Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 3. Ciuman Panas

Share

3. Ciuman Panas

last update publish date: 2026-04-16 22:56:14

Malam itu di rumah...

"Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?"

"Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya."

"Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!"

"Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?"

"Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas.

"Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku."

Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan rumah memutus percakapan mereka. Simona menyibak tirai, ekspresinya seketika berubah saat melihat Ivanna turun dari mobil yang bukan milik Matteo.

Simona tertegun, ponsel di tangannya hampir jatuh melihat sosok pria dominan yang membukakan pintu untuk Ivanna dengan sangat protektif.

"Ibu, lihat! Siapa pria itu? Dia... Leonardo De Luca! Sejak kapan Ivanna punya nyali mendekati pria yang terlihat jauh lebih berkuasa daripada Matteo?"

Di bawah, Ivanna yang tahu sedang diintip dari jendela kamar Simona malam ini, sengaja beraksi. Dengan gerakan penuh percaya diri, dia menarik kerah baju Leon dan menciumnya singkat.

CUP!

"Hei, ada apa ini? Kau semakin berani, ya," gumam Leon seraya menarik pinggang Ivanna ke pelukannya. Tangan besarnya mengusap punggung halus Ivanna yang tadi sempat ia beri kecupan posesif.

"Ciuman untuk terima kasih. Jangan lupa telepon aku."

Leon tidak langsung melepaskannya. Ia justru menyeringai tipis, lalu menunduk untuk mengunci bibir Ivanna dalam lumatan yang menuntut dan mendalam.

"Ciuman singkat tadi tidak cukup untukku. Tidurlah, mimpikan aku, dan biarkan saudaramu itu mati penasaran melihat apa yang kumiliki sekarang."

Ivanna masuk dengan percaya diri, bukan menangis seperti tadi. Gila, dunia seolah baru saja menjungkirbalikkan hidupnya, tetapi ia bisa berdiri tegak kembali dengan mudah berkat Leon.

"Wow, si Nona Cinderella pulang terlambat diantar dengan Bugatti Chiron, ya, Kakakku?" ucap Simona tanpa rasa bersalah atau takut sedikit pun, meski telah berhasil mencuri Matteo dari kakak tirinya.

Ivanna berhenti melangkah, menatap Simona dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan meremehkan seolah sedang melihat gundukan kotoran.

"Matteo hanya kerikil kecil, Simona. Ambil saja bekasku itu, karena seleraku sekarang sudah jauh berada di atas levelmu." ucapnya santai.

"Kau kenal Leon dari mana, hah? Kau pasti merayunya di pesta saat patah hati tadi, kan? Mana mungkin secepat itu?"

"Pria seperti Leon tidak perlu dirayu, Simona. Dia tahu mana berlian asli dan mana yang hanya imitasi murahan sepertimu."

Suara dehaman Victor Ricci yang berjalan menghampiri Adrianna, ibu Simona, terdengar. "Kau baru pulang, Ivanna? Adikmu tadi pulang tepat waktu dengan tunanganmu. Kamu dari mana?" Senyum puas terulas dari bibir Simona, menunggu saat Victor memarahi kakaknya. Selama ini, jika Victor menegurnya, Simona akan pura-pura membela dan jujur itu memuakkan sekali.

"Matteo sudah bukan tunanganku sejak dia memilih bermain kotor dengan Simona, Ayah. Jadi, mulai sekarang jangan menanyakan pria tidak berguna itu."

Victor mengerutkan kening, menatap Adrianna dan Simona bergantian. "Apa maksudmu, Ivanna? Jangan bicara sembarangan soal adikmu."

"Tanya saja pada mereka, Ayah. Simona lebih tahu bagaimana rasanya mencicipi milik orang lain," balas Ivanna.

"Ivanna! Jaga bicaramu!" bentak Adrianna pura-pura terluka. "Simona hanya ingin menghibur Matteo karena kau terlambat datang ke pesta tadi."

Ivanna tertawa sumbang, mengeluarkan ponselnya lalu melemparkan beberapa foto kemesraan Simona dan Matteo di atas meja ruang tamu.

"Menghibur sampai ke hampir telanjang? Ambillah Matteo! Ayah, aku sudah menemukan pengganti yang jauh lebih berkelas dari pengkhianat itu."

"Dan,, aku mau tidur dulu. Besok ada anak baru masuk agensiku. Dan kau, Simona... untungnya sejak dulu aku selalu berpikir ulang untuk mengajakmu bergabung di Luxe Agency sebagai salah satu direksi. Ternyata keraguanku selama ini terbukti nyata. Instingku tidak berbohong."

