LOGINIvanna melangkah mendekat, lalu menarik kursi di depan meja besar ayahnya. Ia memperhatikan wajah Victor yang tampak lelah namun tetap mencoba tersenyum hangat padanya."Ayah, kenapa belum tidur? Ada masalah di perusahaan konstruksi?" tanya Ivanna sambil menyandarkan sikunya di lengan kursi.Victor meletakkan pulpennya ke atas tumpukan dokumen, lalu menyandarkan punggung ke kursi putarnya. "Tidak ada, Sayang. Hanya pengecekan rutin saja. Kenapa? Kamu sedang ingin sesuatu? Sportcar baru? Atau mau liburan ke Asia?"Ivanna hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak, aku sedang tidak ingin apa-apa. Aku cuma heran saja, tadi saat makan malam aku tidak melihat Bibi Adrianna. Dia ke mana, Yah? Pulang ke Barcelona menjenguk ibunya lagi?""Tidak," jawab Victor sambil melirik jam tangannya. "Katanya dia ingin liburan ke Sisilia.""Sisilia lagi?" Ivanna menaikkan sebelah alisnya, mencoba menyembunyikan rasa curiganya yang makin tajam. "Kenapa
"Kau manis sekali, Leon," ujar Ivanna sembari meraih tangan Leon dan mengeluskannya ke pipi. "Kau tidak hanya panas dan royal, tapi juga memahami ambisiku. Kita benar-benar seperti partner in crime!" puji Ivanna tulus, meski terdengar seperti godaan.Leon menyeringai, membelai bibir Ivanna dengan ibu jarinya. "Selama kau tetap di pihakku, dunia adalah taman bermain bagi rencana gelap kita."*****Ivanna baru saja sampai di depan pintu rumah ketika Simona muncul dengan tangan penuh paperbag belanjaan. Simona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, seolah ingin pamer bahwa ia juga bisa hidup mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah angkuh mendahului Ivanna, sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan kasar sebelum masuk ke dalam.Ivanna tidak marah. Ia justru bergeming, memperhatikan punggung Simona yang menghilang di balik pintu sambil menggelengkan kepala. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya."Baru b
"Apa kau tidak lelah, Leon? Setiap kali bertemu, kita selalu berakhir seperti ini," tanya Ivanna dengan napas memburu. Jemarinya meremas rambut Leon saat pria itu berubah menjadi mode 'bayi besar' yang haus, lidahnya terus menyapu bagian sensitif Ivanna yang tampak ranum kemerahan.Leon tidak langsung menjawab. Ia justru semakin dalam mengulum bagian sensitif itu, memberikan sapuan lidah yang lebar dan hangat hingga membuat tubuh Ivanna melengkung hebat."Lelah?" Leon bergumam tanpa melepaskan kulumannya, suaranya teredam di antara paha Ivanna. Ia mendongak sejenak dengan tatapan gelap yang lapar. "Bagaimana bisa aku lelah jika kau selalu membuatku bergairah, Iv? Anggap saja ini ritual wajib setiap kali aku berhasil memilikimu seharian."Setelah bicara, ia kembali membenamkan wajahnya, memberikan isapan kuat yang sengaja dilakukan untuk membungkam protes Ivanna dengan gelombang gairah baru.Leon melucuti blouse kerja Ivanna hingga wanita itu
Simona duduk di balik meja kerjanya di divisi Pengadaan dan Promosi dengan pandangan kosong. Layar komputer di hadapannya menyala terang, menampilkan tabel anggaran yang membosankan, tapi fokusnya sama sekali bukan di sana. Pikirannya masih tertinggal di lobi rumah pagi tadi, saat melihat Ivanna pergi dengan mobil sports pemberian Leon."Sial! Kukira merebut Matteo yang kaya itu sudah puncak kemenangan, ternyata dia malah bangkrut. Dan sekarang Ivanna malah dapat yang jauh lebih segalanya dari Matteo," bisiknya pelan sebelum menyesap espresso pahitnya dengan kasar.Otaknya berputar cepat, mencoba mencari celah untuk keluar dari bayang-bayang kakaknya."Leon sepertinya sulit digoda. Sejak awal dia sangat ketus padaku. Beda dengan Matteo dulu, dia ramah... ya, ramah—rajin menjamah maksudku," monolognya dalam hati dengan seringai sinis yang getir.Matanya tetap menatap layar, tapi jemarinya hanya mengetuk-ngetuk meja tanpa irama."Aku h
"Bibi Inggrid, tolong bawa semua ini ke kamarku. Dan khusus untuk yang ini," Ivanna menyerahkan gaun itu pada Inggrid dengan santai, "pastikan kau menyimpannya di lemari paling belakang. Jika kau melihat Simona bahkan hanya sekadar melirik atau menyentuh kainnya, segera bakar saja. Aku tidak suka barangku dicemari oleh tangan yang hobi merusak milik orang lain."Inggrid menerima gaun itu dan anggukan angkuh. "Baik, Nona Ivanna. Akan saya pastikan perintah Anda terlaksana."Simona memekik frustrasi, kakinya menghentak lantai atas dengan keras. "Kau keterlaluan, Iv! Kau hanya sedang beruntung karena pria gila itu buta! Kau pikir dia akan bertahan lama dengan wanita sombong sepertimu?!"Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Simona, membisikkan sesuatu yang membuat darah adik tirinya mati kutu."Setidaknya pria gila itu memanjakanku, Simona. Tidak sepertimu... yang pulang dengan pipi lebam dan masker murahan hanya untuk menutupi jejak tangan Ma
Adrianna memijat pelipisnya, matanya melirik waspada ke arah meja tempat Victor duduk. "Simona, pelankan suaramu. Mama sedang makan siang dengan ayahmu.""Aku tidak peduli! Ibu harus bicara pada Ayah, pecat saja dia!""Jangan bodoh, Simona! Kau tahu posisi kita. Victor sangat mempercayai Inggrid. Jika aku ikut campur soal kunci kamar Ivanna, apalagi setelah ulahmu merusak gaunnya semalam, Victor tidak akan segan-segan mengusir kita berdua."Adrianna menelan ludah, membayangkan tatapan dingin Victor yang bisa seketika berubah menjadi badai jika menyangkut putri kandungnya. "Biarkan saja dulu. Jangan cari gara-gara saat Ivanna sedang di atas angin karena Leon. Mengerti?""Jadi Ibu lebih memilih cari aman daripada membelaku?!" Simona mendengus kasar, terdengar suara benda dibanting di seberang sana."Bagus! Teruskan saja menjilat pada Papa sampai kita benar-benar menjadi sampah di rumah ini!"Bip. Sambungan diputus sepihak.







