Se connecterIvanka memejamkan matanya sejenak, seolah sedang merasakan denyut dikepalanya yang seperti akan meledak saat ini juga. Belum masuk tengah hari, dua investor mundur. Satu proyek konstruksi ditunda. Suplier tiba-tiba meminta pembayaran di muka. Betapa muaknya dia dengan kejadian malang yang menyergapnya bagai buronan.
Ivanka yakin kalau semua yang terjadi padanya hari ini bukan kebetulan. Setiap kegagalannya, pasti sedang dinikmati oleh orang yang tidak tahu diri. Ini adalah ancaman dari tekanan sistematis yang pernah dikatakan oleh Rival di pertemuan terakhir mereka. “Sial,” umpatnya. “Ini pasti ulah pria gila itu. Dia benar-benar ingin memerasku.” Sedangkan di panthouse, Byakta terus menerima laporan dengan senyum puasnya. Dia tampak bahagia hari ini. Wajahnya yang biasa tegas, kini sedikit lebih hangat, kegagalan Ivanka benar-benar mood boster untuknya. Dia yakin kalau sebentar lagi, wanita itu akan jatuh ketangannya. Sejauh ini, tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Byakta Dinaniyaksa Bagaspati. “Dia mencoba mencari pinjaman alternatif,” ujar Rival. “Sepertinya dia tidak akan menyerah begitu saja.” Byakta mengalihkan pandangannya dari dokumen ke layar tabletnya. Dia terus menggulir foto-foto Ivanka yang dia dapatkan hampir setiap hari. Semua pergerakan Ivanka tak luput dari perhatiannya, termasuk ketika wanita itu tak sengaja ketiduran di balkon kamarnya kemarin malam. “Biarkan saja,” katanya. “Bukankah mendapat perlawanan, jauh lebih menarik? Permainan ini jadi tidak membosankan.” Rival kembali tersenyum, lalu mengangguk. Dia tidak pernah gagal dalam mengagumi bosnya itu. Rival selalu mencontoh Byakta dan menjadikan Byakta sebagai panutannya. Pria malang itu memang sudah lama dibesarkan oleh keluarga Bagaspati. Dia bahkan kehilangan ingatannya ketika usianya baru menginjak lima tahun. Namun keluarga Bagaspati tetap merawatnya dan menjadikannya asisten putra semata wayang mereka—Byakta Dinadiyaksa Bagaspati. *** Karena sudah terlalu geram dengan perlakuan Bagaspati, tanpa pikri panjang, Ivanka langsung memutuskan untuk datang langsung ke kantor Bagaspati Grup. Dia bahkan tidak perduli kalau nanti harus dipermalukan di sana. Tepat ketika dia sampai di lobi, para resepsionis tampak gugup dalam menyambutnya. Mereka seperti sudah tahu kalau cepat atau lambat, Ivanka akan datang, tapi meraka tidak menyangka akan secepat ini. “Kalian hanya perlu tunjukan dimana ruangannya,” kata Ivanka dingin. “Saya bisa jalan sendiri.” Tepat ketika mendapat petunjuk, Ivanka langsung berjalan setengah berlari menuju ruangan pemimpin Bagaspati itu. Langkahnya kembali tertahan ketika pintu terbuka. Ivanka menatap ruangan luas dengan furniture mewah dan berkelas tanpa berkedip. Ini tidak seperti ruang kerja, ini seperti sebuah istana di negeri dongeng. Kekagumannya berhenti tepat ketika seseorang memutar kursi tinggi di pusat ruangan itu. Byakta duduk dengan sebelah tangan menopang dagu. Dia tidak tersenyum, namun tatapannya membuat Ivanka merasa sedang dicemooh olehnya. “Jadi Anda memutuskan untuk datang?” katanya, tanpa bergerak. Ivanka menarik napas kesal. Dia melangkah perlahan dengan wajah yang tetap terangkat. “Apakah Anda yang membekukan semua fasilitas kredit perusahaan saya?” Byakta mengangkat sebelah alisnya. “Apa anda punya bukti?” Ivanka meremas tasnya kuat. Pupilnya kembali menggelap. Dia masih berusaha menahan diri. Dia harus tetap mengingat kalau dia ada dimana sekarang. Ini adalah sarang Bagaspati. Dia tidak ingin menghilang dan mati sia-sia seperti pemberontak Bagaspati sebelumnya. “Ini bukan kompetisi sehat,” ujar Ivanka, dengan suara yang nyaris meledak. “Dunia bisnis memang tidak sehat.” Ivanka mendengus, dia membuang muka beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap jijik ke arah Byakta. “Kalau memang