Mag-log inHai jangan lupa masukan novel ketigaku dikoleksi rak bacaan kalian ya... -stay sweet like Vanilla Ice Creamm 🍦
Ivanna memanggil Gracio selaku Kepala HRD dan Sonia sang Manajer Keuangan, ke ruanganya. Tanpa banyak bicara, ia memutar monitornya, memperlihatkan perbandingan dua dokumen: transkrip nilai palsu yang dikirim Simona dan data asli dari Leon. "Perhatikan ini. Simona Rossi, adik tiriku, akan masuk ke jajaran direksi besok. Memegang kendali di divisi pengadaan dan promosi. Biarkannya dia merasa berkuasa." Kedua staf senior itu saling berpandangan, bingung dengan keputusan bos mereka. "Maksudmu, kami harus membiarkan dia mengelola anggaran besar dengan kapabilitas compang-camping seperti ini? Ini berbahaya, Ivanna," tanya Gracio ragu. Ivanna tersenyum tipis. "Bukan membiarkan, tapi menjebak. Pantau setiap sen yang dia keluarkan. Aku tahu dia butuh uang banyak untuk menutupi kebutuhan pribadinya. Begitu dia menyentuh dana pengadaan atau memanipulasi biaya promosi, aku ingin bukti otentiknya ada di mejaku. Kita tidak hanya akan memecatnya, kita akan memastikan dia keluar dari kantor ini d
Ivanna mencebik, namun tetap saja semburat merah tipis muncul di pipinya akibat godaan terang-terangan Leon. Ia melepaskan tangan Leon dari dagunya, meski tetap membiarkan pria itu merangkul pinggangnya."Jangan terlalu percaya diri, Leon. Aku belum sepenuhnya setuju untuk menjadi 'milikmu' secara harfiah. Tapi harus kuakui, caramu mengusirnya tadi sangat memuaskan. Sekarang, beri tahu aku, kapan tim auditmu mulai bergerak ke Luxe Agency? Aku ingin Simona merangkak di kakiku sebelum minggu ini berakhir.""Tunggu saja surat lamarannya. Aku baru saja mengirimkan transkrip nilai yang aslinya yang merah menyala ke ponselmu. Kau bilang ibunya membantu memanipulasi data atas izin ayahmu, kan?""Ah, iya... Ayahku. Selalu saja begitu jika menyangkut Simona. Aku selalu dituntut belajar demi nilai bagus, tapi pada Simona dia selalu penuh maklum. Kadang aku merasa seperti anak pungut Victor Ricci. Bahkan muncul pikiran liar kalau aku perlu tes DNA."Leon terdiam sejenak, tatapannya yang semula p
Begitu sampai di kantor, Ivanna melangkah dengan tenang menuju ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang duduk santai di kursi kebesarannya, seperti biasa Pria itu kadang datang pagi-pagi menemuiku. Dulu aku menerimanya dengan tangan terbuka, sekarang? cih! Matteo Romano bangkit dengan senyum yang dulu menurutnya menawan, meski di mata Ivanna pria itu kini tak lebih dari sekadar benalu. "Kau lama sekali, Ivanna. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kau bahkan telah memblokir nomor telponku" ucap Matteo tanpa rasa bersalah, seolah pengkhianatannya semalam tidak pernah terjadi. Ivanna tetap berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan tatapan acuh, sementara matanya menyapu penampilan Matteo yang kini terlihat "murah" di matanya. "Keluar, Matteo. Ruangan ini hanya untuk orang yang punya masa depan, bukan untuk pria bangkrut yang datang hanya untuk mengemis belas kasihan." Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Leon melangkah mas
"Simona punya potensi besar sebagai direksi. Ivanna tidak seharusnya mencampurkan urusan pribadi atau rasa cemburunya ke dalam pekerjaan. Itu tidak profesional. Bagaimana kalau kau yang turun tangan dan memberikan posisi itu pada Simona?" Victor menghela napas panjang, tampak mulai termakan omongan istrinya, sementara Simona berdiri di belakang ibunya sambil memasang wajah sedih. Jika ada penobatan penghargaan oscar, Simona pasti menang karena jago akting. "Kau benar, Adrianna. Bisnis adalah bisnis. Besok aku akan bicara pada Ivanna agar dia memberikan kursi direksi itu untuk adiknya." ***** Ivanna yang mendengar itu di balik pintu yang terbuka sedikit hanya menaikkan alisnya. "Pelacur itu mau coba-coba bekerja di Luxe Agency? Jangan mimpi." Dia langsung berkelebat masuk ke kamar, menguncinya, dan meraih ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Leon. "Baiklah, Leon, kita lihat. Apa kau benar-benar berkuasa untuk membantuku menjatuhkan dua orang itu?" Ivanna mendial nomor
Malam itu di rumah... "Simona, kenapa kamu pulang hanya berdua dengan Matteo? Di mana Ivanna?" "Huft, akhirnya sandiwara melelahkan selama bertahun-tahun ini usai. Dia memergoki saat aku bermesraan dengan Matteo, Bu. Jadi sekarang kita tidak perlu berpura-pura baik lagi padanya." "Apa? Bagaimana jika dia mengadu pada Victor, ayahnya? Kita bisa diusir, Simona!" "Ibu jangan khawatir, itu tidak akan terjadi. Bukankah Ayah sangat ketergantungan pada Ibu? Dia itu bucin dan bodoh. Hampir dua belas tahun aku memasang topeng kepalsuan ini demi Ibu. Bayangkan, dari usia sepuluh tahun hingga aku sekarang dua puluh dua tahun?" "Tapi ingat, Simona, Victor tidak sebodoh yang kau kira jika menyangkut putri kandungnya," bisik Adriana cemas. "Ibu, dengar. Ivanna itu lemah. Dia lebih memilih menangis daripada melawan," sahut Simona sombong sambil mengoleskan masker wajah, matanya berkilat penuh kemenangan. "Lagipula, Matteo sudah sepenuhnya dalam genggamanku." Suara deru mesin mobil mewah yang
Matteo menyesap liquor dengan penuh amarah dan kecewa. Ya, Simona benar. Awalnya dia tak peduli jika Ivanna mengendus kebusukan mereka. Namun melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata tak hanya Ivanna yang terluka, tapi juga dirinya. Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona kembali menjeratnya dalam gairah. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu malam ini sebelum Ivanna benar-benar menghancurkan kita." **** Di dalam kamar yang hanya diterangi keremangan kota, suasana terasa semakin panas dan menyesakkan. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus setiap inci rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut. Leon bergerak dengan ritme yang dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan setiap detik kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga kusut. "Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang." "Hanya... kau, Leon," desah Ivanna dengan napas







