LOGIN“Aku harus pergi dari tempat ini.”
Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke rumah ini aku tidak melihat sekitar? Sekarang aku jadi bingung sendiri,” gerutu Clara. Dia terus melangkahkan kaki dan mengamati sekitar. Dia juga ingin memastikan kondisi sekeliling, tidak ingin anak buah pria itu mengetahui keberadaannya. Dalam hati Clara sekarang, dia hanya ingin segera keluar dan terbebas dari sarang yang begitu menakutkan. “Aku tidak bisa tinggal di sini. Kalau aku tinggal di sini bisa-bisa hidupku hancur. Bisa saja pria itu membunuhku,” gumam Clara. Sekelebat bayangan terlihat. Clara yang merasa terancam pun mulai bersembunyi di balik dinding dan menatap sekeliling. Ada beberapa pengawal yang saat itu berjaga, mengamati kondisi sekitar rumah. Melihat hal itu, nyali Clara benar-benar menciut. ‘Kalau penjagaan seketat ini, apa mungkin aku bisa kabur?’ Clara yang mulai pesimis dengan nasibnya hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan kedua tangan mengepal. Dia menelan saliva pelan, mencoba menguatkan kembali niatnya. Hingga dia melihat suasana yang sudah sepi, membuat Clara keluar dari persembunyiannya. “Aku harus segera pergi dari tempat ini,” ucap Clara menyemangati diri sendiri. Clara pun melangkah lebar, sesekali berlari kecil. Sebisa mungkin dia harus menghindari para pengawal yang pastinya akan mencegah untuk pergi. Meski dengan perasaan takut, tetapi Clara tetap berusaha menguatkan tekad. Dia tetap harus pergi dan meninggalkan tempat yang menurutnya terkutuk itu. “Kamu mau ke mana, Clara?” Clara yang baru saja berniat menggeser pintu langsung membalikkan tubuh. Kedua matanya melebar ketika melihat sosok yang sejak tadi ditakutinya sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya menegang dan menelan saliva pelan. “Jangan mendekat.” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Clara. Tangan yang bergetar berusaha untuk menggeser pintu kaca di belakangnya, tetapi terasa sulit. Clara pun mengalihkan pandangan, menatap ke arah keluar. Benar saja. Di luar sudah ada beberapa pengawal yang berjaga. Sedangkan di hadapannya, Ethan terus melangkah mendekat. Kali ini, Clara benar-benar berada di jalan buntu. Hingga Dia merasakan genggaman pergelangan tangannya, membuat Clara langsung menatap ke arah sang pelaku. “Kamu mau kabur dariku?” tanya Ethan. “Aku hanya ingin keluar. Aku ingin pergi dari tempat ini,” jawab Clara dengan suara bergetar. Namun, Ethan malah tersenyum sinis dengan sebelah bibir terangkat. Dia kembali berkata, “Sampai kapanpun kamu tidak bisa keluar dari tempat ini. Keluargamu sudah menyerahkanmu denganku. Hidup dan matimu adalah milikku. Jadi, selamanya kamu hanya bisa tinggal di sini.” Menyadari fakta itu benar-benar membuat Clara semakin tidak kuasa menahan tangisnya. Dia tidak mungkin berdiam diri di tempat semacam itu, di mana dara bisa saja mengalir tanpa alasan. Cita-citanya masih cukup banyak, membuat Clara menarik tangannya dengan kasar. “Kamu tidak bisa menentukan hidupku!” Ini adalah kali pertama Clara membentak seseorang. Meski setelahnya dia kembali merasa ciut. Nyalinya hanya timbul sesaat saja. ‘Astaga, kalau sampai dia semakin marah, Aku harus bagaimana?’ batin Clara yang mulai sadar dengan kesalahannya. Ethan bukanlah pria lembut yang bisa dengan mudah memaafkan. Ethan sendiri hanya terdiam, menatap Clara dengan sorot mata tajam. Tidak ada yang keluar dari mulutnya. Hingga helaan kasar terdengar, diikuti Ethan yang kembali meraih pergelangan tangan Clara dan menariknya kasar. “Orang tuamu sudah menyerahkanmu denganku. Mereka menjualmu. Jadi, kamu sudah tidak memiliki kesempatan untuk pergi lagi. Kamu sudah tidak bisa memiliki hidupmu sendiri,” ucap Ethan. Ethan perlahan mendekat dan berhenti tepat di sebelah telinga Clara. Dia kembali berbisik, “Ingat, Clara. Kalau sampai kamu pergi lagi, bukan cuma peringatan yang akan kamu terima. Aku akan memberimu hukuman.” Clara melebarkan kedua mata. Belum sempat pikirannya mencerna ucapan pria tersebut, tubuhnya tiba-tiba saja melayang. Kedua matanya semakin melebar, terkejut karena Ethan yang langsung membopongnya seperti karung beras. “Turunkan aku,” teriak Clara. Ethan yang tidak memiliki kesabaran lebih itupun langsung menepuk pantat Clara dan berkata, “Diam!” Mendapat bentakan itu membuat Clara refleks menutup mulut rapat-rapat. Dia tidak berani lagi berbicara sepatah kata pun. Dia hanya bisa meredam rasa takutnya, berusaha berpikir tenang ketika Ethan mulai menaiki satu persatu anak tangga. Hingga pria itu membawanya masuk dan menurunkannya di atas ranjang. “Tidur,” perintah Ethan. Tidur? Clara yang mendengar hal itu pun kembali dibuat takut. Dia memundurkan tubuh dengan sorot mata penuh waspada. ‘Aku tidak mau kalau sampai dia merenggut keperawananku. Sekarang hanya itu yang aku punya,’ batin Clara. Sayangnya hal berbeda ditunjukkan oleh Ethan. Pria itu mendekat ke arah Clara, menarik selimut dan menutupi kakinya. Clara yang mendapat perlakuan seperti itu benar-benar dibuat terkejut. Dia bahkan bertanya-tanya, benarkah ini Ethan yang sama dengan pria yang baru saja membunuh orang tadi? “Aku menyuruhmu tidur, Clara. Jadi, tidurlah,” kata Ethan. Tidak ada jawaban. Clara masih bingung karena diperlakukan begitu baik oleh Ethan. Padahal pria itu terkenal dengan kekejaman dan juga kekasarannya. Sekarang dia hanya mengikuti ke mana pria itu melangkah. Hingga Ethan berbaring tepat di sebelahnya, membuat Clara mengerutkan kening dalam. ‘Dia benar-benar tidak akan macam-macam denganku, kan?’ batin Clara. *** Clara membuka mata secara perlahan dan langsung memiringkan kepala, menatap ke arah sisi sebelah ranjang. Melihat tempat itu sudah kosong membuat Clara mengerutkan kening dalam. Padahal semalam Ethan berbaring tepat di sebelahnya, tapi sekarang pria itu sudah tidak ada. Clara menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Dia tidak ingin memusingkan sikap Ethan yang menurutnya cukup baik. Dia memilih melangkahkan kaki ketika perutnya terasa begitu keroncongan. Dia pun menuruni satu per satu anak berhenti ketika sudah berada di lantai dasar. ‘Dimana dapurnya?’ batin Clara. “Clara.” Clara yang mendengar panggilan itu pun langsung mengalihkan pandangan. Tidak jauh darinya, terlihat Ethan yang sedang duduk dan menikmati sarapan. Melihat pria itu menatap tajam ke arahnya, Clara pun memberanikan diri untuk mendekat. “Duduk dan habiskan sarapan,” perintah Ethan. Entah karena kebiasaan Ethan yang suka sekali memerintah atau memang pria itu yang tidak bisa berkata manis. Clara hanya bisa menurut ketika mendengar ucapan Ethan yang seperti tidak bisa terbantah sama sekali. Dengan tenang, dia duduk dan mulai menyantap sarapan di depannya. Perutnya sejak tadi sudah keroncongan dan minta diisi, membuat Clara tidak bisa menolak hidangan di depannya. ‘Untuk kabur juga butuh tenaga, kan?’ batin Clara mengingatkan diri sendiri. Suasana di ruang makan terasa begitu hening. Sampai langkah kaki lain terdengar, membuat Clara mengalihkan pandangan. Keningnya berkerut dalam ketika melihat seseorang yang semakin mendekat dan berhenti tidak jauh darinya. “Ethan, lama tidak bertemu.”“Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa menjamin hidupnya tetap tenang di tempat yang mengerikan itu. Ethan bisa Kapan saja mengamuk dan membunuhnya. “Aku tidak ingin berdiam diri dan menunggu kematianku,” gumam Clara.Clara mengamati sekitar. Tempat itu tidak seramai sebelumnya. Hanya ada beberapa pelayan yang sejak tadi berlalu-lalang, membersihkan rumah tersebut. Namun, Clara tetap bersikap biasa. Dia hanya berjalan-jalan saja sembari mengamati sekitar. Sebisa mungkin Clara tidak ingin menimbulkan kecurigaan.“Nona Clara.”Clara yang hendak menggeser pintu kaca di depannya langsung berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap asal suara. Di hadapannya sudah ada wanita paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata lembut. Melihat i
“Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan. Namun, Sophie—teman masa kecil Ethan—seperti tidak mempedulikan reaksi pria itu. Dia memilih melangkahkan kaki, mengulas senyum lebar dan mendekat ke arah Ethan berada. Sampai dia berdiri tepat di sebelah pria itu, memegang pundak Ethan dan mengelus pelan. “Kamu tidak merindukanku?” tanya Sophie. Tatapannya tetap terkesan menggoda. Jemarinya juga tidak berhenti bergerak di pundak Ethan.Sayangnya, saat jemarinya hendak menyentuh dada pria itu, Ethan menghentikannya. Ethan menggenggam erat pergelangan tangan Sophie dan menatap ke arah wanita tersebut. Terlihat jelas kekesalan dari tatapannya. Sampai dia menyingkirkan dengan kasar dan membuang nafas berat.“Untuk apa kamu datang ke sini, So
“Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke rumah ini aku tidak melihat sekitar? Sekarang aku jadi bingung sendiri,” gerutu Clara. Dia terus melangkahkan kaki dan mengamati sekitar. Dia juga ingin memastikan kondisi sekeliling, tidak ingin anak buah pria itu mengetahui keberadaannya. Dalam hati Clara sekarang, dia hanya ingin segera keluar dan terbebas dari sarang yang begitu menakutkan. “Aku tidak bisa tinggal di sini. Kalau aku tinggal di sini bisa-bisa hidupku hancur. Bisa saja pria itu membunuhku,” gumam Clara. Sekelebat bayangan terlihat. Clara yang merasa terancam pun mulai bersembunyi di balik dinding dan menatap sekeliling. Ada beberapa pengawal yang saat itu berjaga, mengamati kondisi sekitar rumah. Melihat hal itu, nyali
“Jangan!”Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian dada yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir. “Aku mohon jangan,” kata Clara dengan raut wajah memelas. Dia sedikit memundurkan tubuh, berusaha menghindari Ethan.Namun, bukan Ethan namanya kalau menuruti ucapan orang lain. Dia pun terus mendekat ke arah Clara yang masih berada di ranjang. Jaraknya memang cukup jauh, tetapi itu masih dalam jangkauan pria tersebut. Dia bahkan mengamati lekuk tubuh Clara yang tampak menggoda. Hingga dia melihat wanita itu membalikkan tubuh dan siap pergi. Tepat saat itu, Ethan meraih tangan Clara dan menariknya. “Tidak! Jangan!” teriak Clara dengan isak tangis yang masih terdengar. “Kamu mau kabur, hah?” Ethan menangkup pipi Clara dan mengapitnya dengan keras. Clara tidak bisa mengatakan apapun, tetapi dia teru
“Pa, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!”Clara Athena berteriak sekeras mungkin. Dia mencoba menahan Liam Athena—papanya—yang ingin membawanya pergi. Air mata terus mengalir. Ketakutan juga langsung merayap dalam dirinya. Clara benar-benar harus berjuang keras untuk melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. “Pa, aku tidak mau. Aku tidak mau dijual ke orang jahat itu,” teriak Clara lagi. Dia masih berusaha melepaskan genggaman tangan yang begitu erat. Meski tenaganya sudah terkuras, tetapi Clara tidak ingin menyerah. Liam yang melihat putrinya itu terus memberontak langsung berhenti. Clara benar-benar menguji emosinya. Sejak mereka keluar dari rumah, gadis itu bahkan tidak berhenti merontak sama sekali. Hingga dia membalikkan tubuh dan melayangkan tangan ke arah Clara berada. Plak.Tamparan keras membuat Clara terdiam. Sedikit darah terlihat di ujung bibirnya. Wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata kini terlihat begitu lusuh. Tatapan yang awalnya masih memberikan harapan, ka







