Masuk
Sebuah kota dengan gemerlap lampu yang mampu mengubah malam menjadi terang melebihi siang.
Avernal City, kota yang tidak pernah tidur di malam hari. Kota dimana kekuasan tertinggi dimenangkan oleh dia sang pemilik Black Harbour—Byakta Dinaniyaksa Bagaspati. Pria matang berusia 30 tahun yang sudah di latih menjadi manusia berdarah dingin semenjak dia lahir. Dia terkenal dingin, tak segan menghabisi lawannya, walau tanpa menyentuh atau mengotori tangannya. Di puncak gedung Bagaspati Grup, Byakta berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Jas hitamnya masih terpasang rapi, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Di bawah sana, lampu-lampu kota terlihat seperti seekor kunang-kunang yang bisa ia padamkan kapanpun ia mau. Pemadangan hangat dan gemerlap yang selalu memanjakan matanya setiap malam. Byakta menghirup napas sebanyak-bayaknya, seolah sedang melepas rindu pada tempat yang sudah satu minggu ini tidak dia lihat. “Pemandangan ini memang selalu membuatku tenang,” gumamnya pelan, seraya melonggarkan dasi. Pintu terketuk pelan. Tanpa menoleh, Byakta sudah tahu siapa yang selalu berani mengganggunya disaat seperti ini. “Dia menolak, Bos,” suara Rival—asisten sekaligus sekretaris Byakta yang khas dengan baritonnya, kini sudah berdiri tegap di belakang Byakta dengan wajah yang selalu ia tundukkan. “Maafkan saya, saya gagal membawanya.” “Ulangi.” Rival mengangguk seraya menarik napas gusar. “Nona Ivanka menolak tawaran akuisi kita,” jelasnya. “Dia tidak membeli perusahaan, tapi dia mengambil alih semuanya,” Rahang Rival mengeras, kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuh. Kegagalan ini, seperti cambuk tak kasat mata untuknya. “Maaf saya telah mengecewakan.” Byakta menyunggingkan senyum khas pemburunya. Perlahan dia berbalik untuk menatap Rival yang sudah gemetar ketakutan. Dia tahu kalau Byakta bukan tipe orang yang mau menerima kegagalan, sekalipun dia memberi penjelasan. “Maaf, tapi-tapi apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Bos?” tanya Rival, “Apa kita biarkan saja dia? Dan mencari target lain?” Tatapan Byakta masih terlihat tenang, walau Rival sudah bisa menebak, ada sesuatu yang mulai berubah dari raut wajah sang bos. “Sejak kapan kamu jadi banyak bicara, Rival?” Rival kembali menundukkan kepalanya. “Maaf,” ucapnya pelan. “Jadwalkan ulang pertemuannya.” Rival mengangkat wajahnya ragu, keningnya berkerut beberapa saat. “U-untuk negosiasi ulang?” tanya Rival. “Ta-tapi, Bos, ini hanya akan—” “Tidak,” jawabnya dengan suara rendah. “Saya tidak suka mengulang,” lanjutnya. “Ini hanya untuk melihat dia secara langsung.” Benar saja, Byakta memang tidak pernah menerima kekelahan sekecil apapun. Tak lama, senyum simpul terbit di wajah datar Rival. Dia mengangguk pelan, lalu undur diri. Rival selalu menuruti apapun perintah Byakta, sekalipun itu harus memenggal kepala manusia. Dia tidak peduli dengan aturan ataupun dosa, karena perintah Tuannya ada di atas segalanya. Sedangkan disudut kota lain, Ivanka masih duduk di meja kerjanya. Wajahnya lelah dengan mata sayu karena kurang tidur. Dia meremas jemarinya. Dia ingin mengumpat dan meludahi orang tua sialan yang sudah merusak bisnis almarhum ibunya dalam sekejap mata. Dengan gerakan perlahan, dia menutup laptopnya. Wajahnya menengadah menatap.langit-langit yang di terangi cahaya temaram. Tarikan napas berat, lolos dari hidungnya. “Maaf, Iva udah gagal jaga peninggalan, Mama,” gumamnya pelan. Ruang kerja kecil itu terasa semakin sesak dan sempit. Dokumen hutang menumpuk di meja. Semua tagihan hutang jatuh tempo dalam hitungan minggu. “Apa kita benar-benar menolak mereka?” seorang laki-laki setengah tua datang dengan kondisi yang sama lelahnya. Ivanka tidak bergerak. Dia juga tisak langsung