Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 2. Sebuah Penolakan Part 2

Share

2. Sebuah Penolakan Part 2

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-02-26 18:48:44

Dan hari demi hari masih saja berjalan sama. Ivanka masih belum mendapatkan jalan keluarnya. Debt kolektor sudah seperti lalat yang selalu mengejarnya kemanapun dia pergi.

Ivanka memeras kepalanya. Dia menatap layar ponselnya beberapa saat. “Obsidian Central,” gumamnya. “Semoga kali ini bertemu dengan jalan keluar. Aku lelah Tuhan.”

Malam ini Ivanka benar-benar datang ke acara bisnis eksklusif di Obsidian Central dengan percaya diri. Dia tidak peduli dengan kondisi uang di kantongnya yang sudah menipis. Karena ini memang jalan satu-satunya yang terlintas di benaknya yang sudah kusut dan berlumut.

Dia bahkan rela datang bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai seseorang yang berusaha mencari peluang, walau dengan keberhasilan seujung kuku. Tak apa menjadi pengemis untuk beberapa saat. Dia percaya kalau usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Tepat ketika ia sedang berbicara dengan investor kecil, pintu aula terbuka. Atmosfer berubah dalam sekejap mata. Semua mata tertuju pada kedatangan pria muda dengan perawakan gagah dan juga paras tegas yang rupawan. Aroma parfum maskulinnya langsung menyebar memenuhi isi ruangan dengan sekejap mata.

Dengan langkah santai Byakta masuk. Dia bahkan tidak tersenyum atau membalas sapaan setiap orang yang tertunduk hormat untuk menyambutnya. Langkahnya hanya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang menurut dia menarik. Iya, siapa lagi kalau bukan Ivanka.

Byakta dan Ivanka kini sudah saling bertemu tatap. Mereka bertahan untuk beberapa detik. Dimana setiap detiknya terasa seperti medan perang tanpa suara. Ivanka menahan napasnya, namun dia tetap tidak mau mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau di anggap remeh, bahkan untuk penguasa yang kini ada di depannya.

Melihat ada yang berani membalas tatapannya lebih dari dua detik, Byakta tersenyum, lalu berjalan mendekat. “Ternyata ada yang cukup percaya diri untuk datang ke sini,” kata Byakta tenang. Tangannya terangkat, berniat untuk menyentuh pipi Ivanka, namun dia segera mengurungkan niatnya, dan memasukkan kembali tangan itu kedalam saku celana.

Byakta tetap menatap Ivanka, dia masih bertahan dengan senyum misteriusnya.

Ivanka mendengus kasar, seraya membalas tatapan Byakta lebih tajam lagi. “Aku tidak melanggar aturan apa pun,” katanya. “Jadi aku tidak akan takut pada siapapun.”

“Menarik,” bisik Byakta. Matanya turun menatap kaki jenjang Ivanka yang tidak tertutup dres. “Cantik,” kata terakhir hanya lolos di ujung tenggorokan. Byakta tidak benar-benar mengatakannya. Walau dia menyukai Ivanka, dia tidak ingin dianggap mata keranjang.

“Saya tidak tertarik untuk menjual perusahaan saya—”

“Dan saya tidak tertarik untuk membeli sesuatu yang tidak di jual,” jawab Byakta ringan.

Ivanka hanya mengernyit sebal. Dia membuang muka, seraya meremas segelas minuman yang ada di tangannya. “Lalu untuk apa Anda ada di sini?”

“Hanya sedang melampiaskan rasa penasaran,” sahutnya.

Tepat sebelum Ivanka sempat menjawab, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari bank. Dia mendengus kasar dengan mata yang menggelap. ‘Fasilitas kredit Kaveri Develomment dibekukan sementara.’ Pesan itu langsung membuatnya memucat di tempat.

Melihat perubahan wajah Ivanka, Byakta hanya tersenyum puas. Dia maju satu langkah, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Ivanka. “Permainan baru saja dimulai,” bisiknya pelan. “Tapi kamu masih bisa memilih pihak mana yang lebih menguntungkan."

