Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 5. Kesepakatan Gelap

Share

5. Kesepakatan Gelap

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 22:56:29

Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya, seperti biasa Pria itu kadang datang pagi-pagi menemuiku. Dulu aku menerimanya dengan tangan terbuka, sekarang? cih!

Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu.

"Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi.

Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya.

"Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan."

Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi, langsung memotong ketegangan di ruangan itu.

​"Pagi, Sayang. Kau membiarkan sembarang orang masuk ke ruanganmu?" sapa Leon sambil mengecup pelipis Ivanna secara terang-terangan di depan Matteo.

​Matteo terlonjak kaget. Jantungnya serasa berhenti melihat pemandangan itu. Pria di depannya adalah Leon, penguasa industri yang sedang ia incar untuk memberikan suntikan dana bagi perusahaannya yang nyaris kolaps.

​Leon menoleh sedikit, menatap Matteo dengan pandangan meremehkan seolah pria itu hanya debu di jas mahalnya.

"Ivanna, —"

Leon memotong pembicaraan. "Oh, Matteo Romano? Kebetulan sekali. Aku baru saja akan menandatangani surat penolakan investasi untuk perusahaanmu. Ternyata kau lebih sibuk mengganggu gadisku daripada mengurus utangmu yang menumpuk itu."

"Tunggu, Leon. Gadismu? sejak kapan kalian? Dan soal investasi itu, tolong ditinjau lagi."

"Sejak semalam! Sejak aku memergoki Simona hampir telanjang dan mengulum milikmu yang kecil itu!" potong Ivanna.

Wajah Matteo seketika merah padam, bukan hanya karena malu rahasia ranjangnya dibongkar di depan calon investornya, tetapi juga karena harga dirinya sebagai pria diinjak-injak di depan Leon.

Leon tertawa lepas, sebuah tawa mengejek yang terdengar sangat merendahkan hingga menggema di seluruh ruangan.

"Kecil, ya? Pantas saja kau butuh suntikan dana besar, ternyata kau memang kekurangan di segala aspek, Matteo. Sekarang keluar, sebelum aku memutuskan untuk mempercepat kebangkrutanmu sore ini juga."

Matteo jatuh terduduk, nyaris berlutut di depan meja kerja Ivanna. "Leon, aku mohon. Jangan tarik investasimu. Perusahaanku akan hancur dalam seminggu kedepan jika kau melakukan itu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, jangan bawa urusan pribadi ke bisnis."

Leon menatap Matteo yang tampak sangat menyedihkan.

"Kau ingin aku meninjau ulang? Baiklah," ucap Leon. "Serahkan seluruh saham pribadi milikmu dan keluargamu sebagai jaminan. Semuanya. Tanpa sisa."

"Tapi... nilai saham itu bahkan tidak ada separuhnya dari jumlah investasi yang aku minta, Leon! Itu tidak masuk akal!" seru Matteo panik.

Leon tersenyum miring,

"Memang tidak sebanding, tapi itu harga untuk kesombonganmu. Ambil tawaranku sekarang atau keluar dari sini dan saksikan namamu membusuk di koran bisnis besok pagi. Pilihanmu, Matteo."

"Ivanna, tolong bujuk Leon agar tidak menjadikan saham sebagai jaminan. Kau tahu sendiri bagaimana perjuangan keluargaku membangun bisnis itu," rintih Matteo dengan suara bergetar.

"Maaf, Matteo. Meskipun Leon kekasihku, kami sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan bisnis masing-masing," jawab Ivanna. Ia berjalan pelan mengelilingi meja kerjanya. "Tapi menurutku, lebih baik ambil saja tawaran itu. Bukankah kau sudah mencoba meminta bantuan pebisnis lain, tapi mereka semua menolak karena risiko berbisnis denganmu terlalu besar? Itu yang selalu kau katakan padaku setiap kita diskusi dulu, kan?"

Matteo terenyak, wajahnya yang tadi pucat kini berubah pasi. Ia baru menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini; setiap keluh kesah dan kelemahan perusahaan yang ia ceritakan pada Ivanna, kini menjadi senjata yang menyerangnya kembali. Ivanna baru saja membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat.

"Kau... kau menggunakan semua rahasia yang aku percayakan padamu untuk menghancurkanku? Ivanna, aku tidak menyangka kau bisa sekejam ini hanya karena masalah Simona!"

"Kejam?" Ivanna tertawa, "Kau salah istilah, Matteo. Ini namanya pengembalian investasi. Aku sudah membuang waktu bertahun-tahun mendengarkan keluhanmu, sekarang aku hanya menagih bayarannya."

