MasukMobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang
“Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat
Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa
Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Byakta tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terkunci pada
Hening mulai menyapa keduanya. Namun kali ini lebih berat dari sebelumnya. Byakta menurunkan tablet itu perlahan. Pikirannya mulai merangkai potongan-potongan yang terasa tidak masuk akal sebelumnya. Tentang Ivanka dan tentang semua yang dilewatkan selama sakit belakangan terakhir. Semua seperti terhubung dalam satu garis yang belum sepenuhnya terlihat. “Jadi ini bukan kebetulan,” gumamnya pelan. Rival tidak menjawab. Tapi ekspresinya sudah cukup untuk menjadi jawaban. Byakta berjalan menjauh beberapa langkah. Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tatapannya menerawang ke arah pondasi bangunan di depannya. “Menurutmu… Ivanka tahu siapa dia?” tanya Byakta tanpa menoleh. Rival terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali menarik napas gusar. “Saya tidak bisa memastikan,” jawabnya hati-hati. “Tapi dari sikapnya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.” Byakta terkekeh pelan. Tawanya begitu singkat dan dingin. Ada sirat kecewa di wajahnya. “Menarik.” Rival mengernyit samar.
Byakta sedikit menegakkan tubuhnya. Dia menatap Ivanka dengan tatapan yang tidak lagi dingin. Tatapan itu seolah mengatakan kalau ini adalah salam perpisahan terbaik yang sudah dia persiapkan untuknya. “Tepat ketika kontrak ini berakhir, kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan k
Byakta meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali terkekeh pahit. Pria tua itu tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Ini sudah biasa. Bahkan terlalu biasa untuk Byakta yang mendapat perlakuan seperti ini seumur hidupnya. Bagaspati selalu membuat kedo
Pagi menyingsing dengan begitu lambat. Byakta sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. Entah sudah berapa botol bir yang ia tenggak selama semalam suntuk, tapi kesadarannya tetap bertahan. Dia tidak mabuk ataupun mengantuk. Pikirannya masih tertuju pada Ivanka yang entah seda
“Kamu bisa menekan pelatuk ini nanti,” bisik Ivanka. Kedua tangannya yang hangat kini menyentuh pipi Byakta dengan jari lentiknya. “Beri aku waktu.” Setelah selesai mengatakan itu, Ivanka langsung pergi tanpa berkata lagi. Dia juga tidak mengejar ataupun menahannya. Uc







