Beranda / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 5. Kelemahan Part 2

Share

5. Kelemahan Part 2

Penulis: Nawasena
last update Tanggal publikasi: 2026-02-26 18:49:00

Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam.

Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’

“Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil.

Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu yang tidak punya muka.

Dengan tangan yang masih gemetar, dia meraih ponselnya. Mengetik nomor Byakta dan menunggu dering nada sambungnya.

“Apa Anda menerima sesuau?” tanya Byakta. Dia seperti sudah bisa menebak kalau semua ini akan terjadi.

“Iya.”

“Hancurkan.”

Ivanka menarik napasnya dalam. “Anda tahu siapa yang mengirim ini?”

“Sedang saya cari.”

Suara Byakta terdengar lebih misterius dan lebih dingin dari sebelumnya. “Tenanglah. Lima menit lagi, orang saya akan datang kesana.”

“Kenapa harus saya?”

“Karena Anda berdiri terlalu dekat dengan saya,” katanya. “Jangan berpikir untuk mundur. Karena saat ini, tempat teraman Anda hanya berada di dekat saya.”

Ivanka menutup sambungan telepon, lalu melempar ponselnya. “Akhh! Sialan!” pekiknya murka. Napasnya yang memburu, semakin membuat matanya menyipit. Dadanya turun naik dengan cepat. “Bajingan gila!”

***

Di penthouse Byakta melempar amplop serupa ke meja kaca. Dia juga menerima satu amplop denga nisi yang sama, namun dengan tulisan berbeda: ‘Kita lihat, seberapa kuat kamu melindunginya.’

Matanya menggelap, namun senyum tipis muncul digaris wajahnya yang tegas. Tak terasa, kedua tangannya sudah terkepal kuat.

“Bos, ini bukan serangan wilayah,” ujar Rival.

“Temukan siapa yang bocor,” perintahnya. “Saya menginginkan kepalanya,” kata Byakta dengan senyum misteriusnya.

Rival mengangguk, dia membuka ponselnya sebentar. “Sudah dicurigai satu nama,” jelasnya, seraya menyalakan layar CCTV dari Noctis Row semalam.

Dari sana dia melihat seseorang yang ia pecaya berdiri terlalu dekat dengan Rival semalam. Dan dia sekrang tahu siapa pengkhianat yang sebenarnya.

“Bawa dia. Jangan dulu dihabisi,” katanya. “Kali ini, biar saya yang melakukannya.”

***

Malam itu, Ivanka mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ia menegang, langkah kakinya gemetar ketika pintu berhasil diketuk. Seharian ini, dia sudah seperti orang gila yang selalu waspada. Bahkan ketika pengawal yang sengaja dikirim Byakta uantuk menjaganya datang, dia tetap mengusirnya penuh ketakutan.

Pnselnya bergetar diatas meja. Satu pesan masuk dari Byakta. “Buka pintunya ini saya.”

Ivanka menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat untuk membuka pintu. Byakta sudah berdiri disana, dengan stelan biasa tanpa berbalut jas seperti biasa.

“Tinggalkan tempat ini,” katanya penuh penekanan.

“Apa maksudmu?” tanya Ivanka dengan wajah gugupnya yang pucat. “Ayah saya—”

“Saya sudah menyiapkan tempat yang aman.”

Rasa marah, bingung, takut bercampur menjadi satu sekarang. Ivanka meremas kepalanya muak. “Anda tidak bisa mengatur hidup saya seperti ini.”

Tanpa ekspresi, Bykata melangkah mendekat. Dia kembali menyentuh pipi Ivanka untuk kedua kalinya. Kali ini, pipi itu terasa lebih hangat dan lebih layu. “Dengar saya baik-baik, Ivanka,” katanya. “Semalam seseroang sudah berusaha untuk membunuh saya. Dan sekarang dia mengirim ancaman untuk Anda.”

“Apa artinya itu?”

Tatapan Byakta turun keleher jenjang Ivanka. “Tetap berdiri dibelakang saya. Tetap berada di dalam jangkauan saya,” katanya. “Sekarang, Anda terlalu berharga untuk mati sia-sia.” Lagi-lagi senyum misterius itu terbit diwajahnya.

Ivanka meremas jemarinya, lantas mendorong Byakta kasar. “Bajingan! Ini benar-benar memuakkan!” umpatnya. “Saya hanya terikat kontrak bisnis. Saya bekerja bukan untuk ini!”

