LOGIN.
.
.
Bab 9
Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.
“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.
Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.
Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.
Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.
“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”
Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”
Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”
“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan taksi, Yud.” Dara menunjukan ponselnya, memperlihatkan aplikasi ojek online miliknya.
“Beliau bilang, Ibu pasti akan berangkat menjemput Mas Zio jadi mengutus saya mengantar Bu Dara,” jawab Yudha, jujur. Tanpa mengurangi sedikitpun omongan Komandannya.
Dara sontak mengerucutkan bibirnya, kesal. Tangannya refleks bersedekap di dada. Sialan! Tebakannya tepat sekali.
“Komandan kamu cenayang, ya? Bisa tahu semuanya?” gerutu Dara ketus, sambil mengeluarkan uang untuk membayar uang cancel taksi yang sudah terlanjur dia pesan.
Yudha memalingkan wajah menahan tawanya. Menanti sampai Dara kembali dan masuk mobil. Yudha kembali ke kursi kemudi, melanjutkan tugasnya.
“Yudha,” panggil Dara. Setelah mobil mulai melaju beriringan dengan mobil lain di jalan raya.
“Saya, Bu?”
“Nanti kamu pulang duluan saja. Aku mau mampir ke supermarket sebentar.”
“Saya antar, Bu.”
Dara menatap ajudan suaminya itu dengan mata terbelalak. “Memangnya kamu nggak ada kerjaan?”
Yudha tersenyum tipis. Melirik sekilas dari kaca spion tengah. “Ini salah satu tugas saya, Bu.”
“Ck! Ini juga bukan hal yang penting. Aku bisa sendiri, kok. Aman, tenang aja!” Dara langsung menolehkan kepalanya cepat, menanti jawaban Yudha.
“Beliau sedang memimpin latihan di markas. Jadi, memberikan saya perintah untuk memastikan Mas Zio dan Bu Dara pulang dengan selamat.”
Mendengar itu Dara kembali bersandar pada jok mobil. Mendadak malas untuk mendebat Yudha dengan segala titah suaminya.
Mobil terus melaju hingga akhirnya berbelok memasuki kawasan sekolah Zio. Suasana di depan gerbang sudah mulai ramai oleh para penjemput. Yudha memarkirkan mobilnya dengan hati-hati tepat di area aman untuk penjemputan.
Dari dalam gerbang sekolah, Zio sudah langsung menemukan wajah bundanya. Dara tersenyum manis, membiarkan Zio berlarian kecil ke arahnya. Bersama dengan itu, Guru yang tadi pagi menemui Dara menyusulnya di belakang.
“Bunda…” seru Zio. Dara segera menangkap pelukan Zio, membiarkannya masuk ke mobil lebih dulu.
“Selamat siang, Bu Dara.”
Dara kembali tersenyum dan mengangguk sopan pada Guru Zio. “Siang, Bu. Bagaimana Zio hari ini?”
“Zio bisa dibilang, hari ini sangat manis. Meski emosinya masih tidak stabil, tetapi Zio pelan-pelan sudah mau berbaur lagi dengan temannya.”
Dara menyunggingkan senyum lega sekaligus berterima kasih. “Syukurlah, kalau ada apa-apa dengan Zio Ibu hubungi nomor saya saja yang tadi pagi saya berikan.”
“Baik, Bu.”
Kali ini Dara tidak lama berbincang dengang Guru Zio. Dia ada rencana akan ke supermarket sepulang dari sekolah.
Tepat pukul empat sore, mobil yang Dara tumpangi berhenti di halaman rumah. Bagasi penuh dengan kantong-kantong belanja besar. Lebih dulu Dara menggendong Zio yang tertidur sebelum membawa masuk barang-barang belanjaannya.
“Saya bantu bawa barang-barangnya, Bu,” ujar Mbak Fitri, menyambut mereka di depan pintu.
Dara meletakan Zio di kamar. Sekilas ia melirik rak sepatu dan mendengus mendapati sepatu Ryuga sudah rapi di dalamnya.
“Dia udah pulang,” gumamnya, sambil menutup pintu kamar Zio pelan.
Ketika Dara mulai menyusun satu persatu barang belanjaannya ke dalam kulkas, langkah kaki terdengar dari belakang.
Ryuga baru selesai mandi dan turun dengan kaos dan celana santai, rambutnya masih sedikit basah. Ia berdiri sejenak melihat istrinya membongkar kantong-kantong belanja yang jumlahnya tidak sedikit.
Dahi Ryuga mengernyit tipis. Ada rasa kesal yang muncul diam-diam. Bukan karena banyaknya belanjaan, tapi Dara belanja tidak meminta uang darinya. Kedua matanya menatap punggung Dara yang masih sibuk dengan beberapa macam sayur.
“Kamu belanja pakai uangmu sendiri?” tanya Ryuga, akhirnya. Suaranya tenang, tetapi menyiratkan sebuah ketegasan. “Kenapa nggak bilang sama saya atau minta uang sama saya?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Tapi, di telinga Dara nadanya terdengar sedikit tajam.
Dara menoleh pelan ke arah Ryuga. “I-iya pakai uangku,” jawab Dara. Entah kenapa mendadak gugup.
“Sebenarnya, aku nggak niat ke supermarket. Tapi, aku baru ingat kalau bahan dapur banyak yang kosong. Jadi, yaa sekalian aja,” imbuhnya.