Wajah Simona seketika memerah padam karena harga dirinya tersinggung, apalagi ayahnya sedang mendengarkan kegagalannya masuk ke agensi bergengsi itu.

"Aku tidak butuh agensimu! Dengan Matteo di sampingku, aku bisa membangun kerajaanku sendiri tanpa bantuan belas kasihan darimu!"

Ivanna menoleh lagi ke belakang. "Kau tidak tahu, ya? Ah, iya... saat bersamamu dia pasti hanya bersenang-senang tanpa pernah membahas hal serius seperti saat bersamaku." Ivanna menjeda sambil menatap Victor, Adrianna, dan Simona. "Perusahaan keluarga Romano seperti telur di ujung tanduk. Mereka sedang mencari investor karena hampir pailit. Minta saja padanya. Kau tahu? Matteo Romano itu aslinya pelit."

Dia lalu membalikkan badan dengan tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Ada rasa geli saat menyadari Simona hanya mendapatkan ampasnya saja.

Simona mematung dengan mulut ternganga, matanya bergetar hebat antara rasa tidak percaya dan amarah yang mulai membakar dadanya karena telah tertipu.

"Kau bohong! Kau hanya iri karena dia memilihku! Matteo kaya raya dan dia sangat mencintaiku, tidak mungkin dia bangkrut secepat itu, Ivanna!"

Adrianna mendekat, mengusap bahu Victor dengan lembut, mencoba meredam suasana yang sempat memanas.

"Victor, Sayang, dengar dulu. Mengenai Luxe Agency, bukankah kau pemilik sah perusahaan itu? Ivanna hanya CEO yang menjalankan perintahmu," bujuk Adrianna dengan suara manis yang manipulatif seperti biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Leon   41. Epilog

    Satu hari kemudian, kediaman megah keluarga Ricci menjadi saksi runtuhnya sebuah dinasti kemunafikan. Victor Ricci sedang duduk di ruang kerjanya yang dingin saat sebuah amplop cokelat tanpa nama mendarat di mejanya—dikirim langsung melalui kurir rahasia Leon.Di dalam amplop itu terdapat belasan foto digital berkualitas tinggi. Adrianna Moralles, istri yang selama ini dipujanya setengah mati, sedang mendekap mesra seorang pria muda di dalam sebuah hotel butik di Sisilia.Napas Victor tercekat. Ego dan harga diri pria paruh baya yang terkenal kaku itu remuk seketika. Kemarahan yang meluap membuat seluruh tubuhnya bergetar. Tanpa menunggu pagi, Victor menyeret Adrianna yang baru kembali tadi siang untuk keluar dari kamar tidur mereka, melemparkan foto-foto itu tepat ke wajah sang istri di hadapan para pelayan yang menunduk ketakutan."Keluar dari rumahku, Adrianna! Jangan bawa satu sen pun, atau kupastikan kau dan selingkuhanmu membusuk di penjara!" ra

  • Obsesi Gila Leon   40. Diapit Diantara....

    "Baiklah, akan kusenangkan milikmu dengan mengapitnya di antara payudaraku," ucap Ivanna. Ia mulai membuka kancing blus kerjanya satu per satu, perlahan membiarkan kedua asetnya menyembul bebas. Namun, sebelum ia sempat memposisikan diri, Leon dengan gerakan sigap menarik Ivanna hingga ia terjengkang ke atas sofa empuk, membalikkan keadaan dalam sekejap.Leon segera menindihnya, membuat napas Ivanna tercekat oleh berat tubuh pria itu yang mendominasi.Ivanna terkesiap, punggungnya menghantam bantalan sofa dengan suara teredam. Meski awalnya terkejut, ia segera melingkarkan kakinya ke pinggang Leon, menantang dominasi pria itu dengan senyum yang menantang. "Tadinya aku ingin bersikap lembut, Leon. Tapi kalau kau ingin yang lebih liar, silakan buktikan seberapa sanggup kau memuaskanku tanpa harus merusak sariawanku.""Ini favoritku, Iv. Diamlah, biarkan aku menikmatinya dulu sebelum dia bekerja di bawah sana," bisik Leon tepat di telinga Ivanna.