Ivanka mencengkram kerah baju Byakta dan menatapnya dalam-dalam. “Janga pernah bermain-main dengan saya. Kalau memang kamu bisa membunuh orang tanpa menyentuh, saya juga bisa membunuh orang tanpa suara.”

Entah keberanian macam apa yang berusaha ia perlihatkan. Tapi Byakta seperti menikmati keberanian ini. Dia bahkan mengangguk mengakui. Byakta kembali membelai pipi Ivanka.

“Iya, saya tahu itu.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Sang Penguasa   104. Masuk Ke Sarang Musuh

    Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”

  • Obsesi Sang Penguasa   103. Menghadapi Kecurigaan Byakta

    Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang

  • Obsesi Sang Penguasa   102. Kepergok

    “Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat

  • Obsesi Sang Penguasa   101. Interogasi

    Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa

  • Obsesi Sang Penguasa   100. Akhirnya Dia Kembali

    Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Ivanka menarik napas panjang. Sebelum masuk rumah, dia memperhatikan bangunan mewah itu lebih dari setengah jam. Dia bahkan tidak sadar sudah diperhatikan Byakta sejak tadi dari dalam kamarnya yang ada di lantai tiga. Pria itu tidak berniat untuk menemuinya secara langsung. Dia seperti sedang berusaha menilai Ivanka dan mempertahankan kepercayaannya. “Bos… dia datang.” Itu adalah suara Rival yang entah kapan datangnya, dia tiba-tiba saja ada di belakangnya. Byakta tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terkunci pada

  • Obsesi Sang Penguasa   99. Kembalinya Tuan Muda Bagaspati

    Hening mulai menyapa keduanya. Namun kali ini lebih berat dari sebelumnya. Byakta menurunkan tablet itu perlahan. Pikirannya mulai merangkai potongan-potongan yang terasa tidak masuk akal sebelumnya. Tentang Ivanka dan tentang semua yang dilewatkan selama sakit belakangan terakhir. Semua seperti terhubung dalam satu garis yang belum sepenuhnya terlihat. “Jadi ini bukan kebetulan,” gumamnya pelan. Rival tidak menjawab. Tapi ekspresinya sudah cukup untuk menjadi jawaban. Byakta berjalan menjauh beberapa langkah. Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tatapannya menerawang ke arah pondasi bangunan di depannya. “Menurutmu… Ivanka tahu siapa dia?” tanya Byakta tanpa menoleh. Rival terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali menarik napas gusar. “Saya tidak bisa memastikan,” jawabnya hati-hati. “Tapi dari sikapnya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.” Byakta terkekeh pelan. Tawanya begitu singkat dan dingin. Ada sirat kecewa di wajahnya. “Menarik.” Rival mengernyit samar.

  • Obsesi Sang Penguasa   63. Pengorbanan Tak Terlihat

    Byakta sedikit menegakkan tubuhnya. Dia menatap Ivanka dengan tatapan yang tidak lagi dingin. Tatapan itu seolah mengatakan kalau ini adalah salam perpisahan terbaik yang sudah dia persiapkan untuknya. “Tepat ketika kontrak ini berakhir, kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan k

  • Obsesi Sang Penguasa   61. Rival Vs Ivanka

    Byakta meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali terkekeh pahit. Pria tua itu tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Ini sudah biasa. Bahkan terlalu biasa untuk Byakta yang mendapat perlakuan seperti ini seumur hidupnya. Bagaspati selalu membuat kedo

  • Obsesi Sang Penguasa   50. Kejujuran Byakta

    Pagi menyingsing dengan begitu lambat. Byakta sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. Entah sudah berapa botol bir yang ia tenggak selama semalam suntuk, tapi kesadarannya tetap bertahan. Dia tidak mabuk ataupun mengantuk. Pikirannya masih tertuju pada Ivanka yang entah seda

  • Obsesi Sang Penguasa   49. Langkah Byakta

    “Kamu bisa menekan pelatuk ini nanti,” bisik Ivanka. Kedua tangannya yang hangat kini menyentuh pipi Byakta dengan jari lentiknya. “Beri aku waktu.” Setelah selesai mengatakan itu, Ivanka langsung pergi tanpa berkata lagi. Dia juga tidak mengejar ataupun menahannya. Uc

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status