Home / Romansa / Obsesi Liar Tuan Misterius / Bab 2 | Perceraian yang gagal

Share

Bab 2 | Perceraian yang gagal

Author: Matchaavodka
last update Last Updated: 2026-01-18 20:12:07

"Menimbang semua bukti dan keterangan saksi, Majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh Pemohon."

Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada datar oleh hakim beberapa saat yang lalu, bergaung di kepala Serafia seperti bunyi lonceng kematian bagi segala harapannya.

"Sial.. Hakim palsu, pengadilan sinting. Akan aku tuntut kalian semua. " Serafia melontarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.

Suasana hatinya sudah sangat buruk sejak kejadian tadi pagi, dia pikir kemalangannya tadi malam— dijebak tidur bersama Matthias, akan dihadiahi pagi ini dengan gugatannya cerainya yang di terima, tetapi sial.. Serafia gagal menjadi janda.

Gugatan cerai yang di ajukan dan ia yakini akan memberinya kebebasan, ditolak.

Di sampingnya, langkah kaki yang tenang dan teratur berirama dengan derap heelsnya yang tergesa-gesa. Sudah sejak tadi Matthias mengikuti sang wanita dan menyaksikan kegeraman wanit itu dengan senyum yang tertahan.

"Perlu aku gendong kau kembali pulang ke rumah, sayang.. sepertinya kakimu sangat berat untuk melangkah." Matthias menyapa usil seperti biasa.

Serafia tidak perlu menoleh untuk mengetahui ekspresi macam apa yang sedang dikenakan pria yang batal menjadi mantan suaminya. Pasti senyum kecil yang menjengkelkan, senyum kemenangan yang samar dan meremehkan.

"Kau benar-benar Bandjingan tak tahu diri. Ini semua ulahmu kan!" sergah Serafia. Nadanya langsung melengking tajam.

"Iya. Aku membayar cukup mahal untuk menggagalkan perceraian kita." Matthias mengakui secara gamlang, yang berhasil mengundang gejolak amarah yang meledak dalam diri Serafia.

"Lagipula kau ini lucu, tadi pagi bangun di sebelahku setelah satu malam penuh mendesahkan namaku, lalu di pagi yang sama kau ingin menceraikanku."

"Sialan." Serafia mengumpat dengan mata nyalang menatap pria di hadapannya ini.

Susah payah Serafia tahan emosinya disini—agar tak mengundang perhatian, tetapi pria banyak tingkah ini memang menguji kesabarannya, bahkan sejak bangun tidur pagi tadi.

"Dengar Sandrio! Jika pengadilan ini tidak mengabulkan gugatanku, maka akan aku cari pengadilan lain!" geram Serafia nyalang.

"Dengan tuntutanmu yang tak masuk akal itu?" balas Matthias dengan tawa mengejek.

"Bukan tak masuk akal, kau saja yang licik menyuap hakim. Jelas semua gugatanku itu mendasar dan harusnya sangat kuat menjadi alasan aku menceraikanmu!" cecar Serafia.

Istrinya sudah mengamuk, namun Matthias justru menanggapi dengan sikap yang konsisten santai, bahkan masih sempat tersenyum usil.

"Kau tidak bisa membuktikan tuduhanmu jika aku berselingkuh, menuduhku sebagai pembunuh Ayah dan kakakmu pun tidak bisa kau buktikan. Memanfaatkan harta keluargamu pun, itu tidak valid, lalu yang terakhir.." Matthias menjeda kalimatnya.

Pria itu mencondongkan tubuh sedikit, merendahkan suaranya menjadi bisikan yang privat dan intim.

"Alasan terakhir itu yang paling tak masuk akal. Hakim pun tertawa mendengar alasan itu. Kau menyebut aku memperk*samu disaat kita sudah berulang kali melakukannya sejak tiga tahun lalu?"

Makin mendidih kepala Sera mendengarnya. Kilatan amarah di matanya seolah siap membakar Matthias hidup-hidup. Sialnya, argumen Matthias tidak bisa dia bantah.

Ia menunjuk wajah lelaki itu dan menghardik kembali.

"Jangan pikir aku menyerah dan berhenti sampai sini, Sandrio. Aku akan tetap mencari cara untuk mengakhiri pernikahan sialan ini dan mengeluarkanmu dari hidupku!"

"Dan aku juga akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankanmu selama yang aku mau." Matthias balik berucap.

Decakan jengkel tercetus di bibir wanita itu.

"Kau belum puas menguasai hartaku ya?" lontar Serafia sinis. "Aku yakin ayahku sangat menyesali karna telah memungutmu dan menjadikan anak angkatnya waktu itu." Wanita itu mencibir sarkas.

Kali ini Matthias membalas tatapan istrinya dengan cukup serius. Sepertinya kalimat Serafia barusan agak menyinggung dan melukai perasaannya.

"Tadinya, walau tidak sepenuhnya suka padamu.. tapi aku cukup menghargaimu. Tapi itu sebelum aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya."

"Memang apa yang kau tahu tentangku, Hah?" Nada Matthias mulai serius, ia tatap lekat mata hazel perempuan di hadapannya.

"Kau bagian dari keluarga Voinstein! Musuh Ayahku, dan sayangnya sampai hari kematiannya Ayahku tidak tahu jika orang asing yang dia jadikan anak angkat.. ternyata mata-mata yang dikirim musuhnya," lontar wanita itu.

Tidak ada cela yang Serafia berikan untuk Matthias mengelak, dan nampaknya pria itu juga tidak berniat mendebat sang wanita.

Justru Matthias sadar jika pembahasan ini tak ada ujungnya—ia memilih tak mendebat, karna itu percuma dan hanya membuang tenaga.

