LOGIN“Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”
Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa menjamin hidupnya tetap tenang di tempat yang mengerikan itu. Ethan bisa Kapan saja mengamuk dan membunuhnya. “Aku tidak ingin berdiam diri dan menunggu kematianku,” gumam Clara. Clara mengamati sekitar. Tempat itu tidak seramai sebelumnya. Hanya ada beberapa pelayan yang sejak tadi berlalu-lalang, membersihkan rumah tersebut. Namun, Clara tetap bersikap biasa. Dia hanya berjalan-jalan saja sembari mengamati sekitar. Sebisa mungkin Clara tidak ingin menimbulkan kecurigaan. “Nona Clara.” Clara yang hendak menggeser pintu kaca di depannya langsung berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap asal suara. Di hadapannya sudah ada wanita paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata lembut. Melihat itu, Clara mencoba untuk tersenyum, meski jelas itu dipaksakan. “Saya Citra, kepala pelayan di sini,” ucap Citra memperkenalkan diri. Clara yang mendengar hal itu hanya menganggukkan kepala, merasa canggung dengan wanita di depannya. Meskipun wanita itu tersenyum manis ke arahnya, tetap saja Clara merasa jika tatapan itu sangatlah tajam. Wanita di depannya seakan sedang mengamati gerak-geriknya. “Kalau boleh tahu, Anda mau ke mana? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Citra lagi. “Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Dari semalam aku hanya di rumah dan rasanya bosan,” jawab Clara. “Kalau begitu biar saya temani,” kata Citra. Kalau Citra menemani, berarti usaha Clara untuk kabur akan sia-sia. Dia pun dengan cepat berkata, “Aku rasa tidak perlu. Aku hanya ingin berjalan-jalan sendiri untuk menyesuaikan dengan suasana di rumah ini.” Citra terdiam dan tampak berpikir. Dia tidak langsung mengiyakan ucapan Clara kali ini. Bahkan terlihat jelas jika wanita itu sedang mempertimbangkan keputusannya. “Aku tidak akan kabur. Di sini begitu banyak penjaga. Aku juga tidak tahu seluk beluk rumah ini. Jadi, kamu tenang saja,” lanjutnya, berusaha meyakinkan Citra. Citra yang awalnya meragu pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia menyahut, “Baiklah. Saya harap anda bisa menepati ucapan Anda. Kalau begitu, Saya permisi dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.” Clara bergumam pelan. Dia menatap ke arah Citra yang sudah berlalu meninggalkannya. Setelah wanita itu pergi, dia langsung membuang nafas kasar. Clara mengelus dada, merasa lega karena wanita itu tidak jadi mengikutinya. “Sekarang aku harus gerak cepat. Jangan sampai ada yang curiga lagi,” gumam Clara. Clara pun langsung membalikkan tubuh dan membuka pintu. Dengan cepat dia keluar. Kakinya melangkah pelan sembari mengamati sekitar. Rumah itu memang sepi, tetapi penjagaan tidak pernah pergi meninggalkan tempatnya. Bahkan di sudut rumah pun ada penjaga. “Kalau semua dijaga dengan begitu ketat, aku harus mencari jalan keluar lainnya,” gumam Clara. Clara menghentikan langkah, mengamati sekitar dan mencoba mencari celah yang bisa dia gunakan. Beberapa kali dia menggigit bibir bagian bawah, merasa frustasi karena tidak juga menemukan celah di rumah itu. Entah apa yang dipikirkan Ethan sampai membuat rumah yang begitu luas, membuat Clara sulit menemukan jalan keluar yang menurutnya aman. Sampai dia melihat pintu kecil di bagian ujung pagar, membuat Clara tersenyum tipis. “Aku rasa itu bisa digunakan,” ucap Clara dengan diri sendiri. Tanpa pikir panjang, dia pun melangkahkan kaki dan menuju ke arah pintu yang dimaksud. Sesekali dia mengalihkan pandangan, menatap sekitar dan memastikan jika tempat itu aman. Setelah dirasa aman, Clara langsung berlari. Beruntung pintu itu tidak dikunci, membuat Clara dengan mudah keluar. Benar saja. Tempat itu berada di bagian paling belakang rumah Ethan. Pagarnya sudah hampir menyatu dengan pagar rumah lain, tetapi masih ada sedikit celah yang bisa digunakan untuk Clara keluar. Clara membuang nafas kasar. Tempat itu sangat sempit, tapi masih bisa untuk dilewati. Clara pun melangkah secara perlahan, berusaha keluar dari tempat tersebut. Hanya ini satu-satunya jalan yang menurutnya aman. Namun, saat Clara sudah berada di luar bersiap untuk pergi, sebuah tangan meraih pergelangannya. Dengan cepat, Clara membalikkan tubuh, menatap ke arah sang pelaku. melihat Siapa yang menjadi dalang masalahnya kali ini, Clara melebarkan kedua mata. “William,” gumam Clara. ‘Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia ikut Ethan ke kantor?’ batin Clara. “Anda ingin kabur, Nona?” tanya William dengan nada suara ditekan. Clara hanya bungkam, tapi dia berusaha untuk melepaskan genggaman. Dia sudah berada di luar, membuatnya tidak ingin masuk ke rumah itu lagi. Hingga dia yang tidak sabar langsung berusaha mendorong tubuh William. Meski pada akhirnya, semua usahanya sia-sia. “Lepaskan aku, William. Aku tidak mau masuk rumah itu lagi,” kata Clara. “Saya hanya menuruti perintah Tuan Ethan. Jadi, silakan Anda katakan hal ini dengannya,” sahut William. Dia langsung menarik tubuh Clara dan membawa ke rumah. “William, lepaskan aku!” Namun, sekuat apapun dia berteriak dan memohon, William tidak akan melepaskannya. Dia malah semakin menarik Clara dan memasuki rumah Ethan lagi. Jemarinya meraih ponsel yang berada di kantung celana, menekan nomor seseorang dan mendekatkan benda pipih tersebut di telinga. “Halo, Tuan. Saya baru saja menemukan Nona Clara yang hendak kabur dari rumah,” kata William. “Kalau begitu, masukkan saja dia ke dalam kamar. Kunci dan jangan biarkan dia keluar. Perketat juga penjagaan,” perintah Ethan dari seberang. Clara yang mendengar hal itu pun langsung menelan saliva pelan. Wajahnya memucat. Dalam hati dia bertanya-tanya, 'Apakah benar aku akan menghabiskan sisa hidup di sini? Apa tidak ada jalan keluar sama sekali?’ *** “Di mana dia?” Ethan yang baru saja pulang langsung menyerahkan jas ke arah William. Wajahnya tampak serius dengan rahang mengeras. Langkahnya juga begitu lebar, seakan tidak sabar untuk memasuki rumah. “Saya sudah melakukan seperti apa yang Anda perintahkan,” jawab William. Ethan tidak mengatakan apapun. Dia memilih terus melangkahkan kaki, menaiki satu persatu anak tangga dan sampai di depan kamar. Dia pun langsung membuka pintu, membuat Clara yang sejak tadi duduk di ranjang langsung tersentak kaget. “Ethan,” gumam Clara. Melihat raut wajah pria itu semakin membuat Clara ketakutan. Tubuhnya terasa kaku. Hingga tiba-tiba saja Ethan mendorong tubuhnya dan langsung mendidih. “Ethan, kamu mau apa?” tanya Clara dengan suara bergetar. Dia benar-benar takut kalau Ethan akan menyakitinya. ‘Padahal jelas-jelas seperti kelinci, tetapi masih saja berusaha untuk kabur dariku. Benar-benar cari masalah,’ batin Ethan. Pria itu pun langsung mengulurkan tangan, mengapit pipi Clara dan menjawab, “Kamu tidak mau mendengarkanku. Jadi, bukankah seharusnya kamu menerima hukuman?”Clara tertawa kecil, melihat kiriman gambar dari sahabatnya. Sejak tadi dia memang berkirim pesan dengan sahabatnya. Clara juga mengingatkan wanita itu untuk tidak menghubungi malam hari, takut kalau ketahuan Ethan. Meski pria itu yang memberikannya ponsel, tetap saja Clara takut kalau nantinya Ethan marah karena dia yang hanya fokus dengan ponsel. Hingga pintu kamar terbuka, membuat Clara langsung menatap ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Clara menelan saliva pelan.“Ethan,” gumam Clara.Ethan hanya diam. Dia melepas dasi yang dikenakan dan meletakkan asal. Manik matanya menatap ke arah Clara yang terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.‘Sepertinya ponsel itu bisa membuat dia lebih baik,’ batin Ethan. Jemarinya melepas satu per satu kancing pakaian, meletakkan kemeja kerjanya dengan asal.“Aku mau mandi. Siapkan aku pakaian, Clara,” perintah Ethan.Clara yang mendengar langsung menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Manik matanya memperhatikan Ethan yang mulai melangkah
Ketukan pintu terdengar. Ethan yang saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya pun langsung menghentikan. Dia membiarkan seseorang untuk masuk. Hingga Willian melangkah lebar dan berhenti tepat di depannya.“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Ethan to the point. Dia menatap serius.Ethan yang ditanya pun dengan cepat menyerahkan map sembari menjawab, “Namanya Nathan Nigel, Tuan. Dia anak tunggal dari keluarga Nigel, termasuk kakak tingkat dari Nona Clara. Selama ini mereka berteman baik dan Tuan Nathan suka membantu Nona Clara.”Mendengar itu, Ethan terdiam. Dia masih mencerna ucapan William sembari melihat profil yang dibawa anak buahnya tersebut. Hingga dia melihat foto pria yang dimaksud, membuatnya menatap tajam.“Nathan Nigel,” gumam Ethan sembari mengetuk meja pelan, menimbulkan suara yang cukup menegangkan di ruangan yang awalnya sunyi tersebut.“Hanya ini yang kamu dapat?” tanya Ethan lagi.“Untuk sementara memang hanya ini yang saya dapat, Tuan,” jawab William.“Kalau begitu kamu
