Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 2. Masih Utuh

Share

2. Masih Utuh

last update publish date: 2026-04-16 22:56:10

Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya.

Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita."

****

Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut.

Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut.

"Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang."

"Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas terputus-putus. "Buat aku lupa segalanya."

Leon menyeringai, sebuah smirk iblis yang membuat bulu kuduk Ivanna meremang sekaligus memicu gairah yang lebih hebat. "Kau tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya menjadi milikku."

Ketegangan itu memuncak hingga ke titik didih. Ivanna merasakan gelombang gairah yang dahsyat menghantam seluruh tubuhnya.

Matanya mulai sayu, pandangannya mengabur saat dunia seolah meledak di sekelilingnya. Kaki jenjangnya mengejang hebat, otot-ototnya menegang saat badai gairah itu melumpuhkan sarafnya.

Belum sempat Ivanna menghirup oksigen kembali, Leon menyusul dengan geraman rendah yang maskulin. Dia membenamkan wajahnya di leher Ivanna, menggigit kecil kulit sensitif itu hingga memberikan tanda klaim yang permanen.

"Tidakkah ini jauh lebih nikmat daripada cinta picisan tunanganmu itu?" bisik Leon tepat di telinga Ivanna yang masih gemetar.

Ivanna hanya bisa mendesah pasrah tak ingin membahas, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang Raja Es yang kini telah mencairkan sekaligus membakar jiwanya.

Setelah badai gairah itu mereda, Leon menarik tubuh Ivanna ke dalam dekapannya. Mereka berbaring bersisian, hanya terbungkus selimut sutra yang berantakan, sisa napas yang memburu perlahan menjadi teratur di bawah cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela.

"Jadi, Nadia dulu kekasih Matteo saat masih SMA?" Ivanna memecah keheningan, Ia menopang dagu di dada bidang Leon yang masih hangat. "Kenapa saat itu keluargamu tidak mencarinya? Kalian sangat kaya, Leon. Bisa saja kalian mengejarnya hingga ke Inggris atau ke ujung dunia sekalipun."

Leon terdiam sejena, Ia mengusap bahu polos Ivanna ada rasa bersalah yang lama terpendam.

"Ayahku adalah pria yang menjaga reputasi di atas nyawa. Baginya, kehamilan Nadia adalah aib, bukan kejahatan Matteo. Saat aku punya kuasa untuk mengejar, dia sudah terlalu jauh bersembunyi di balik ketiak orang tuanya. Tapi sekarang, tidak ada lagi tempat baginya untuk lari."

"Lalu, apa langkah pertama kita?" tanya Ivanna lagi, jemarinya kini bermain di bekas luka kecil di lengan Leon.

Leon menunduk, mencium kening Ivanna. "Besok, kita akan membuat mereka merasa paling bahagia di dunia, sebelum aku menarik karpet dari bawah kaki mereka dan membiarkan mereka jatuh ke dalam lubang yang paling dalam."

"Tapi, Leon. Jika kau ingin berinvestasi pada perusahaan Matteo, bukankah itu akan mengingatkan bahwa nama belakang keluargamu dengan Nadia itu sama?" tanya Ivanna sambil meraih gelas air putih di nakas dan meminumnya.

Leon menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring yang menyimpan rahasia kelam, sementara jemarinya mengusap dagu dengan tenang.

"Nadia memakai nama ibu kami di sekolah. Matteo takkan pernah menyadari bahwa gadis yang dia hamili adalah adikku."

"Baiklah, aku paham. Kalau begitu, aku pulang dulu malam ini, meski di rumah aku akan bertemu dengan Simona. Maukah kau mengantarkanku pulang? Jika tidak, tak masalah, aku akan naik taksi."

"Jangan konyol. Tak ada taksi untuk wanitaku. Pakai bajumu, aku akan memastikan kau sampai ke depan pintu rumahmu."

"Baiklah. Terserah kau saja," ucap Ivanna menyerah.

Leon berganti baju dengan kaus polo warna gelap dan memberikan sebuah mantel dari brand terkenal Italia untuk Ivanna.

"Mantel perempuan? Punya keka—"

"Ini milik ibuku," potong Leon cepat.

Mobil Leon membelah jalanan Milan yang lengang. Ivanna terdiam dengan pikiran berkecamuk; bagaimana jika ayah dan ibunya marah? Seharusnya dia pulang dengan Matteo, bukan pria lain. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya karena cemas.

