Share

Bab 4 Peran Baru

Penulis: Edelweis Jingga
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 15:15:17

.

.

.

Bab 4

Mobil yang Ryuga kendalikan terus melaju memasuki kawasan rumah dinas militer. Dara memandang ke luar jendela dengan tangan yang lembab. Semakin jauh mobil memasuki kawasan itu, semakin banyak juga seragam loreng yang ia lihat.

Kalau dulu, Dara pasti akan selalu memutar jalan ketika melihat iring-iringan kendaraan militer atau apa pun yang berhubungan dengan instansi tersebut. Pemandangan seperti itu selalu berhasil membuat tangannya mengepal erat dan napasnya memburu hebat.

Saat beberapa prajurit di sana memberi hormat pada Ryuga, Dara refleks memalingkan wajahnya. Sempat melirik sekilas, Ryuga kembali lagi menatap lurus ke depan sampai akhirnya mobil berbelok di pekarangan rumah dinas paling ujung.

“Mau sampai kapan diam di situ?” Ryuga berdiri di samping mobil, pintu di sebelah Dara sudah terbuka, tetapi perempuan itu masih duduk terdiam di dalamnya.

“O-oh, iya,” jawab Dara, gugup. Sebelum benar-benar turun, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Ia masih tidak mengira akan menginjakan kaki di tempat terkutuk itu.

Dara langsung disambut suasana rumah yang … terlalu datar bagi Dara. Hanya satu yang membuatnya berdecak kagum. Rumah itu sangat bersih dan rapi.

“Di sini ada ART yang datang pagi pulang sore,” kata Ryuga. Kemudian menarik koper Dara sampai di depan kamar yang terletak berdampingan dengan ruang tengah.

“Itu kamarnya Zio dan ini kamar kita,” tunjuk Ryuga, mengarah pada kamar di sebelahnya lagi.

Enggan berbicara lebih, Ryuga menggerakkan tangan memanggil Mbak Fitri, asisten rumah tangganya. 

“Mbak, ini Dara.”

“Selamat siang, Bu Dara,” sapa Fitri. Perempuan berhijab yang kira-kira tidak beda jauh usianya dengan Dara itu mengangguk ramah.

“Siang, Mbak.”

“Ayah!” teriakan kecil itu mengalihkan perhatian Dara.

Zio berlari ke arah Ryuga, dan lelaki itu sigap merendahkan sedikit tubuhnya untuk menggapai badan mungil Zio.

“Maaf, Ayah lama,” ucap Ryuga.

Zio mengangguk polos. “Yah?” panggil Zio lagi saat telah menyadari kehadiran Dara di antara mereka.

“Hai, Zio,” sapa Dara. Melambaikan tangannya.

Anak kecil itu merosot dari gendongan Sang ayah. Menggunakan tangan kecilnya, Zio meminta Dara menunduk.

Meski tidak tahu maksudnya, Dara menurut. Ia merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lutut di depan Zio.

“Ada apa?” tanya Dara, merubah nada bicaranya seriang mungkin.

Zio melingkarkan kedua tangannya pada leher Dara. “Aku tunggu dari kemarin.”

Sontak Dara melebarkan matanya tidak percaya. Ia segera memasang senyum cerahnya. “Waahh, maaf baru dateng. Mulai hari ini Tante Dara akan tinggal di sini.”

Zio melepas pelukannya. Menatap Ryuga seolah tengah bertanya kebenarannya. “Bener, Yah?”

“Iya.” Ryuga mengangguk pasti, senyum lebarnya mengembang melihat wajah Zio tampak berbinar-binar.

“Yay! Aku sekolah boleh sama Tante Dara?”

Ryuga mengangguk lagi.

“Boleh aku panggil Ibu?” cicit Zio.

Mimik wajah Ryuga langsung berubah total, datar dengan sorot mata yang memancarkan kilat amarah begitu dalam. Aura yang mendadak muncul menyelimuti Ryuga membuat Dara meneguk ludah kasar.

