Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 1. Sentuhan Tak Terduga

Share

Obsesi Gila Leon
Obsesi Gila Leon
Author: Vanilla Ice Creamm

1. Sentuhan Tak Terduga

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 22:56:05

Lantai dansa di ballroom Armani Hotel, di Milan itu masih berdentum, tapi bagi Ivanna Ricci, dunia baru saja mati. Bayangan Matteo dan Simona di ruang ganti tadi—napas yang memburu, tangan yang seharusnya menjadi miliknya hanya menyentuhnya kini menyentuh kulit adiknya, terpatri seperti luka bakar di matanya.

Ivanna melangkah ke balkon yang sepi, jemarinya mencengkeram pagar besi hingga memutih. Dia ingin berteriak, tapi suaranya tertelan amarah yang membeku.

"Menangis tidak akan menghancurkan mereka, Ivanna Ricci"

Suara itu, berat, dan datang dari sudut remang-remang balkon. Ivanna tersentak. Di sana, bersandar pada pilar dengan sebatang cerutu yang apinya berpendar kecil, berdiri Leonardo De Luca. Pria yang dijuluki The Ice King di dunia bisnis.

"Apa urusanmu, Leon?" ucap Ivanna, menyeka sudut matanya dengan kasar.

Leon melangkah maju. Cahaya bulan menyapu wajahnya yang tegas, menunjukkan senyum yang sangat tipis. "Urusanku adalah melihat Matteo Romano kehilangan segalanya. Sama seperti dia membuat adikku kehilangan nyawanya."

Leon kini berdiri tepat di depan Ivanna, begitu dekat hingga Ivanna bisa mencium aroma sandalwood dan tembakau mahal. Dia tidak mundur. Justru, aroma itu memberinya kekuatan aneh.

"Aku punya tawaran," bisik Leon. Tangan pria itu perlahan naik, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ivanna dengan gerakan yang sangat pelan, seperti sebuah kuasa sekaligus godaan. "Jadilah senjataku. Ikuti permainanku, dan aku akan memberikan kepala Matteo dan Simona di atas nampan perak untukmu."

Ivanna menatap mata gelap Leon, mencari keraguan, tapi yang dia temukan hanyalah kegelapan yang sama dengan yang dia rasakan sekarang. "Berapa harga yang harus kubayar?"

Leon menarik tengkuk Ivanna, memaksa wanita itu mendongak. Napas Leon terasa panas di kulit lehernya yang dingin.

"Tubuhmu, jiwamu, dan kepatuhanmu padaku di balik pintu tertutup," bisik Leon dengan suara beratnya yang dalam. "Aku tidak ingin uangmu, Ivanna. Aku ingin melihat bagaimana seorang Ricci hancur dalam pelukanku sembari kita membakar mereka bersama."

Tangan Ivanna yang gemetar kini mendarat di dada bidang Leon, meremas kemeja pria itu. Rasa benci pada Matteo dan daya tarik berbahaya pada Leon bercampur menjadi satu dorongan yang menyesakkan.

"Lakukan, asal kau tak ingkar dan mereka mati lebih dulu."

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merenggut pinggang Ivanna, menyatukan tubuh mereka tanpa jarak, dan membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang tidak memiliki rasa—sebuah ciuman yang menandai dimulainya persetujuan iblis di antara mereka.

Leon membukakan pintu mobil Bugatti Chiron hitamnya dengan gerakan tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Ivanna. Begitu mesin menderu membelah jalanan malam, suasana di dalam kabin mewah itu terasa menyesakkan oleh aroma jok nan kulit mahal dan ketegangan yang pekat.

Di balik matanya yang terpejam, Ivanna kembali dihantam visual yang menghancurkan hatinya itu.

Ruang ganti itu remang-remang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan Matteo sang kekasih yang dipujanya sedang membenamkan wajah di leher Simona. Simona, adik tiri kesayangannya, sudah setengah telanjang, gaun pesta sutranya meluncur jatuh ke lantai. Desahan mereka seperti racun yang menyumbat telinga Ivanna.

"Hubungan kita sudah berakhir, Matteo," suara Ivanna bergema di memorinya.

Kedua pengkhianat itu tersentak, menoleh dengan wajah pucat pasi. Ivanna menatap mereka dari atas ke bawah, bibirnya melengkung membentuk tawa sinis yang menyakitkan. "Dan kau Simona, adik yang kusayangi... kau murahan."

Dia langsung berbalik dan pergi, meninggalkan mereka yang membeku dalam ketegangan. Namun sayub-sayub suara Matteo memanggil nama Ivanna, namun Simona mencegahnya.

"Berhenti memikirkannya, Iv" suara bariton Leon memecah lamunan.

Ivanna menoleh, matanya liar dan penuh amarah. "Aku ingin melupakannya, Leon. Buat aku melupakannya!"

Tanpa menunggu jawaban, Ivanna merenggut kerah kemeja Leon. Dia mencium pria itu dengan gairah yang meledak-ledak—sebuah kombinasi antara balas dendam dan rasa haus akan validasi. Leon mengerem mobilnya dengan mendadak di bahu jalan sepi, tangannya merengkuh tengkuk Ivanna, membalas ciuman itu dengan dominasi. Napas mereka saling beradu, panas dan menuntut.

"Kau milikku sekarang, Ivanna," bisik Leon di sela ciuman mereka. "Bukan karena kontrak, tapi karena kau menginginkannya."