Leon yang sejak tadi hanya menonton, kini bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Ivanna. Ia merangkul pinggang wanita itu dengan protektif, memberikan tekanan psikologis tambahan bagi Matteo yang semakin tersudut.

"Waktuku habis, Matteo. Tanda tangani dokumen jaminan saham itu di kantor pengacaraku dalam satu jam, atau aku pastikan bank akan menyita rumah orang tuamu sore ini juga."

Tubuh Matteo gemetar hebat. Ia menatap Ivanna dengan tatapan benci sekaligus memohon, namun tidak menemukan setitik rasa kasihan di mata mantan tunangannya itu. Ia menyadari bahwa pilihannya hanya dua: kehilangan segalanya sekarang, atau menjadi pion di bawah kaki Leon.

"Baik... aku akan melakukannya. Tapi ingat, Ivanna, jika suatu saat kau jatuh ke tanganku lagi, aku tidak akan memberikan ampunan yang sama padamu!"

"Sayangnya," sela Leon sambil membuka pintu ruangannya, "dia tidak akan pernah jatuh lagi, karena aku yang memegang tangannya. Sekarang, keluar."

"Oke, aku ambil, Leon."

"Bagus, karena hanya aku yang bisa membantumu. Aku ingin bermesraan dengan kekasihku, sekarang pergilah." ucap Leon sembari mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir ayam.

Begitu Matteo pergi, Ivanna merasa geram. "Menjengkelkan sekali! Ingin rasanya aku mencakar wajahnya. Kenapa tidak kulakukan saja semalam saat ada Simona juga? Aku malah pergi dengan menangis. Oya soal mengatakan kau kekasihku di depan Matteo, maafkan aku."

Leon menarik pinggang Ivanna hingga tubuh mereka merapat, lalu mengangkat dagu wanita itu agar menatap langsung ke matanya yang tajam namun penuh gairah.

"Kekasih? tak masalah, sayang. Dan menangis itu manusiawi, tapi membalas dendam seperti ini jauh lebih elegan, Sayang. Simpan tenagamu untuk mencakar punggungku saja nanti malam, bukan wajah pria tak berguna seperti dia."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Leon   41. Epilog

    Satu hari kemudian, kediaman megah keluarga Ricci menjadi saksi runtuhnya sebuah dinasti kemunafikan. Victor Ricci sedang duduk di ruang kerjanya yang dingin saat sebuah amplop cokelat tanpa nama mendarat di mejanya—dikirim langsung melalui kurir rahasia Leon.Di dalam amplop itu terdapat belasan foto digital berkualitas tinggi. Adrianna Moralles, istri yang selama ini dipujanya setengah mati, sedang mendekap mesra seorang pria muda di dalam sebuah hotel butik di Sisilia.Napas Victor tercekat. Ego dan harga diri pria paruh baya yang terkenal kaku itu remuk seketika. Kemarahan yang meluap membuat seluruh tubuhnya bergetar. Tanpa menunggu pagi, Victor menyeret Adrianna yang baru kembali tadi siang untuk keluar dari kamar tidur mereka, melemparkan foto-foto itu tepat ke wajah sang istri di hadapan para pelayan yang menunduk ketakutan."Keluar dari rumahku, Adrianna! Jangan bawa satu sen pun, atau kupastikan kau dan selingkuhanmu membusuk di penjara!" ra

  • Obsesi Gila Leon   40. Diapit Diantara....

    "Baiklah, akan kusenangkan milikmu dengan mengapitnya di antara payudaraku," ucap Ivanna. Ia mulai membuka kancing blus kerjanya satu per satu, perlahan membiarkan kedua asetnya menyembul bebas. Namun, sebelum ia sempat memposisikan diri, Leon dengan gerakan sigap menarik Ivanna hingga ia terjengkang ke atas sofa empuk, membalikkan keadaan dalam sekejap.Leon segera menindihnya, membuat napas Ivanna tercekat oleh berat tubuh pria itu yang mendominasi.Ivanna terkesiap, punggungnya menghantam bantalan sofa dengan suara teredam. Meski awalnya terkejut, ia segera melingkarkan kakinya ke pinggang Leon, menantang dominasi pria itu dengan senyum yang menantang. "Tadinya aku ingin bersikap lembut, Leon. Tapi kalau kau ingin yang lebih liar, silakan buktikan seberapa sanggup kau memuaskanku tanpa harus merusak sariawanku.""Ini favoritku, Iv. Diamlah, biarkan aku menikmatinya dulu sebelum dia bekerja di bawah sana," bisik Leon tepat di telinga Ivanna.