menjawab. Dia memijat keningnya dengan mata terpejam, lalu mengangguk samar. “Kalau kita menerima mereka, perusahaan yang kita bangun susah payah ini bukan lagi milik kita,” ujar Ivanka ragu. Ivanka sendiri bahkan belum tahu, kalau keputusannya ini benar atau tidak, dia hanya refleks menolak Bagaspati karena tahu sisi gelap dari kepemimpinan mereka. “Mereka hanya akan menjadikan kita mainan. Dan aku tidak suka dipermainkan.” “Tapi Bagaspati bukan lawan yang kecil, Ivanka.” “Aku tahu,” Ivanka bangkit dari duduknya. Merapikan dukumen-dokumen sialan itu dengan kasar. “Bahkan semua orang juga tahu kegilaan Bagaspati seperti apa, tapi aku tetap tidak akan menyerahkan bisnis ini begitu saja.”Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata itu yang bukan main banyaknya. Ivanka mundur beberapa langkah seraya menelan ludah. Senyum miris terukir samar diwajahnya yang pucat. “Jadi ini alasan Anda membutuhkan kaca anti peluru?” tanya Ivanka tanpa menoleh. Byakta terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Ivanka, menyentuh pinggang rampingnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajahnya di antara ceruk leher Ivanka. Membuat sensasi aneh merambat di sana. “Itu lah sebabnya saya tidak bisa ceroboh,” bisiknya, kemudian kembali menjauh. “Jadi Anda yang mengendalikan peredaran ini?” Byakta mengangkat kedua bahunya. “Saya hanya menstabilkan—” “Dengan senjata?” Byakta kembali terkekeh pelan. “Dengan keseimbangan yang menuru
Alarm di ruang pemantauan masih berbunyi ketika Byakta mematikan notifikasinya dengan satu sentuhan. Di layar, sosok pria berjaket gelap masih berdiri di atap gedung parkir tua di distrik pelabuhan. Kamera professional di tangannya mengarah pada Obsidian Central, tepatnya ke arah penthouse. Ivanka masih beridiri di depan layar besar itu dengan napas yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Ini melebihi tindakan seorang stalker yang mengerikan. “Apa dia benar-benar tahu aku di sini?” tanya Ivanka ragu. "Tempat ini cukup jauh dan sulit dijangkau." "Tidak ada yang tidak mungkin." Ivanka kembali mendengus. Tak terasa, dia sudah meremas ujung mantelnya. Byakta melirik Ivanka sebentar. Wajah cemas wanita itu, membuat dia sedikit mengernyitkan kening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Anda takut?” tanya Byakta. “Ini bahkan belum apa-apa. Ada yang lebih menarik dari dia.” “Maksudnya?” pupil Ivanka menyusu
Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri. Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda terima?” Ivanka sempat ragu beberapa detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memberikan ponsel itu pada Byakta. “Jangan pergi,” katanya tenang. “Saya sudah tahu apa yang akan terjadi jika Anda memaksa untuk pergi.” Ivanka menarik kembali ponselnya dari tangan Byakta. “Mungkin ini tentang ibumu.” Sesuatu yang samar, melintas cepat di mata Byakta. Sesuatu yang belum pernah ia lihat, seperi sebuah bayangan masa lalu, tapi dia juga bingung apa itu. Byakta menyerupit bir di gelas k
Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya. Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipi
Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta. Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya. Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta. “Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara. “Aman.” Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.” Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri? Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali te
Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam. Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’ “Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil. Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu y