LOGINSereia dijuluki si buruk rupa. Seiring berjalannya waktu, si buruk rupa tumbuh dengan luka di hatinya. Akibatnya, dia tidak mengenal cinta. Yang dia tahu, dia hanya harus menyelamatkan hidup ketiga adiknya semenjak ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk selamanya. *** Teman-temannya mulai membicarakan salah satu pelacur itu tidak seperti biasanya. Elias masa bodoh. Baginya, semua wanita sama saja. Namun, setelah mendengar tentang si pelacur yang dibicarakan teman-temannya yang ternyata adalah si buruk rupa di sekolahnya dulu, Elias tertarik sebab dia tidak menyangka wanita yang ia kira polos dan begitu bodoh ternyata bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Dia tidak percaya tetapi malam itu...dia jatuh cinta. *** Elias adalah salah satu luka terbesarnya, satu-satunya alasan dia memutuskan berubah, dan dia berusaha melupakan bedebah itu mati-matian. Ketika mengetahui lelaki itu tertarik padanya setelah mereka menghabiskan malam bersama, dia berusaha menyingkirkannya dari hidupnya dengan segala yang ia bisa. Namun, segalanya malah menjadi jauh dari harapannya. *** Mengetahui wanita yang dicintainya putus asa, El berusaha memberikan perhatian. Namun, wanita itu tidak bisa percaya pada siapapun lagi. Wanita itu selalu berusaha lari darinya. El bertindak semakin jauh dan tanpa memikirkan perasaan wanita itu hanya demi mendapatkan cintanya dan tidak membiarkannya pergi. Sampai akhirnya, wanita itu tiba-tiba menerimanya. Tetapi itu hanya jebakan supaya dia bisa pergi. *** "Pergilah sejauh mungkin sampai aku tidak bisa menemukanmu! Tetapi ingatlah, kalau aku menemukanmu lagi, kamu tidak akan bisa lari lagi!"
View More"Saya terima nikah dan kawinnya Gantari Bhanurasmi Rahardjo binti Sugeng Rahardjo dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."
Gantari melepaskan napasnya yang tertahan. Menekan debaran jantungnya yang begitu keras setelah ijab kabul terlaksana dengan khidmat. Dirja Pramana, suaminya, mengucapkan kabul dengan suara beratnya yang tegas. Tanpa kesalahan. Tanpa keraguan. "Bapak dan Ibu bisa lihat dari surga, kan? Tari sudah resmi menjadi istri Mas Dirja, Pak, Bu. Tari nggak sendiri lagi," batin Gantari. Kedua matanya berkaca-kaca saat Dirja mencium keningnya dengan sangat berhati-hati. Dan tangan besar pria itu menyentuh ubun-ubunnya diikuti bisikan doa yang membuat dada Gantari berdesir. Setelahnya, semua terlewat dengan begitu cepat. Penghulu membacakan doa nikah. Kemudian Dirja dan Gantari menandatangani surat-surat nikah. Dilanjutkan penyerahan mahar oleh mempelai pria kepada mempelai wanita secara simbolis, lalu ditutup dengan tukar cincin dan foto-foto. Begitu akad selesai, dua keluarga dari pihak pengantin diboyong ke restoran yang sudah disewa untuk makan-makan. Sebagai perayaan kecil karena kedua mempelai bersepakat untuk tak menggelar resepsi. "Yang rukun ya kalian berdua. Bulik doakan kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah." "Semoga segera diberi momongan." "Kalian tinggal jauh dari keluarga, jadi kalau ada apa-apa kalian hanya punya satu sama lain untuk bergantung." "Terus berkabar dengan keluarga di kampung sini ya, Nduk Tari." "Dirja, kamu yang lebih dewasa. Bimbing istrimu. Muliakan dirinya seperti orang tuanya dulu membahagiakannya." Gantari tidak berhenti tersenyum dan menggumamkan terima kasih, mengamini atas doa-doa baik yang diucapkan kerabat-kerabat keluarganya dan keluarga Dirja dengan tulus. Dan banyak lagi pesan-pesan yang disampaikan keluarga mereka sebelum Dirja memboyong Gantari ke ibukota di hari yang sama. Meninggalkan kampung halaman yang selama 24 tahun telah ditinggali Gantari. Perjalanan tujuh jam menggunakan kereta harus dilalui Gantari dalam suasana canggung meski sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur. Dirja Pramana adalah sosok yang pendiam dan sulit didekati. Mengenal Dirja sejak kecil pun tak membuat Gantari leluasa bicara dan berdekatan dengan pria itu meski kini status mereka telah berganti menjadi suami-istri. "Mas Dirja," panggil Gantari lembut. Suaminya yang baru saja menurunkan koper-koper dari gerbong kereta itu hanya melirik sekilas. "Aku lapar, Mas. Kita makan dulu yuk di--" "Beli saja, makannya di rumah." Gantari mengatupkan bibir. Sejenak terkejut karena Dirja membalas dengan nada yang sangat dingin. Kalimat pertamanya setelah berjam-jam mereka tidak saling bicara. Tak ingin larut dalam kecanggungan, Gantari menyingkirkan perasaan tak nyaman yang menggelayuti dada. "Ya sudah, aku beli dulu ya, Mas. Mas Dirja bisa menunggu sebentar di--" "Kamu tunggu di sini," tukas Dirja yang begitu saja meninggalkan Gantari bersama dua koper besar dan satu ransel yang semuanya milik wanita itu. Tak sampai sepuluh menit, Dirja kembali dengan membawa makanan cepat saji. Menyerahkannya kepada Gantari tanpa mengatakan apa-apa. Gantari menerimanya dengan senang. "Terima kasih, Mas. Eh, tapi kok cuma satu?" tanya Gantari kebingungan. Di dalam plastik putih yang berlogo dua maskot karakter dengan background kuning itu hanya ada satu kotak makanan. Tak sekalian dibelikan minuman pula. Dirja menghela napas panjang. "Nggak cukup makan satu porsi?" Mata bening Gantari membeliak, lalu kepalanya menggeleng. "Bukan begitu, Mas. Kalau cuma beli satu, Mas Dirja gimana?" Pertanyaannya tidak dijawab dan itu membuat Gantari nyaris mengentakkan kakinya kesal. Dirja Pramana, pria yang bertubuh tinggi besar itu sudah melangkah pergi dengan kakinya yang panjang-panjang. Meninggalkan Gantari di belakang. "Sabar, Tari. Sabar," lirih wanita itu seraya mengelus dada. Hari masih pagi, bahkan baru pukul lima lebih sedikit dan Gantari sudah harus berlarian menyusul langkah suaminya. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda dan sudah agak kusut itu tampak bergoyang ke kanan kiri. "Mas Dirja, tunggu!" Untungnya, pria itu masih berbaik hati membawakan barang bawaan Gantari. Sepasang suami istri itu naik taksi online. Kembali diperangkap dalam kebisuan panjang selama perjalanan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah komplek perumahan yang sepi. Langit sudah tak begitu gelap sehingga Gantari bisa mengamati rumah demi rumah yang dilewati. Sebagian rumah memiliki gerbang besi, tetapi lebih banyak yang tidak. Rumah Dirja termasuk yang memiliki gerbang. Gerbangnya sedikit lebih tinggi dari Gantari yang tingginya tak sampai 160 cm itu. "Tidak mau masuk? Saya tutup--" Gantari cepat-cepat melenggang ke dalam sebelum Dirja kembali menutup gerbang dan menggemboknya lagi. Senyum lebar tersungging di wajah Gantari ketika mengedarkan mata pada halaman rumah Dirja yang terdapat kolam kecil. Telah melupakan sedikit kekesalannya saat di stasiun tadi. "Mas, aku nanti boleh taruh bunga-bunga di dekat kolam ini?" "Terserah. Kamu mau masuk ke rumah atau nongkrong di kolam?" Gantari menyusul Dirja yang sudah membuka pintu rumah lebar-lebar. Wanita berparas ayu itu sudah tak sabar ingin melihat-lihat setiap ruangan di rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai hari ini, tetapi masih sungkan. Ia pun hanya mengekori langkah suaminya. "Ayo, saya tunjukkan di mana kamarmu," ucap Dirja. "Ya, Mas?" "Kamarmu sudah dibersihkan sebelum saya tinggal pulang, jadi bisa langsung kamu tempati. Hanya perlu dipasangi sprei baru." Butuh beberapa detik untuk memproses ucapan Dirja. Itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Dirja kepada Gantari sejak mereka bertemu lagi seminggu yang lalu. "Kita pisah kamar, Mas?!" Suara Gantari naik satu oktaf. Kedua mata wanita itu melotot sampai hampir keluar dari sarangnya. Terlalu terkejut dengan keputusan yang diambil suaminya secara sepihak. "Kenapa?" tuntut