Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 4. Ada Syaratnya

Share

4. Ada Syaratnya

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 22:56:17

"Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?"

Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan penghargaan oscar, Simona pasti menang karena jago akting.

"Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya."

*****

Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon.

"Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor Leon.

Leon yang sedang menikmati Macallan 1926 Fine and Rare di gelas kristalnya, tersenyum tipis melihat nama Ivanna muncul di layar.

"Ada apa, Sayang? Dari mana saja? Katanya minta ditelepon?" Suara beratnya terdengar seksi di telinga Ivanna.

"Ayahmu akan memaksamu memasukkan Simona ke jajaran direksi besok, bukan?" tebak Leon tenang.

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku tahu segalanya. Biarkan saja dia masuk. Berikan dia divisi pengadaan atau promosi besar, biarkan dia merasa di atas angin."

"Kau gila? Itu sama saja memberinya panggung."

"Bukan panggung, Ivanna. Itu jebakan. Aku akan mengirimkan tim audit pribadiku untuk mengawasi setiap sen yang dia pakai. Begitu dia melakukan kesalahan atau korupsi sekecil apa pun untuk menutupi hutang keluarga Matteo, kita akan langsung memotong lehernya secara legal."

"Lalu bagaimana dengan Matteo?"

"Keluarga Romano butuh suntikan dana dariku tiga hari yang lalu. Aku akan memberikan syarat agar Matteo menyerahkan seluruh saham pribadinya sebagai jaminan. Saat dia sudah miskin dan Simona masuk penjara, mereka akan saling membunuh satu sama lain tanpa kita perlu mengotori tangan."

"Kejam sekali. Aku suka cara mainmu, Leon."

"Itu harga yang harus mereka bayar karena telah menyentuhmu, Sayang."

"Terima kasih, Leon. Tapi aku tahu ini pasti tidak gratis, kan?"

Ivanna menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci rapat, telinganya masih panas mendengar ambisi ibu tirinya di bawah tadi. Ia menunggu jawaban Leon, tahu betul bahwa pria sekuat dia tidak pernah memberikan bantuan cuma-cuma tanpa ada bayaran yang setimpal.

Leon mengocok perlahan gelas kristalnya, membiarkan es batu beradu sebelum menyesap whiskey mahalnya. Ia terkekeh rendah, suara yang mengirimkan getaran sekaligus mendebarkan ke saraf Ivanna.

"Cerdas. Aku tidak butuh uangmu, Ivanna. Aku hanya ingin kesetiaan total—dan mungkin, kau harus membiasakan diri untuk selalu berada di dalam jangkauanku, kapan pun aku menginginkannya."

*****

Pagi itu di ruang makan, aroma kopi menyeruak. Victor berdeham, menatap Ivanna yang sibuk dengan tabletnya. Di sampingnya, Adrianna dan Simona duduk dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.

"Ivanna, soal pembicaraan semalam. Ayah ingin Simona mulai bekerja di Luxe Agency. Masukkan dia ke jajaran direksi, dia perlu belajar mengelola bisnis keluarga," ujar Victor.

Ivanna menyesap kopinya pelan, lalu meletakkan cangkir itu dengan denting pelan. Ia menatap Simona yang tampak sudah sangat percaya diri.

"Tentu, Ayah. Aku akan tetap menyetujuinya," jawab Ivanna, membuat binar kemenangan muncul di mata Simona.

"Tapi," Ivanna lalu menatap serius ke arah adik tirinya. "Untuk posisi direksi, kita tetap butuh formalitas demi menjaga kredibilitas di depan pemegang saham lain. Aku butuh berkas lamaran lengkap, terutama transkrip nilai terakhirmu."

Wajah Simona seketika kaku. Ia melirik ibunya dengan gelisah.

"Ivanna, bukankah itu berlebihan? Kita ini keluarga," sela Adrianna dengan nada keberatan.

"Ini justru demi kebaikan Simona. Bagaimana pun, dia adalah influencer penuh kontroversi. Karena jika kau tidak cukup pintar untuk lulus kuliah, setidaknya biarkan aku melihat apa yang bisa aku 'poles' dari riwayat pendidikanmu yang berantakan itu agar direksi lain tidak terlalu memandang rendah padamu."

Ivanna tersenyum tipis.

"Aku hanya tidak ingin orang-orang di kantor menganggapmu hanya sekadar pajangan yang tak punya otak, Sayang. Jadi, mana transkrip nilaimu?"

"A-aku akan mencarinya nanti dan mengirimkannya ke emailmu," ucap Simona gugup. Pikirannya kalut membayangkan transkrip nilainya yang hancur berantakan, penuh dengan nilai merah dan catatan alpa yang tak terhitung jumlahnya.

"Tentu. Jangan lupa surat lamaran yang formal ya, Sayangku," balas Ivanna sembari menepuk bahu Simona lembut. "Aku berangkat dulu, ada rapat."