"Leon, ayahku sedikit konservatif. Apa yang harus kukatakan jika aku pulang denganmu? Seharusnya aku bersama Matteo."

"Katakan saja aku adalah calon investor barumu. Biar aku yang menghadapi ayahmu di sana."

"Bicara soal konservatif, kau termasuk anak yang patuh pada ayahmu, ya?"

"Maksudmu?"

"Kau masih perawan, kan?"

"Dari mana kau tahu? Memang terasa berbeda? Tapi aku tadi tidak mengeluarkan darah sedikit pun, Leon."

Ivanna menoleh, menatap profil samping Leon yang sedang fokus mengemudi. Ada sedikit rasa malu sekaligus penasaran yang membuncah di dadanya. Leon hanya terkekeh pelan, suara beratnya mengisi kabin mobil yang mewah itu.

Leon melirik singkat ke arah Ivanna dengan tatapan tajam yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalam wanita itu sekali lagi.

"Darah bukan tolok ukur, Ivanna. Reaksi tubuhmu yang kaku namun pasrah tadi sudah memberikan jawaban yang sangat jelas bagiku."

"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku malu," Ivanna membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.

"Itu sebuah kehormatan bagiku, Iv. Dan karena aku yang mendapatkannya, itu berarti kau milikku selamanya," ucap Leon

Ia meraih tangan Ivanna, membawa jemari lentur itu ke bibirnya. Kecupan itu terasa hangat dan intim. Gesekan halus dari stubble—bulu-bulu tipis di dagu Leon—memberikan sensasi geli yang menggelanyar, membuat jantung Ivanna berdesir hebat saat menyadari betapa posesifnya pria di sampingnya ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Leon   41. Epilog

    Satu hari kemudian, kediaman megah keluarga Ricci menjadi saksi runtuhnya sebuah dinasti kemunafikan. Victor Ricci sedang duduk di ruang kerjanya yang dingin saat sebuah amplop cokelat tanpa nama mendarat di mejanya—dikirim langsung melalui kurir rahasia Leon.Di dalam amplop itu terdapat belasan foto digital berkualitas tinggi. Adrianna Moralles, istri yang selama ini dipujanya setengah mati, sedang mendekap mesra seorang pria muda di dalam sebuah hotel butik di Sisilia.Napas Victor tercekat. Ego dan harga diri pria paruh baya yang terkenal kaku itu remuk seketika. Kemarahan yang meluap membuat seluruh tubuhnya bergetar. Tanpa menunggu pagi, Victor menyeret Adrianna yang baru kembali tadi siang untuk keluar dari kamar tidur mereka, melemparkan foto-foto itu tepat ke wajah sang istri di hadapan para pelayan yang menunduk ketakutan."Keluar dari rumahku, Adrianna! Jangan bawa satu sen pun, atau kupastikan kau dan selingkuhanmu membusuk di penjara!" ra

  • Obsesi Gila Leon   40. Diapit Diantara....

    "Baiklah, akan kusenangkan milikmu dengan mengapitnya di antara payudaraku," ucap Ivanna. Ia mulai membuka kancing blus kerjanya satu per satu, perlahan membiarkan kedua asetnya menyembul bebas. Namun, sebelum ia sempat memposisikan diri, Leon dengan gerakan sigap menarik Ivanna hingga ia terjengkang ke atas sofa empuk, membalikkan keadaan dalam sekejap.Leon segera menindihnya, membuat napas Ivanna tercekat oleh berat tubuh pria itu yang mendominasi.Ivanna terkesiap, punggungnya menghantam bantalan sofa dengan suara teredam. Meski awalnya terkejut, ia segera melingkarkan kakinya ke pinggang Leon, menantang dominasi pria itu dengan senyum yang menantang. "Tadinya aku ingin bersikap lembut, Leon. Tapi kalau kau ingin yang lebih liar, silakan buktikan seberapa sanggup kau memuaskanku tanpa harus merusak sariawanku.""Ini favoritku, Iv. Diamlah, biarkan aku menikmatinya dulu sebelum dia bekerja di bawah sana," bisik Leon tepat di telinga Ivanna.

