Se connecterIvanka berdiri bersandar di sebuah pohon mangga tepat di belakang Obsidian Central. Dari sana dia bisa melihat kamar Byakta yang berada di lantai paling atas. Wanita itu tersenyum pilu. Sebentar lagi dia akan menemui Byakta sesuai janjinya kemarin. “Aku harap… kamu bisa mengerti dengan keputusan yang aku ambil sekarang.” Ivanka kembali menarik napas kasar, membetulkan rambut dan juga bajunya, lalu berjalan dengan langkah yang cukup cepat. Tanpa dia sadari, tepat di belakangnya. Tepatnya di kursi kayu panjang yang hanya terhalang sebuah pagar tanaman, Rendra sudah memperhatikannya dari awal dia datang. Wajah pria itu begitu pucat dengan bibir yang sudah kering kerontang. Lingkaran matanya hitam, seolah dia sudah tidak tidur selama berhari-hari. “Semoga kamu bisa mendapatkannya hari ini,” gumam Rendra pelan. “Kalau tidak… mungkin semuanya akan terlambat. Aku tidak akan bisa memprediksi lagi umurku dan Byakta ak
Byakta meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali terkekeh pahit. Pria tua itu tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Ini sudah biasa. Bahkan terlalu biasa untuk Byakta yang mendapat perlakuan seperti ini seumur hidupnya. Bagaspati selalu membuat kedok besar atas dasar kasih sayang pada putra semata wayangnya, tapi faktanya, dia hanya berusaha melindungi aset dan semua kekuasaannya. Mungkin dia juga senang dan mengambil keuntungan dari kejadian yang menimpa Byakta delapan belas tahun yang lalu. Karena dengan itu, Byakta jadi punya keberanian untuk membobol semua aset server organisasi saingannya—Black Raven. Sudah menjadi rahasia umum dua organisasi besar ini saling bermusuhan. Black Raven dan Black Harbour. Dua organisasi yang hidup di dalam kegelapan. Dengan segala rahasia dan juga kegagahan mereka di dunia perdagangan ilegal. Sedangkan di sudut lain, tepatnya di ruang meeting, lampu puti
Ivanka menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk sesaat, bayangan itu terasa asing. Bukan karena riasannya berubah. Bukan juga karena wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Tapi karena ada sesuatu yang tidak bisa ia lihat sesuatu yang terus terngiang sejak semalam. Sebuah chip yang tertanam di dalam kepala Byakta. Jari Ivanka tanpa sadar menyentuh pelipisnya sendiri, seolah ingin memastikan tidak ada hal mengerikan yang sama di sana. Kenyataan itu terlalu kejam untuk dipercaya. Dan lebih kejam lagi karena dilakukan oleh manusia. Ia menarik napas panjang, lalu memalingkan wajah tepat ketika ponselnya bergetar. Satu panggilan masuk dari Rival. Ivanka menatap layar itu beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkatnya. “Iya.” “Saya tunggu di kantor. Kita ada meeting pagi ini.” Sambunga
“Awalnya, mereka menginginkan otakku, tapi karena terlalu beresiko, mereka memasang chip itu untuk mengontrol semua pergerakanku.” Byakta menyingkap selimutnya. Kini dia duduk bersila dengan tangan yang sibuk membersihkan sisa darah di hidungnya. “Kenapa? Tapi kenapa harus kamu, Byakta?” tanya rival tak percaya. Dia menggeleng kasar. tidak terima semua kejadian mengerikan ini adalah nyata, dan terjadi pada orang yang paling dekat dengannya. “Kamu juga tahu kalau aku pemilik IQ tertinggi kala itu,” sahut Byakta. Suaranya sudah cukup santai sekarang. “Aku bahkan bisa menghafal semua rumus coding itu dalam hitungan menit. Dan semua server yang ku buat adalah hasil modifikasi dari server milik Black Raven. Aku membuat versi baru yang lebih aman dan lebih terkendali. Dan mungkin mereka sudah menyadari itu sekarang." Byakta turun dari tempat tidurnya. Dia duduk bersila tepat di depan Rival, lalu menjatuhkan kepalan
“Tolong!” Teriakan Rival menggema di seluruh ruangan. Namun semuanya sia-sia. Tidak ada satupun yang mendengar. Ruangan kedap suara ini berubah menjadi penjara hidup bagi mereka berdua. Di pangkuannya, Byakta masih berusaha mencakar udara. Seolah sedang mencari pegangan yang kokoh untuk menyalurkan rasa sakitnya. Tubuh bagian bawah pria itu sudah mengejang. Matanya yang semula terbuka, kini sudah terpejam. Napasnya masih terus tersedak setiap kali alarm server berbunyi. Rival kembali teringat momen ketika pertama kali dia menemukan Byakta delapan belas tahun yang lalu. ‘Mereka memasang sesuatu di kepalaku.’ Kalimat itu kembali mengacak ingatan Rival. Dengan gerakan kasar, Rival mencari sesuatu yang aneh di kepala Byakta. Dia mengacak rambut tebal itu. Kedua mata Rival langsung membulat. Ujung jarinya berhenti di satu titik, di mana ada bekas sayatan memanjang di belakang kepala Byakta.
Byakta kembali memejamkan mata ketika rasa sakit itu perlahan menghilang. Rasa sakit yang memuakkan, dia datang dan pergi dengan membawa getaran aneh di kepalanya. Seperti sesuatu yang dicabut paksa dari pangkal rambutnya. Tak lama, pintu diketuk. Rival datang dengan membawa air hangat dan juga tablet di tangannya. Alih-alih membantu Byakta pindah duduk di tempat yang lebih nyaman, dia justru ikut duduk ngesot di lantai dengan tubuh bersandar di tepi ranjang. “Minum dulu air hangatnya,” katanya pelan. Byakta tersenyum, tangannya yang bergetar meraih gelas itu dengan susah payah. Melihat itu, Rival hanya membuang muka. Dia tidak tega melihat pria ini perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Untuk apa tablet itu?” tanya Byakta akhirnya. “Aku hanya sedang memasang alat penyadap di ponsel Ivanka dan juga di kamarnya,” katanya. “Tinggal sinkronisasi, dan semuanya selesai.” Byakta kembali terkekeh. Dia tahu