Mata mereka kini kembali bertemu. Tak terasa, Ivanka meremas ponselnya hingga layarnya retak dan hampir hancur. Dia tidak menyangka, kalau pria iblis ini benar-benar melakukan semuanya.

“Cih, bedebah,” gumamnya.

***

Ivanka menatap sang ayah sebentar. Walau dia masih merasa kesal pada orang tua itu, dia tetap saja tidak bisa berbuat kasar padanya. Dia masih bisa menahan emosinya atas dasar status hubungan mereka.

“Ayah nggak perlu ikut campur,” kata Ivanka. “Aku tetap akan membangun kembali bisnis ini, sesuai keinginan almarhum Mama. Dan Ayah sudah cukup merusaknya selama ini, sekarang tidak lagi.”

Pupil mata Ivanka menyusut, dia menatap sang ayah penuh benci. “Lakukanlah apapun yang ingin Ayah lakukan, tapi jangan sentuh apapun yang sudah menjadi milik ku, termasuk bisnis ini. Karena Ayah sudah tidak punya hak.”

Laki-laki tua itu hanya menunduk penuh rasa malu. Rasanya, bersalah dan meminta maaf saja, sudah tidak akan mempan untuk putrinya yang sekeras batu itu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   104. Masuk Ke Sarang Musuh

    Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”

  • Obsesi Sang Penguasa   103. Menghadapi Kecurigaan Byakta

    Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang

  • Obsesi Sang Penguasa   102. Kepergok

    “Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat

  • Obsesi Sang Penguasa   101. Interogasi

    Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa

  • Obsesi Sang Penguasa   100. Akhirnya Dia Kembali

    Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Byakta tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terkunci pada

  • Obsesi Sang Penguasa   99. Kembalinya Tuan Muda Bagaspati

    Hening mulai menyapa keduanya. Namun kali ini lebih berat dari sebelumnya. Byakta menurunkan tablet itu perlahan. Pikirannya mulai merangkai potongan-potongan yang terasa tidak masuk akal sebelumnya. Tentang Ivanka dan tentang semua yang dilewatkan selama sakit belakangan terakhir. Semua seperti terhubung dalam satu garis yang belum sepenuhnya terlihat. “Jadi ini bukan kebetulan,” gumamnya pelan. Rival tidak menjawab. Tapi ekspresinya sudah cukup untuk menjadi jawaban. Byakta berjalan menjauh beberapa langkah. Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tatapannya menerawang ke arah pondasi bangunan di depannya. “Menurutmu… Ivanka tahu siapa dia?” tanya Byakta tanpa menoleh. Rival terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali menarik napas gusar. “Saya tidak bisa memastikan,” jawabnya hati-hati. “Tapi dari sikapnya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.” Byakta terkekeh pelan. Tawanya begitu singkat dan dingin. Ada sirat kecewa di wajahnya. “Menarik.” Rival mengernyit samar.

  • Obsesi Sang Penguasa   89. Masuk Ke Lubang musuh

    “Bagus,” sahut Davian. “Aku juga tidak suka basa-basi.” Hening kembali menyapa keduanya. Tatapan mereka saling bertaut. Tidak ada yang mau mengalah. “Apa tujuanmu?” tanya Ivanka akhirnya. “Kenapa kamu mendekatiku?” Davian tidak langsu

  • Obsesi Sang Penguasa   87. Terus Dalam Pengawasan

    Sementara itu, di sisi lain kota, mesin mobil meraung pelan saat berhenti di sebuah gudang tua yang nyaris tidak terjamah. Catnya sudah mengelupas, dan sebagian atapnya terlihat rapuh. Davian keluar tanpa terburu-buru. Tangannya masih dimasukkan ke dalam saku jaket. Wajahnya tenang. Terlalu tenang

  • Obsesi Sang Penguasa   86. Mama Ingin Aku Mati?

    Langit malam menggantung rendah di atas kota. Awan gelap menutup sebagian cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di setiap sudut jalan. Dunia terasa tenang di permukaan, namun dibalik itu, sesuatu sedang bergerak perlahan—dan berbahaya. Di dalam kamar Byakta, Ivanka masih belum b

  • Obsesi Sang Penguasa   84. Titik Benturan

    Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini. Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status