  • Obsesi Gila Leon   39. Tidak Gratis

    "Aku ingin Adrianna dulu, baru Simona," ujarnya datar.Jemarinya Leon lincah menekan remote. Layar besar itu seketika menampilkan jajaran foto berkualitas tinggi hasil tangkapan lensa jarak jauh milik informannya."Pilihan bagus. Mari kita lihat bagaimana Angelo Morrone memperlakukan ratu di rumahmu itu,"Gambar pertama muncul—Adrianna tampak tertawa lepas di sebuah restoran terbuka di tepi pantai Sisilia, jemarinya bertautan mesra dengan Angelo yang sedang mengecup bahunya. Ivanna memperhatikan setiap detail foto itu dengan mata menyipit. Ada rasa jijik yang beradu dengan kepuasan karena ia kini memegang bukti yang akan menghancurkan citra suci ibu tirinya di depan Victor Ricci."Angelo bukan sekadar pria bayaran, Iv. Dia punya obsesi pada wanita yang lebih tua, dan Adrianna jatuh dalam perangkapnya dengan sangat mudah," tambah Leon sambil melirik reaksi Ivanna dari pantulan layar.Leon mematikan layar sejenak, lalu berbalik menatap

  • Obsesi Gila Leon   38. Sariawan

    Ivanna baru saja mengunci diri di kamar saat rentetan file dari Leon masuk ke ponselnya. Begitu dibuka, deretan foto dan data pribadi itu membuatnya nyaris tidak bisa bernapas.​Ia melemparkan punggungnya ke sandaran kursi malasnya, menatap tajam serius yang menampilkan profil dua pria berbeda.​"Gila..." gumam Ivanna, ada rasa tidak percaya.​Di layar pertama, terpampang foto Angelo Morrone. Pria itu tampak segar, tampan dengan rahang tegas, dan baru berusia 40 tahun—lima tahun lebih muda dari Adrianna. Dia adalah tipe pria lajang yang bisa dengan mudah membuat wanita seumur Adrianna merasa "muda kembali".​Namun, kepingan puzzle yang paling menjijikkan ada di file kedua: Ricardo Gamboa. Pria berusia 47 tahun, pemilik jaringan bisnis logistik, dan yang paling mengejutkan... pria ini sudah berkeluarga.​"Jadi ini orangnya?" Ivanna tertawa sinis. "Pria 'perkasa' yang dibanggakan Simona di telepon tadi adalah Ricardo Gamboa?"​Fakta itu

  • Obsesi Gila Leon   37. Permainan Mental

    Ivanna melangkah mendekat, lalu menarik kursi di depan meja besar ayahnya. Ia memperhatikan wajah Victor yang tampak lelah namun tetap mencoba tersenyum hangat padanya."Ayah, kenapa belum tidur? Ada masalah di perusahaan konstruksi?" tanya Ivanna sambil menyandarkan sikunya di lengan kursi.Victor meletakkan pulpennya ke atas tumpukan dokumen, lalu menyandarkan punggung ke kursi putarnya. "Tidak ada, Sayang. Hanya pengecekan rutin saja. Kenapa? Kamu sedang ingin sesuatu? Sportcar baru? Atau mau liburan ke Asia?"Ivanna hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak, aku sedang tidak ingin apa-apa. Aku cuma heran saja, tadi saat makan malam aku tidak melihat Bibi Adrianna. Dia ke mana, Yah? Pulang ke Barcelona menjenguk ibunya lagi?""Tidak," jawab Victor sambil melirik jam tangannya. "Katanya dia ingin liburan ke Sisilia.""Sisilia lagi?" Ivanna menaikkan sebelah alisnya, mencoba menyembunyikan rasa curiganya yang makin tajam. "Kenapa

  • Obsesi Gila Leon   36. Partner In Crime

    "Kau manis sekali, Leon," ujar Ivanna sembari meraih tangan Leon dan mengeluskannya ke pipi. "Kau tidak hanya panas dan royal, tapi juga memahami ambisiku. Kita benar-benar seperti partner in crime!" puji Ivanna tulus, meski terdengar seperti godaan.Leon menyeringai, membelai bibir Ivanna dengan ibu jarinya. "Selama kau tetap di pihakku, dunia adalah taman bermain bagi rencana gelap kita."*****Ivanna baru saja sampai di depan pintu rumah ketika Simona muncul dengan tangan penuh paperbag belanjaan. Simona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, seolah ingin pamer bahwa ia juga bisa hidup mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah angkuh mendahului Ivanna, sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan kasar sebelum masuk ke dalam.​Ivanna tidak marah. Ia justru bergeming, memperhatikan punggung Simona yang menghilang di balik pintu sambil menggelengkan kepala. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.​"Baru b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status