ログイン“Awalnya, mereka menginginkan otakku, tapi karena terlalu beresiko, mereka memasang chip itu untuk mengontrol semua pergerakanku.” Byakta menyingkap selimutnya. Kini dia duduk bersila dengan tangan yang sibuk membersihkan sisa darah di hidungnya. “Kenapa? Tapi kenapa harus kamu, Byakta?” tanya rival tak percaya. Dia menggeleng kasar. tidak terima semua kejadian mengerikan ini adalah nyata, dan terjadi pada orang yang paling dekat dengannya. “Kamu juga tahu kalau aku pemilik IQ tertinggi kala itu,” sahut Byakta. Suaranya sudah cukup santai sekarang. “Aku bahkan bisa menghafal semua rumus coding itu dalam hitungan menit. Dan semua server yang ku buat adalah hasil modifikasi dari server milik Black Raven. Aku membuat versi baru yang lebih aman dan lebih terkendali. Dan mungkin mereka sudah menyadari itu sekarang." Byakta turun dari tempat tidurnya. Dia duduk bersila tepat di depan Rival, lalu menjatuhkan kepalan
“Tolong!” Teriakan Rival menggema di seluruh ruangan. Namun semuanya sia-sia. Tidak ada satupun yang mendengar. Ruangan kedap suara ini berubah menjadi penjara hidup bagi mereka berdua. Di pangkuannya, Byakta masih berusaha mencakar udara. Seolah sedang mencari pegangan yang kokoh untuk menyalurkan rasa sakitnya. Tubuh bagian bawah pria itu sudah mengejang. Matanya yang semula terbuka, kini sudah terpejam. Napasnya masih terus tersedak setiap kali alarm server berbunyi. Rival kembali teringat momen ketika pertama kali dia menemukan Byakta delapan belas tahun yang lalu. ‘Mereka memasang sesuatu di kepalaku.’ Kalimat itu kembali mengacak ingatan Rival. Dengan gerakan kasar, Rival mencari sesuatu yang aneh di kepala Byakta. Dia mengacak rambut tebal itu. Kedua mata Rival langsung membulat. Ujung jarinya berhenti di satu titik, di mana ada bekas sayatan memanjang di belakang kepala Byakta.
Byakta kembali memejamkan mata ketika rasa sakit itu perlahan menghilang. Rasa sakit yang memuakkan, dia datang dan pergi dengan membawa getaran aneh di kepalanya. Seperti sesuatu yang dicabut paksa dari pangkal rambutnya. Tak lama, pintu diketuk. Rival datang dengan membawa air hangat dan juga tablet di tangannya. Alih-alih membantu Byakta pindah duduk di tempat yang lebih nyaman, dia justru ikut duduk ngesot di lantai dengan tubuh bersandar di tepi ranjang. “Minum dulu air hangatnya,” katanya pelan. Byakta tersenyum, tangannya yang bergetar meraih gelas itu dengan susah payah. Melihat itu, Rival hanya membuang muka. Dia tidak tega melihat pria ini perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Untuk apa tablet itu?” tanya Byakta akhirnya. “Aku hanya sedang memasang alat penyadap di ponsel Ivanka dan juga di kamarnya,” katanya. “Tinggal sinkronisasi, dan semuanya selesai.” Byakta kembali terkekeh. Dia tahu
“Dia mau kemana?” Di lobby, Ivanka tidak sengaja berpapasan dengan Byakta. Pria itu melihatnya, tapi dia tidak menyapa atau sekedar tersenyum seperti biasanya. Agak sakit memang, tapi Ivanka justru tersenyum karena rencananya sudah berjalan lancar. Byakta mulai menjauh dan membencinya. Tanpa dia sadari, ada banyak rencana yang sedang di atur di kepala pria itu. “Mana kuncinya—” Ivanka melihat Byakta yang sudah mengulurkan tangan pada supirnya. Wajah pria itu tetap dingin dan menyeramkan. Dari jarak ini, Ivanka merasa dia tidak lagi bisa menyentuhnya. “Tapi bos, Pak Rival meminta saya—” “Siapa yang membayarmu?” potong Byakta dingin. “Aku bilang… mana kuncinya. Aku butuh waktu sendiri.” Baru hendak melangkah menghampiri, Rival tiba-tiba memanggilnya Ivanka. Dia dan Byakta sempat bertemu tatap sebentar, tapi lagi-lagi, Byakta mengabaikannya. Pria itu langsung pergi dengan langkah besar. Ivank
Kini Rendra sudah berdiri, membuat Byakta yang masih berjongkok, harus sedikit mendongak. “Karena nyawanya memang penting!” potong Rival kesal. “Jadi aku tidak penting? Nyawaku tidak penting?” Tidak ada yang menjawab. Ketiga pria itu hanya saling pandang. Byakta menyugar rambutnya, lalu kembali berdiri. Byakta kembali memutar pistol di tangannya, kemudian melirik Rendra dari samping. “Efek obat itu masih terasa?” tanyanya ringan. “Menyiksa, kan?” “Lucu,” lanjutnya pelan. “Kamu selalu ingin berdiri di tempat yang sama denganku, bahkan dalam penderitaan.” Byakta berbalik menatap Rendra seutuhnya. "Kalau memang merasakan sakit yang sama, setidaknya kamu juga menderita sama seprti aku. Tapi kenapa kamu justru berbalik menyerangku, dan mengambil apa yang bukan milikmu?" Rendra tidak menjawab. Namun wajahnya sudah berubah merah padam. Ucapan Byakta sangat menyentil harga dirinya. Dia seperti sedang mengemis perhatian dari semua orang. Walau memang itu kenyataanya, tapi
“Kamu memang tidak pernah berubah, Bos.” Rendra memperdalam tatapannya. Dia tahu kalau saat ini, Byakta sedang bimbang. Dia juga tidak menyangkal kemarahan Byakta yang sudah meluap. Namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rendra juga mengakui kalau Byakta adalah orang baik dan orang paling tulus yang pernah dia kenal. Terlepas dari kata-kata kasar dan juga tekanan yang selalu dia berikan. “Cinta,” gumam Byakta lagi. Dia menempelkan ujung pistol itu di pipi nya. Matanya masih menatap Rendra, menguncinya dengan sangat rapat. “Cinta seperti apa yang kamu maksud? Apa dia juga mencintaimu?” Rendra menuntun dirinya untuk duduk bersila. Dia membalas tatapan Byakta tanpa rasa takut sedikitpun. Lalu tersenyum. “Apa kamu yakin, dia juga mencintaimu?” Byakta kembali berkata. Kali ini pandangannya sedikit turun, tepat ketika gelenyar aneh kembali menyerang kepalanya. “Kamu—” “Cinta tidak membutuhkan balasan, Bos.” Kalimat itu membuat Byakta bersusah payah membuka matanya.







