Home / Romansa / Obsesi Gila Leon / 6. Nilai Asli

Share

6. Nilai Asli

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 22:56:40

Ivanna mencebik, namun tetap saja semburat merah tipis muncul di pipinya akibat godaan terang-terangan Leon. Ia melepaskan tangan Leon dari dagunya, meski tetap membiarkan pria itu merangkul pinggangnya.

"Jangan terlalu percaya diri, Leon. Aku belum sepenuhnya setuju untuk menjadi 'milikmu' secara harfiah. Tapi harus kuakui, caramu mengusirnya tadi sangat memuaskan. Sekarang, beri tahu aku, kapan tim auditmu mulai bergerak ke Luxe Agency? Aku ingin Simona merangkak di kakiku sebelum minggu ini berakhir."

"Tunggu saja surat lamarannya. Aku baru saja mengirimkan transkrip nilai yang aslinya yang merah menyala ke ponselmu. Kau bilang ibunya membantu memanipulasi data atas izin ayahmu, kan?"

"Ah, iya... Ayahku. Selalu saja begitu jika menyangkut Simona. Aku selalu dituntut belajar demi nilai bagus, tapi pada Simona dia selalu penuh maklum. Kadang aku merasa seperti anak pungut Victor Ricci. Bahkan muncul pikiran liar kalau aku perlu tes DNA."

Leon terdiam sejenak, tatapannya yang semula penuh godaan berubah menjadi lebih serius. Ia mengusap ibu jarinya di pipi Ivanna, seolah sedang menakar beban yang selama ini dipendam wanita itu sendirian.

"Jika kau butuh kepastian, aku bisa mengatur tes DNA itu secara rahasia sore ini juga. Tapi ingat satu hal, Ivanna; tidak peduli siapa darah yang mengalir di tubuhmu, kaulah yang memegang kendali atas Luxe Agency, bukan pria tua itu ataupun adik tirimu yang tidak kompeten."

"Baiklah, nanti aku ambil sampel rambutnya. Sekarang, pergilah. Ada pihak PH yang ingin meminang talent-ku. Apa kau juga ingin jadi artis di bawah manajemenku?" goda Ivanna.

Ivanna mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang, ia tersenyum tipis sambil merapikan kerah kemeja Leon yang tidak berantakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, kecurigaan soal tes DNA itu mulai berakar kuat.

Leon tertawa, suara bariton yang terdengar sangat berwibawa. Bukannya menjauh, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, memerangkap Ivanna di antara meja kerja dan dadanya yang bidang.

"Artis? Aku tidak suka berbagi perhatian dengan publik, Ivanna. Aku lebih suka menjadi 'pemilik' di balik layar yang hanya punya satu bintang utama untuk dipuja. Dan bintang itu adalah kau. Jadi, fokuslah pada rapatmu, aku akan menunggu tagihan 'pembayaranku' nanti malam."

Setelah ciuman singkat yang meninggalkan jejak panas di bibir, Leon pamit dengan senyum penuh arti. Begitu pintu tertutup, Ivanna segera meraih ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor pribadi berisi file P*F.

Ivanna membukanya. Itu adalah transkrip nilai asli Simona. Matanya menyusuri deretan nilai yang nyaris semuanya buruk, lengkap dengan catatan ketidakhadiran yang memalukan.

"Leonardo De Luca benar-benar mafia, semua dia tahu," gumam Ivanna.

Ada kengerian sekaligus rasa aman yang aneh menyelinap di hatinya. Leon tidak hanya memiliki uang, tapi juga jaringan informasi yang bisa menembus sistem apa pun. Dengan dokumen ini di tangannya, Ivanna tahu bahwa permainan formalitas yang ia susun pagi tadi akan menjadi panggung eksekusi yang sempurna bagi Simona.

Ia menyimpan file itu, lalu bersiap menyambut pihak PH dengan senyum paling menawan—sekaligus paling mematikan—yang pernah ia miliki.

****

Di kamarnya, Simona menelepon Matteo dengan tidak sabar. Begitu panggilan diangkat, ia langsung menyerang. "Ck, lama sekali angkatnya! Kau pasti berusaha menemuinya, kan?"

"Berisik, Simona. Aku harus menemui pengacara investorku, jadi jangan meneleponku. Ini rapat penting. Ya, aku menemuinya pagi ini, tapi gilanya Ivanna sudah punya kekasih baru. Kau tahu siapa?"

"Leonardo De Luca? Si boneka kayu kaku itu semalam diantar dengan Bugatti Chiron-nya? Kenapa kau cemburu, Matteo? Jangan bilang kau menyesal!"

Matteo tertawa mengejek Simona justru membuat harga dirinya semakin terbakar.

"Bodoh! Dia Ivanna akan menghancurkan kita jika kau terus bersikap kekanak-kanakan!"

Simona mencibir, ia melempar tubuhnya ke kasur sambil memutar-mutar ujung rambutnya dengan tatapan meremehkan.

"Halah, kau saja yang pengecut. Begitu aku jadi direksi, aku yang akan memikat Leon ke sisiku."

"Jangan kurang ajar, Simona! Kau harus tetap di sisiku atau aku akan membuka topengmu di depan ayahmu!"

Simona memucat seketika. "Jangan, tentu saja tidak. Aku hanya bercanda, Matteo," balasnya cepat dengan nada manja yang dipaksakan.

