Home / Romansa / Obsesi Liar Tuan Misterius / Bab 4 | Fakta mengejutkan

Share

Bab 4 | Fakta mengejutkan

Author: Matchaavodka
last update Last Updated: 2026-01-21 16:20:20

"Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"

Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.

Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya.

"Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.

Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya."

"Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."

Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya.

"Serafia buka pintunya, aku ingin bicara denganmu."

"Aku datang menjemputmu, Sera!"

Bukan Matthias, itu Andrew—tangan kanan sekaligus sahabatnya. Pria itu sepertinya sudah tahu gagalnya perceraiannya kemarin, dan dia pasti datang kemari untuk memberikan solusi lain atau sekedar menghibur.

Namun saat ini Serafia rasanya tak punya tenaga untuk meladeni siapapun termasuk Andrew, setelah kejadian kemarin di pengadilan.

"Apa kau mau terjebak selamanya disini? Persetan dengan hukum, kau yang menentukan nasibmu sendiri. Jangan mau di perbudak status itu. Jika kau sudah tidak menghendaki lagi, itu artinya kau bukan lagi istrinya," tutur Andrew.

Serafia bergemimg, ia masih termenung dalam diam sambil menatap hambar daun pintu.

Mengenai dirinya yang akhirnya tetap kembali ke mansion ini, Serafia sebenarnya sangat bisa dan mampu melarikan diri dari sini. Ia kemarin bahkan sudah ingin kabur dari Matthias begitu mereka tiba di mansion, tetapi ada satu perkataan Matthias yang berhasil mengurungkan niatnya.

"Tadinya aku pikir begitu, tapi Ini rumahku .. hartaku. Peninggalan berharga Ayahku, ada kenangan yang tidak bisa aku tinggalkan. Jadi jika ada yang harus pergi.. itu adalah pria brngsek itu, bukan aku!"

Tak lama. Akhirnya usaha Andrew berbuah hasil, ada respon dari balik pintu kamar itu, namun bukan pintu yang di buka, melainkan hanya suara Serafia.

"Pulanglah Andrew. Aku sedang tidak mood berbicara dengan siapapun saat ini, aku ingin waktu sendiri."

"Tapi—" Hendak Andrew menyela, tapi si empunya kamar lebih dulu menegaskan.

"Kita bicara dan bahas ini nanti saja ketika kondisiku membaik."

Setelah itu, tak ada lagi suara dari dalam sana—meninggalkan Andrew yang masih terpaku di depan pintu kamar.

Andrew menghela napas, sadar Serafia butuh waktu menenangkan dirinya sendiri, ia pun memilih tak mendebat apalagi berusaha memaksa, walau sejujurnya ia sangat ingin membawa sahabatnya itu keluar dari rumah ini.

Pria itu bersiap menarik langkah tapi suara dari balik tembok berhasil menghentikan langkahnya.

"Kau cukup terang-terangan yah, menggangu dan berusaha merampas Istri orang?"

"Cih!" Andrew merengut kala mendengar suara tersebut, ia tak menoleh karna sudah tahu itu suara siapa.

Ada Matthias disana, sambil melipat keduan tangan di depan dada—pria itu memasang wajah tak senang akan kehadiran Andrew disini. Agaknya suami Serafia itu sudah disini sejak tadi, menyaksikan dan cukup menikmati kejadian barusan.

Pria yang masih dalam setelan jasnya itu, melangkah mendekat pada si tamu yang tak dia harapkan kehadirannya. Kedua pria yang memiliki postur yang nyaris serupa itu, berdiri berhadapan dengan tatapan yang saling menantang satu sama lain.

"Perlu berapa kali lagi aku peringati kau agar menjauhi istriku. Hah! Aku sepertinya sudah terlalu sabar padamu, dan harus memberikan peringatan lebih keras ya?" hardik Matthias seraya memberikan tatapan mengancam.

"Tak perlu repot kau ingatkan, karna aku tak akan pernah mendengarkannya," sahut Andrew.

