LOGIN.
.
.
Bab 8
“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.
Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.
Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.
“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.
“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.
Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.
“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.
Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung setiap hari. Lebih banyak bersembunyi dan menjauh dari teman-temannya.”
Kali ini Dara mengangkat wajahnya, tidak percaya anak sekecil itu harus mendapat perlakuan kasar dari orang tua murid lain. “Tega sekali mereka pada Zio, apa mereka tidak tahu kalau anak mereka yang memulai lebih dulu?”
“Itu kesalahan kami pihak sekolah, Bu,” ujar Guru Zio, penuh sesal. “Kita lalai dalam mengawasi Zio. Hari itu selepas pamitan di kelas Zio langsung keluar sekolah tapi ternyata Ayahnya belum menjemput.”
Dara termenung. “Pantas saja Ryuga mendesakku menikah,” gumam Dara dalam batinnya.
Keluar dari ruang Guru, Dara masih berdiri beberapa saat di koridor sekolah. Dari balik jendela kelas, ia melihat Zio sedang duduk manis sendirian sambil mewarnai. Seakan tahu sedang diperhatikan, Zio mengangkat kepalanya.
Begitu mata mereka bertemu, Zio langsung melambaikan tangan seraya melempar senyum lebar. Dara membalas lambaian itu. Setelahnya, Dara bergegas pergi meninggalkan sekolah. Ia harus membuka florist-nya hari ini.
Tidak sampai dua puluh menit, Yudha yang menyetir membelokan mobilnya untuk berhenti tepat di depan Dara’s Florist.
“Terima kasih, Yudha. Kamu bisa kembali ke Batalyon,” ucap Dara, sebelum keluar dari mobil.
“Baik, Bu.”
Dara tersenyum lebar menatap toko bunga miliknya yang berdiri manis dengan gaya bangunan minimalis warna beige.
Begitu kakinya melangkah masuk dan denting bel pintu berbunyi, aroma khas mawar dan lavender langsung menyergap halus memasuki hidungnya.
Dara memejamkan mata sejenak, meresapi aroma yang selalu berhasil menenangkan kepalanya itu. Dua hari dia meninggalkan florist, Dara akan sibuk membenahi bunga-bunga yang mungkin layu atau kering hari ini.
“Kalian baik-baik aja, kan? Aku kangen kalian!” pekik Dara. Sembari menghampiri bunga-bunga penghuni florist-nya, tangannya menyentuh lembut aneka macam bunga yang berjejer rapi di dalam ruangan.
Dara melepas kardigan abu-abu yang membalut tubuhnya, menggantungnya pada sandaran kursi di meja kasir lalu meraih celemek creamnya. Sebelum memulai bekerja, Dara lebih dulu menyatukan rambutnya untuk diikat tinggi-tinggi membentuk bun.
“Oke, mari kita mulai!” seru Dara, menyemangati dirinya sendiri.
Dara memulai dengan mengeluarkan beberapa bunga segar dalam pot ke luar ruangan. Agar terkena matahari dan memudahkan memangkas daun-daun yang mengering.
Ting!
Bel pintu kembali berdenting nyaring. Kali ini calon pembeli yang datang. Dara yang baru saja masuk sigap mencuci tangannya dan bersiap menyambut.
Seorang pria muda berkemeja rapi melangkah masuk, mengedarkan pandangannya pada deretan bunga warna warni di dalam toko dengan tatapan bingung.
“Selamat pagi,” sapa Dara, menyambutnya dengan senyum ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”
Pria itu menggaruk tengkuknya. “Eum, pagi Mbak. Saya mau bunga buat temen yang baru aja naik jabatan. Yang cocok bunga apa, ya?”
Dara mengulas senyum sumringah. Minggu lalu pria tadi memesan bunga dengan harga hampir dua jutaan. Kalau hari ini datang lagi, bisa dipastikan dia puas dengan rekomendasi Dara.
“Selamat, yaa? Untuk pasangannya,” ujar Dara, riang.
Ia melangkah keluar dari balik meja kasir, mendekati rak berisi bunga-bunga berwarna kuning cerah.
“Kalau untuk merayakan pencapaian, gimana kalau main karakternya bunga matahari ini?” Dara mencabut setangkai bunga matahari berukuran sedang, lalu memiringkan kepalanya sedikit seraya memikirkan paduan bunga lainnya.
“Boleh, Mbak. Manis itu warnanya.”
Dara lanjut mengambil tiga tangkai mawar kuning dan sejumput baby breath. “Ini symbol keceriaan dan rasa bangga. Ditambah warna kuning supaya tetap ada sentuhan hangatnya. Gimana?”
Pria pelanggan tadi berkedip kagum, mengangguk cepat. “Bagus, Mbak. Pintar nih, Mbaknya,” pujinya, tulus.
“Itu salah satu keahlian saya, Mas. Tungu sebentar, saya rangkai dulu.”
Dara kembali ke meja kasir. Dengan tangan terampilnya rangkaian bunga tadi tersusun rapi dan presisi. Terbalut menggunakan kertas wrap berkombinasi warna krem dan coklat. Terakhir ia mengikatkan pita warna kuning selaras dengan bunga matahari yang ia bentuk menjadi ikatan yang sangat cantik.
Pelanggan pertama Dara harus puas. Itu prinsipnya.
Selesai mengurus pesanan pertama, Dara berjalan masuk ke bagian belakang toko bunga. Tempat Dara menanam bunga-bunga segarnya di sana. Karena sekarang Dara punya tugas baru yaitu menjemput Zio jadi dia harus bekerja lebih cekatan.
Dara mulai mengikis duri-duri di tangkai mawar untuk menyusun buket yang akan ia antar nanti siang. Secepat mungkin ia melakukannya, sambil memikirkan hiasan sampingan yang cocok.
Sesekali pelanggan datang silih berganti, entah hanya melihat-lihat atau sekedar tanya harga. Hingga tanpa sadar hari sudah semakin siang.
Dara melirik jam dinding. “Bentar lagi Zio pulang,” gumamnya.
Ia pun tergesa-gesa melepas apron, mematikan lampu etalase yang tidak dipakai lalu meraih tasnya. Sesaat sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu kaca florist Dara membuka ponselnya. Jemarinya menggulir kontak nama suaminya dengan ragu.
“Apa aku harus izin dulu? Nanti kena omel lagi kayak kemarin.”
Dara mematikan lagi layar ponselnya. “Cuma jemput sekolah. Harusnya nggak masalah, kan?”
Dara terus bertanya dan dijawab oleh dirinya sendiri, perdebatan di dalam benaknya membuat Dara sampai mendengus frustasi.
“Akhh! Ribet banget sih, hidup baik-baik sama orang itu!” pekiknya, kesal.
Meski begitu tetap saja, cari aman Dara memilih mengirim pesan pada Ryuga.
Dara : “Mas, aku jemput Zio.”
Satu pesan itu meluncur seiring dengan embusan napas panjang Dara. Setelahnya ia memasukan ponsel ke dalam tas. Apa pun jawabannya nanti, yang penting Dara sudah meminta izin pada Ryuga.
...Bab 10Dara menarik napas. “Aku memang istri kamu, Mas. Tapi aku juga tetap Dara, aku punya penghasilan sendiri,” Dara menggigit bibirnya. “Aku menikah sama kamu bukan supaya semua kebutuhan hidupku dibayar,” lanjut Dara.Dada Ryuga bergerak naik turun. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah lain. Tangannya mengusap wajah pelan, mencoba menyingkirkan amarah yang mulai memenuhi pikirannya.“Saya juga bukan sedang membeli kamu, Dara.”Seketika Dara diam.“Kamu belanja untuk orang serumah, saya hanya sedang menjalankan tanggungjawab saya,” imbuh Ryuga.Dara memandangi uang itu, tangannya tidak bergerak. Ruangan menjadi sunyi, sampai Dara mengutarakan sesuatu yang mengejutkan Ryuga.“Kalau aku menerima uang itu, apa itu artinya mulai sekarang semua keputusan dalam hidup aku juga harus minta izin kamu?”Ryuga mencondongkan tubuhnya, cukup dekat untuk membuat harum aroma sabun mandi yang menguar dari tubuhnya menggelitik hidung Dara.“Ada yang salah?” bisiknya, tepat di samping
...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t
...Bab 8“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung se
...Bab 7Tidak banyak bicara lagi, Ryuga menarik pergelangan tangan Dara hingga tubuh keduanya saling merapat. Dalam jarak sedekat itu, indra penciuman Dara dapat menghirup jelas aroma woody yang maskulin dan elegan menguar dari tubuh Ryuga.Sialnya, Dara menyukai aroma itu dan ingin terus menghirupnya. Sampai-sampai ia lupa untuk segera menjauhkan diri, lebih terkesan menikmati posisi mereka saat ini.Ryuga mendengus pelan, menahan kekehan geli saat menyadari kalau istrinya tidak lagi memberontak.“Suka, parfumnya?” bisik Ryuga rendah, tepat di telinga Dara. “Betah banget peluk saya?”Dara tersentak mundur, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Hendak menjauhkan badan, tubuh perempuan itu lebih dulu ditahan oleh Ryuga.Ryuga menahan pinggang Dara dengan satu tangan. Memajukan sedikit tubuhnya hingga mengikis habis jarak yang tersisa.“Siapa juga yang peluk. Kan, kamu yang narik aku?” bantah Dara.Sudut bibir Dara berkedut. Baru semalam Ryuga memperingatinya tentang melanggar batas, se
...Bab 6Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih bel
...“Ada apa?” suara dingin Ryuga menyentak kesadaran Dara.Mengerjap beberapa kali, Dara baru menjawabnya. “Ah, iya. Aku mau bicara sesuatu.”Tangan Ryuga yang semula menahan pintu terlepas, ia bergeser pelan membuka hampir setengah pintu kamarnya. Secara tidak langsung mengizinkan Dara untuk masuk ke ruang kerjanya.“Di dalam?” tanya Dara, taky akin.Ryuga tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Dan, Dara kelimpungan takut lelaki itu menangkap maksud lain dari ucapannya.“Mm, bukan apa-apa. Maksud aku, apa boleh aku masuk?” ujar Dara, canggung dan menyesali Keputusan gilanya.Lagi-lagi Ryuga tak bereaksi apa pun yang berarti. Dia mengedikkan kepalanya ke samping, menunjukan kalau sepertinya tidak masalah jika dirinya masuk ke dalam.Ryuga menutup pintu saat istrinya sudah masuk sepenuhnya ke dalam, menatap punggung kecil itu dari belakang.Mata Dara menyisir keseluruhan sudut ruang kerja Ryuga yang minim pencahayaan. Tidak tahu bagaimana pria itu bekerja dalam ruangan temaram seperti







