Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 4. Kelemahan Part 1

Share

4. Kelemahan Part 1

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-02-26 18:48:56

Byakta melonggarkan dasinya, membuka jas hitamnya, dan menyisakan kemeja putih tipis yang mampu memperlihatkan roti sobek di dalamnya.

Mustahil Ivanka tidak terpana melihat pemandangan itu. Dia bahkan suda mati-matian menelan ludahnya yang terus saja keluar. Ivanka sampai membuang muka. Dia tidak ingin terhasut oleh penampilan Byakta yang sempurna.

Byakta meraih map di atas mejanya, lalu memberikannya pada Ivanka yang masih membuang muka. “Kontrak pribadi,” katanya, serraya tersenyum.

Ivanka menatap map itu sebentar, lalu mengambilnya penuh keraguan.

“Itu bukan kontrak tidak senonoh,” jelasnya. “Selama setahun, Anda harus bekerja di bawah saya. Semua hutang perusahaan Anda akan dilunasi. Dan semua proyek akan kembali berjalan seperti yang Anda harapkan.”

Ivanka menatap Byakta dalam. “Dan sebagai gantinya?”

“Anda akan berada di bawah perlindungan saya.”

Ivanka terkekeh hambar. Dia tidak percaya definisi perlindungan menurut pria iblis di depannya ini. “Kalau saya menolak?”

Byakta tersenyum tipis, lalu menyelipkan kedua tangannya di saku celana. “Saya tidak pernah memaksa,” sahutnya,

Mata mereka teralihkan pada pintu ruang kerja yang terketuk dari luar. Tak lama, Rival datang dengan pandangan sedikit melirik Ivanka. Dia bahkan tidak tahu kalau Ivanka akan benar-benar datang sekarang.

“Bos, pertemuan akan diadakan satu jam lagi,” katanya. “Kita harus berangkat sekarang.”

Byakta mengangguk, lalu kembali menatap Ivanka yang masih gelisah ditempatnya. “Saya akan tetap menunggu dengan sisa keramahan yang saya punya. Anda masih punya waktu,” katanya, kemudian berlalu.

Ivanka meremas kepalanya. Dia pulang dengan pikiran yang semakin kacau. Dia juga tidak berniat untuk menceritakan semua ini pada Ayahnya. Rasanya tidak perlu saja. Menurutnya, laki-laki itu hanya akan menyusahkan.

Ivaka berdiri di depan rumah kecil mereka. Dia tersenyum getir, seraya menatap ponselnya. Dia akhirnya menyetujui semua perjanjian itu dengan rasa kesal yang mengganjal.

“Oke Ivanka, hanya satu tahu. dan kamu akan bebas,” gumamnya, berusaha untuk menyemangati semangatnya yang sudah layu.

Ivanka kembali membuka kontrak itu malam harinya. Dia membaca setiap huruf tanpa tersisa. Di sana ada klausul yang membuat napasnya berhenti beberapa saat.

“Selama masa kontrak, perusaah aku nggak boleh terikat kontrak dengan perusahaan mana pun tanpa persetujuan dia?” ulang Ivanka muak. “Cih, licik banget orang sialan itu. Jadi dia benar-benar mengurungku?”

Kegelisahan untuk Ivanka, lagi-lagi kemenangan untuk Byakta. Pria itu tersenyum puas ketika dia menerima pesan singkat dari wanita yang sangat ia tunggu kabarnya.

Bykta bahkan sampai menatap layar ponselnya cukup lama. Bukan hanya kemenangan yang ia rasakan, melainkan kepuasan yang benar-benar puas.

“Kamu lihat itu Rival,” katanya. “Mulai besok, dia milik saya.”

Rival ikut tersenyum puas. Kebahagiaan bosnya, adalah kebahagiaannya juga.

“Berpestalah malam ini,” kata Byakta. “Pergilah bersama wanitamu. Kamu bisa libur hari ini. Kita harus merayakan ini bukan?”

Rival mengangguk. “Kemanapun Bos pergi, saya akan tetap bersama Bos—”

“Kamu harus terbiasa hidup berjauhan dengan saya, Rival.”

Keduanya terkekeh. Mereka sangat menikmati keberhasilan yang baru saja di dapatkan. Takdir seorang Ivanka yang akan mereka ubah dibawah kaki Bagaspati.

Avernal City kembali bangun seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada berita tembakan, tidak ada laporan tentang korban, atau membahas tentang kesaksian kejadian semalam. Semuanya bersih tanpa sisa.

Ivanka duduk di ruang kerja Byakta pagi itu dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi hanya terjebak kontrak kali ini, tapi dia berada di pusat konflik yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

“Siapa yang menembak semalam?” tanya Ivanka, penuh keraguan

Byakta masih berdiri menghadap jendela. Dia menarik napas panjang. “Orang yang merasa wilayahnya terancam.”