“Zio,” ujar Ryuga dingin.

Tatapan Zio meredup, kepalanya tertunduk sendu. “Maaf, ayah.”

Ryuga menatap lurus ke depan. Ia kembali berujar, “Ibu kamu cuma satu. Ibu Diandra. Jangan pernah memanggil siapa pun dengan sebutan itu.”

Sorot mata dingin Ryuga beralih pada Dara yang juga tengah menatapnya, kaget. “Termasuk tante Dara.”

“Paham, Zio?” tegas Ryuga. Dan Zio mengangguk-angguk patuh.

Tidak peduli bagaimana reaksi Zio, Ryuga segera pergi meninggalkan mereka semua. Dadanya bergemuruh, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal kuat di sisi tubuhnya.

Dara menatap kepergian Ryuga dengan rasa yang sulit diartikan. Ia lantas menoleh pada Zio yang masih diam dengan kepala tertunduk. Anak itu tidak menangis, tetapi raut wajahnya sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya, turut bersedih.

“Hei, jangan sedih,” ujar Dara, seraya mengarahkan tubuh Zio menghadapnya.

“Maaf, yaa? Karena Tante kamu jadinya kena marah Ayah.” Dara berujar selagi mengusap pipi gembul Zio.

Zio cepat menggeleng, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Dara. “Bukan salah Tante Dara. Jangan minta maaf,” lirihnya.

Dara tidak tega, lantas ia memeluk Zio dengan lembut. “Zio nurut sama Ayah, yaa?” ucap Dara.

“Terus kenapa Zio nggak boleh panggil Tante Dara, Ibu? Kata Oma, kalau Ayah udah nikah nanti Zio akan punya Ibu.” Zio balik menanyai Dara.

Pertanyaan yang membuat Dara harus berpikir keras untuk menjawabnya.

Sejujurnya, Dara juga keberatan dengan tindakan Ryuga barusan. Setidaknya jika tidak suka anaknya memanggil Dara dengan sebutan Ibu, Ryuga bisa mengatakannya dengan lebih pelan agar tidak melukai hati Zio.

Dengan begini, seolah-olah Ryuga sedang membentangkan jarak antara Dara dengan Zio. Padahal secara hukum Dara sudah sah menjadi Ibu sambung Zio, ia pun memiliki hak atas anak itu.

Bukannya akan jadi aneh kalau nanti di tempat umum sekali pun, Zio akan memanggil Dara dengan panggilan Tante?

“Eum, Tante Dara juga nggak tau. Tapi, Zio nggak usah tanya ke Ayah, yaa? Biar Ayah nggak marah lagi. Gimana?”

Zio mengerutkan keningnya, tampak berpikir. “Iya, Tante. Kalau Zio panggil Bunda boleh? Temen Zio ada yang punya bunda.”

Dara meletakkan telunjuknya di dagu, memasang wajah berpikir yang tampak lucu di mata Zio. Usulan Zio benar juga, Ryuga hanya melarangnya untuk memanggil Dara, Ibu.

Kalau sekarang Zio memanggilnya, Bunda, tidak masalah kan?

“Boleh,” balas Dara, gamang.

“Yay!”

Dara hanya ingin Zio yang sudah merasa nyaman dengannya tidak lantas menjauh hanya gara-gara gertakan dari Ryuga tadi.

Diam-diam Dara menghela napas, sekarang ia resmi memiliki dua peran baru sekaligus. Menjadi Istri dan Ibu untuk anak berusia lima tahun.

Hingga malam hari, Dara belum melihat keberadaan Ryuga lagi. Setelah merapikan barang-barangnya, Dara menghabiskan waktu di kamar Zio. Ia menyuapinya makan, bermain lego sampai mengantuk dan akhirnya tertidur.

Setelah menimbang-nimbangnya beberapa saat. Dara memutuskan mengetuk pintu ruang kerja Ryuga.