Anda menginginkan perusahaan saya, Anda bisa mengambilnya secara terang-terangan. Tidak perlu permainan seperti ini. Anda seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Ini tidak lucu.” Byakta berdiri perlahan, ia berjalan mendekat. Bahkan terlalu dekat, sampai membuat Ivanka berusaha menahan napasnya ketika berhadapan dengan wajahnya. “Saya sudah bilang, saya tidak membeli sesuatu yang tidak dijual. Dan saya juga tidak mengambil sesatu yang tidak mau ikut dengan saya.” Kalimat itu bukan lagi sekedar kalimat peringatan. Itu adalah ancaman, bahkan deklarasi perang dari Bagaspati untuknya. “Lalu apa yang Anda mau?” Byakta menurunkan pandangannya. Matanya terus memandangi setiap lekuk tubuh Ivanka tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Sekali lagi, dia bukan tipe pria mesum, tapi lagi-lagi, ketika dia berhadapan langsung dengan Ivanka, sesuatu yang ada di dalam dirinya selalu bergejolak. Ivanka sangat istimewa dimatanya. Bukan karena parasnya yang cantik, tapi karena keunikan dan keras kepalanya yang selalu membuat Byakta penasaran. “Anda,” bisik Byakta tanpa mengalihkan tatapannya dari leher jenjang Ivanka. “Saya menginginkan Anda.” Ivanka terkekeh kecil, sebelum akhirnya mendengus. Dimatanya sekarang, Byakta hanya laki-laki murahan yang berusaha mendapatkannya dengan cara yang sama murahannya. Sial, kalau saja dia ada diluar dari kawasan Bagaspati, dia pasti sudah menghajar laki-laki gila ini sampai habis. “Ini tidak lucu. Saya membahas bisnis, bukan tubuh saya.” Byakta terkekeh pelan. “Saya tidak sedang bercanda.” ***Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang
“Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat
Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa
Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Byakta tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terkunci pada
Hening mulai menyapa keduanya. Namun kali ini lebih berat dari sebelumnya. Byakta menurunkan tablet itu perlahan. Pikirannya mulai merangkai potongan-potongan yang terasa tidak masuk akal sebelumnya. Tentang Ivanka dan tentang semua yang dilewatkan selama sakit belakangan terakhir. Semua seperti terhubung dalam satu garis yang belum sepenuhnya terlihat. “Jadi ini bukan kebetulan,” gumamnya pelan. Rival tidak menjawab. Tapi ekspresinya sudah cukup untuk menjadi jawaban. Byakta berjalan menjauh beberapa langkah. Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tatapannya menerawang ke arah pondasi bangunan di depannya. “Menurutmu… Ivanka tahu siapa dia?” tanya Byakta tanpa menoleh. Rival terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali menarik napas gusar. “Saya tidak bisa memastikan,” jawabnya hati-hati. “Tapi dari sikapnya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.” Byakta terkekeh pelan. Tawanya begitu singkat dan dingin. Ada sirat kecewa di wajahnya. “Menarik.” Rival mengernyit samar.
“Apa?” bisik Ivanka lirih. Air matanya hampir saja mengalir. “Apa maksudmu?” Byakta memejamkan mata sejenak. Napasnya kembali tidak teratur. Beberapa detik kemudian, dia memaksa membuka matanya lagi. Tatapannya berubah penuh tekanan. “…bahaya…” Kini suara itu keluar dengan sangat jelas. Ivanka
Kaki Ivanka berhenti ketika melihat mata itu menatapnya. Mata yang sudah satu minggu lebih tertutup, akhirnya kini bisa meresponnya. Air mata tak tertahan lagi. Ivanka tersenyum dengan bulir bening yang tak pernah usai. Dengan langkah gontai, dia berjalan mendekat. Meraih tangan Byakta yang
“Biar aku yang melakukannya, Bos.” Rival hendak merebut pistol dari tangan Byakta. Namun pria itu segera menepisnya dengan gerakan kasar. Dia menatap Rival dengan sorot yang sangat tajam. Seolah mengatakan jangan pernah ikut campur, dan hanya dia yang boleh menghukum
Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.