Ivanka terkekeh kesal. “Lalu saya?” tanya Ivanka dengan suara mencemooh.

“Anda collateral.”

Pupil Ivanka menggelap, rahanya mengencang. “Saya bukan pion,” tegasnnya.

“Tidak,” jawab Byakta masih tetap santai. “Pion bisa dikorbankan.”

Kedua pasang mata itu kini sudah saling betemu. Byakta memiringkan wajahnya untuk bisa menatap Ivanka lebih dalam lagi. “Selama Anda ada disamping saya, Anda akan tetap aman. Tidak ada yang bisa menyentuh Anda—”

“Saya menandatangani kontrak bukan untuk ini.”

Byakta tidak menjawab, dia memilih pergi tanpa berucap. Meninggalkan Ivanka yang masih bertanya-tanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   122. Orang yang Selalu Rela Mati

    Kaveri menatap Byakta beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dokter pada pasien—melainkan seorang ayah yang sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus dia sampaikan.“Kita butuh ruang operasi utama. Sekarang,” ujarnya tegas. “Dan donor darah yang kompatibel. Kehilangan darahnya terlalu banyak.”Ivanka langsung menegang. Dia menatap sang ayah lebih dalam. “Golongan darahnya apa?”“O negatif,” jawab Kaveri cepat. “Dan stok kita menipis. Apa kita bawa dia ke rumah sakit—”“Tidak mungkin!” potong Byakta. “Ini terlalu beresiko. Lagi pula, peralatan di ruang operasi kita juga sudah lengkap.”Byakta langsung berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. “Ambil punyaku. Darahku sama dengan Rival.”Kaveri langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kondisimu tidak stabil. Tekanan darahmu turun, dan—”“Aku bilang ambil,” potong Byakta dingin. “Jangan pernah membantah di situasi seperti ini.”Nada itu membuat beberapa orang di lorong langsung diam. Namun Kaveri tida

  • Obsesi Sang Penguasa   121. Aku Tidak Butuh Belas Kasihan

    “Kamu ingat Rendra?” tanya Byakta. Ivanka tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. “Dia bahkan mencari jawaban itu. Dia terus mencari obat penawar dari mereka. Tapi apa yang dia dapatkan? Dia hanya diperbudak untuk bisa mendekatiku. Mengambil semua sistem yang ada di kepalaku. Dan mati sia-sia.” Byakta melangkah mendekat. Dia memiringkan wajahnya dengan mata yang masih tetap tajam. “Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Kaveri,” ujar Byakta. “Kamu bahkan tidak mempercayai ayahmu sendiri. Dan lebih percaya pada orang baru?” “Dan kalau tidak dilepas?” tanya Ivanka. Byakta menghela napas panjang. Dia lupa kalau wanita di depannya memang selalu saja penasaran. “Aku mati,” tukasnya. “Aku akan mati, Ivanka. Itu lebih baik daripada hidup menjadi orang bodoh dan cacat mental.” Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya rumit. Ivanka menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Jadi kamu memilih

  • Obsesi Sang Penguasa   120. Siapa Yang Harus Dia Percaya?

    “Sedang apa?” Ivanka tahu itu suara milik siapa. Namun dia enggan untuk menoleh. Byakta kini sudah berdiri di sampingnya. Menatap lurus ruang medis tempat Rival sedang ditangani. “Masih merasa bersalah?” tanya Byakta dingin. “Rasanya percuma kalau harus merasa bersalah sekarang.” “Aku sudah bilang, kamu tidak tahu medan apa yang kamu injak, dan siapa yang kamu hadapi,” lanjutnya. “Tapi lihat… kamu tetap egois dan merasa paling benar. Dengan alasan ingin menolongku?” Byakta terkekeh hambar. Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Aku bingung, sampai kapan kamu akan terus egois seperti ini?” Ivanka menarik napas panjang. Dia tidak mau membantah. Karena semua yang dikatakan Byakta memang benar. Kalau saja dia Rival tidak datang dan mengorbankan dirinya, mungkin yang akan hancur adalah mereka berdua. Yang akan terparing atau bahkan mati, adalah mereka berdua. Dia memejamkan mata cukup lama. “Kalau memang aku egois, kamu apa?” tanya Ivanka membuat Byakta mengernyit samar.

  • Obsesi Sang Penguasa   119. Kumohon Jangan Mati

    “Jadi benar,” gumamnya pelan. Ivanka langsung menegang. “A-apa maksud—” “Kamu di sini karena anakku. Kamu di sini karena kamu mencintai Byakta? Kamu berbuat sejauh ini karena kamu mencintai Byakta?” Kalimat itu jatuh seperti vonis. Ivanka tidak bisa menyangkal. Tidak bisa juga mengiyakan. Karena bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya. Bagaspati menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. “Masalahnya,” lanjutnya, “anakku bukan orang yang bisa kamu selamatkan. Dan anakku sulit untuk kamu gapai. Kamu tidak akan sanggup.” Ivanka menatapnya lebih lama. Dia tahu kalau kasta mereka mungkin berbeda. Dan mungkin itu maksud dari ucapan Bagaspati. Entah kenapa, dia tidak peduli. “Aku tidak mencoba menyelamatkan dia,” balasnya cepat. “Aku—” “Jangan boho

  • Obsesi Sang Penguasa   118. Aku Tidak Meminta Dimaafkan

    Sentuhan di pundaknya terasa berat. Bukan hanya karena kekuatan tangan itu—tapi karena tekanan yang ikut datang bersamanya. Ivanka menegang. Perlahan, dia menoleh. Dan disanalah pria itu berdiri. Bagaspati dengan tubuh tegap dan rahang tegasnya. Wajahnya penuh amarah yang tertahan. Dan dia tahu untuk siapa kemarahan itu. Ivanka refleks menahan napas kala Bagaspati turun menatapnya. Tubuhnya yang besar, seolah mengukung pergerakan Ivanka, walau dia belum melakukan apa-apa. “Kamu yang menyebabkan semua ini, iya kan?” ujar Bagaspati pelan. Bukan pertanyaan. Bukan sapaan. Lebih seperti penilaian. Tatapan itu turun dari kepala hingga ujung kaki Ivanka, seolah menimban apakah semua kekacauan ini layak terjadi hanya karena dirinya. Ivanka menegakkan tubuhnya, meski jantungnya berdebar tidak karuan. Dia berusaha menahan gejolak asing di dadanya. Ini sudah masuk. Dia tidak bisa keluar lagi. “Iya,” jawabnya pelan. Sunyi merambat dalam sekejap. “Masih hidup juga ternyata,” lanjut

  • Obsesi Sang Penguasa   117. Kemarahan Bagaspati

    “Ayah,” suaranya rendah. “Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat masalah itu—” “Justru ini waktu yang tepat!” balas Bagaspati tanpa menahan diri. “Kamu pikir ini permainan? Kamu pikir semua orang bisa kamu korbankan hanya karena keputusan emosionalmu?!” Tatapan Byakta menggelap. Tangannya yang menekan luka Rival semakin kuat, seolah menyalurkan seluruh amarahnya ke sana. “Aku tidak mengorbankan siapa pun,” desisnya. “Aku menyelamatkan orangku.” “Dengan cara menghancurkan setengah pasukan kita?!” potong Bagaspati. “Kamu bahkan tidak menunggu instruksi. Kamu bergerak sendiri. Itu bukan strategi, Byakta. Itu kebodohan!” Ivanka menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram setir, tapi kini pikirannya mulai terpecah. Kata-kata Bagaspati menusuk lebih dalam dari yang dia kira. Ini semua karena dia. Bukan semata-mata keteledoran Byakta. “Ayah,” Byakta kembali bersuara, kali ini jauh lebih dingin. “Kalau aku tidak bergerak sekarang, dia sudah mati di sana.” “Dan sekarang?” Bagaspati

  • Obsesi Sang Penguasa   65. Hubungan Yang Sulit Diakhiri

    Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.

  • Obsesi Sang Penguasa   15. Sisi Rapuh Byakta Yang Tak Terlihat

    Tubuh Byakta berada tepat di depannya, tindakan yang cukup protektif dan tanpa keraguan. Ia berdiri sedikit menyamping, seolah menjadi penghalang antara Ivanka dengan ruangan gelap di depannya. “Generator akan aktif dalam tiga puluh detik,” katanya rendah. “Tidak usah takut.” Suara langkah peng

  • Obsesi Sang Penguasa   19. Luka Yang Tersamarkan part 2

    Ivanka kembali menatap Byakta. Membelai rambut pria itu yang sudah sedikit basah oleh keringat. Napasnya masih berat meski sudah lebih stabil. Tanpa sadar, Ivanka mengambil tisu dari meja kecil dan menyeka keringat di dahinya. Gerakan itu membuat Rival menaikkan sebelah alis. Dia tida

  • Obsesi Sang Penguasa   48. Obat Penawar Untukmu, Byakta

    Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang menyiksa. Ini adalah cinta pertamanya. Dan kegagalan pertamanya juga. Pintu lift terbuka. Tepat ketika kakinya hendak melangkah, Byakta langsung bertemu tatap dengan Ivanka yang memang sudah menunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status