Begitu sampai di teras mansion megah miliknya, Leon tidak membiarkan kaki Ivanna menyentuh tanah. Dia membopong tubuh wanita itu dalam pelukan posesif. Ivanna melingkarkan lengannya di leher Leon, menyembunyikan wajahnya di sana, menghirup aroma maskulin yang seolah menjadi candu baru baginya.

Leon menendang pintu kamar utama hingga terbuka. Tanpa melepaskan tautan bibir, dia merebahkan Ivanna di atas ranjang king-size yang dingin. Namun, rasa dingin itu segera menguap.

Tangan Leon yang besar dan kasar mulai menjelajah, menanggalkan penghalang di antara mereka dengan gerakan yang tidak sabar. Ivanna mendesah, merasakan kulitnya terbakar di bawah sentuhan Leon yang buas dan lapar.

Setiap sentuhan pria itu seolah menghapus jejak pengkhianatan Matteo dari ingatannya.

Di bawah remang lampu kristal, mereka bercinta dengan intensitas yang hampir ganas. Leon bergerak dengan kekuatan yang menguasai, setiap gerakannya adalah klaim mutlak atas diri Ivanna. Di puncak gairah yang menggebu, Ivanna memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan Leon—memastikan bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi ruang untuk Matteo atau rasa sakit di hatinya. Yang ada hanyalah Leon, gairah ini, dan rencana kehancuran yang akan mereka susun esok pagi.

****

"Sudahlah, Matteo. Bukankah ini lebih baik tanpa kita harus bersembunyi lagi seperti pencuri?" ucap Simona jengkel. Ternyata Matteo tak seperti yang selalu diklaimnya; pria itu justru merasa bersalah. Simona merapatkan tubuh ke Matteo, menyentuhkan dadanya yang terbalut baju tidur tipis, memberikan gesekan menggoda yang biasa dilakukan diam-diam tanpa Ivanna tahu. Awalnya Matteo menolak, namun akhirnya luluh juga.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Leon   7. Jebakan Dipasang

    Ivanna memanggil Gracio selaku Kepala HRD dan Sonia sang Manajer Keuangan, ke ruanganya. Tanpa banyak bicara, ia memutar monitornya, memperlihatkan perbandingan dua dokumen: transkrip nilai palsu yang dikirim Simona dan data asli dari Leon. "Perhatikan ini. Simona Rossi, adik tiriku, akan masuk ke jajaran direksi besok. Memegang kendali di divisi pengadaan dan promosi. Biarkannya dia merasa berkuasa." Kedua staf senior itu saling berpandangan, bingung dengan keputusan bos mereka. "Maksudmu, kami harus membiarkan dia mengelola anggaran besar dengan kapabilitas compang-camping seperti ini? Ini berbahaya, Ivanna," tanya Gracio ragu. Ivanna tersenyum tipis. "Bukan membiarkan, tapi menjebak. Pantau setiap sen yang dia keluarkan. Aku tahu dia butuh uang banyak untuk menutupi kebutuhan pribadinya. Begitu dia menyentuh dana pengadaan atau memanipulasi biaya promosi, aku ingin bukti otentiknya ada di mejaku. Kita tidak hanya akan memecatnya, kita akan memastikan dia keluar dari kantor ini d

  • Obsesi Gila Leon   6. Nilai Asli

    Ivanna mencebik, namun tetap saja semburat merah tipis muncul di pipinya akibat godaan terang-terangan Leon. Ia melepaskan tangan Leon dari dagunya, meski tetap membiarkan pria itu merangkul pinggangnya."Jangan terlalu percaya diri, Leon. Aku belum sepenuhnya setuju untuk menjadi 'milikmu' secara harfiah. Tapi harus kuakui, caramu mengusirnya tadi sangat memuaskan. Sekarang, beri tahu aku, kapan tim auditmu mulai bergerak ke Luxe Agency? Aku ingin Simona merangkak di kakiku sebelum minggu ini berakhir.""Tunggu saja surat lamarannya. Aku baru saja mengirimkan transkrip nilai yang aslinya yang merah menyala ke ponselmu. Kau bilang ibunya membantu memanipulasi data atas izin ayahmu, kan?""Ah, iya... Ayahku. Selalu saja begitu jika menyangkut Simona. Aku selalu dituntut belajar demi nilai bagus, tapi pada Simona dia selalu penuh maklum. Kadang aku merasa seperti anak pungut Victor Ricci. Bahkan muncul pikiran liar kalau aku perlu tes DNA."Leon terdiam sejenak, tatapannya yang semula p

  • Obsesi Gila Leon   5. Kesepakatan Gelap

    Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya, seperti biasa Pria itu kadang datang pagi-pagi menemuiku. Dulu aku menerimanya dengan tangan terbuka, sekarang? cih! Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu. "Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi. Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya. "Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan." Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah mas

  • Obsesi Gila Leon   4. Ada Syaratnya

    "Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?" Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan penghargaan oscar, Simona pasti menang karena jago akting. "Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya." ***** Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon. "Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor

  • Obsesi Gila Leon   3. Ciuman Panas

    Malam itu di rumah... "Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?" "Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya." "Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!" "Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?" "Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas. "Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku." Suara deru mesin mobil mewah yang

  • Obsesi Gila Leon   2. Masih Utuh

    Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya. Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita." **** Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut. Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut. "Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang." "Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status