Ryuga menatap wajah Dara beberapa detik, memperhatikan ekspresinya yang tampak canggung. Dalam hatinya tahu Dara tidak bermaksud menyembunyikan atau melukai harga dirinya sebagai suami.
Namun, tetap saja perasaan itu membuat dadanya berdebar tak nyaman. Seakan ia dianggap kurang cukup bertanggung jawab dalam urusan rumah.
“Habis berapa?” ucap Ryuga akhirnya, pelan dan tegas.
Tidak ada nada marah. Sebab, Ryuga bukannya tak mempedulikan. Sejujurnya dia lupa memberikan uang maupun kartu ATM nya pada Dara.
“Hah?!” jawab Dara, bingung. Ia menghentikan gerakannya.
“Belanjaannya.”
“Oh, itu…”
Ryuga memotong ucapan Dara dengan meninggalkannya ke kamar. Di belakangnya, Dara merengut ucapannya dipotong begitu saja.
Beberapa menit kemudian Ryuga kembali dengan mengeluarkan dompet, memberikan lima lembar uang seratus ribuan dan sebuah kartu ATM.
“Hanya ada uang cash segitu. Kalau butuh lagi ambil aja di ATM.”
Dara refleks mundur dan menggeleng. “Ng-nggak usah. Beneran, aku masih punya uang.”
“Saya bilang ambil. Uang kamu, simpan saja,” tegas Ryuga. Tak ingin dibantah.
Dara masih tak bergeming di tempatnya. Sudah sejak lama Dara tidak mengandalkan orang lain dalam hidupnya. Apalagi perkara uang. Lagian itu hanya belanja untuk kebutuhan rumah, Dara biasa mengurusnya sendiri.
...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t
...Bab 8“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung se
...Bab 7Tidak banyak bicara lagi, Ryuga menarik pergelangan tangan Dara hingga tubuh keduanya saling merapat. Dalam jarak sedekat itu, indra penciuman Dara dapat menghirup jelas aroma woody yang maskulin dan elegan menguar dari tubuh Ryuga.Sialnya, Dara menyukai aroma itu dan ingin terus menghirupnya. Sampai-sampai ia lupa untuk segera menjauhkan diri, lebih terkesan menikmati posisi mereka saat ini.Ryuga mendengus pelan, menahan kekehan geli saat menyadari kalau istrinya tidak lagi memberontak.“Suka, parfumnya?” bisik Ryuga rendah, tepat di telinga Dara. “Betah banget peluk saya?”Dara tersentak mundur, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Hendak menjauhkan badan, tubuh perempuan itu lebih dulu ditahan oleh Ryuga.Ryuga menahan pinggang Dara dengan satu tangan. Memajukan sedikit tubuhnya hingga mengikis habis jarak yang tersisa.“Siapa juga yang peluk. Kan, kamu yang narik aku?” bantah Dara.Sudut bibir Dara berkedut. Baru semalam Ryuga memperingatinya tentang melanggar batas, se
...Bab 6Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih bel
...“Ada apa?” suara dingin Ryuga menyentak kesadaran Dara.Mengerjap beberapa kali, Dara baru menjawabnya. “Ah, iya. Aku mau bicara sesuatu.”Tangan Ryuga yang semula menahan pintu terlepas, ia bergeser pelan membuka hampir setengah pintu kamarnya. Secara tidak langsung mengizinkan Dara untuk masuk ke ruang kerjanya.“Di dalam?” tanya Dara, taky akin.Ryuga tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Dan, Dara kelimpungan takut lelaki itu menangkap maksud lain dari ucapannya.“Mm, bukan apa-apa. Maksud aku, apa boleh aku masuk?” ujar Dara, canggung dan menyesali Keputusan gilanya.Lagi-lagi Ryuga tak bereaksi apa pun yang berarti. Dia mengedikkan kepalanya ke samping, menunjukan kalau sepertinya tidak masalah jika dirinya masuk ke dalam.Ryuga menutup pintu saat istrinya sudah masuk sepenuhnya ke dalam, menatap punggung kecil itu dari belakang.Mata Dara menyisir keseluruhan sudut ruang kerja Ryuga yang minim pencahayaan. Tidak tahu bagaimana pria itu bekerja dalam ruangan temaram seperti
...Bab 4Mobil yang Ryuga kendalikan terus melaju memasuki kawasan rumah dinas militer. Dara memandang ke luar jendela dengan tangan yang lembab. Semakin jauh mobil memasuki kawasan itu, semakin banyak juga seragam loreng yang ia lihat.Kalau dulu, Dara pasti akan selalu memutar jalan ketika melihat iring-iringan kendaraan militer atau apa pun yang berhubungan dengan instansi tersebut. Pemandangan seperti itu selalu berhasil membuat tangannya mengepal erat dan napasnya memburu hebat.Saat beberapa prajurit di sana memberi hormat pada Ryuga, Dara refleks memalingkan wajahnya. Sempat melirik sekilas, Ryuga kembali lagi menatap lurus ke depan sampai akhirnya mobil berbelok di pekarangan rumah dinas paling ujung.“Mau sampai kapan diam di situ?” Ryuga berdiri di samping mobil, pintu di sebelah Dara sudah terbuka, tetapi perempuan itu masih duduk terdiam di dalamnya.“O-oh, iya,” jawab Dara, gugup. Sebelum benar-benar turun, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Ia masih t







