Share

Bab 3 | Minta Anak

Penulis: Matchaavodka
last update Tanggal publikasi: 2026-01-20 18:25:15

"Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"

Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu.

"Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas.."

"Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.

Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya.

"Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.

Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu darimana dan siapa perempuan itu mengetahui latar belakangnya.

"Apa perlakukanku selama ini kurang dan tidak memuaskanmu? Pantakah kau memberikan berbagai macam tuduhan kejam itu setelah semua yang telah aku lakukan padamu dan Roez?" Mathias berbicara selembut mungkin.

Tetapi bukannya luluh, Serafia justru makin meradang.

"Perlakukan manismu itu palsu dan hanya untuk menutupi kedok aslimu, akupun nyaris tertipu. Kau hanya menjadikan aku alat untuk mencapai tujuanmu.." lontar Serafia dengan suara yang sedikit bergetar. Tanpa sadar ia lampiaskan sesuatu yang selalu ia tahan dalam hatinya.

Matthias mengambil jeda sebentar setelah Serafia melontarkan ucapannya barusan, ia tak mengelak ataupun mendebat.. hanya sorot matanya yang konsisten tertuju pada manik hazel sang wanita.

Ia tertegun sebentar, sebelum menimpali perkataan Serafia dengan sebuah kalimat yang cukup mencengangkan.

"Lebih baik begini saja, mari kita membuat sebuah kesepakatan, aku akan menceraikanmu dengan sukarela jika semua tuduhan itu berhasil kau buktikan. Tapi jika sebaliknya, maka kau harus memberikanku kompensasi yang besar," tutur Matthias.

"Kesepakatan dan kompensasi macam apa lagi? yang akan lebih cepat menguntungkanmu?"

"Kau harus mau melahirkan anak untukku!" lugas Matthias.

"Kau memang sudah gila, ya!" maki Serafia. "Dalam mimpimu pun itu tidak akan terwujud."

"Kau yang membuatku gila," imbuh Matthias santai.

Tawa pahit keluar dari mulut Serafia, seolah kalimat Matthias barusan adalah sesuatu yang terasa lucu juga memuakkan.

"Berhentilah menampakan karakter palsu yang kau buat-buat ini Matthias, obsesi liarmu itu memuakkan. Aku tahu betul karakter aslimu yang manipulatif dan brengsek itu."

"Jika dengan cara brngsek aku bisa mempertahankanmu, akan aku lakukan." Ada seringaian kecil di sudut bibir Matthias.

Tingkah pria itu bukan lagi membuat Serafia bergejolak emosi, tapi ia justru semakin muak dan lelah menghadapi suaminya ini.

"Malas aku meladeni orang gila penuh kepalsuan sepertimu!"

Serafia mencoba berjalan melewati Matthias, namun pria itu tak kalah sigap menghalangi jalannya dengan tubuhnya yang tegap.

"Hei.. kau mau kemana? Aku sudah memintamu masuk mobil kan?"

"Menyingkir dari hadapanku," bentak Serafia. "Dan daripada kau sibuk menampakkan kepalsuanmu padaku, lebih baik kau pakai waktumu untuk melindungi simpananmu itu, karna aku pasti akan mencarinya sampai dapat."

Mungkin Matthias kurang peka hingga tak menyadarinya—selain kemarahan, ada kecemburuan dalam setiap kalimat Serafia ketika menyebut tentang wanita 'simpanan' dan Serafia sangat berusaha keras menutupi itu.

Perasaan wanita itu sangat berkecambuk, campur aduk dan sulit diuraikan perasaan mana yang mendominasi. Kecewa, marah, muak, dan kecemburuannya bercampur yang membuat suasana hatinya tak pernah stabil.

Matthias mendengus gusar seraya memijit pelan pangkal hidungnya. Ia juga lelah, terlebih harus menghadapi tingkah istrinya ini. Namun ia tak punya pilihan lain selain memenangkan perdebatan ini dan menaklukan istrinya—agar Serafia mau ikut pulang bersamanya.

"Ini peringatan terakhir, kau mau pulang baik-baik.. atau aku harus memakai cara memaksa?"

