MasukDan hari demi hari masih saja berjalan sama. Ivanka masih belum mendapatkan jalan keluarnya. Debt kolektor sudah seperti lalat yang selalu mengejarnya kemanapun dia pergi.
Ivanka memeras kepalanya. Dia menatap layar ponselnya beberapa saat. “Obsidian Central,” gumamnya. “Semoga kali ini bertemu dengan jalan keluar. Aku lelah Tuhan.” Malam ini Ivanka benar-benar datang ke acara bisnis eksklusif di Obsidian Central dengan percaya diri. Dia tidak peduli dengan kondisi uang di kantongnya yang sudah menipis. Karena ini memang jalan satu-satunya yang terlintas di benaknya yang sudah kusut dan berlumut. Dia bahkan rela datang bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai seseorang yang berusaha mencari peluang, walau dengan keberhasilan seujung kuku. Tak apa menjadi pengemis untuk beberapa saat. Dia percaya kalau usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tepat ketika ia sedang berbicara dengan investor kecil, pintu aula terbuka. Atmosfer berubah dalam sekejap mata. Semua mata tertuju pada kedatangan pria muda dengan perawakan gagah dan juga paras tegas yang rupawan. Aroma parfum maskulinnya langsung menyebar memenuhi isi ruangan dengan sekejap mata. Dengan langkah santai Byakta masuk. Dia bahkan tidak tersenyum atau membalas sapaan setiap orang yang tertunduk hormat untuk menyambutnya. Langkahnya hanya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang menurut dia menarik. Iya, siapa lagi kalau bukan Ivanka. Byakta dan Ivanka kini sudah saling bertemu tatap. Mereka bertahan untuk beberapa detik. Dimana setiap detiknya terasa seperti medan perang tanpa suara. Ivanka menahan napasnya, namun dia tetap tidak mau mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau di anggap remeh, bahkan untuk penguasa yang kini ada di depannya. Melihat ada yang berani membalas tatapannya lebih dari dua detik, Byakta tersenyum, lalu berjalan mendekat. “Ternyata ada yang cukup percaya diri untuk datang ke sini,” kata Byakta tenang. Tangannya terangkat, berniat untuk menyentuh pipi Ivanka, namun dia segera mengurungkan niatnya, dan memasukkan kembali tangan itu kedalam saku celana. Byakta tetap menatap Ivanka, dia masih bertahan dengan senyum misteriusnya. Ivanka mendengus kasar, seraya membalas tatapan Byakta lebih tajam lagi. “Aku tidak melanggar aturan apa pun,” katanya. “Jadi aku tidak akan takut pada siapapun.” “Menarik,” bisik Byakta. Matanya turun menatap kaki jenjang Ivanka yang tidak tertutup dres. “Cantik,” kata terakhir hanya lolos di ujung tenggorokan. Byakta tidak benar-benar mengatakannya. Walau dia menyukai Ivanka, dia tidak ingin dianggap mata keranjang. “Saya tidak tertarik untuk menjual perusahaan saya—” “Dan saya tidak tertarik untuk membeli sesuatu yang tidak di jual,” jawab Byakta ringan. Ivanka hanya mengernyit sebal. Dia membuang muka, seraya meremas segelas minuman yang ada di tangannya. “Lalu untuk apa Anda ada di sini?” “Hanya sedang melampiaskan rasa penasaran,” sahutnya. Tepat sebelum Ivanka sempat menjawab, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari bank. Dia mendengus kasar dengan mata yang menggelap. ‘Fasilitas kredit Kaveri Develomment dibekukan sementara.’ Pesan itu langsung membuatnya memucat di tempat. Melihat perubahan wajah Ivanka, Byakta hanya tersenyum puas. Dia maju satu langkah, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Ivanka. “Permainan baru saja dimulai,” bisiknya pelan. “Tapi kamu masih bisa memilih pihak mana yang lebih menguntungkan." Mata mereka kini kembali bertemu. Tak terasa, Ivanka meremas ponselnya hingga layarnya retak dan hampir hancur. Dia tidak menyangka, kalau pria iblis ini benar-benar melakukan semuanya. “Cih, bedebah,” gumamnya. *** Ivanka menatap sang ayah sebentar. Walau dia masih merasa kesal pada orang tua itu, dia tetap saja tidak bisa berbuat kasar padanya. Dia masih bisa menahan emosinya atas dasar status hubungan mereka. “Ayah nggak perlu ikut campur,” kata Ivanka. “Aku tetap akan membangun kembali bisnis ini, sesuai keinginan almarhum Mama. Dan Ayah sudah cukup merusaknya selama ini, sekarang tidak lagi.” Pupil mata Ivanka menyusut, dia menatap sang ayah penuh benci. “Lakukanlah apapun yang ingin Ayah lakukan, tapi jangan sentuh apapun yang sudah menjadi milik ku, termasuk bisnis ini. Karena Ayah sudah tidak punya hak.” Laki-laki tua itu hanya menunduk penuh rasa malu. Rasanya, bersalah dan meminta maaf saja, sudah tidak akan mempan untuk putrinya yang sekeras batu itu. ***Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata itu yang bukan main banyaknya. Ivanka mundur beberapa langkah seraya menelan ludah. Senyum miris terukir samar diwajahnya yang pucat. “Jadi ini alasan Anda membutuhkan kaca anti peluru?” tanya Ivanka tanpa menoleh. Byakta terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Ivanka, menyentuh pinggang rampingnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajahnya di antara ceruk leher Ivanka. Membuat sensasi aneh merambat di sana. “Itu lah sebabnya saya tidak bisa ceroboh,” bisiknya, kemudian kembali menjauh. “Jadi Anda yang mengendalikan peredaran ini?” Byakta mengangkat kedua bahunya. “Saya hanya menstabilkan—” “Dengan senjata?” Byakta kembali terkekeh pelan. “Dengan keseimbangan yang menuru
Alarm di ruang pemantauan masih berbunyi ketika Byakta mematikan notifikasinya dengan satu sentuhan. Di layar, sosok pria berjaket gelap masih berdiri di atap gedung parkir tua di distrik pelabuhan. Kamera professional di tangannya mengarah pada Obsidian Central, tepatnya ke arah penthouse. Ivanka masih beridiri di depan layar besar itu dengan napas yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Ini melebihi tindakan seorang stalker yang mengerikan. “Apa dia benar-benar tahu aku di sini?” tanya Ivanka ragu. "Tempat ini cukup jauh dan sulit dijangkau." "Tidak ada yang tidak mungkin." Ivanka kembali mendengus. Tak terasa, dia sudah meremas ujung mantelnya. Byakta melirik Ivanka sebentar. Wajah cemas wanita itu, membuat dia sedikit mengernyitkan kening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Anda takut?” tanya Byakta. “Ini bahkan belum apa-apa. Ada yang lebih menarik dari dia.” “Maksudnya?” pupil Ivanka menyusu
Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri. Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda terima?” Ivanka sempat ragu beberapa detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memberikan ponsel itu pada Byakta. “Jangan pergi,” katanya tenang. “Saya sudah tahu apa yang akan terjadi jika Anda memaksa untuk pergi.” Ivanka menarik kembali ponselnya dari tangan Byakta. “Mungkin ini tentang ibumu.” Sesuatu yang samar, melintas cepat di mata Byakta. Sesuatu yang belum pernah ia lihat, seperi sebuah bayangan masa lalu, tapi dia juga bingung apa itu. Byakta menyerupit bir di gelas k
Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya. Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipi
Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta. Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya. Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta. “Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara. “Aman.” Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.” Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri? Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali te
Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam. Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’ “Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil. Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu y