Home / Romansa / Obsesi Liar Tuan Misterius / Bab 5 | Tertangkap Basah

Share

Bab 5 | Tertangkap Basah

Author: Matchaavodka
last update Last Updated: 2026-02-11 14:52:00

Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya.

"Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.

Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin.

"Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersama

Seorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.

Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya.

Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya.

"Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat."

"Bukti seperti apa lagi paman?" tanya Serafia.

"Mungkin alasan yang membuat Matthias dan ayahmu berselisih beberapa hari sebelum kejadian, dan aktivitas mencurigakan apa saja yang Matthias lakukan sebelum kecelakan itu."

"Dan paman rasa, bukti semacam itu bisa kau temukan di ruang pribadi Matthias," ujar Miguel, suaranya parau tertelan bunyi detak jam dinding kuno.

Serafia merapatkan jubah wolnya, menatap keluar jendela ke arah jalanan London yang mulai basah oleh rintik hujan. "Maksud paman, ruang kerjanya di mansion?

Perkataan Serafia di beri anggukkan oleh pria paruh baya itu. "Apa kau bisa menggeledahnya tanpa ketahuan?"

Serafia berpikir sebentar. "Itu sebenarnya agak sulit.

Sebelumnya itu ruangan Ayah, dan memiliki sistem keamanan yang rumit. Tapi... akan coba aku usahakan."

Miguel mengangguk mendengarnya. Ia tidak mendesak, sebab ia tahu itu memang cukup sulit.

Sudah hampir satu tahun sejak tuduhan pelaku kecelakan itu semakin mengarah pada Matthias. Tetapi sejauh ini belum ada progres yang signifikan, satu-satunya informasi 'Gong' dan mencengangkan yang bisa mereka temukan adalah tentang latar belakang Matthias, dan itu pula yang semakin meyakinkan mereka jika Matthias adalah pelaku kecelakan tersebut.

"Saat ini kita hanya bisa fokus pada salah satunya," lanjut Miguel sambil menaruh cangkir porselennya dengan denting yang tajam. "Ingin fokus mengumpulkan bukti jika dia dalang di balik kecelakaan itu, atau bukti tentang wanita simpanan—"

"Fokus ke kasus kecelakaan saja," potong Serafia cepat, matanya berkilat dingin. "Untuk masalah dia memiliki simpanan, itu tidak penting dan aku tidak peduli. Itu hanya akan jadi bumbu tambahan saat aku menggugat cerai ulang nanti. Yang utama adalah membuatnya membayar mahal kematian Ayah dan Kakakku."

Miguel menghela napas, bangkit berdiri dan menepuk bahu keponakannya.

"Kau tenang saja. Paman akan berusaha semampu yang paman bisa. Morgan adalah satu-satunya sepupu paman, dan paman tidak akan pernah ikhlas atas kepergiannya yang tampak seperti 'kecelakaan' yang diatur dengan rapi."

Setelah berbicang, Serafia mengakhiri pertemuan tersebut.

Lalu tepat setelah ia meninggalkan ruangan Miguel, pintu samping kantor Miguel terbuka.

Ronald—suami dari bibi Serafia terlihat melangkah masuk dengan aroma cerutu yang kuat. Nampaknya ia sengaja menunggu Serafia pergi, untuk masuk kedalam sini.

Namun, Kedatangan lelaki itu tak disambut dengan baik oleh si pemilik ruangan. Miguel langsung mendecak tak suka saat melihatnya.

"Hanya orang yang aku izinkan masuk kemari, yang boleh menemuiku," sergah Miguel.

Tidak memperdulikan perkataan Miguel, Ronald tetap berjalan mendekati pria tersebut.

"Aturan itu tidak berlaku untukku," kata Ronald sembari mendukakan dirinya di hadapan Miguel

Tidak ada basa basi, pria paruh baya itu langsung berujar to the poin.

"Selama kuasa Matthias masih berada di atasmu, kau tidak akan pernah sanggup menyentuhnya apalagi menangkapnya, sekalipun dia pelaku pembunuhan itu," suara Ronald berat, penuh penekanan.

Miguel membuang wajahnya malas, kedua lelaki ini memang tidak begitu akur dan sedang berselisih paham, padahal sebelumnya mereka adalah sahabat.

