LOGIN.
.
.
Bab 4
Mobil yang Ryuga kendalikan terus melaju memasuki kawasan rumah dinas militer. Dara memandang ke luar jendela dengan tangan yang lembab. Semakin jauh mobil memasuki kawasan itu, semakin banyak juga seragam loreng yang ia lihat.
Kalau dulu, Dara pasti akan selalu memutar jalan ketika melihat iring-iringan kendaraan militer atau apa pun yang berhubungan dengan instansi tersebut. Pemandangan seperti itu selalu berhasil membuat tangannya mengepal erat dan napasnya memburu hebat.
Saat beberapa prajurit di sana memberi hormat pada Ryuga, Dara refleks memalingkan wajahnya. Sempat melirik sekilas, Ryuga kembali lagi menatap lurus ke depan sampai akhirnya mobil berbelok di pekarangan rumah dinas paling ujung.
“Mau sampai kapan diam di situ?” Ryuga berdiri di samping mobil, pintu di sebelah Dara sudah terbuka, tetapi perempuan itu masih duduk terdiam di dalamnya.
“O-oh, iya,” jawab Dara, gugup. Sebelum benar-benar turun, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Ia masih tidak mengira akan menginjakan kaki di tempat terkutuk itu.
Dara langsung disambut suasana rumah yang … terlalu datar bagi Dara. Hanya satu yang membuatnya berdecak kagum. Rumah itu sangat bersih dan rapi.
“Di sini ada ART yang datang pagi pulang sore,” kata Ryuga. Kemudian menarik koper Dara sampai di depan kamar yang terletak berdampingan dengan ruang tengah.
“Itu kamarnya Zio dan ini kamar kita,” tunjuk Ryuga, mengarah pada kamar di sebelahnya lagi.
Enggan berbicara lebih, Ryuga menggerakkan tangan memanggil Mbak Fitri, asisten rumah tangganya.
“Mbak, ini Dara.”
“Selamat siang, Bu Dara,” sapa Fitri. Perempuan berhijab yang kira-kira tidak beda jauh usianya dengan Dara itu mengangguk ramah.
“Siang, Mbak.”
“Ayah!” teriakan kecil itu mengalihkan perhatian Dara.
Zio berlari ke arah Ryuga, dan lelaki itu sigap merendahkan sedikit tubuhnya untuk menggapai badan mungil Zio.
“Maaf, Ayah lama,” ucap Ryuga.
Zio mengangguk polos. “Yah?” panggil Zio lagi saat telah menyadari kehadiran Dara di antara mereka.
“Hai, Zio,” sapa Dara. Melambaikan tangannya.
Anak kecil itu merosot dari gendongan Sang ayah. Menggunakan tangan kecilnya, Zio meminta Dara menunduk.
Meski tidak tahu maksudnya, Dara menurut. Ia merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lutut di depan Zio.
“Ada apa?” tanya Dara, merubah nada bicaranya seriang mungkin.
Zio melingkarkan kedua tangannya pada leher Dara. “Aku tunggu dari kemarin.”
Sontak Dara melebarkan matanya tidak percaya. Ia segera memasang senyum cerahnya. “Waahh, maaf baru dateng. Mulai hari ini Tante Dara akan tinggal di sini.”
Zio melepas pelukannya. Menatap Ryuga seolah tengah bertanya kebenarannya. “Bener, Yah?”
“Iya.” Ryuga mengangguk pasti, senyum lebarnya mengembang melihat wajah Zio tampak berbinar-binar.
“Yay! Aku sekolah boleh sama Tante Dara?”
Ryuga mengangguk lagi.
“Boleh aku panggil Ibu?” cicit Zio.
Mimik wajah Ryuga langsung berubah total, datar dengan sorot mata yang memancarkan kilat amarah begitu dalam. Aura yang mendadak muncul menyelimuti Ryuga membuat Dara meneguk ludah kasar.
“Zio,” ujar Ryuga dingin.
Tatapan Zio meredup, kepalanya tertunduk sendu. “Maaf, ayah.”
Ryuga menatap lurus ke depan. Ia kembali berujar, “Ibu kamu cuma satu. Ibu Diandra. Jangan pernah memanggil siapa pun dengan sebutan itu.”
Sorot mata dingin Ryuga beralih pada Dara yang juga tengah menatapnya, kaget. “Termasuk tante Dara.”
“Paham, Zio?” tegas Ryuga. Dan Zio mengangguk-angguk patuh.
Tidak peduli bagaimana reaksi Zio, Ryuga segera pergi meninggalkan mereka semua. Dadanya bergemuruh, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Dara menatap kepergian Ryuga dengan rasa yang sulit diartikan. Ia lantas menoleh pada Zio yang masih diam dengan kepala tertunduk. Anak itu tidak menangis, tetapi raut wajahnya sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya, turut bersedih.
“Hei, jangan sedih,” ujar Dara, seraya mengarahkan tubuh Zio menghadapnya.
“Maaf, yaa? Karena Tante kamu jadinya kena marah Ayah.” Dara berujar selagi mengusap pipi gembul Zio.
