Share

3. Tekanan

Penulis: Nawasena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-26 18:48:51

Ivanka memejamkan matanya sejenak, seolah sedang merasakan denyut dikepalanya yang seperti akan meledak saat ini juga. Belum masuk tengah hari, dua investor mundur. Satu proyek konstruksi ditunda. Suplier tiba-tiba meminta pembayaran di muka. Betapa muaknya dia dengan kejadian malang yang menyergapnya bagai buronan.

Ivanka yakin kalau semua yang terjadi padanya hari ini bukan kebetulan. Setiap kegagalannya, pasti sedang dinikmati oleh orang yang tidak tahu diri. Ini adalah ancaman dari tekanan sistematis yang pernah dikatakan oleh Rival di pertemuan terakhir mereka.

“Sial,” umpatnya. “Ini pasti ulah pria gila itu. Dia benar-benar ingin memerasku.”

Sedangkan di panthouse, Byakta terus menerima laporan dengan senyum puasnya. Dia tampak bahagia hari ini. Wajahnya yang biasa tegas, kini sedikit lebih hangat, kegagalan Ivanka benar-benar mood boster untuknya. Dia yakin kalau sebentar lagi, wanita itu akan jatuh ketangannya. Sejauh ini, tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Byakta Dinaniyaksa Bagaspati.

“Dia mencoba mencari pinjaman alternatif,” ujar Rival. “Sepertinya dia tidak akan menyerah begitu saja.”

Byakta mengalihkan pandangannya dari dokumen ke layar tabletnya. Dia terus menggulir foto-foto Ivanka yang dia dapatkan hampir setiap hari. Semua pergerakan Ivanka tak luput dari perhatiannya, termasuk ketika wanita itu tak sengaja ketiduran di balkon kamarnya kemarin malam.

“Biarkan saja,” katanya. “Bukankah mendapat perlawanan, jauh lebih menarik? Permainan ini jadi tidak membosankan.”

Rival kembali tersenyum, lalu mengangguk. Dia tidak pernah gagal dalam mengagumi bosnya itu. Rival selalu mencontoh Byakta dan menjadikan Byakta sebagai panutannya. Pria malang itu memang sudah lama dibesarkan oleh keluarga Bagaspati. Dia bahkan kehilangan ingatannya ketika usianya baru menginjak lima tahun. Namun keluarga Bagaspati tetap merawatnya dan menjadikannya asisten putra semata wayang mereka—Byakta Dinadiyaksa Bagaspati.

***

Karena sudah terlalu geram dengan perlakuan Bagaspati, tanpa pikri panjang, Ivanka langsung memutuskan untuk datang langsung ke kantor Bagaspati Grup. Dia bahkan tidak perduli kalau nanti harus dipermalukan di sana.

Tepat ketika dia sampai di lobi, para resepsionis tampak gugup dalam menyambutnya. Mereka seperti sudah tahu kalau cepat atau lambat, Ivanka akan datang, tapi meraka tidak menyangka akan secepat ini.

“Kalian hanya perlu tunjukan dimana ruangannya,” kata Ivanka dingin. “Saya bisa jalan sendiri.”

Tepat ketika mendapat petunjuk, Ivanka langsung berjalan setengah berlari menuju ruangan pemimpin Bagaspati itu.

Langkahnya kembali tertahan ketika pintu terbuka. Ivanka menatap ruangan luas dengan furniture mewah dan berkelas tanpa berkedip. Ini tidak seperti ruang kerja, ini seperti sebuah istana di negeri dongeng.

Kekagumannya berhenti tepat ketika seseorang memutar kursi tinggi di pusat ruangan itu.

Byakta duduk dengan sebelah tangan menopang dagu. Dia tidak tersenyum, namun tatapannya membuat Ivanka merasa sedang dicemooh olehnya.

“Jadi Anda memutuskan untuk datang?” katanya, tanpa bergerak.

Ivanka menarik napas kesal. Dia melangkah perlahan dengan wajah yang tetap terangkat. “Apakah Anda yang membekukan semua fasilitas kredit perusahaan saya?”

Byakta mengangkat sebelah alisnya. “Apa anda punya bukti?”

Ivanka meremas tasnya kuat. Pupilnya kembali menggelap. Dia masih berusaha menahan diri. Dia harus tetap mengingat kalau dia ada dimana sekarang. Ini adalah sarang Bagaspati. Dia tidak ingin menghilang dan mati sia-sia seperti pemberontak Bagaspati sebelumnya.

“Ini bukan kompetisi sehat,” ujar Ivanka, dengan suara yang nyaris meledak.

“Dunia bisnis memang tidak sehat.”

Ivanka mendengus, dia membuang muka beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap jijik ke arah Byakta. “Kalau memang Anda menginginkan perusahaan saya, Anda bisa mengambilnya secara terang-terangan. Tidak perlu permainan seperti ini. Anda seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Ini tidak lucu.”