"Kau paksa pun, aku tidak mau pulang bersamamu," bantah Serafia.

Mulai kehabisan cara, Matthias dengan terpaksa menggunakan cara yang sedikit kasar.

Sebelum Serafia sempat bereaksi, Matthias merendahkan tubuhnya dan dalam satu gerakan cepat, ia membopong Serafia ke pundaknya seolah wanita itu seringan kapas.

"Matthias! Turunkan aku! Lepaskan!" Serafia memukul-mukul punggung Matthias dengan kepalan tangannya, kakinya menendang-nendang udara.

Meski caranya memaksa tapi Matthias tetap berusaha hati-hati memasukan Serafia kedalam kursi penumpang, tak peduli seberapa kuat Serafia memberontak, Matthias tetap berlaku sesukanya.

"Jalan," perintah Matthias pada sopirnya begitu ia ikut masuk dan mengunci pintu secara otomatis.

Di dalam mobil, Serafia terduduk dengan napas memburu, rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap Matthias dengan kebencian murni.

"Calon ibu hamil tidak boleh kelelahan. Lebih baik kau tidur untuk mengumpulkan energimu.. atau perlu aku tiduri lagi disini?" ceplos Matthias.

"Aku tidak pernah membenci orang sedalam ini Matthias," geram Serafia.

"Kurangi rasa bencimu, perasaan benci itu erat dan bisa berefek pada hal lain ... seperti rasa cinta," ujar Matthias sambil melirik Serafia dengan ekor mata, ekspresinya agak datar—seolah ia sedang memastikan sesuatu.

"Perasaan semacam itu akan sangat merepotkan kita berdua, bukan?" lanjutnya lagi.

Tatapan tajam Serafia sedikit meredup, kata-kata Matthias sesaat membuatnya tertegun dengan raut yang sulit diartikan, sebelum akhirnya dia membuang wajah dan melempar tatapannya pada kaca jendela mobil.

"Dasar brengsek."

Sementara itu, beberapa puluh meter dari posisi mobil Matthias yang mulai melaju, seorang pria bertopi hitam duduk di dalam sebuah mobil sedan biasa yang terparkir di bawah pohon rindang.

Matanya tidak lepas dari kaca spion, memperhatikan kepergian pasangan itu.

Pria itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia menekan satu nomor di daftar kontak cepat seolah ingin melaporkan kejadian barusan.

"Halo?" Suara berat di seberang telepon menyahut.

"Lapor, Tuan," ucap pria bertopi itu dengan suara rendah.

"Rencana kita gagal. Hakim sudah memutuskan untuk menolak gugatan cerai Serafia. Matthias tampaknya bertindak mendahului kita dan berada satu langkah di depan dengan membayar hakim lebih dulu." Pria bertopi itu memaparkan.

Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar suara geraman rendah yang penuh amarah.

"Keparat!"

Suara benda pecah, mungkin gelas kaca—terdengar samar di latar belakang. Sepertinya pria di seberang telepon itu tengah melampiaskan kemarahan atas kegagalan rencananya.

"Sialan! Matthias benar-benar licik," desis pria paruh baya di balik telepon itu.

Padahal dia sudah membayar mahal untuk memastikan perpisahan antara Aurora dan Matthias, tapi Matthias tetap bisa membalikkan keadaan.

"Apa langkah kita selanjutnya, Tuan? Matthias baru saja membawa Serafia pulang secara paksa." Pria suruhan itu kembali berbicara.

Dengusan gusar terdengar di seberang telepon. Tampaknya pria itu juga tengah berpikir. Dari gelagatnya, ia jelas bukan orang asing untuk Matthias ataupun Serafia.

"Biarkan mereka untuk saat ini, tunggu instruksiku sebelum kita jalankan plan lain." Suara di balik telepon itu kini terdengar dingin dan tajam.

"Baik tuan," balas pria suruhan itu patuh.

"Apapun caranya.. aku harus memisahkan mereka dan membuang jauh anak pungut itu dari kehidupan Serafia juga Roez, sebelum dia semakin memperumit jalanku.."

"Jangan sampai Serafia semakin dia kuasai dan tunduk padanya.. terlebih dengan sifat Sera yang sempat luluh dan nyaris Matthias taklukkan, bahkan mungkin sudah berhasil..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 8 | Hukuman Liar (18 only)

    Sudah dua hari Rosena berada di kediaman ini, dan sepertinya Serafia cukup menurut untuk tidak menampakan wajah di depan sang ibu—setidaknya untuk saat ini, karna itu pula.. walau berada di rumah yang sama, Serafia hanya berani memperhatikan ibunya dari jauh."Ibu Sudah tidur?" Serafia bertanya pada Lili—maid yang cukup dia percaya."Sudah nona, tadi setelah berjalan-jalan di taman, Tuan Matthias mengantar Nyonya Rosena ke kamar.""Hm.." Serafia mengangguk-anggukan kepalanya paham. Jujur dia sangat menentang dan tak terima akan kedekatan Matthias dan Rosena. Ia merasa tak seharusnya Rosena bergantung pada seseorang yang menjadi dalang kemalangan mereka saat ini. Namun, untuk saat ini Serafia juga tidak bisa berbuat apa-apa, suka tidak suka dia harus menelan fakta jika ibunya lebih nyaman dan percaya pada Matthias dibanding dirinya."Nona ingin saya buatkan sesuatu? Sudah dua hari ini saya lihat Nona jarang makan, makan malamJuga selalu terlewat," ujar Lili perhatian. Ia sadar betu

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 7 | Kewajiban memberi anak

    "Benar kau punya wanita lain?" Lauren bertanya secara beruntun. "Dan apa mendiang Morgan dan Nikolas tahu jika kau bagian dari keluarga Voinstein?"Padahal nadanya cukup tenang tapi Matthias merasa di introgasi disini. Pria itu diam cukup lama, membiarkan pertanyaan Lauren mengambang tanpa jawaban.Diamnya Matthias membuat Lauren kembali berbicara seolah mendesak agar lelaki itu segera merespon."Selama ini Bibi tidak pernah mencampuri urusan pribadimu. Bibi selalu percaya kau berada di jalan yang benar. Tapi saat ini bibi merasa berhak dan perlu meluruskan masalah ini.. Agar jika memang ada kesalahpahaman, bisa membantu menjelaskannya pada Serafia," tuturnya.Kali ini akhirnya Matthias memberi tanggapan, tapi dengan ucapan yang agak ambingu."Maaf.. tapi untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan apapun.""Maksudmu?" Kening wanita paruh baya itu mengerut, tak sedikitpun dia alihkan padangan dari sang lawan bicara.Di tengah ruang keluarga yang agak senyap karna sudah mendekati tengah

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 6 | Kebenaran wanita simpanan

    "Kenapa begitu?" Serafia melayangkan protes mendengar penuturan Lauren. "Mengapa aku masih tak boleh menemui ibu?""Bukan tak boleh, tapi untuk saat ini tunda dulu keinginanmu. Ini bukan hanya demi kebaikan ibumu, tapi demi kebaikanmu juga," jelas Lauren.Tentu dia yang paling tahu keadaan Rosena dan memahami situasinya, karna selama sakit—Lauren lah yang mengurus kakak kandungnya itu."Dokter bilang ibumu belum seratus persen pulih, dia memang mulai bisa mengendalikan dirinya, tetapi beberapa hal masih dapat memicu dia lepas kontrol." Lauren memaparkan dengan hati-hati. Akan tetapi, Serafia juga sedang berada di suasana hati yang tak cukup baik. Sekalipun ia tahu dengan jelas alasan Lauren melarangnya, perempuan itu tetap keras kepaa. Ia denial—yakin kali ini ibunya akan menyambut dengan baik.Selama ini Serafia berharap besar jika ibunya sudah berubah dan tak lagi membencinya, karna itu lah ia rela menahan rindu selama berbulan-bulan pada Rosena demi pemulihan sang ibu. "Jika teru

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 5 | Tertangkap Basah

    Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 4 | Fakta mengejutkan

    "Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya. "Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya.""Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya."Serafia buka pintunya, aku ingin b

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 3 | Minta Anak

    "Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu."Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas..""Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya."Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status