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Kek. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi,” kata Sophie.Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tetapi hatinya masih merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak enak hati karena sudah mematahkan harapan Sophie. Pasalnya, dia yang mencetuskan untuk menjodohkan, tetapi dia juga yang membatalkan. Hal yang membuat Theo hanya bisa berkata dengan perasaan bersalah. Hingga Sophie yang sudah melangkah pergi, membuat Theo menghela napas.“Bagaimana caranya aku meyakinkan Ethan?” tanya Theo dengan diri sendiri. Dia tidak mungkin memaksa cucunya itu. Hubungannya sempat retak dan baru pulih secara perlahan. Kalau dia memaksakan kehendak, pasti Ethan akan memberontak lagi.‘Kalau dia berontak, aku yang kesulitan mengendalikan. Bisa-bisa keluarga Evander hancur karena ulahnya,’ batin Theo. Hingga dia membuang napas lirih, merasa tidak ada jalan keluar baginya.Sedangkan Sophie yang sudah memasuki rumah segera melangkah lebar. Eks
“Aku harap ini bisa membantuku.”Sophie menatap paper bag di tangannya dan tersenyum lebar. Hari ini, dia sengaja datang ke rumah keluarga Ethan, berniat untuk meluluhkan hati keluarganya, terutama Theo. Jika Theo menjadi pendukung utamanya, meski Ethan menolak, masih ada banyak kemungkinan pria itu menerima dirinya.Sophie yang sudah mantap dengan rencananya langsung membuang napas kasar. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Kakinya melangkah ringan, memasuki rumah yang terlihat sepi. Padahal banyak pegawai di rumah tersebut. Hingga Sophie yang sudah sampai ruang keluarga dan melihat Theo sedang menikmati secangkir teh di pinggir kolam. Melihatnya, Sophie tersenyum lebar.“Kakek Theo,” panggil Sophie yang kembali melanjutkan langkah.Theo yang saat itu sedang bersantai pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat Sophie yang datang, Theo tersenyum lebar. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah pria itu. Hingga Sophie berdiri di depannya.“Aku membawakan minuman herba
“Aku sudah mengurus kepulanganmu. Hari ini juga, kamu bisa pulang.”Liya yang baru saja meletakkan ponsel langsung mengalihkan pandangan, menatap Julian yang baru saja datang. Pria itu tampak tenang dan mendekat ke arahnya. Hingga Julian berhenti, meletakkan kertas di nakas.“Aku sudah membayar biaya berobatnya,” kata Julian lagi.Liya hanya menganggukkan kepala. Dalam hati dia membatin, ‘Tidak perlu mengatakannya. Itu memang sudah tugasmu.’“Sebenarnya kondisimu belum sepenuhnya boleh pulang, tetapi karena kamu tetap mau pulang, aku menghormati keputusanmu. Tapi saat di rumah nanti, kalau ada masalah, jangan sungkan menghubungi. Kalau ada yang sakit atau sebagainya, hubungi saja,” kata Julian kembali mengingatkan.Lagi-lagi Liya hanya menganggukkan kepala. Dia tidak banyak vicara dengan Julian. Pasalnya, Liya bingung juga harus mengatakan apa karena semua yang Julian katakan pasti hanya akan dijawab iya.“Sekarang kamu bersiap. Aku akan mengantar pulang,” kata Julian. Meski tidak men
Ethan menatap layar di depannya dengan raut wajah serius. Hari ini ada rapat dengan para pemegang saham dan beberapa kepala departemen untuk membicarakan rancangan produk baru perusahaannya. Sejak tadi, ruangan itu juga terasa mencekam karena kehadiran Ethan, membuat peserta yang hadir menjadi tegang, takut membuat kesalahan.“Selanjutnya,” kata Ethan setelah satu karyawan mempresentasikan proposal yang sudah dibuat.Ruangan kembali hening. Salah satu karyawan melangkah maju, bersiap untuk presentasi. Memang tidak ada penilaian yang Ethan berikan, tetapi tetap saja taktu kalau membuat kesalahan. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Ethan mengalihkan pandnagan. Dia menatap dengan kening berkeriut dalam.‘Bukankah ini alarm panggilan dari ponsel Clara?’ batin Ethan.Hening. Ethan tidak langsung mengangkat panggilan itu. Dia hanya menatap dengan sebelah bibir terangkat. Hingga dia memberikan intruksi agar semuanya diam dan mengangkat panggilan.‘Aku mau lihat siapa yang kamu hubungi,
Ethan membuang nafas kasar. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Menghadapi Bruno dan Belinda seperti menguras tenaga yang disimpannya sejak beberapa hari yang lalu. Meski dia sudah tidak menganggap Bruno sebagai ayahnya, tetapi tetap saja merasa sakit ketika pria itu hanya peduli dengan keluar
“Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan.
“Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke
“Jangan!”Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian dada yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir. “Aku moho