Simona merasa ada yang ganjil. Biasanya, saat hubungan mereka masih baik-baik saja, Ivanna selalu punya seribu alasan untuk menolaknya. Namun kini, setelah dikhianati mentah-mentah, kakak tirinya itu justru memberikan kursi direksi dengan begitu mudah—meski tetap menuntut prosedur resmi yang menyulitkan.

"Bagaimana ini, Ayah?" Simona merengek pada Victor begitu Ivanna menghilang dari balik pintu. "Kenapa Ayah tidak membantuku langsung bekerja saja tanpa syarat konyol itu?"

Victor meletakkan korannya, menatap putri tirinya dengan helaan napas berat. Ia merasa permintan Ivanna masih dalam batas kewajaran seorang pemimpin perusahaan.

"Simona, Ivanna benar. Ayah tidak bisa memasukkanmu begitu saja tanpa dasar profesional, atau para pemegang saham akan mengamuk. Turuti saja kemauannya. Jika nilaimu memang seburuk itu, biar Adrianna yang mengurus perbaikan dokumennya secara diam-diam sebelum kau serahkan pada Ivanna."

Di mobilnya, Ivanna mendengarkan rekaman dari penyadap yang ia pasang di balik meja makan tadi. "Sialan, bahkan Victor Ricci malah melegalkan kecurangan! Pantas saja Simona tumbuh menjadi wanita tak berkompeten," Ia langsung menginjak pedal gas Porsche Taycan Turbo S lebih dalam, memacu membelah jalanan Milan dengan amarah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Leon   7. Jebakan Dipasang

    Ivanna memanggil Gracio selaku Kepala HRD dan Sonia sang Manajer Keuangan, ke ruanganya. Tanpa banyak bicara, ia memutar monitornya, memperlihatkan perbandingan dua dokumen: transkrip nilai palsu yang dikirim Simona dan data asli dari Leon. "Perhatikan ini. Simona Rossi, adik tiriku, akan masuk ke jajaran direksi besok. Memegang kendali di divisi pengadaan dan promosi. Biarkannya dia merasa berkuasa." Kedua staf senior itu saling berpandangan, bingung dengan keputusan bos mereka. "Maksudmu, kami harus membiarkan dia mengelola anggaran besar dengan kapabilitas compang-camping seperti ini? Ini berbahaya, Ivanna," tanya Gracio ragu. Ivanna tersenyum tipis. "Bukan membiarkan, tapi menjebak. Pantau setiap sen yang dia keluarkan. Aku tahu dia butuh uang banyak untuk menutupi kebutuhan pribadinya. Begitu dia menyentuh dana pengadaan atau memanipulasi biaya promosi, aku ingin bukti otentiknya ada di mejaku. Kita tidak hanya akan memecatnya, kita akan memastikan dia keluar dari kantor ini d

  • Obsesi Gila Leon   6. Nilai Asli

    Ivanna mencebik, namun tetap saja semburat merah tipis muncul di pipinya akibat godaan terang-terangan Leon. Ia melepaskan tangan Leon dari dagunya, meski tetap membiarkan pria itu merangkul pinggangnya."Jangan terlalu percaya diri, Leon. Aku belum sepenuhnya setuju untuk menjadi 'milikmu' secara harfiah. Tapi harus kuakui, caramu mengusirnya tadi sangat memuaskan. Sekarang, beri tahu aku, kapan tim auditmu mulai bergerak ke Luxe Agency? Aku ingin Simona merangkak di kakiku sebelum minggu ini berakhir.""Tunggu saja surat lamarannya. Aku baru saja mengirimkan transkrip nilai yang aslinya yang merah menyala ke ponselmu. Kau bilang ibunya membantu memanipulasi data atas izin ayahmu, kan?""Ah, iya... Ayahku. Selalu saja begitu jika menyangkut Simona. Aku selalu dituntut belajar demi nilai bagus, tapi pada Simona dia selalu penuh maklum. Kadang aku merasa seperti anak pungut Victor Ricci. Bahkan muncul pikiran liar kalau aku perlu tes DNA."Leon terdiam sejenak, tatapannya yang semula p

  • Obsesi Gila Leon   5. Kesepakatan Gelap

    Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya, seperti biasa Pria itu kadang datang pagi-pagi menemuiku. Dulu aku menerimanya dengan tangan terbuka, sekarang? cih! Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu. "Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi. Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya. "Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan." Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah mas

  • Obsesi Gila Leon   4. Ada Syaratnya

    "Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?" Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan penghargaan oscar, Simona pasti menang karena jago akting. "Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya." ***** Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon. "Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor

  • Obsesi Gila Leon   3. Ciuman Panas

    Malam itu di rumah... "Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?" "Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya." "Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!" "Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?" "Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas. "Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku." Suara deru mesin mobil mewah yang

  • Obsesi Gila Leon   2. Masih Utuh

    Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya. Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita." **** Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut. Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut. "Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang." "Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status