Share

6. Penthouse

Penulis: Nawasena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 22:00:43

Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta.

Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya.

Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta.

“Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara.

“Aman.”

Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.”

Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri?

Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali tersenyum. “Anda tidak punya hak—“

“Justru saya punya hak,” potong Byakta halus. “Kotrak kita sudah berjalan. Apapun yang Anda lakukan, apapun yang ada hubungannya dengan Anda, saya punya hak atas itu.”

“Sakit jiwa.”

Lift berhenti di lantai tertinggi di Obsidian Central. Wajah Ivanka masih tegang dengan urat di pelipis yang sedikit menonjol. Pintu terbuka, dan Ivanka untuk pertama kalinya menyadari bahwa kata tinggi tidak cukup untuk menggambarkan tempat itu.

Penthous itu bukan hanya sekedar luas. Dia seperti istana modern yang menggantung di atas kota. Lantai marmer hitam mengkilap, langit-langit tinggi dengan lampu gantung minimalis. Dinding kaca membentang menghadap seluruh skyline malam. Sungguh memandangan mata yang menakjubkan untuk Ivanka.

Dari atas sini, kota terlihat sangat kecil, terasa mudah untuk diinjak dalam satu kali pijakan.

“Mulai malam ini, Anda tinggal di sini,” kata Byakta pelan.

Ivanka melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya memantul lembut di atas lantai marmer. “Anda membuatkan penjara yang begitu mewah untuk saya,” ujarnya seraya terkekeh miris.

Byakta menyentuh pintu lift dengan satu sentuhan kartu akses. “Ini sebuah benteng pertahanan,” katanya lembut. “Tidak usah di besar-besarkan. Anda bicara seperti itu, seperti saya adalah penjahat betulan.”

Ivanka menatap Byakta tak percaya, lalu kembali membuang muka. “Otakmu tetap tidak mudah untuk dimengerti,” gumamnya pelan.

Byakta terkekeh ringan. Dia berjalan melewati Ivanka menuju ruang tengah . “Akses keluar masuk di kontrol. Semua jadwal Anda akan diatur. Anda akan ditemani pengawal wanita selama dua puluh empat jam—“

“Cih,” dengus Ivanka. “Anda tidak bisa mengatur hidup saya seperti ini.”

Byakta menatapnnya tanpa ekspresi. “Saya sudah melakukannya.”

Sunyi kembali turun seperti kabut diantara keduanya. Ivanka berjalan mundur menuju dinding kaca. Kota berkilau tepat beada di bawahnya. Lampu kendaraan tampak seperti sebuah garis cahaya yang saling berkejaran. Tangan Ivanka terulur menyentuh kaca itu perlahan. Kaca yang tebal dan dingin.

“Anti peluru,” ucap Byakta seolah membantu menjawab pertanyaan yang masih bersarang di dada wanita itu.

Ivanka menoleh pelan, dia tersenyum sinis lalu mengangguk samar.

“Semua kaca di sini anti peluru. Pintu masuk menggunakan tiga lapis pengaman biometrik. Lift hanya bisa diaskes dengan kode khusus. Anda aman—“

“Kenapa?” potong Ivanka.

Byakta menghela napas lelah. Dia tidak pernah banyak bicara sebelumnya. Dan ini pertama kalinya dia berhubungan dengan wanita secara intens. Dia tidak menyangka akan semelelahkan ini. “Karena mulai malam ini, nama Anda sudah masuk ke dalam sistem mereka.”

Kening Ivanka berkerut, dia memiringkan wajahnya sebentar seraya mencermati garis wajah Byakta dengan seksama. “Siapa?”

“Sindikat Akanza.”

Ivanka sempat melamun untuk beberapa saat. Nama Akanza sangat asing di telinganya. Ya, mungkin semua yang berhubungan dengan Byakta memang akan selalu asing untuk gadis biasa sepertinya.

“Anda menyeret saya dalam perang ini?” tanya Ivanka akhirnya.

Byakta melangkah, lalu berhenti tepat di depan Ivanka. Jarak mereka hanya beberapa senti. “Anda sudah berada di dalamnya sejak Anda menandatangani kontrak itu.”

Ivanka merasakan napasnya kembali menegang. Dia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa takutnya. Iya, dia tidak boleh takut menghadapi monster sepertinya. Dan dia juga sangat membenci fakta bahwa laki-laki ini selalu satu langkah di depannya. Byakta selalu terdengar logis meski terasa salah.

“Aku tidak takut,” ucap Ivanka, meski detak jantungnya tidak sejalan dengan kata yang terucap.

Byakta tersenyum tipis. Tangannya terangkat untuk menyeka bulir keringat yang mengalir di pelipis Ivanka. “Bagus. Itu sudah seharunya,” katanya. “Tidak ada yang perlua Anda takutkan selama ada di samping saya.”

Setelah merasa selesai bicara, Byakta berjalan menuju ruang kerja di sisi ruangan. “Besok pagi pukul delapan Anda akan sarapan bersama saya. Jangan terlambat.”

“Saya bukan karyawanmu.”

“Hemm,“ gumam Byakta. “Anda investasi saya.”

Pupil mata Ivanka menggelap. Kata itu menusuk lebih dalam daripada sebuah hinaan keji. Ivanka berdiri sendirian di ruang seluas itu. Pengawal wanita muncul dari lorong, memberi sedikit anggukan hormat padanya.

Dia sekarang benar-benar terjebak. Dia berusaha membuka pintu utama, tapi tetap tidak bisa. Mencoba membuka lift, tapi aksesnya ditolak.

Ivanka menahan napas untuk beberapa saat. Ia menggigit ujung kukunya cemas. Dia ingin sekali berteriak, menangis dan memohon untuk di keluarkan dari sini, tapi tidak mungkin, dia tidak akan pernah merendahkan diri di depan Byakta. Tidak akan dan tidak pernah sudi.

Ivanka kembali berjalan ke arah jendela. Masih berusaha mencai celah, dan mencari kemungkinan dari keteledoran Byakta, tapi semua tertutup rapat. Benteng tinggi menjulang.

Ivanka kembali menyentuh dinding kaca, cahaya dari dalam pantulannya memperlihatkan sesuatu yang baru saja dia sadari. Di sudut langit-langit, sebuah lensa hitam kecil mengarah padanya. Ivanka mendengus. Dia sekarang bukan hanya dikurung, tetapi juga diawasi.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Sang Penguasa   9. Black Harbour part 2

    Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata itu yang bukan main banyaknya. Ivanka mundur beberapa langkah seraya menelan ludah. Senyum miris terukir samar diwajahnya yang pucat. “Jadi ini alasan Anda membutuhkan kaca anti peluru?” tanya Ivanka tanpa menoleh. Byakta terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Ivanka, menyentuh pinggang rampingnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajahnya di antara ceruk leher Ivanka. Membuat sensasi aneh merambat di sana. “Itu lah sebabnya saya tidak bisa ceroboh,” bisiknya, kemudian kembali menjauh. “Jadi Anda yang mengendalikan peredaran ini?” Byakta mengangkat kedua bahunya. “Saya hanya menstabilkan—” “Dengan senjata?” Byakta kembali terkekeh pelan. “Dengan keseimbangan yang menuru

  • Obsesi Sang Penguasa   8. Black Harbour part 1

    Alarm di ruang pemantauan masih berbunyi ketika Byakta mematikan notifikasinya dengan satu sentuhan. Di layar, sosok pria berjaket gelap masih berdiri di atap gedung parkir tua di distrik pelabuhan. Kamera professional di tangannya mengarah pada Obsidian Central, tepatnya ke arah penthouse. Ivanka masih beridiri di depan layar besar itu dengan napas yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Ini melebihi tindakan seorang stalker yang mengerikan. “Apa dia benar-benar tahu aku di sini?” tanya Ivanka ragu. "Tempat ini cukup jauh dan sulit dijangkau." "Tidak ada yang tidak mungkin." Ivanka kembali mendengus. Tak terasa, dia sudah meremas ujung mantelnya. Byakta melirik Ivanka sebentar. Wajah cemas wanita itu, membuat dia sedikit mengernyitkan kening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Anda takut?” tanya Byakta. “Ini bahkan belum apa-apa. Ada yang lebih menarik dari dia.” “Maksudnya?” pupil Ivanka menyusu

  • Obsesi Sang Penguasa   10. Peringatan

    Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri. Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda terima?” Ivanka sempat ragu beberapa detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memberikan ponsel itu pada Byakta. “Jangan pergi,” katanya tenang. “Saya sudah tahu apa yang akan terjadi jika Anda memaksa untuk pergi.” Ivanka menarik kembali ponselnya dari tangan Byakta. “Mungkin ini tentang ibumu.” Sesuatu yang samar, melintas cepat di mata Byakta. Sesuatu yang belum pernah ia lihat, seperi sebuah bayangan masa lalu, tapi dia juga bingung apa itu. Byakta menyerupit bir di gelas k

  • Obsesi Sang Penguasa   7. Pengawasan

    Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya. Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipi

  • Obsesi Sang Penguasa   6. Penthouse

    Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta. Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya. Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta. “Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara. “Aman.” Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.” Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri? Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali te

  • Obsesi Sang Penguasa   5. Kelemahan Part 2

    Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam. Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’ “Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil. Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status