"Kita juga tidak ada yang tahu seberapa besar power yang dia sembunyikan, terlebih dengan latar belakang keluarga kandungnya yang mengerikan itu." Lanjutnya kembali seraya berjalan menuju meja bar, menuangkan Scotch tanpa izin.

Miguel menyipitkan mata. "Tanpa kau beritahu, aku sudah tahu."

"Tapi kau tidak tahu harus melakukan apa dan mulai darimana kan?"

Perkataan Ronald berhasil membuat Miguel tergugu diam sejenak.

"Bukankan kita punya tujuan sama? Aku tidak akan pernah bosan untuk terus mengajakmu berjalan beriringan lagi, mari kita lupakan perselisihan yang lalu," tutur Ronald.

Belakangan ini ia memang cukup berusaha membujuk dan memperbaiki hubungan dengan Miguel, sekalipun sikap Miguel sejauh ini tetap konsisten. Entah ada masalah apa diantara mereka hingga membuat Miguel bersikeras menolak ajakan damai Ronald.

"Bagaimana?" Ronald menunggu jawaban.

Sementara itu..

Serafia tiba di kediamannya di Belgravia saat lonceng Big Ben terdengar lamat-lamat dari kejauhan.

Sepanjang perjalanan pulang, ia sibuk berkutak dengan isi pikirannya. Sejujurnya masuk ke ruangan kerja Matthias cukup mudah, yang sulit adalah mengakses isi ruangan tersebut, karna hampir semua berkas dan sesuatu yang bersifat penting Matthias taruh di dalam brankas.

Jadi Serafia harus memikirkan cara membuka brankas tersebut.

"Sepertinya dia belum pulang.. mobilnya juga belum ada." Monolog Serafia setelah memastikan tak ada kehadiran Matthias di rumah ini.

Ia melangkah menuju ruang kerja Matthias yang beruntung sandi pintunya ia ketahui. Dengan jantung berdegup kencang, ia masuk ke dalam ruangan yang minim cahaya dan beraoma parfum maskulin yang mahal.

Serafia mulai menyisir laci meja—hal yang lebih mudah dan gampang ia akses saat ini, dibanding membuka brankas itu.

Tak sengaja pendangannya tertuju pada sebuah amplop yang berhasil menyita perhatiannya.

Ia berusaha mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam sana, namun gerakan tangannya kalah cepat dari lampu gantung kristal di atasnya yang tiba-tiba menyala dan menyinari seisi ruangan yang tadinya redup akan cahaya.

Suasana berubah mencekam.

"Kau cari apa, sayang?"

Suara bariton itu muncul dari balik bayangan kursi kulit besar di sudut ruangan.

Matthias duduk di sana, menyesap cairan bening bersoda dari gelas kristal, matanya tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsa yang masuk ke perangkap.

Deg!

Serafia Terperanjat dengan mata membulat di tempatnya, jantungnya berapacu lebih kuat.

"Sial!" Serafia menggerutu manakala menyadari jika si pemilik ruangan berada disini, yang artinya sejak tadi Matthias sudah melihatnya datang dan mengamatinya.

"Kau mencari sesuatu ya?"

"Ingin aku bantu atau temani mungkin? Tapi ada bayaran mahal untuk itu.." ujar Matthias seraya ia bangkit dari duduknya dan melangkah tepat ke sisi Serafia.

Jelas Serafia sudah tertangkap basah bak pencuri, tapi ia menolak merasa demikian. Sekalipun situasinya terpojok, ia tetap memasang arogansinya.

"Mengapa kau harus repot-repot masuk kemari seperti pencuri, padahal jika kau meminta baik-baik, aku akan dengan senang hati mengizinkanmu—"

"Aku bukan pencuri!" sentak Serafia. "Ini ruangan milik ayahku, aku berhak dan bebas masuk kemari sesukaku, dan tanpa perlu izinmu!"

"Tapi sekarang, semua yang ada di ruangan ini adalah milikku," kata Matthias.

Srak!

Tangannya dengan cepat merebut amplop coklat ditangan Serafia, dan seolah sedang mengamankannya. Sontak, hal tersebut kian memicu kecurigaan sang wanita.