Pintu terbuka dan menampilkan wajah suaminya, Dara menatapnya beberapa saat sampai lupa mengedipkan kelopak mata.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 9 Ego

    ...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 8 Perkara Izin

    ...Bab 8“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung se

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 7 Betah Banget Peluk Saya!

    ...Bab 7Tidak banyak bicara lagi, Ryuga menarik pergelangan tangan Dara hingga tubuh keduanya saling merapat. Dalam jarak sedekat itu, indra penciuman Dara dapat menghirup jelas aroma woody yang maskulin dan elegan menguar dari tubuh Ryuga.Sialnya, Dara menyukai aroma itu dan ingin terus menghirupnya. Sampai-sampai ia lupa untuk segera menjauhkan diri, lebih terkesan menikmati posisi mereka saat ini.Ryuga mendengus pelan, menahan kekehan geli saat menyadari kalau istrinya tidak lagi memberontak.“Suka, parfumnya?” bisik Ryuga rendah, tepat di telinga Dara. “Betah banget peluk saya?”Dara tersentak mundur, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Hendak menjauhkan badan, tubuh perempuan itu lebih dulu ditahan oleh Ryuga.Ryuga menahan pinggang Dara dengan satu tangan. Memajukan sedikit tubuhnya hingga mengikis habis jarak yang tersisa.“Siapa juga yang peluk. Kan, kamu yang narik aku?” bantah Dara.Sudut bibir Dara berkedut. Baru semalam Ryuga memperingatinya tentang melanggar batas, se

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 6 Perang Dingin, Pagi Hari

    ...Bab 6Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih bel

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 5 Malam Pertama

    ...“Ada apa?” suara dingin Ryuga menyentak kesadaran Dara.Mengerjap beberapa kali, Dara baru menjawabnya. “Ah, iya. Aku mau bicara sesuatu.”Tangan Ryuga yang semula menahan pintu terlepas, ia bergeser pelan membuka hampir setengah pintu kamarnya. Secara tidak langsung mengizinkan Dara untuk masuk ke ruang kerjanya.“Di dalam?” tanya Dara, taky akin.Ryuga tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Dan, Dara kelimpungan takut lelaki itu menangkap maksud lain dari ucapannya.“Mm, bukan apa-apa. Maksud aku, apa boleh aku masuk?” ujar Dara, canggung dan menyesali Keputusan gilanya.Lagi-lagi Ryuga tak bereaksi apa pun yang berarti. Dia mengedikkan kepalanya ke samping, menunjukan kalau sepertinya tidak masalah jika dirinya masuk ke dalam.Ryuga menutup pintu saat istrinya sudah masuk sepenuhnya ke dalam, menatap punggung kecil itu dari belakang.Mata Dara menyisir keseluruhan sudut ruang kerja Ryuga yang minim pencahayaan. Tidak tahu bagaimana pria itu bekerja dalam ruangan temaram seperti

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 4 Peran Baru

    ...Bab 4Mobil yang Ryuga kendalikan terus melaju memasuki kawasan rumah dinas militer. Dara memandang ke luar jendela dengan tangan yang lembab. Semakin jauh mobil memasuki kawasan itu, semakin banyak juga seragam loreng yang ia lihat.Kalau dulu, Dara pasti akan selalu memutar jalan ketika melihat iring-iringan kendaraan militer atau apa pun yang berhubungan dengan instansi tersebut. Pemandangan seperti itu selalu berhasil membuat tangannya mengepal erat dan napasnya memburu hebat.Saat beberapa prajurit di sana memberi hormat pada Ryuga, Dara refleks memalingkan wajahnya. Sempat melirik sekilas, Ryuga kembali lagi menatap lurus ke depan sampai akhirnya mobil berbelok di pekarangan rumah dinas paling ujung.“Mau sampai kapan diam di situ?” Ryuga berdiri di samping mobil, pintu di sebelah Dara sudah terbuka, tetapi perempuan itu masih duduk terdiam di dalamnya.“O-oh, iya,” jawab Dara, gugup. Sebelum benar-benar turun, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Ia masih t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status