Namun, di balik telepon itu, wajah Simona kembali mengeras. Ia berbohong. Pikirannya sudah menyusun rencana lain yang jauh lebih licik sejak semalam. Baginya, apa pun yang dimiliki Ivanna tidak boleh lebih baik darinya. Jika Ivanna memiliki sesuatu yang lebih berharga—termasuk pria sekelas Leon—maka Simona merasa berhak untuk merampasnya, persis seperti yang ia lakukan pada Matteo.

Matteo mendengus kasar, ia tidak sadar sedang menghadapi ular yang siap mematuknya kapan saja.

"Bagus. Urus dokumenmu dan jangan buat masalah lagi. Aku tidak punya waktu untuk drama bodohmu."

Simona mematikan sambungan telepon dengan kasar, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar itu.

"Nikmati saja sisa waktumu bersama Leon, Ivanna. Karena apa yang kau banggakan hari ini, akan menjadi milikku besok pagi."

****

Ivanna menatap layar monitor saat sebuah notifikasi email masuk. Pengirimnya adalah Simona Rossi. Di sana terlampir surat lamaran formal yang sangat rapi—tentu saja hasil ketikan orang lain—lengkap dengan transkrip nilai yang sudah "disulap".

Ivanna tertawa melihat deretan angka 4.0 di hampir semua mata kuliah.

"Luar biasa. Dari mahasiswa abadi yang hampir drop out, tiba-tiba menjadi lulusan terbaik dengan nilai fantastis," gumam Ivanna sinis. "Bahkan penipu paling amatir pun tahu kalau ini terlalu tidak masuk akal untuk otak sekecil dia."

Ia membandingkan dokumen di layar dengan file P*F asli yang dikirimkan Leon tadi. Perbedaannya sangat kontras.

Ivanna menyandarkan punggungnya, Ia tidak langsung membalas email itu dengan kemarahan, melainkan dengan sebuah undangan resmi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Leon   7. Jebakan Dipasang

    Ivanna memanggil Gracio selaku Kepala HRD dan Sonia sang Manajer Keuangan, ke ruanganya. Tanpa banyak bicara, ia memutar monitornya, memperlihatkan perbandingan dua dokumen: transkrip nilai palsu yang dikirim Simona dan data asli dari Leon. "Perhatikan ini. Simona Rossi, adik tiriku, akan masuk ke jajaran direksi besok. Memegang kendali di divisi pengadaan dan promosi. Biarkannya dia merasa berkuasa." Kedua staf senior itu saling berpandangan, bingung dengan keputusan bos mereka. "Maksudmu, kami harus membiarkan dia mengelola anggaran besar dengan kapabilitas compang-camping seperti ini? Ini berbahaya, Ivanna," tanya Gracio ragu. Ivanna tersenyum tipis. "Bukan membiarkan, tapi menjebak. Pantau setiap sen yang dia keluarkan. Aku tahu dia butuh uang banyak untuk menutupi kebutuhan pribadinya. Begitu dia menyentuh dana pengadaan atau memanipulasi biaya promosi, aku ingin bukti otentiknya ada di mejaku. Kita tidak hanya akan memecatnya, kita akan memastikan dia keluar dari kantor ini d

  • Obsesi Gila Leon   6. Nilai Asli

    Ivanna mencebik, namun tetap saja semburat merah tipis muncul di pipinya akibat godaan terang-terangan Leon. Ia melepaskan tangan Leon dari dagunya, meski tetap membiarkan pria itu merangkul pinggangnya."Jangan terlalu percaya diri, Leon. Aku belum sepenuhnya setuju untuk menjadi 'milikmu' secara harfiah. Tapi harus kuakui, caramu mengusirnya tadi sangat memuaskan. Sekarang, beri tahu aku, kapan tim auditmu mulai bergerak ke Luxe Agency? Aku ingin Simona merangkak di kakiku sebelum minggu ini berakhir.""Tunggu saja surat lamarannya. Aku baru saja mengirimkan transkrip nilai yang aslinya yang merah menyala ke ponselmu. Kau bilang ibunya membantu memanipulasi data atas izin ayahmu, kan?""Ah, iya... Ayahku. Selalu saja begitu jika menyangkut Simona. Aku selalu dituntut belajar demi nilai bagus, tapi pada Simona dia selalu penuh maklum. Kadang aku merasa seperti anak pungut Victor Ricci. Bahkan muncul pikiran liar kalau aku perlu tes DNA."Leon terdiam sejenak, tatapannya yang semula p

  • Obsesi Gila Leon   5. Kesepakatan Gelap

    Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya, seperti biasa Pria itu kadang datang pagi-pagi menemuiku. Dulu aku menerimanya dengan tangan terbuka, sekarang? cih! Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu. "Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi. Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya. "Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan." Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah mas

  • Obsesi Gila Leon   4. Ada Syaratnya

    "Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?" Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan penghargaan oscar, Simona pasti menang karena jago akting. "Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya." ***** Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon. "Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor

  • Obsesi Gila Leon   3. Ciuman Panas

    Malam itu di rumah... "Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?" "Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya." "Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!" "Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?" "Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas. "Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku." Suara deru mesin mobil mewah yang

  • Obsesi Gila Leon   2. Masih Utuh

    Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya. Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita." **** Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut. Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut. "Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang." "Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status