Zio cepat menggeleng, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Dara. “Bukan salah Tante Dara. Jangan minta maaf,” lirihnya.
Dara tidak tega, lantas ia memeluk Zio dengan lembut. “Zio nurut sama Ayah, yaa?” ucap Dara.
“Terus kenapa Zio nggak boleh panggil Tante Dara, Ibu? Kata Oma, kalau Ayah udah nikah nanti Zio akan punya Ibu.” Zio balik menanyai Dara.
Pertanyaan yang membuat Dara harus berpikir keras untuk menjawabnya.
Sejujurnya, Dara juga keberatan dengan tindakan Ryuga barusan. Setidaknya jika tidak suka anaknya memanggil Dara dengan sebutan Ibu, Ryuga bisa mengatakannya dengan lebih pelan agar tidak melukai hati Zio.
Dengan begini, seolah-olah Ryuga sedang membentangkan jarak antara Dara dengan Zio. Padahal secara hukum Dara sudah sah menjadi Ibu sambung Zio, ia pun memiliki hak atas anak itu.
Bukannya akan jadi aneh kalau nanti di tempat umum sekali pun, Zio akan memanggil Dara dengan panggilan Tante?
“Eum, Tante Dara juga nggak tau. Tapi, Zio nggak usah tanya ke Ayah, yaa? Biar Ayah nggak marah lagi. Gimana?”
Zio mengerutkan keningnya, tampak berpikir. “Iya, Tante. Kalau Zio panggil Bunda boleh? Temen Zio ada yang punya bunda.”
Dara meletakkan telunjuknya di dagu, memasang wajah berpikir yang tampak lucu di mata Zio. Usulan Zio benar juga, Ryuga hanya melarangnya untuk memanggil Dara, Ibu.
Kalau sekarang Zio memanggilnya, Bunda, tidak masalah kan?
“Boleh,” balas Dara, gamang.
“Yay!”
Dara hanya ingin Zio yang sudah merasa nyaman dengannya tidak lantas menjauh hanya gara-gara gertakan dari Ryuga tadi.
Diam-diam Dara menghela napas, sekarang ia resmi memiliki dua peran baru sekaligus. Menjadi Istri dan Ibu untuk anak berusia lima tahun.
Hingga malam hari, Dara belum melihat keberadaan Ryuga lagi. Setelah merapikan barang-barangnya, Dara menghabiskan waktu di kamar Zio. Ia menyuapinya makan, bermain lego sampai mengantuk dan akhirnya tertidur.
Setelah menimbang-nimbangnya beberapa saat. Dara memutuskan mengetuk pintu ruang kerja Ryuga.
Pintu terbuka dan menampilkan wajah suaminya, Dara menatapnya beberapa saat sampai lupa mengedipkan kelopak mata.
...Bab 75Pria itu melepaskan pelukannya pelan-pelan. Begitu pelan sampai Dara sempat berharap Ryuga akan kembali menariknya. Mengatakan bahwa ia hanya bercanda, atau setidaknya membantah kalimat bodoh yang meluncur begitu saja dari mulut Dara.Namun, yang pria itu lakukan justru berdiri dan hendak meninggalkan Dara tanpa berkata apa pun.“Mas… kamu mau kemana?” seru Dara, sengau.Ryuga meraih kembali kausnya. Rahangnya mengeras, seolah ada banyak kata yang ditahannya agar tidak sampai melukai perempuan itu.“Panas, Dara. Saya mau mandi.”Dara mengatupkan mulutnya. Dia berharap apa?Memangnya apa lagi yang bisa dikatakan seorang suami setelah istrinya sendiri menawarkan perpisahan disaat hubungan mereka baru saja membaik. Hal itu bagaikan terjun bebas dari ketinggian tanpa menggunakan parasut.Dalam diam, Dara mengusap sudut matanya kasar-kasar. Mungkin ini memang lebih baik. Ryuga pantas mendapatkan perempuan yang tidak rumit seperti dirinya, tidak penuh ketakutan dan yang jelas
...Bab 74Dara menggigit bibirnya kuat-kuat, masih bisakah dia menolak suaminya malam ini?Arghh! Dara bisa gila memikirkan itu.Ryuga membungkukkan tubuhnya tepat di depan wajah Dara.“Mm…k-kamu kenapa harus buka baju?” seru Dara, panik.Ryuga menyeringai jahil, jemarinya bergerak menyingkirkan rambut tipis yang berantakan di wajah Dara. Perempuan itu kesulitan menarik napasnya kala bibir Ryuga nyaris bersentuhan dengan bibirnya dan merambatkan getaran panas dalam tubuh yang terus menjalar cepat.Ryuga menundukkan lebih dalam, menempelkan bibirnya dan melumat bibir Dara pelan. Dara sudah mulai terbiasa dengan bibir Ryuga, kali ini ia tak lagi menahannya. Membiarkan pria itu menjelajah apa yang seharusnya menjadi haknya.Sentuhan lembut di pinggang Dara, membuat tubuhnya refleks menggeliat kecil dan ciuman mereka semakin dalam. Dara bersumpah dia lepas kendali atas dirinya sendiri. Tangannya melingkari leher Ryuga dengan jemarinya bergerak naik menyusupi helaian rambut pria itu.De
...Bab 73Ryuga masih tekun membungkus souvenir, tapi tatapannya tak lepas dari wajah Dara yang merengut. “Iya, maaf ponsel saya ketinggalan kayaknya, di kamar.”Dara menepuk dahinya, dari sekian banyak yang Dara utarakan jawaban pria itu hanya soal ponsel yang ketinggalan.“Maaf,” ulang Ryuga. “Saya pesanin makan, nggak usah masak.”Ditatap begitu lama dan permintaan maaf yang terdengar tulus seketika menurunkan kadar emosi dalam diri Dara. Ternyata pria itu jauh lebih bahaya buat Dara ketika bersiap manis begini. Dara jadi salting brutal dibuatnya.“Ya udah, nggak apa-apa,” gumam Dara, memalingkan wajah. “Besok-besok dicek lagi ponselnya sebelum berangkat.”Ryuga bangkit menuju kamar mencari ponselnya untuk memesan makanan.“Ramen? Nasi goreng? Atau mau ayam crispy?” tawar Ryuga.“Ayam crispy pake saus yang lada hitam, Mas. Kata Mbak Fitri tadi nasinya masih banyak.”Ryuga melirik tumpukan souvenir yang belum dibungkus. “Kamu mandi dulu aja, nanti lanjut kerjain desain. Souvenir
...Bab 72“Bu Dara mendengar saya?” tanya Bu Dewi sambil menoleh.Dara segera memasang senyum manisnya dan mengangguk cepat. “Izin, Bu. Saya mendengarkan semuanya.”Bu Dewi hanya melirik dan kembali menghadap ke depan. Dara jadi merasa tidak enak pada beberapa orang lain yang ikut mencuri pandang ke arah mereka.“Stt, Ve.” Dara menyenggol lengan Vera yang sedang fokus memotong pita. “Ini kita kayak gini sampai jam berapa?” bisiknya.Perempuan itu menggeleng, lelah. “Sampai ratusan souvenir itu kelar dibungkus, Dar. Tanganku aja udah mau patah rasanya,” sahut Vera, dramatis.Sebagai anggota termuda, mereka kebagian terima nasib disuruh ke sana kemari, mengambil ini itu dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan disbanding lainnya yang lebih senior.Pukul satu siang, satu per satu ibu-ibu persit mulai izin pulang lebih dulu hingga akhirnya tersisa Vera dan Dara saja.“Maaf, Bu Ryuga Bu Cakra ini nggak apa-apa kalau masih di sini?” basa basi Bu Dewi.Ingin sekali Dara menolak, dia masih
...Bab 71Untuk beberapa saat, Dara tidak mengatakan apa-apa. Pelukannya pada tubuh Ryuga justru mengerat. Membahas trauma rasanya seperti sedang berkaca pada dirinya sendiri.Dara tahu membicarakan hal ini dengannya sama saja dengan membuka kembali luka yang selama ini ia kira sudah sembuh.Dara mendongak. “Gimana kamu bisa sembuh?”Jemari Ryuga beralih membelai rahang Dara, menyusupnya sampai ke tengkuk. “Kadang, luka dan trauma itu bukannya susah sembuh. Tapi, kamu yang terlalu erat menggenggamnya.”Dara tertegun. Atau memang otaknya selemot itu sejak bergaul dengan Ryuga? Pria itu selalu saja membuatnya berpikir keras.“Coba mulai sekarang, biarkan rasa benci, sakit dan kecewa yang ada dalam diri kamu itu pelan-pelan dikurangi.”“Psikiater juga bilang gitu, Mas. Tapi nyatanya?”“Kamu masih cinta sama dia?” suara Ryuga berubah irama, cukup untuk menunjukan rasa tak suka yang ia tahan.“Nggak!” sanggah Dara, cepat. “Aku benci banget sama dia. Benci, sebenci-bencinya.”Dara lantas
...Bab 70Bibir mereka saling bertaut, bergerak lembut beberapa saat hingga mulai saling mencecapi rasa manis yang membuat keduanya enggan menyudahi.“Bibir kamu nggak sakit, Mas?” tanya Dara disela ciuman mereka. Pertanyaan yang merusak momen romantis. Dara hanya sedang berusaha meredam debaran jantungnya yang teramat menggila.Ryuga terkekeh kecil. “Bukannya aku lagi dapet anestesi, ya?”Bibir Ryuga kembali berlabuh sekilas. Napasnya mulai memberat, menyusuri rahang sampai turun menerpa leher Dara. Membuat bulu-bulu tipis di bahu dan tengkuk perempuan itu meremang.Daraa hanya bisa meremas bahu suaminya untuk menyalurkan sebuah gejolak aneh yang mendadak meronta, ciuman yang berawal dari keraguan itu berangsur makin intens. Tak sadar, membuat Dara menginginkan hal yang lebih.Gerakan saling melumat dan mencecap lembut yang mereka lakukan makin membuat keduanya hilang arah. Tangan Ryuga merambat naik ke belakang kepala Dara, menekan tengkuknya untuk memperdalam cumbuan.Ryuga teru







