LOGIN"Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"
Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu. "Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas.." "Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya. Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya. "Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia. Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu darimana dan siapa perempuan itu mengetahui latar belakangnya. "Apa perlakukanku selama ini kurang dan tidak memuaskanmu? Pantakah kau memberikan berbagai macam tuduhan kejam itu setelah semua yang telah aku lakukan padamu dan Roez?" Mathias berbicara selembut mungkin. Tetapi bukannya luluh, Serafia justru makin meradang. "Perlakukan manismu itu palsu dan hanya untuk menutupi kedok aslimu, akupun nyaris tertipu. Kau hanya menjadikan aku alat untuk mencapai tujuanmu.." lontar Serafia dengan suara yang sedikit bergetar. Tanpa sadar ia lampiaskan sesuatu yang selalu ia tahan dalam hatinya. Matthias mengambil jeda sebentar setelah Serafia melontarkan ucapannya barusan, ia tak mengelak ataupun mendebat.. hanya sorot matanya yang konsisten tertuju pada manik hazel sang wanita. Ia tertegun sebentar, sebelum menimpali perkataan Serafia dengan sebuah kalimat yang cukup mencengangkan. "Lebih baik begini saja, mari kita membuat sebuah kesepakatan, aku akan menceraikanmu dengan sukarela jika semua tuduhan itu berhasil kau buktikan. Tapi jika sebaliknya, maka kau harus memberikanku kompensasi yang besar," tutur Matthias. "Kesepakatan dan kompensasi macam apa lagi? yang akan lebih cepat menguntungkanmu?" "Kau harus mau melahirkan anak untukku!" lugas Matthias. "Kau memang sudah gila, ya!" maki Serafia. "Dalam mimpimu pun itu tidak akan terwujud." "Kau yang membuatku gila," imbuh Matthias santai. Tawa pahit keluar dari mulut Serafia, seolah kalimat Matthias barusan adalah sesuatu yang terasa lucu juga memuakkan. "Berhentilah menampakan karakter palsu yang kau buat-buat ini Matthias, obsesi liarmu itu memuakkan. Aku tahu betul karakter aslimu yang manipulatif dan brengsek itu." "Jika dengan cara brngsek aku bisa mempertahankanmu, akan aku lakukan." Ada seringaian kecil di sudut bibir Matthias. Tingkah pria itu bukan lagi membuat Serafia bergejolak emosi, tapi ia justru semakin muak dan lelah menghadapi suaminya ini. "Malas aku meladeni orang gila penuh kepalsuan sepertimu!" Serafia mencoba berjalan melewati Matthias, namun pria itu tak kalah sigap menghalangi jalannya dengan tubuhnya yang tegap. "Hei.. kau mau kemana? Aku sudah memintamu masuk mobil kan?" "Menyingkir dari hadapanku," bentak Serafia. "Dan daripada kau sibuk menampakkan kepalsuanmu padaku, lebih baik kau pakai waktumu untuk melindungi simpananmu itu, karna aku pasti akan mencarinya sampai dapat." Mungkin Matthias kurang peka hingga tak menyadarinya—selain kemarahan, ada kecemburuan dalam setiap kalimat Serafia ketika menyebut tentang wanita 'simpanan' dan Serafia sangat berusaha keras menutupi itu. Perasaan wanita itu sangat berkecambuk, campur aduk dan sulit diuraikan perasaan mana yang mendominasi. Kecewa, marah, muak, dan kecemburuannya bercampur yang membuat suasana hatinya tak pernah stabil. Matthias mendengus gusar seraya memijit pelan pangkal hidungnya. Ia juga lelah, terlebih harus menghadapi tingkah istrinya ini. Namun ia tak punya pilihan lain selain memenangkan perdebatan ini dan menaklukan istrinya—agar Serafia mau ikut pulang bersamanya. "Ini peringatan terakhir, kau mau pulang baik-baik.. atau aku harus memakai cara memaksa?" "Kau paksa pun, aku tidak mau pulang bersamamu," bantah Serafia. Mulai kehabisan cara, Matthias dengan terpaksa menggunakan cara yang sedikit kasar. Sebelum Serafia sempat bereaksi, Matthias merendahkan tubuhnya dan dalam satu gerakan cepat, ia membopong Serafia ke pundaknya seolah wanita itu seringan kapas. "Matthias! Turunkan aku! Lepaskan!" Serafia memukul-mukul punggung Matthias dengan kepalan tangannya, kakinya menendang-nendang udara. Meski caranya memaksa tapi Matthias tetap berusaha hati-hati memasukan Serafia kedalam kursi penumpang, tak peduli seberapa kuat Serafia memberontak, Matthias tetap berlaku sesukanya. "Jalan," perintah Matthias pada sopirnya begitu ia ikut masuk dan mengunci pintu secara otomatis. Di dalam mobil, Serafia terduduk dengan napas memburu, rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap Matthias dengan kebencian murni. "Calon ibu hamil tidak boleh kelelahan. Lebih baik kau tidur untuk mengumpulkan energimu.. atau perlu aku tiduri lagi disini?" ceplos Matthias. "Aku tidak pernah membenci orang sedalam ini Matthias," geram Serafia. "Kurangi rasa bencimu, perasaan benci itu erat dan bisa berefek pada hal lain ... seperti rasa cinta," ujar Matthias sambil melirik Serafia dengan ekor mata, ekspresinya agak datar—seolah ia sedang memastikan sesuatu. "Perasaan semacam itu akan sangat merepotkan kita berdua, bukan?" lanjutnya lagi. Tatapan tajam Serafia sedikit meredup, kata-kata Matthias sesaat membuatnya tertegun dengan raut yang sulit diartikan, sebelum akhirnya dia membuang wajah dan melempar tatapannya pada kaca jendela mobil. "Dasar brengsek." Sementara itu, beberapa puluh meter dari posisi mobil Matthias yang mulai melaju, seorang pria bertopi hitam duduk di dalam sebuah mobil sedan biasa yang terparkir di bawah pohon rindang. Matanya tidak lepas dari kaca spion, memperhatikan kepergian pasangan itu. Pria itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia menekan satu nomor di daftar kontak cepat seolah ingin melaporkan kejadian barusan. "Halo?" Suara berat di seberang telepon menyahut. "Lapor, Tuan," ucap pria bertopi itu dengan suara rendah. "Rencana kita gagal. Hakim sudah memutuskan untuk menolak gugatan cerai Serafia. Matthias tampaknya bertindak mendahului kita dan berada satu langkah di depan dengan membayar hakim lebih dulu." Pria bertopi itu memaparkan. Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar suara geraman rendah yang penuh amarah. "Keparat!" Suara benda pecah, mungkin gelas kaca—terdengar samar di latar belakang. Sepertinya pria di seberang telepon itu tengah melampiaskan kemarahan atas kegagalan rencananya. "Sialan! Matthias benar-benar licik," desis pria paruh baya di balik telepon itu. Padahal dia sudah membayar mahal untuk memastikan perpisahan antara Aurora dan Matthias, tapi Matthias tetap bisa membalikkan keadaan. "Apa langkah kita selanjutnya, Tuan? Matthias baru saja membawa Serafia pulang secara paksa." Pria suruhan itu kembali berbicara. Dengusan gusar terdengar di seberang telepon. Tampaknya pria itu juga tengah berpikir. Dari gelagatnya, ia jelas bukan orang asing untuk Matthias ataupun Serafia. "Biarkan mereka untuk saat ini, tunggu instruksiku sebelum kita jalankan plan lain." Suara di balik telepon itu kini terdengar dingin dan tajam. "Baik tuan," balas pria suruhan itu patuh. "Apapun caranya.. aku harus memisahkan mereka dan membuang jauh anak pungut itu dari kehidupan Serafia juga Roez, sebelum dia semakin memperumit jalanku.." "Jangan sampai Serafia semakin dia kuasai dan tunduk padanya.. terlebih dengan sifat Sera yang sempat luluh dan nyaris Matthias taklukkan, bahkan mungkin sudah berhasil..."Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti
"Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya. "Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya.""Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya."Serafia buka pintunya, aku ingin b
"Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu."Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas..""Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya."Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu dar
"Menimbang semua bukti dan keterangan saksi, Majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh Pemohon." Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada datar oleh hakim beberapa saat yang lalu, bergaung di kepala Serafia seperti bunyi lonceng kematian bagi segala harapannya."Sial.. Hakim palsu, pengadilan sinting. Akan aku tuntut kalian semua. " Serafia melontarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.Suasana hatinya sudah sangat buruk sejak kejadian tadi pagi, dia pikir kemalangannya tadi malam— dijebak tidur bersama Matthias, akan dihadiahi pagi ini dengan gugatannya cerainya yang di terima, tetapi sial.. Serafia gagal menjadi janda.Gugatan cerai yang di ajukan dan ia yakini akan memberinya kebebasan, ditolak.Di sampingnya, langkah kaki yang tenang dan teratur berirama dengan derap heelsnya yang tergesa-gesa. Sudah sejak tadi Matthias mengikuti sang wanita dan menyaksikan kegeraman wanit itu dengan senyum yang tertahan."Perlu aku gendong kau kembali pulang k
"Matthias, berhenti. Aku sudah tidak kuat." Dengan napas yang tersenggal-senggal Serafia berusaha menghentikan kegiatan pria yang sejak sejam lalu menjamah tubuhnya.Sidang cerai dimulai besok, kota London juga sudah memasuki waktu dini hari, tapi bukannya mempersiapkan.. pasutri yang sebentar lagi berpisah ini justru bergumul panas disini."Jangan berpura-pura tak menikmatinya, Sera. Aku hanya tidak menyentuhmu beberapa minggu, dan nyatanya kita sudah melakukan ini cukup sering," goda Matthias di tengah erangan dan napasnya yang memburu."Ah.." Desahan Serafia mulai berganti jadi rintihan.Kesadarannya di bawah rata-rata, bahkan sejak aktivitas ini dimulai, ia seperti di bawah pengaruh sesuatu hingga tidak cukup mampu melawan Matthias yang berada diatasnya."Matthias.. sakit, kumohon berhenti."Bukannya berhenti, desahan yang mulai bercampur rintihan itu justru kian membuat Matthias bergejolak dan membakar gairahnya untuk melakukannya lebih dalam dan lebih gila lagi pada istrinya, se