Byakta berdiri perlahan, ia berjalan mendekat. Bahkan terlalu dekat, sampai membuat Ivanka berusaha menahan napasnya ketika berhadapan dengan wajahnya.

“Saya sudah bilang, saya tidak membeli sesuatu yang tidak dijual. Dan saya juga tidak mengambil sesatu yang tidak mau ikut dengan saya.”

Kalimat itu bukan lagi sekedar kalimat peringatan. Itu adalah ancaman, bahkan deklarasi perang dari Bagaspati untuknya.

“Lalu apa yang Anda mau?”

Byakta menurunkan pandangannya. Matanya terus memandangi setiap lekuk tubuh Ivanka tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Sekali lagi, dia bukan tipe pria mesum, tapi lagi-lagi, ketika dia berhadapan langsung dengan Ivanka, sesuatu yang ada di dalam dirinya selalu bergejolak. Ivanka sangat istimewa dimatanya. Bukan karena parasnya yang cantik, tapi karena keunikan dan keras kepalanya yang selalu membuat Byakta penasaran.

“Anda,” bisik Byakta tanpa mengalihkan tatapannya dari leher jenjang Ivanka. “Saya menginginkan Anda.”

Ivanka terkekeh kecil, sebelum akhirnya mendengus. Dimatanya sekarang, Byakta hanya laki-laki murahan yang berusaha mendapatkannya dengan cara yang sama murahannya. Sial, kalau saja dia ada diluar dari kawasan Bagaspati, dia pasti sudah menghajar laki-laki gila ini sampai habis.

“Ini tidak lucu. Saya membahas bisnis, bukan tubuh saya.”

Byakta terkekeh pelan. “Saya tidak sedang bercanda.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Sang Penguasa   9. Black Harbour part 2

    Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata itu yang bukan main banyaknya. Ivanka mundur beberapa langkah seraya menelan ludah. Senyum miris terukir samar diwajahnya yang pucat. “Jadi ini alasan Anda membutuhkan kaca anti peluru?” tanya Ivanka tanpa menoleh. Byakta terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Ivanka, menyentuh pinggang rampingnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajahnya di antara ceruk leher Ivanka. Membuat sensasi aneh merambat di sana. “Itu lah sebabnya saya tidak bisa ceroboh,” bisiknya, kemudian kembali menjauh. “Jadi Anda yang mengendalikan peredaran ini?” Byakta mengangkat kedua bahunya. “Saya hanya menstabilkan—” “Dengan senjata?” Byakta kembali terkekeh pelan. “Dengan keseimbangan yang menuru

  • Obsesi Sang Penguasa   8. Black Harbour part 1

    Alarm di ruang pemantauan masih berbunyi ketika Byakta mematikan notifikasinya dengan satu sentuhan. Di layar, sosok pria berjaket gelap masih berdiri di atap gedung parkir tua di distrik pelabuhan. Kamera professional di tangannya mengarah pada Obsidian Central, tepatnya ke arah penthouse. Ivanka masih beridiri di depan layar besar itu dengan napas yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Ini melebihi tindakan seorang stalker yang mengerikan. “Apa dia benar-benar tahu aku di sini?” tanya Ivanka ragu. "Tempat ini cukup jauh dan sulit dijangkau." "Tidak ada yang tidak mungkin." Ivanka kembali mendengus. Tak terasa, dia sudah meremas ujung mantelnya. Byakta melirik Ivanka sebentar. Wajah cemas wanita itu, membuat dia sedikit mengernyitkan kening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Anda takut?” tanya Byakta. “Ini bahkan belum apa-apa. Ada yang lebih menarik dari dia.” “Maksudnya?” pupil Ivanka menyusu

  • Obsesi Sang Penguasa   10. Peringatan

    Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri. Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda terima?” Ivanka sempat ragu beberapa detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memberikan ponsel itu pada Byakta. “Jangan pergi,” katanya tenang. “Saya sudah tahu apa yang akan terjadi jika Anda memaksa untuk pergi.” Ivanka menarik kembali ponselnya dari tangan Byakta. “Mungkin ini tentang ibumu.” Sesuatu yang samar, melintas cepat di mata Byakta. Sesuatu yang belum pernah ia lihat, seperi sebuah bayangan masa lalu, tapi dia juga bingung apa itu. Byakta menyerupit bir di gelas k

  • Obsesi Sang Penguasa   7. Pengawasan

    Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya. Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipi

  • Obsesi Sang Penguasa   6. Penthouse

    Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta. Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya. Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta. “Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara. “Aman.” Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.” Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri? Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali te

  • Obsesi Sang Penguasa   5. Kelemahan Part 2

    Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam. Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’ “Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil. Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status