Matthias menyeringai tipis mendengar jawaban Andrew. Raut wajahnya begitu meremehkan, seolah Andrew telah salah memerikan jawaban.

"'Meski begitu aku tetap tak bosan memberimu peringatan.. jaga jarak dari Sera dan sadari batasanmmu." Intonasi bicaranya lebih tegas.

Kentara sekali permusuhan diantara kedua pria ini. Itu bukan lagi rahasia, mereka memang tak pernah akur dan tak segan menunjukan kebencian satu sama lain.

"Pantaskah anak pungut di keluarga ini berkata seperti itu padaku?" sindir Andrew.

"Setidaknya lebih pantas darimu yang bukan siapa-siapa." Matthias balik mengultimatum.

Perkataan Matthias bagaikan satu pukulan telak untuk Andrew, dan mampu membuat sahabat Serafia itu terdiam sesaat.

Matthias makin menipiskan jarak, dan berbicara dengan nada yang lebih serius dan penuh peringatan.

"Kau berusaha keras mencuci otak istriku, tapi aku rasa usahamu itu sia-saja saja. Dari awal kau tak akan pernah bisa mengalahkanku.."

"Aku bahkan belum melakukan apapun, tapi kau sudah gentar, Sandrio. Apalagi jika aku sudah bertindak."

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Memberi lebih banyak bukti palsu pada istriku agar dia menggugat cerai lagi?"

"Aku bisa melakukan lebih dari itu," lugas Andrew.

Matthias tertegun sejenak, menatap dan menelaah ekspresi di wajah lawan bicaranya ini—seolah ada sesuatu yang ingin dia pastikan.

Menyudahi perang batinnya—Matthias menempatkan kembali fokusnya pada si lawan bicara.

"Dengar Andrew.. Aku mendapatkan Serafia saja kau sudah kalah telak. Lalu apa lagi yang bisa kau harapkan?"

Damn!

Raut wajah Andrew semakin memerah, deruh napasnya mulai tak beraturan—berusaha keras ia tahan emosinya agak tak meledak, walau hasratnya untuk menghajar Matthias sudah di ubun-ubun.

Matthias Sandrio, dia memang sangat pandai memainkan emosi lawan bicaranya.

"Jangan buat aku melepas kedokmu, Matthias!" geram Andrew. "Aku tahu kau tidak sesuci itu, kau sangat kelam dari yang terkelam."

"Kau pikir dirimu suci? Atau kau Ingin kita saling membuka kartu AS?" tantang Matthias dengan Seringaian kecil di sudut bibirnya.

Dari interaksi keduanya saja cukup jelas jika ada rahasia besar yang mereka ketahui satu sama lain. Matthias tahu rahasia Andrew, begitupun sebaliknya  hingga walau terlihat begitu ingin menerkam satu lain, tapi mereka masih menahannya.

"Jangan campuri urusanku, jika kau masih sayang dengan kehidupanmu. Juga ... jauhi istriku, sampai kapanpun kau tidak akan mendapatkannya."

Andrew terdiam sebentar sebelum menimpali kembali.

"Apa lagi yang kau inginkan? Roez sudah hampir sepenuhnya di tanganmu, harta dan tahta sudah kau dapat, memiliki Serafia hanya untuk memenuhi obsesimu liarmu pun sudah, dan apa kau belum puas dengan itu?"

"Kau berbicara seolah paling tahu hidupku," ujar Matthias. "Perlu aku ingatkan padamu, jika apapun yang kau tahu tentangku.. itu tidak lebih dari satu persen kehidupanku!"

Andrew tidak peduli dengan penuturan Matthias, ia justru balas menghardik.

"Lepaskan dia Matthias, aku tahu kau tidak mencintainya dan hanya menjadikannya alat untuk mencapai tujuanmu. Kau hanya memanfaatkan Sera untuk kepentinganmu."

Kali ini Matthias yang diam, dia tidak membenarkan ucapan Andrew tetapi juga tidak terlihat ingin membantahnya.

"Kau begitu mencintai wanitaku ya?" Nada Matthias mengintimidasi dan agak mengejek.

Matthias tak suka menyebut kalimatnya barusan, tapi ada sedikit kesenangan dalam dirinya begitu menyadari jika lelaki di hadapannya ini sudah sangat lama menginginkan miliknya.

Dan tentu saja Matthias bukan pria yang akan dengan murah hati merelakan miliknya. Justru semakin Andrew menunjukan keinginannya pada Serafia, maka semakin gila juga obsesi Matthias mempertahankan Serafia.

Tidak membantah, Andrew justru mengakui terus terang.

"Iya.. aku mencintainya, sejak awal dia harusnya menjadi miliku dan apapun akan aku lakukan untuk merebutnya darimu yang sudah menjebaknya dalam pernikahan sialan itu!"

Bukannya marah, Matthias justru memberikan balasan yang berhasil membuat Andrew makin naik pitam.

"Kalau begitu, sepertinya aku harus menghamilinya lebih cepat, siapa tau itu bisa membuatmu berhenti berharap."

"Sialan kau! Dengan masalalu dan latar belakangmu yang kotor itu, beraninya kau berbicara seperti itu," umpat Andrew. "Paman Morgan tidak akan rela keturunannya bercampur dengan darahmu."

"Kesalahan terbesar Serafia adalah jatuh cinta dan memberikan dirinya pada orang yang sudah menghilangkan nyawa Ayah dan kakaknya!"

"Jaga mulutmu—"

"Aku punya bukti Matthias, dan aku akan membantu Serafia menjebloskanmu kepenjaraan dan mendapat hukuman yang setimpal," serga Andrew sambil menatap nyalamg Matthias.

"Cobalah semampu yang kau bisa. Justru aku dengan mudah bisa membalik keadaannya.." tantang Matthias dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 5 | Tertangkap Basah

    Setelah beberapa hari mengurung diri dikamarnya karena depresi, Serafia memutuskan untuk keluar menemui seseorang. Bukan Andrew, perempuan itu pergi menemui pamannya."Maksud Paman Miguel, bukti itu belum bisa menjadikan Matthias sebagai tersangka?" Serafia bertanya.Di dalam kantor firma hukumnya yang bernuansa kayu mahoni tua, Miguel menyesap teh Earl Grey yang sudah mendingin."Bukan belum bisa, hanya di mata hukum itu belum cukup kuat untuk menjadikan dia terdakwa. Transaksi dan chat yang dia lakukan bersamaSeorang mekanik, dan Rekaman CCTV saat dia bertengkar dengan Morgan, itu belum kuat," jelas Miguel.Serafia tertegun diam mendengar penjelasan Miguel, sedikit keraguan muncul dalam dirinya. Lubuk hati terdalamnya pun bertanya kembali—jika sesulit itu membuktikannya, apa itu artinya ada kekeliruan? Namun pikiran itu dengan cepat Serafia tepis, dan kembali pada keyakinan awalnya."Kita masih kekurangan bukti, Sera. Kau harus mencari dan menemukan bukti yang lebih kuat.""Bukti

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 4 | Fakta mengejutkan

    "Penghianat, tidak tahu diri.. brgsek!"Serafia melampiaskan kekesalannya pada Matthias, dengan memporak-porandakan seisi kamarnya, dan itu sudah berlangsung sejak semalam, sampai akhirnya Serafia lelah dan berhenti sendiri.Ia terduduk di sisi bawah ranjang dengan mata sembab sembari menatap figura foto mending Ayah dan kakaknya. "Ini salah kalian, yang membawa dia masuk ke keluarga kita dan mempercayainya. Salah kalian juga yang pergi terlalu cepat, dan meninggalkan aku dan ibu." Serafia bermonolog.Serafia tersedu, kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Ia teramat merindukan kedua sosok pria itu. "Aku sudah lupa rasanya jadi tuan putri setelah kalian pergi. Aku rindu keluarga cemaraku, dan ibu.. meski raganya ada, tetapi aku juga merasa telah kehilangan sosoknya.""Ayah, Kakak.. Matthias menghianati kita, dia .. juga telah melukai perasaanku."Lama ia merenung dan meratap dalam diam, sampai suara bising dari luar kamar menyadarkannya."Serafia buka pintunya, aku ingin b

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 3 | Minta Anak

    "Bisakah kau berhenti membahas tentang wanita simpanan fiktif itu?"Serafia merespon ucapan suaminya dengan tawa sinis, ia makin menatap nyalang lelaki itu."Perlu aku akui.. kau orang yang konsisten, termasuk dalam mengelak padahal buktinya jelas..""Bukti mana yang kau maksud, Hm? Coba tunjukan padaku." Mathias balik menantang istrinya.Kali ini Serafia diam, tapi bukan karna dia tak bisa menyanggupi permintaan Matthias atau tak memiliki bukti. Dia akui, buktinya masih kurang kuat, tetapi Serafia sangat meyakini hal tersebut.. hanya perlu waktu sedikit lagi untuk membuktikannya."Akan tiba saatnya aku membungkam semua pengelakanmu, Matthias. Kau tunggu saja, dan perlu kau tahu.. aku bukan lagi Serafia yang lemah dan bodoh," cecar Serafia.Matthias menarik napas dalam-dalam, berusaha keras ia agar tak terpancing amarah. Walau satu sisi di benak Matthias juga ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia cecar dan tuntut pada Serafia, seperti alasan mengapa istrinya ini berubah, lalu dar

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 2 | Perceraian yang gagal

    "Menimbang semua bukti dan keterangan saksi, Majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh Pemohon." Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada datar oleh hakim beberapa saat yang lalu, bergaung di kepala Serafia seperti bunyi lonceng kematian bagi segala harapannya."Sial.. Hakim palsu, pengadilan sinting. Akan aku tuntut kalian semua. " Serafia melontarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.Suasana hatinya sudah sangat buruk sejak kejadian tadi pagi, dia pikir kemalangannya tadi malam— dijebak tidur bersama Matthias, akan dihadiahi pagi ini dengan gugatannya cerainya yang di terima, tetapi sial.. Serafia gagal menjadi janda.Gugatan cerai yang di ajukan dan ia yakini akan memberinya kebebasan, ditolak.Di sampingnya, langkah kaki yang tenang dan teratur berirama dengan derap heelsnya yang tergesa-gesa. Sudah sejak tadi Matthias mengikuti sang wanita dan menyaksikan kegeraman wanit itu dengan senyum yang tertahan."Perlu aku gendong kau kembali pulang k

  • Obsesi Liar Tuan Misterius    Bab 1 | Malam Panas

    "Matthias, berhenti. Aku sudah tidak kuat." Dengan napas yang tersenggal-senggal Serafia berusaha menghentikan kegiatan pria yang sejak sejam lalu menjamah tubuhnya.Sidang cerai dimulai besok, kota London juga sudah memasuki waktu dini hari, tapi bukannya mempersiapkan.. pasutri yang sebentar lagi berpisah ini justru bergumul panas disini."Jangan berpura-pura tak menikmatinya, Sera. Aku hanya tidak menyentuhmu beberapa minggu, dan nyatanya kita sudah melakukan ini cukup sering," goda Matthias di tengah erangan dan napasnya yang memburu."Ah.." Desahan Serafia mulai berganti jadi rintihan.Kesadarannya di bawah rata-rata, bahkan sejak aktivitas ini dimulai, ia seperti di bawah pengaruh sesuatu hingga tidak cukup mampu melawan Matthias yang berada diatasnya."Matthias.. sakit, kumohon berhenti."Bukannya berhenti, desahan yang mulai bercampur rintihan itu justru kian membuat Matthias bergejolak dan membakar gairahnya untuk melakukannya lebih dalam dan lebih gila lagi pada istrinya, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status