Belakangan ini, Serafia dengan emosinya adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan, hal itu juga membuat Matthias bertanya-tanya akan perubahan signifikan wanita yang semula cukup menurut ini.

Matthias yakin bukan hanya karna latar belakangnya yang terungkap yang membuat Serafia membencinya, ia tahu ada yang memprovokasi istrinya itu

"Terserah apa katamu saja, yang jelas.. apapun latar belakangku tidak ada hubungannya dengan apa yang telah aku lakukan selama ini untuk Roez!" Matthias mulai terpancing emosi.

"Kalau begitu mengapa selama ini kau sembunyikan identitasmu? Bahkan dari Ayah dan kakakku?"

"Karna itu tidak penting.," balas Matthias.

"Tapi asal usulmu sangat cukup menjadi alasan aku membencimu dan menuduh kau dalang kematian kakak dan Ayahku tiga tahun lalu," hardik wanita itu.

Napas Serafia memburu. Wajahnya yang cantik memerah karena luapan emosi. Ia menunjuk Matthias dengan jari telunjuk yang gemetar.

Keduanya saling mengadu tatap tajam, begitu kentara kebencian dimata Serafia sementara Matthias menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.

"CERAIKAN AKU, SANDRIO, keluar dari rumahku dan tinggalkan Roez!" nada wanita itu meninggi sampai menggema di sepanjang koridor itu. Beruntung disana cukup sepi, hingga tidak ada orang lain yang menyaksikan pertikaian pasutri ini.

Matthias menghela napas panjang, seolah ia sedang berurusan dengan anak kecil yang merengek. Ia merapikan dasi sutra yang melilit lehernya.

Sikapnya kembali tenang, santai, dan menjengkelkan. "Aku tidak mau."

Matthias melangkah lebih dulu menuju mobil yang sudah menunggu mereka sejak tadi, meninggalkan Serafia sendirian di ambang pintu pengadilan, tenggelam dalam kemarahan yang membara dan rasa frustrasi yang mematikan. Matthias tahu perempuan itu tak punya pilihan lain saat ini.

Meski sangat ingin, tetapi Serafia punya alasan yang menahannya meninggalkan rumah yang kini di kuasai Matthias.

"Masuk mobil sayang!" Kembali Matthias bersuara setelah membukakan pintu penumpang untuk istrinya.

Serafia bergeming. Bukannya menurut, ia justru kembali menghardik.

"Jangan kira kau sudah menang dan aku menyerah, Sandrio! Secepatnya aku akan membuktikan kau dalang kematian Ayah dan kakakku.. dan kau menikahiku hanya untuk menguasai hartaku."

Sambil menatap istrinya, Matthias berujar,

"Kau benar-benar tidak sadar ada yang memanfaatkan situasi ini ya? Ada yang sengaja ingin merusak hubungan kita demi kepentingannya—"

Kalimat Matthias terjeda begitu Serafia dengan lantang menyela

"Maksudmu.. simpananmu yang sudah tak sabar menggantikan posisiku itu?" sindir Serafia dengan raut wajah yang sulit diartikan, dan Matthias diam sesaat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 5 | Tertangkap Basah

    Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 4 | Fakta mengejutkan

    "Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya. "Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya.""Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya."Serafia buka pintunya, aku ingin b

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 3 | Minta Anak

    "Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu."Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas..""Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya."Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu dar

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 2 | Perceraian yang gagal

    "Menimbang semua bukti dan keterangan saksi, Majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh Pemohon." Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada datar oleh hakim beberapa saat yang lalu, bergaung di kepala Serafia seperti bunyi lonceng kematian bagi segala harapannya."Sial.. Hakim palsu, pengadilan sinting. Akan aku tuntut kalian semua. " Serafia melontarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.Suasana hatinya sudah sangat buruk sejak kejadian tadi pagi, dia pikir kemalangannya tadi malam— dijebak tidur bersama Matthias, akan dihadiahi pagi ini dengan gugatannya cerainya yang di terima, tetapi sial.. Serafia gagal menjadi janda.Gugatan cerai yang di ajukan dan ia yakini akan memberinya kebebasan, ditolak.Di sampingnya, langkah kaki yang tenang dan teratur berirama dengan derap heelsnya yang tergesa-gesa. Sudah sejak tadi Matthias mengikuti sang wanita dan menyaksikan kegeraman wanit itu dengan senyum yang tertahan."Perlu aku gendong kau kembali pulang k

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 1 | Malam Panas

    "Matthias, berhenti. Aku sudah tidak kuat." Dengan napas yang tersenggal-senggal Serafia berusaha menghentikan kegiatan pria yang sejak sejam lalu menjamah tubuhnya.Sidang cerai dimulai besok, kota London juga sudah memasuki waktu dini hari, tapi bukannya mempersiapkan.. pasutri yang sebentar lagi berpisah ini justru bergumul panas disini."Jangan berpura-pura tak menikmatinya, Sera. Aku hanya tidak menyentuhmu beberapa minggu, dan nyatanya kita sudah melakukan ini cukup sering," goda Matthias di tengah erangan dan napasnya yang memburu."Ah.." Desahan Serafia mulai berganti jadi rintihan.Kesadarannya di bawah rata-rata, bahkan sejak aktivitas ini dimulai, ia seperti di bawah pengaruh sesuatu hingga tidak cukup mampu melawan Matthias yang berada diatasnya."Matthias.. sakit, kumohon berhenti."Bukannya berhenti, desahan yang mulai bercampur rintihan itu justru kian membuat Matthias bergejolak dan membakar gairahnya untuk melakukannya lebih dalam dan lebih gila lagi pada istrinya, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status