  • Obsesi Gila Leon   39. Tidak Gratis

    "Aku ingin Adrianna dulu, baru Simona," ujarnya datar.Jemarinya Leon lincah menekan remote. Layar besar itu seketika menampilkan jajaran foto berkualitas tinggi hasil tangkapan lensa jarak jauh milik informannya."Pilihan bagus. Mari kita lihat bagaimana Angelo Morrone memperlakukan ratu di rumahmu itu,"Gambar pertama muncul—Adrianna tampak tertawa lepas di sebuah restoran terbuka di tepi pantai Sisilia, jemarinya bertautan mesra dengan Angelo yang sedang mengecup bahunya. Ivanna memperhatikan setiap detail foto itu dengan mata menyipit. Ada rasa jijik yang beradu dengan kepuasan karena ia kini memegang bukti yang akan menghancurkan citra suci ibu tirinya di depan Victor Ricci."Angelo bukan sekadar pria bayaran, Iv. Dia punya obsesi pada wanita yang lebih tua, dan Adrianna jatuh dalam perangkapnya dengan sangat mudah," tambah Leon sambil melirik reaksi Ivanna dari pantulan layar.Leon mematikan layar sejenak, lalu berbalik menatap

  • Obsesi Gila Leon   38. Sariawan

    Ivanna baru saja mengunci diri di kamar saat rentetan file dari Leon masuk ke ponselnya. Begitu dibuka, deretan foto dan data pribadi itu membuatnya nyaris tidak bisa bernapas.​Ia melemparkan punggungnya ke sandaran kursi malasnya, menatap tajam serius yang menampilkan profil dua pria berbeda.​"Gila..." gumam Ivanna, ada rasa tidak percaya.​Di layar pertama, terpampang foto Angelo Morrone. Pria itu tampak segar, tampan dengan rahang tegas, dan baru berusia 40 tahun—lima tahun lebih muda dari Adrianna. Dia adalah tipe pria lajang yang bisa dengan mudah membuat wanita seumur Adrianna merasa "muda kembali".​Namun, kepingan puzzle yang paling menjijikkan ada di file kedua: Ricardo Gamboa. Pria berusia 47 tahun, pemilik jaringan bisnis logistik, dan yang paling mengejutkan... pria ini sudah berkeluarga.​"Jadi ini orangnya?" Ivanna tertawa sinis. "Pria 'perkasa' yang dibanggakan Simona di telepon tadi adalah Ricardo Gamboa?"​Fakta itu

  • Obsesi Gila Leon   37. Permainan Mental

    Ivanna melangkah mendekat, lalu menarik kursi di depan meja besar ayahnya. Ia memperhatikan wajah Victor yang tampak lelah namun tetap mencoba tersenyum hangat padanya."Ayah, kenapa belum tidur? Ada masalah di perusahaan konstruksi?" tanya Ivanna sambil menyandarkan sikunya di lengan kursi.Victor meletakkan pulpennya ke atas tumpukan dokumen, lalu menyandarkan punggung ke kursi putarnya. "Tidak ada, Sayang. Hanya pengecekan rutin saja. Kenapa? Kamu sedang ingin sesuatu? Sportcar baru? Atau mau liburan ke Asia?"Ivanna hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak, aku sedang tidak ingin apa-apa. Aku cuma heran saja, tadi saat makan malam aku tidak melihat Bibi Adrianna. Dia ke mana, Yah? Pulang ke Barcelona menjenguk ibunya lagi?""Tidak," jawab Victor sambil melirik jam tangannya. "Katanya dia ingin liburan ke Sisilia.""Sisilia lagi?" Ivanna menaikkan sebelah alisnya, mencoba menyembunyikan rasa curiganya yang makin tajam. "Kenapa

  • Obsesi Gila Leon   36. Partner In Crime

    "Kau manis sekali, Leon," ujar Ivanna sembari meraih tangan Leon dan mengeluskannya ke pipi. "Kau tidak hanya panas dan royal, tapi juga memahami ambisiku. Kita benar-benar seperti partner in crime!" puji Ivanna tulus, meski terdengar seperti godaan.Leon menyeringai, membelai bibir Ivanna dengan ibu jarinya. "Selama kau tetap di pihakku, dunia adalah taman bermain bagi rencana gelap kita."*****Ivanna baru saja sampai di depan pintu rumah ketika Simona muncul dengan tangan penuh paperbag belanjaan. Simona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, seolah ingin pamer bahwa ia juga bisa hidup mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah angkuh mendahului Ivanna, sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan kasar sebelum masuk ke dalam.​Ivanna tidak marah. Ia justru bergeming, memperhatikan punggung Simona yang menghilang di balik pintu sambil menggelengkan kepala. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.​"Baru b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status