"Jadi sekalipun istriku, kau harus tetap meminta izin jika ingin masuk kemari, sayang!" tutur Matthias. Ia merapatkan diri pada Serafia.

Serafia siap mendebat, tapi ketukan pintu lebih dulu menyita atensinya, begitupun Matthias yang ikut menoleh kala menyadari kehadiran orang lain disana.

Keduanya kompak tertegun diam bercampur kaget melihat sosok wanita paruh baya yang kini berada di ambang pintu, dan juga tengah memandang kearah mereka.

"Bibi Lauren.." ucap sera begitu.

"Maaf mengganggu, tapi ini mendesak.. Bibi ingin bicara dengan kalian." Lauren berujar to the poin—menghiraukan raut wajah heran Matthias dan Serafia atas kedatangannya yang tiba-tiba itu.

Seketika Serafia beranjak dari hadapan Matthias—melupakan sejenak urusannya, ia beralih penuh pada Lauren lengkap dengan raut wajah penasaran.

"Tumben Bibi datang selarut ini, dan tanpa memberi kabar sebelumnya," kata Serafia.

"Bibi mengatar ibumu.. dia sudah pulang!"

Tiga kata terakhir yang Lauren ucapkan berhasil mengubah ekspresi di wajah Serafia, yang semula datar jadi antusias, bahkan terlihat riang.

"Ibu sudah pulang?" sahut Sera bersemangat.

Ia segera bergegas keluar dari ruangan itu—tak sabar menemui ibunya, tapi sebelum langkahnya menjauh, perkataan Lauren lebih dulu menyurutkan antusiasnya.

"Kata dokter kau tak boleh menemuinya dulu, atau memperlihatkan wajah padanya. Ibumu juga hanya ingin menemui Matthias!"

Deg!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 5 | Tertangkap Basah

    Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 4 | Fakta mengejutkan

    "Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya. "Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya.""Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya."Serafia buka pintunya, aku ingin b

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 3 | Minta Anak

    "Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu."Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas..""Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya."Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu dar

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 2 | Perceraian yang gagal

    "Menimbang semua bukti dan keterangan saksi, Majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh Pemohon." Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada datar oleh hakim beberapa saat yang lalu, bergaung di kepala Serafia seperti bunyi lonceng kematian bagi segala harapannya."Sial.. Hakim palsu, pengadilan sinting. Akan aku tuntut kalian semua. " Serafia melontarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.Suasana hatinya sudah sangat buruk sejak kejadian tadi pagi, dia pikir kemalangannya tadi malam— dijebak tidur bersama Matthias, akan dihadiahi pagi ini dengan gugatannya cerainya yang di terima, tetapi sial.. Serafia gagal menjadi janda.Gugatan cerai yang di ajukan dan ia yakini akan memberinya kebebasan, ditolak.Di sampingnya, langkah kaki yang tenang dan teratur berirama dengan derap heelsnya yang tergesa-gesa. Sudah sejak tadi Matthias mengikuti sang wanita dan menyaksikan kegeraman wanit itu dengan senyum yang tertahan."Perlu aku gendong kau kembali pulang k

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 1 | Malam Panas

    "Matthias, berhenti. Aku sudah tidak kuat." Dengan napas yang tersenggal-senggal Serafia berusaha menghentikan kegiatan pria yang sejak sejam lalu menjamah tubuhnya.Sidang cerai dimulai besok, kota London juga sudah memasuki waktu dini hari, tapi bukannya mempersiapkan.. pasutri yang sebentar lagi berpisah ini justru bergumul panas disini."Jangan berpura-pura tak menikmatinya, Sera. Aku hanya tidak menyentuhmu beberapa minggu, dan nyatanya kita sudah melakukan ini cukup sering," goda Matthias di tengah erangan dan napasnya yang memburu."Ah.." Desahan Serafia mulai berganti jadi rintihan.Kesadarannya di bawah rata-rata, bahkan sejak aktivitas ini dimulai, ia seperti di bawah pengaruh sesuatu hingga tidak cukup mampu melawan Matthias yang berada diatasnya."Matthias.. sakit, kumohon berhenti."Bukannya berhenti, desahan yang mulai bercampur rintihan itu justru kian membuat Matthias bergejolak dan membakar gairahnya untuk melakukannya lebih dalam dan lebih gila lagi pada istrinya, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status