  • Obsesi Gila Leon   39. Tidak Gratis

    "Aku ingin Adrianna dulu, baru Simona," ujarnya datar.Jemarinya Leon lincah menekan remote. Layar besar itu seketika menampilkan jajaran foto berkualitas tinggi hasil tangkapan lensa jarak jauh milik informannya."Pilihan bagus. Mari kita lihat bagaimana Angelo Morrone memperlakukan ratu di rumahmu itu,"Gambar pertama muncul—Adrianna tampak tertawa lepas di sebuah restoran terbuka di tepi pantai Sisilia, jemarinya bertautan mesra dengan Angelo yang sedang mengecup bahunya. Ivanna memperhatikan setiap detail foto itu dengan mata menyipit. Ada rasa jijik yang beradu dengan kepuasan karena ia kini memegang bukti yang akan menghancurkan citra suci ibu tirinya di depan Victor Ricci."Angelo bukan sekadar pria bayaran, Iv. Dia punya obsesi pada wanita yang lebih tua, dan Adrianna jatuh dalam perangkapnya dengan sangat mudah," tambah Leon sambil melirik reaksi Ivanna dari pantulan layar.Leon mematikan layar sejenak, lalu berbalik menatap

  • Obsesi Gila Leon   38. Sariawan

    Ivanna baru saja mengunci diri di kamar saat rentetan file dari Leon masuk ke ponselnya. Begitu dibuka, deretan foto dan data pribadi itu membuatnya nyaris tidak bisa bernapas.​Ia melemparkan punggungnya ke sandaran kursi malasnya, menatap tajam serius yang menampilkan profil dua pria berbeda.​"Gila..." gumam Ivanna, ada rasa tidak percaya.​Di layar pertama, terpampang foto Angelo Morrone. Pria itu tampak segar, tampan dengan rahang tegas, dan baru berusia 40 tahun—lima tahun lebih muda dari Adrianna. Dia adalah tipe pria lajang yang bisa dengan mudah membuat wanita seumur Adrianna merasa "muda kembali".​Namun, kepingan puzzle yang paling menjijikkan ada di file kedua: Ricardo Gamboa. Pria berusia 47 tahun, pemilik jaringan bisnis logistik, dan yang paling mengejutkan... pria ini sudah berkeluarga.​"Jadi ini orangnya?" Ivanna tertawa sinis. "Pria 'perkasa' yang dibanggakan Simona di telepon tadi adalah Ricardo Gamboa?"​Fakta itu

  • Obsesi Gila Leon   37. Permainan Mental

    Ivanna melangkah mendekat, lalu menarik kursi di depan meja besar ayahnya. Ia memperhatikan wajah Victor yang tampak lelah namun tetap mencoba tersenyum hangat padanya."Ayah, kenapa belum tidur? Ada masalah di perusahaan konstruksi?" tanya Ivanna sambil menyandarkan sikunya di lengan kursi.Victor meletakkan pulpennya ke atas tumpukan dokumen, lalu menyandarkan punggung ke kursi putarnya. "Tidak ada, Sayang. Hanya pengecekan rutin saja. Kenapa? Kamu sedang ingin sesuatu? Sportcar baru? Atau mau liburan ke Asia?"Ivanna hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak, aku sedang tidak ingin apa-apa. Aku cuma heran saja, tadi saat makan malam aku tidak melihat Bibi Adrianna. Dia ke mana, Yah? Pulang ke Barcelona menjenguk ibunya lagi?""Tidak," jawab Victor sambil melirik jam tangannya. "Katanya dia ingin liburan ke Sisilia.""Sisilia lagi?" Ivanna menaikkan sebelah alisnya, mencoba menyembunyikan rasa curiganya yang makin tajam. "Kenapa

  • Obsesi Gila Leon   36. Partner In Crime

    "Kau manis sekali, Leon," ujar Ivanna sembari meraih tangan Leon dan mengeluskannya ke pipi. "Kau tidak hanya panas dan royal, tapi juga memahami ambisiku. Kita benar-benar seperti partner in crime!" puji Ivanna tulus, meski terdengar seperti godaan.Leon menyeringai, membelai bibir Ivanna dengan ibu jarinya. "Selama kau tetap di pihakku, dunia adalah taman bermain bagi rencana gelap kita."*****Ivanna baru saja sampai di depan pintu rumah ketika Simona muncul dengan tangan penuh paperbag belanjaan. Simona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, seolah ingin pamer bahwa ia juga bisa hidup mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah angkuh mendahului Ivanna, sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan kasar sebelum masuk ke dalam.​Ivanna tidak marah. Ia justru bergeming, memperhatikan punggung Simona yang menghilang di balik pintu sambil menggelengkan kepala. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.​"Baru b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status