kasar. Dia mengalihkan pandangan, menatap sekeliling dengan sorot mata waspada. “Aku tidak akan menurutinya. Aku tetap harus kabur dari rumah ini. Aku tidak mau mati sia-sia di tempat seperti ini,” gumam Clara.Clara tertawa kecil, melihat kiriman gambar dari sahabatnya. Sejak tadi dia memang berkirim pesan dengan sahabatnya. Clara juga mengingatkan wanita itu untuk tidak menghubungi malam hari, takut kalau ketahuan Ethan. Meski pria itu yang memberikannya ponsel, tetap saja Clara takut kalau nantinya Ethan marah karena dia yang hanya fokus dengan ponsel. Hingga pintu kamar terbuka, membuat Clara langsung menatap ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Clara menelan saliva pelan.“Ethan,” gumam Clara.Ethan hanya diam. Dia melepas dasi yang dikenakan dan meletakkan asal. Manik matanya menatap ke arah Clara yang terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.‘Sepertinya ponsel itu bisa membuat dia lebih baik,’ batin Ethan. Jemarinya melepas satu per satu kancing pakaian, meletakkan kemeja kerjanya dengan asal.“Aku mau mandi. Siapkan aku pakaian, Clara,” perintah Ethan.Clara yang mendengar langsung menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Manik matanya memperhatikan Ethan yang mulai melangkah
Ketukan pintu terdengar. Ethan yang saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya pun langsung menghentikan. Dia membiarkan seseorang untuk masuk. Hingga Willian melangkah lebar dan berhenti tepat di depannya.“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Ethan to the point. Dia menatap serius.Ethan yang ditanya pun dengan cepat menyerahkan map sembari menjawab, “Namanya Nathan Nigel, Tuan. Dia anak tunggal dari keluarga Nigel, termasuk kakak tingkat dari Nona Clara. Selama ini mereka berteman baik dan Tuan Nathan suka membantu Nona Clara.”Mendengar itu, Ethan terdiam. Dia masih mencerna ucapan William sembari melihat profil yang dibawa anak buahnya tersebut. Hingga dia melihat foto pria yang dimaksud, membuatnya menatap tajam.“Nathan Nigel,” gumam Ethan sembari mengetuk meja pelan, menimbulkan suara yang cukup menegangkan di ruangan yang awalnya sunyi tersebut.“Hanya ini yang kamu dapat?” tanya Ethan lagi.“Untuk sementara memang hanya ini yang saya dapat, Tuan,” jawab William.“Kalau begitu kamu
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Kek. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi,” kata Sophie.Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tetapi hatinya masih merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak enak hati karena sudah mematahkan harapan Sophie. Pasalnya, dia yang mencetuskan untuk menjodohkan, tetapi dia juga yang membatalkan. Hal yang membuat Theo hanya bisa berkata dengan perasaan bersalah. Hingga Sophie yang sudah melangkah pergi, membuat Theo menghela napas.“Bagaimana caranya aku meyakinkan Ethan?” tanya Theo dengan diri sendiri. Dia tidak mungkin memaksa cucunya itu. Hubungannya sempat retak dan baru pulih secara perlahan. Kalau dia memaksakan kehendak, pasti Ethan akan memberontak lagi.‘Kalau dia berontak, aku yang kesulitan mengendalikan. Bisa-bisa keluarga Evander hancur karena ulahnya,’ batin Theo. Hingga dia membuang napas lirih, merasa tidak ada jalan keluar baginya.Sedangkan Sophie yang sudah memasuki rumah segera melangkah lebar. Eks
“Aku harap ini bisa membantuku.”Sophie menatap paper bag di tangannya dan tersenyum lebar. Hari ini, dia sengaja datang ke rumah keluarga Ethan, berniat untuk meluluhkan hati keluarganya, terutama Theo. Jika Theo menjadi pendukung utamanya, meski Ethan menolak, masih ada banyak kemungkinan pria itu menerima dirinya.Sophie yang sudah mantap dengan rencananya langsung membuang napas kasar. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Kakinya melangkah ringan, memasuki rumah yang terlihat sepi. Padahal banyak pegawai di rumah tersebut. Hingga Sophie yang sudah sampai ruang keluarga dan melihat Theo sedang menikmati secangkir teh di pinggir kolam. Melihatnya, Sophie tersenyum lebar.“Kakek Theo,” panggil Sophie yang kembali melanjutkan langkah.Theo yang saat itu sedang bersantai pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat Sophie yang datang, Theo tersenyum lebar. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah pria itu. Hingga Sophie berdiri di depannya.“Aku membawakan minuman herba
“Aku sudah mengurus kepulanganmu. Hari ini juga, kamu bisa pulang.”Liya yang baru saja meletakkan ponsel langsung mengalihkan pandangan, menatap Julian yang baru saja datang. Pria itu tampak tenang dan mendekat ke arahnya. Hingga Julian berhenti, meletakkan kertas di nakas.“Aku sudah membayar biaya berobatnya,” kata Julian lagi.Liya hanya menganggukkan kepala. Dalam hati dia membatin, ‘Tidak perlu mengatakannya. Itu memang sudah tugasmu.’“Sebenarnya kondisimu belum sepenuhnya boleh pulang, tetapi karena kamu tetap mau pulang, aku menghormati keputusanmu. Tapi saat di rumah nanti, kalau ada masalah, jangan sungkan menghubungi. Kalau ada yang sakit atau sebagainya, hubungi saja,” kata Julian kembali mengingatkan.Lagi-lagi Liya hanya menganggukkan kepala. Dia tidak banyak vicara dengan Julian. Pasalnya, Liya bingung juga harus mengatakan apa karena semua yang Julian katakan pasti hanya akan dijawab iya.“Sekarang kamu bersiap. Aku akan mengantar pulang,” kata Julian. Meski tidak men
Ethan menatap layar di depannya dengan raut wajah serius. Hari ini ada rapat dengan para pemegang saham dan beberapa kepala departemen untuk membicarakan rancangan produk baru perusahaannya. Sejak tadi, ruangan itu juga terasa mencekam karena kehadiran Ethan, membuat peserta yang hadir menjadi tegang, takut membuat kesalahan.“Selanjutnya,” kata Ethan setelah satu karyawan mempresentasikan proposal yang sudah dibuat.Ruangan kembali hening. Salah satu karyawan melangkah maju, bersiap untuk presentasi. Memang tidak ada penilaian yang Ethan berikan, tetapi tetap saja taktu kalau membuat kesalahan. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Ethan mengalihkan pandnagan. Dia menatap dengan kening berkeriut dalam.‘Bukankah ini alarm panggilan dari ponsel Clara?’ batin Ethan.Hening. Ethan tidak langsung mengangkat panggilan itu. Dia hanya menatap dengan sebelah bibir terangkat. Hingga dia memberikan intruksi agar semuanya diam dan mengangkat panggilan.‘Aku mau lihat siapa yang kamu hubungi,
“Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelan
Ethan membuang nafas kasar. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Menghadapi Bruno dan Belinda seperti menguras tenaga yang disimpannya sejak beberapa hari yang lalu. Meski dia sudah tidak menganggap Bruno sebagai ayahnya, tetapi tetap saja merasa sakit ketika pria itu hanya peduli dengan keluar
“Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa
“Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke







