Home / Mafia / Obsesi Cinta Tuan Mafia / [4] Kedatangan Wanita Lama

Share

[4] Kedatangan Wanita Lama

Author: Kim Meili
last update Last Updated: 2026-02-25 05:56:10

“Ethan, lama tidak bertemu.”

Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan.

Namun, Sophie—teman masa kecil Ethan—seperti tidak mempedulikan reaksi pria itu. Dia memilih melangkahkan kaki, mengulas senyum lebar dan mendekat ke arah Ethan berada. Sampai dia berdiri tepat di sebelah pria itu, memegang pundak Ethan dan mengelus pelan.

“Kamu tidak merindukanku?” tanya Sophie. Tatapannya tetap terkesan menggoda. Jemarinya juga tidak berhenti bergerak di pundak Ethan.

Sayangnya, saat jemarinya hendak menyentuh dada pria itu, Ethan menghentikannya. Ethan menggenggam erat pergelangan tangan Sophie dan menatap ke arah wanita tersebut. Terlihat jelas kekesalan dari tatapannya. Sampai dia menyingkirkan dengan kasar dan membuang nafas berat.

“Untuk apa kamu datang ke sini, Sophie?” tanya Ethan.

Meski reaksi yang diberikan tidak ramah sama sekali dan jelas menunjukkan ketidaksukaan, tapi Sophie benar-benar tidak mempedulikannya. Bahkan dia dengan ramah menjawab, “Aku merindukanmu. Aku baru datang pagi ini dan langsung ke sini.”

“Tapi sayangnya kamu tidak diterima di tempat ini,” celetuk Ethan.

Sophie berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Dengan nada manja dia berkata, “Ethan, berhenti bersikap seperti ini denganku. Kita sudah kenal lama. Rasanya tidak baik kalau kita bermusuhan seperti ini.”

“Aku tidak merasa kalau kita pernah saling mengenal. Aku bahkan tidak dekat denganmu. Jadi, berhenti bersikap seolah kita akrab,” sahut Ethan tanpa peduli perasaan wanita tersebut.

Sophie membuang nafas kasar. Menghadapi Ethan benar-benar menguras kesabarannya. Meski begitu, dia tetap tidak menyerah sama sekali. Tangannya terulur, menggenggam lengan Ethan dan mulai memasang raut wajah memelas.

“Jangan bicara seperti itu. Hatiku terasa sakit,” kata Sophie berusaha melunakan hati pria tersebut.

Sayangnya, Semua usaha Sophie tidak berhasil sama sekali. Ethan masih tetap keras dengan pendiriannya. Bahkan kehadirannya seperti tidak dianggap sama sekali. Ethan masih sibuk dengan sarapan di depannya.

“Ethan, jangan diam saja. Aku sengaja datang ke sini supaya bisa bertemu denganmu. Kamu tahu? Aku sudah menyelesaikan pendidikanku. Sekarang aku kembali dan tidak akan pergi lagi,” kata Sophie.

Benar-benar menyebalkan. Padahal pagi ini Ethan hanya ingin menikmati sarapannya dengan tenang, tetapi kehadiran Sophie malah memperburuk moodnya hari ini. Dia pun langsung menggebrak meja dan bangkit, membuat Sophie tersentak kaget, termasuk Clara yang juga masih berada di sana.

“Aku sudah katakan kalau aku tidak peduli dengan apapun yang akan kamu lakukan. Jadi, pergi dari sini. Rumah ini tidak menerimamu!” tegas Ethan sembari menuju ke arah pintu keluar.

Sophie yang melihat kemarahan di wajah Ethan langsung menelan saliva pelan. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa mengering. Dia pun berdehem kecil, mencoba menenangkan degup jantung yang semakin tidak karuan. Dia pun bangkit menatap ke arah Ethan dengan rasa takut yang coba ditahan.

“Ethan, kamu tidak serius dengan itu, kan?” tanya Sophie, mencoba untuk bersikap tenang. Dia tidak bisa terus-menerus merasa takut seperti ini. Kalau dia menyerah menghadapi sikap kasar Ethan, itu sama saja dengan kalah.

Sedangkan Ethan yang ditanya tersenyum sinis dengan sebelah bibir terangkat. Dia melangkahkan kaki, mendekat ke arah Sophie yang masih berdiri dan tidak berani berpindah sama sekali. Sampai dia cukup dekat dengan wanita itu, membuatnya menghentikan langkah.

“Aku rasa kamu tidak tuli, Sophie. Kamu juga bukan orang yang bodoh dan tidak mengerti dengan ucapan ku barusan. Jadi, segera pergi dari sini dan jangan sampai aku menyuruh satpam untuk mengusirmu,” ucap Ethan.

“Tap—”

“William!”

Sophie dan Clara yang berada di sana langsung tersentak kaget ketika mendengar teriakan Ethan. Sophie langsung terlihat panik, memperhatikan sekitar. Dia tahu kalau pria itu sudah memanggil orang kepercayaannya, berarti Ethan sudah benar-benar dibatas kesabaran.

“Ethan, ak—”

“William. Cepat!”

Tidak lama berselang, William datang menghampiri. Pria dengan ekspresi daftar itu berhenti tepat di depan Ethan. Dia bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

“Bawa Sophie keluar. Aku tidak ingin bertemu dengannya,” jawab Ethan.

“Baik.”

Setelah mengatakan itu, William langsung menatap ke arah Sophie berada dan berkata, “Mari ikut saya, Nona.”

Sebenarnya Sophie tidak rela untuk pergi dari rumah tersebut. Pasalnya, dia benar-benar datang untuk Ethan. Kali ini pun dia menyempatkan untuk menengok pria itu lebih dulu, tetapi ternyata reaksi Ethan berbeda dari dugaannya. Pria itu benar-benar menolaknya.

Tidak ada jalan lain. Sophie pikir untuk datang lain kali saja, berharap Ethan sudah jauh lebih luluh dan mau menerimanya kembali. Hingga dia pun membalikkan tubuh dan bersiap untuk pergi, tetapi saat melihat sosok lain yang duduk di ruang makan, Sophie menghentikan niatnya untuk pergi.

“Ethan, dia siapa?” tanya Sophie. Dari tadi dia hanya fokus dengan Ethan saja, sampai tidak memperhatikan sekitar.

“Bukan urusanmu,” jawab Ethan.

“Tap—”

“Pergi dari sini atau aku akan mengusirmu dengan paksa, Sophie,” sela Ethan.

Sophie hanya bisa membuang nafas kasar, tidak berani untuk membantah ucapan Ethan. Dia pun membalikkan tubuh dan mulai melangkah pergi. Meski begitu, dia masih bertanya-tanya. Siapa wanita yang duduk di meja makan bersama dengan Ethan?

‘Aku harus menyelidikinya,’ batin Sophie.

“William, siapa wanita itu?” tanya Sophie.

“Untuk kali ini saya tidak berhak menjawabnya, Nona. Anda bisa tanyakan langsung dengan Tuan Ethan,” jawab William.

Menanyakan dengan Ethan? Sophie hanya tersenyum sinis mendengarnya. Tidak mungkin dia bertanya dengan pria tersebut. Bisa dilihat jika Ethan sangat peduli dan Sophie yakin dia tidak akan mendapat informasi apapun Ethan.

‘Kalau begitu aku akan cari tahu sendiri,’ batin Sophie.

Sedangkan di dalam rumah, Ethan yang merasa kesal langsung membuang nafas kasar. Kedua tangannya mengepal dengan rahang mengeras. Jelas sekali terlihat amarah dari sorot mata pria itu.

Clara yang tidak mengetahui apapun hanya terdiam, memperhatikan Ethan yang tampak jauh lebih menyeramkan. Acara makannya juga dihentikan. Clara bahkan sudah tidak bernafsu lagi, takut terjadi hal buruk dengannya karena ulah wanita yang tidak dikenalnya itu.

“Ethan,” panggil Clara.

Ethan yang mendengar langsung menatap ke arah Clara berada. Dia membuang nafas kasar dan memilih melangkahkan kaki, menjauh dari ruang makan. Hal yang membuat Clara menatap bingung.

‘Apa yang sebenarnya terjadi?’

Namun, Baru beberapa langkah Ethan menghentikan niatnya. Dia membalik tubuh dan menatap ke arah Clara sembari berkata, “Aku mau ke kantor. Kamu di rumah saja, Clara. Jangan coba-coba pergi atau kabur dari rumah ini. Kalau sampai kamu melakukannya, aku pastikan kamu akan menyesal.”

Setelah mengatakan itu, Ethan kembali melangkah pergi. Clara yang tidak lagi melihat pria itu langsung membuang nafas kasar. Dia mengalihkan pandangan, menatap sekeliling dengan sorot mata waspada.

“Aku tidak akan menurutinya. Aku tetap harus kabur dari rumah ini. Aku tidak mau mati sia-sia di tempat seperti ini,” gumam Clara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [5] Gagal Melarikan Diri

    “Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa menjamin hidupnya tetap tenang di tempat yang mengerikan itu. Ethan bisa Kapan saja mengamuk dan membunuhnya. “Aku tidak ingin berdiam diri dan menunggu kematianku,” gumam Clara.Clara mengamati sekitar. Tempat itu tidak seramai sebelumnya. Hanya ada beberapa pelayan yang sejak tadi berlalu-lalang, membersihkan rumah tersebut. Namun, Clara tetap bersikap biasa. Dia hanya berjalan-jalan saja sembari mengamati sekitar. Sebisa mungkin Clara tidak ingin menimbulkan kecurigaan.“Nona Clara.”Clara yang hendak menggeser pintu kaca di depannya langsung berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap asal suara. Di hadapannya sudah ada wanita paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata lembut. Melihat i

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [4] Kedatangan Wanita Lama

    “Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan. Namun, Sophie—teman masa kecil Ethan—seperti tidak mempedulikan reaksi pria itu. Dia memilih melangkahkan kaki, mengulas senyum lebar dan mendekat ke arah Ethan berada. Sampai dia berdiri tepat di sebelah pria itu, memegang pundak Ethan dan mengelus pelan. “Kamu tidak merindukanku?” tanya Sophie. Tatapannya tetap terkesan menggoda. Jemarinya juga tidak berhenti bergerak di pundak Ethan.Sayangnya, saat jemarinya hendak menyentuh dada pria itu, Ethan menghentikannya. Ethan menggenggam erat pergelangan tangan Sophie dan menatap ke arah wanita tersebut. Terlihat jelas kekesalan dari tatapannya. Sampai dia menyingkirkan dengan kasar dan membuang nafas berat.“Untuk apa kamu datang ke sini, So

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [3] Berniat Kabur

    “Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke rumah ini aku tidak melihat sekitar? Sekarang aku jadi bingung sendiri,” gerutu Clara. Dia terus melangkahkan kaki dan mengamati sekitar. Dia juga ingin memastikan kondisi sekeliling, tidak ingin anak buah pria itu mengetahui keberadaannya. Dalam hati Clara sekarang, dia hanya ingin segera keluar dan terbebas dari sarang yang begitu menakutkan. “Aku tidak bisa tinggal di sini. Kalau aku tinggal di sini bisa-bisa hidupku hancur. Bisa saja pria itu membunuhku,” gumam Clara. Sekelebat bayangan terlihat. Clara yang merasa terancam pun mulai bersembunyi di balik dinding dan menatap sekeliling. Ada beberapa pengawal yang saat itu berjaga, mengamati kondisi sekitar rumah. Melihat hal itu, nyali

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [2] Dia Membunuh?

    “Jangan!”Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian dada yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir. “Aku mohon jangan,” kata Clara dengan raut wajah memelas. Dia sedikit memundurkan tubuh, berusaha menghindari Ethan.Namun, bukan Ethan namanya kalau menuruti ucapan orang lain. Dia pun terus mendekat ke arah Clara yang masih berada di ranjang. Jaraknya memang cukup jauh, tetapi itu masih dalam jangkauan pria tersebut. Dia bahkan mengamati lekuk tubuh Clara yang tampak menggoda. Hingga dia melihat wanita itu membalikkan tubuh dan siap pergi. Tepat saat itu, Ethan meraih tangan Clara dan menariknya. “Tidak! Jangan!” teriak Clara dengan isak tangis yang masih terdengar. “Kamu mau kabur, hah?” Ethan menangkup pipi Clara dan mengapitnya dengan keras. Clara tidak bisa mengatakan apapun, tetapi dia teru

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [1] Menjadi Miliknya

    “Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. “Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah. Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada. Plak.Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status