Se connecterSejak menerima tenggat tugas dari Dito, Manora tak lantas bergerak ugal-ugalan.Ia memilih memantau Irfan dari kejauhan, membaca pola dan kebiasaannya terlebih dahulu.Hingga siang itu, celah yang ia tunggu akhirnya terbuka lebar.Irfan tampak sedang menikmati makan siang seorang diri di sebuah restoran tenang, tak jauh dari kompulsi gedung NTV. Pria itu duduk santai di sudut meja, sesekali mengusap layar ponselnya sembari menanti pesanan tiba.Manora yang baru saja melangkah melewati pintu utama langsung memaku pandangannya.Ia menahan pijakan sejenak, mengolah raut wajahnya agar tampak terkejut yang alami."Pak Irfan?"Irfan mendongak, matanya memicing tipis. "Oh... Manora?"Manora melepaskan tawa renyah, begitu natural. "Pak Irfan makan siang di sini juga?"Irfan mengaggukan kepala singkat. "Iya, Kenzo bilang di sini ada makanan yang lagi viral dan wajib dicobain."Manora spontan terkekeh halus. "Ouh, jadi Pak Irfan makan di sini karena rekomedasi dari Kezo."Jemarinya lalu menyapu
"Kalau begitu... skema seperti apa yang bakal Anda mainkan?" Dito memiringkan kepalanya, menuntut perincian.Damar menyandarkan punggung ke kursi besi yang dingin. Rautnya terpoles tenang, tetapi kilat matanya memancarkan kalkulasi yang pekat."Irfan," cetus Damar rendah. "Kita harus seret dia masuk. Tapi buat yang satu ini, butuh pergerakan ekstra.""Katakan saja," desak Dito, memaku pandangannya."Citra orang itu terlalu bersih. Sama seperti Halim, dia salah satu senior yang posisinya teramat sakral dan dipercaya di NTV." Damar memberi jeda sejenak, mengumbar senyum miring. "Tapi saya hafal betul... sebersih apa pun rekam jejak seseorang, pasti ada celah busuknya.""Apa celahnya?""Wanita."Dito bungkam seketika."Jebak dia pakai umpan wanita," lanjut Damar berbisik. "Begitu kita pegang kartu matinya buat menekan, dia nggak bakal punya banyak opsi selain bertekuk lutut mengikuti semua kemauan kita."Lapis demi lapis taktik itu mulai benderang di benak Dito. "Setelah Irfan dalam geng
Dua hari berselang.Dito akhirnya melangkah mendatangi Damar.Sedannya berhenti mulus di pelataran area tahanan markas kepolisian. Usai melangkah keluar, Dito tak langsung memburu pintu masuk. Pria itu sempat mematung sejenak di sisi kendaraan, memaku pandangannya pada gedung beton dingin di hadapannya.Raut wajahnya tampak tenang tanpa riak, tetapi binar matanya sarat kalkulasi.Rangkaian percakapan ini telah ia matangkan berkali-kali di dalam kepala.Damar sedang berada di titik nadir yang paling pas untuk disudutkan—hancur, terbuang, dan pasti memelihara dendam pekat pada NTV.Kini tugas Dito cuma satu: membuat pria terbuang itu yakin bahwa uluran tangannya malam ini murni sebuah penyelemat, bukan sekadar pemanfaatan situasi.Usai mengembuskan napas pendek, Dito mengayunkan langkah masuk.Ia melewati prosedur pemeriksaan presisi, mengurus izin besuk, hingga akhirnya diarahkan petugas menuju ruang konsultasi yang lengang.Beberapa menit bergulir, engsel pintu di hadapannya berderit
Usai percakapan telepon itu usai, Malhera tidak lantas menginjak pedal gasnya.Ia masih mematung di balik kemudi, memandangi pendar layar ponsel yang perlahan meredup. Skenario yang semula terdengar sederhana di atas kertas, kini mulai memamerkan lekuk-lekuknya yang rumit.Kenzo bukan pion yang bisa disenggol begitu saja tanpa memantik tanya. Terlebih jika Ellena sampai mencium bau amis manipulasi ini, seluruh rancangan yang disiapkan bisa hancur berantakan dalam semalam.Tanpa membuang waktu, Malhera membuka kontak Dito lalu menekan tombol panggil.Hanya butuh dua nada dering sebelum suara di seberang menyapa."Ada apa?" intonasi Dito terdengar santai."Aku sudah menimbang soal Kenzo," potong Malhera langsung.Dito membisu, memberi ruang bagi Malhera untuk melanjutkan."Gimana cara kita memilin Kenzo ke dalam permainan ini tanpa membunyikan alarm kecurigaan siapa pun?"Dito tak lekas menyahut. Di ujung telepon, terdengar hembusan napas tipis saat pria itu menakar opsi."Dulu harusnya
Sore mulai luruh ketika sedan hitam Mahesa akhirnya membelah halaman rumah.Sepanjang perjalanan pulang, bayang-bayang percakapannya dengan Dito di restoran tadi masih kerap berseliweran di kepalanya.Ia sudah mengambil batas garis—sebuah keputusan kelam yang sejatinya harus sarat penyesalan dan rasa bersalah. Namun anehnya, Mahesa justru sanggup bersikap begitu tenang, seolah tak ada satu pun riak dosa yang baru saja ia perbuat.Begitu daun pintu bergeser, derap langkah kaki terdengar menyongsong dari arah ruang tengah."Mas!"Ellena muncul dengan binar wajah yang begitu berseri. Senyum hangatnya lekas merekah mendapati sang suami telah kembali. "Kamu sudah pulang?"Mahesa memaku pandangannya sejenak. "Iya, Sayang."Ellena mengikis jarak, meraih jas yang disampirkan di lengan Mahesa dengan gestur perhatian. "Hari ini aku bosan banget di rumah."Mahesa menaikkan sebelah alisnya, mengumbar senyum tipis. "Bosan?""Iya!" Ellena terkekeh pelan. "Dari pagi aku cuma bolak-balik nonton TV. T
"Dito." Suara Mahesa meluncur berat, dalam, dan sarat teguran. "Kamu tahu persis seberapa besar cintaku pada Ellena. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Untuk apa?"Dito sama sekali tak bergeming. Raut wajahnya tenang tanpa riak terkejut."Untuk keuntungan," sahut Dito santai. Ia meraih gelasnya, menyesap isinya sedikit, lalu kembali menatap Mahesa. "Dan tentu... untuk kepuasan Anda sendiri."Kening Mahesa berkerut dalam."Pria punya lebih dari satu wanita itu bukan hal yang tabu di kalangan kita, Pak. Apalagi untuk pria dengan posisi dan power setinggi Anda." Dito meletakkan gelasnya kembali. "Dan jujur saja, jangan berpura-pura Anda tidak bisa melihat pesona Malhera."Mahesa spontan memalingkan wajah, mengunci pandangannya ke arah lain. Ia enggan mendengarkan racun itu lebih jauh.Namun Dito justru makin di atas angin. Intonasi suaranya makin tenang dan terkontrol."Jujur saja, Pak. Saya punya alasan kuat kenapa menyodorkan ini kepada Anda."Mahesa membisu. Keheningan m