Gantari. Wanita itu menghadang langkah Dirja dengan rona pucat membayangi wajah. Telah sirna senyum bahagianya. Dirja hanya menatap istrinya lurus. Mendorong kembali koper-koper milik Gantari sampai di depan pintu kayu yang tertutup rapat. "Mas Dirja, tolong jangan main-main. Baru kemarin kita resmi menikah...." "Lalu?" Gantari seperti dipaksa berhenti bernapas saat itu juga. Pernikahan macam apa yang akan mereka lalui jika suami istri pisah kamar sejak hari pertama menikah? Dirja pasti sudah tidak waras! "Nggak ada suami istri yang pisah kamar dari awal pernikahan!" tegas Gantari meski suaranya mulai bergetar. "Sekarang ada." Makin pias wajah Gantari mendengar nada tak acuh suaminya. Tak ada dalam bayangannya akan mendapatkan perlakuan seperti ini oleh pasangannya sendiri. "Apa gunanya kita menikah kalau Mas Dirja nggak mau menjalani pernikahan ini?" tanya Gantari lirih. Telah sepenuhnya kehilangan ketegasan dalam suaranya. "Kenapa masih bertanya? Saya hanya memenuhi wasiat yang ditinggalkan orang tua kita. Mereka mau saya menikahimu. Dan sekarang tugas saya sudah selesai." Gantari merasakan hawa dingin yang menusuk sekujur tubuhnya. Tidak siap menghadapi mimpi buruk yang diciptakan Dirja untuknya hanya dalam kurun waktu tak sampai 24 jam setelah resmi diperistri. Dalam ingatan Gantari yang terbatas, meski sosoknya sangat pendiam, Dirja Pramana bukanlah orang yang jahat. Semua orang yang mengenal sosoknya akan selalu memberikan pujian dan mengelu-elukan nama Dirja Pramana. Tetangga-tetangganya. Para ibu rumah tangga yang suka bergosip di setiap ada kesempatan itu sangat mengharapkan Dirja menjadi menantu. Bersaing, berlomba-lomba 'menjual' anak gadisnya agar dipersunting Dirja. Yang saat itu usianya bahkan belum genap dua puluh. Dan yang beruntung adalah mendiang orang tua Gantari. Anaknya, tanpa banyak usaha, mendapatkan sang pria yang kini sudah menginjak usia tiga puluh. Namun, ke mana perginya sosok Dirja yang dulu? Pria yang berdiri di depannya sekarang hanyalah sosok dingin tak berperasaan. Seolah jiwanya sudah mati. "Kalau Mas Dirja keberatan dengan pernikahan ini, kita lakukan pembatalan pernikahan saja," tukas Gantari saat Dirja berbalik pergi. "Aku yang akan mengurusnya dan mempermudah perpisahan--" "Tidak sekarang." "A-apa?" Dirja menatap Gantari lurus. Ekspresinya tak terbaca. "Saya akan menceraikanmu, tapi tidak sekarang."Sereia dan ketiga adiknya pada akhirnya mencoba mengunjungi keluarga dari ayah mereka. Sereia mengajak Lingga untuk berjaga-jaga apabila mereka ditahan lagi, Lingga bisa mengambil tindakan untuk menyelamatkan mereka, jika ia bisa melakukannya. "Kenapa kamu kesini hah?! Gara-gara kamu, suamiku sampai dihajar babak belur oleh bodyguardnya juragan! Dan gara-gara kamu juga, kita semakin terlilit hutang dimana-mana!"Sereia menghela nafas. Adik-adiknya sudah bertambah besar dan mereka lebih tenang menghadapi bibi mereka, mereka sudah tidak sama lagi seperti sebelumnya. "Aku kesini ingin bersilaturahmi dengan keluarga. Maafkan semua kesalahnku dan adik-adikku bibi. Dan maaf juga apabila selama kami tinggal disini, kami merepotkan kalian," kata Sereia."Tentu saja kalian merepotkan! Kalian benar-benar tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung!" ketus bibi Sereia."Kalau begitu kami tidak akan lama bibi, ini, untuk bibi dan paman. Untuk keluarga lain aku akan memberikannya sendiri," kata Serei
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Sereia mengancam Samuel."Aku yakin kamu dikenal oleh orang-orang sebagai bos yang baik dan bertanggung jawab, Samuel. Aku juga yakin kamu tidak akan mau karirmu hancur begitu saja. Kepribadian yang kamu bangun itu, kau pasti tidak menginginkannya hancur begitu saja kan?" tanya Sereia. "Akh!"Samuel tampak frustasi. "Tidak mungkin aku kalah dari orang yang bahkan tidak bisa memberikanmu apapun kecuali penderitaan kan?""Jujur saja Samuel, aku memang mengincar uang. Maksudku, lebih tepatnya, aku lebih butuh uang daripada seseorang untuk menemaniku," kata Sereia. "El masuk penjara dan dia keluar dari penjara entah beberapa tahun lagi. Aku tidak berencana menunggu karena aku tidak tahu apakah perasaannya padaku masih ada atau tidak nanti."Samuel tampak berbinar-binar. "Mungkinkah aku masih memiliki kesempatan?"Sereia ingin membeberkan kalau dia awalnya mengincar Samuel karena hartanya tetpi dia rasa dia tidak bisa membeberkan soa
"Sudah lama sekali ya, Sereia, Kai, Erix, dan Flosie? Kalian terlihat baik-baik saja dan malah...bahagia."Bibi mereka, Feyre, menghampiri mereka. Sereia menyipitkan kedua matanya. "Apa yang kalian mau? Apa kalian mau seperti keluarga ayah kami? Apa kalian bekerja sama dengan mereka untuk mengendalikan kami?""Justru kebalikannya. Aku sudah mendengar tentangmu yang dijodohkan dengan seorang juragan yang sudah memiliki banyak istri. Mana mungkin kami akan membiarkannya begitu saja. Paman dan bibimu disana meminta kami untuk menyuruhmu menuruti keinginan mereka tetapi kami tidak mungkin begitu saja menyerahkanmu pada mereka. Kalian berempat, pulanglah ke rumah keluarga besar ibu kalian!""Tidak!" tegas Erix. "Aku mengerti. Kalian tenang saja, aku akan membiayai keperluan kalian," kata Feyre."Tidak perlu bibi. Kak Sereia sudah bekerja dan dia bisa menyekolahkan kami seorang diri," kata Flosie. "Apa? Benarkah itu?" tanya Feyre.Sereia menganggukkan kepalanya."Itu tidak mungkin. Kamu
Entah sudah berapa tahun dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Semenjak menembak orang, dia tidak pernah berhenti gelisah dan ketakutan. Dia memikirkan ibunya, dia memikirkan Sereia, dan dia juga memikirkan dirinya sendiri. Tak dapat dipungkiri dia khawatir berada di penjara untuk selamanya. "Jangan seenaknya menyebutku putramu, pak tua, ayahku sudah mati sejak aku masih kecil," ucap El.Pria itu tercengang. Dia tidak bisa berkata-kata. Segera dia menundukkan kepalanya dan raut wajahnya terlihat sedih. "Pergi saja kalian semua! Tidak ada gunannya menghabiskan waktu berbicara denganku!" ketus El."El, jangan seperti ini. Aku...kamu tahu tidak siapa orang yang sudah mengirimkan dua orang yang menyerangku? Aku kerap mendatangi orang yang berada di rumah sakit itu yang kamu tembak. Dia mengaku kalau yang menyuruhnya adalah Samuel. Padahal aku tidak pernah bercerita padanya mengenai Samuel. Tampaknya dia tidak berbohong. Samuel sampai sekarang masih terus menggangguku," kata Sereia.E
Seandainya hari itu dia tidak menerima El, mungkin situasi ini tidak akan pernah datang. "Aku rasa pria itu bukan pria yang baik," kata El. "Kalau dia tidak baik, dia tidak akan menerimaku di perusahaannya," kata Sereia. "Kurangi polosmu itu! Dia sengaja melakukan itu untuk menjebak mangsanya. Kamu
Sereia tidak bisa membayangkan masa depan bersama El karena keadaan pria itu sekarang. Dia tidak percaya sama sekali El mendapatkan sebuah cincin dengan cara yang halal. Hari kedua setelah pindah, Sereia pergi ke rumah makan untuk mendaftar lagi bekerja di tempat tersebut. Raden tentu saja dengan se
Samuel menghubungi Gina, menyuruhnya untuk berkomunikasi dengan Sereia. Gina yang sedang bekerja, langsung melakukannya. Ponselnya Sereia masih berada di bibinya. Terdengar dering ponsel cukup keras."Jika kamu menolak menikah dengan laki-laki mapan, maka sama saja kamu tidak mempedulikan adik-adikmu
"Sereia."Sereia menoleh ke Gina. Dia sedang mengambil minuman kaleng. "Aku sudah memberikan pesananmu kepadanya. Awalnya dia menolakku dengan dingin tetapi akhirnya mau menerima makanannya juga bahkan berterima kasih.""Aku tidak pernah menyangka dia akan mengucapkan terima kasih," kata Sereia dengan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.