MasukByakta melonggarkan dasinya, membuka jas hitamnya, dan menyisakan kemeja putih tipis yang mampu memperlihatkan roti sobek di dalamnya.
Mustahil Ivanka tidak terpana melihat pemandangan itu. Dia bahkan suda mati-matian menelan ludahnya yang terus saja keluar. Ivanka sampai membuang muka. Dia tidak ingin terhasut oleh penampilan Byakta yang sempurna. Byakta meraih map di atas mejanya, lalu memberikannya pada Ivanka yang masih membuang muka. “Kontrak pribadi,” katanya, serraya tersenyum. Ivanka menatap map itu sebentar, lalu mengambilnya penuh keraguan. “Itu bukan kontrak tidak senonoh,” jelasnya. “Selama setahun, Anda harus bekerja di bawah saya. Semua hutang perusahaan Anda akan dilunasi. Dan semua proyek akan kembali berjalan seperti yang Anda harapkan.” Ivanka menatap Byakta dalam. “Dan sebagai gantinya?” “Anda akan berada di bawah perlindungan saya.” Ivanka terkekeh hambar. Dia tidak percaya definisi perlindungan menurut pria iblis di depannya ini. “Kalau saya menolak?” Byakta tersenyum tipis, lalu menyelipkan kedua tangannya di saku celana. “Saya tidak pernah memaksa,” sahutnya, Mata mereka teralihkan pada pintu ruang kerja yang terketuk dari luar. Tak lama, Rival datang dengan pandangan sedikit melirik Ivanka. Dia bahkan tidak tahu kalau Ivanka akan benar-benar datang sekarang. “Bos, pertemuan akan diadakan satu jam lagi,” katanya. “Kita harus berangkat sekarang.” Byakta mengangguk, lalu kembali menatap Ivanka yang masih gelisah ditempatnya. “Saya akan tetap menunggu dengan sisa keramahan yang saya punya. Anda masih punya waktu,” katanya, kemudian berlalu. Ivanka meremas kepalanya. Dia pulang dengan pikiran yang semakin kacau. Dia juga tidak berniat untuk menceritakan semua ini pada Ayahnya. Rasanya tidak perlu saja. Menurutnya, laki-laki itu hanya akan menyusahkan. Ivaka berdiri di depan rumah kecil mereka. Dia tersenyum getir, seraya menatap ponselnya. Dia akhirnya menyetujui semua perjanjian itu dengan rasa kesal yang mengganjal. “Oke Ivanka, hanya satu tahu. dan kamu akan bebas,” gumamnya, berusaha untuk menyemangati semangatnya yang sudah layu. Ivanka kembali membuka kontrak itu malam harinya. Dia membaca setiap huruf tanpa tersisa. Di sana ada klausul yang membuat napasnya berhenti beberapa saat. “Selama masa kontrak, perusaah aku nggak boleh terikat kontrak dengan perusahaan mana pun tanpa persetujuan dia?” ulang Ivanka muak. “Cih, licik banget orang sialan itu. Jadi dia benar-benar mengurungku?” Kegelisahan untuk Ivanka, lagi-lagi kemenangan untuk Byakta. Pria itu tersenyum puas ketika dia menerima pesan singkat dari wanita yang sangat ia tunggu kabarnya. Bykta bahkan sampai menatap layar ponselnya cukup lama. Bukan hanya kemenangan yang ia rasakan, melainkan kepuasan yang benar-benar puas. “Kamu lihat itu Rival,” katanya. “Mulai besok, dia milik saya.” Rival ikut tersenyum puas. Kebahagiaan bosnya, adalah kebahagiaannya juga. “Berpestalah malam ini,” kata Byakta. “Pergilah bersama wanitamu. Kamu bisa libur hari ini. Kita harus merayakan ini bukan?” Rival mengangguk. “Kemanapun Bos pergi, saya akan tetap bersama Bos—” “Kamu harus terbiasa hidup berjauhan dengan saya, Rival.” Keduanya terkekeh. Mereka sangat menikmati keberhasilan yang baru saja di dapatkan. Takdir seorang Ivanka yang akan mereka ubah dibawah kaki Bagaspati. Avernal City kembali bangun seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada berita tembakan, tidak ada laporan tentang korban, atau membahas tentang kesaksian kejadian semalam. Semuanya bersih tanpa sisa. Ivanka duduk di ruang kerja Byakta pagi itu dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi hanya terjebak kontrak kali ini, tapi dia berada di pusat konflik yang tidak ia mengerti sepenuhnya. “Siapa yang menembak semalam?” tanya Ivanka, penuh keraguan Byakta masih berdiri menghadap jendela. Dia menarik napas panjang. “Orang yang merasa wilayahnya terancam.” Ivanka terkekeh kesal. “Lalu saya?” tanya Ivanka dengan suara mencemooh. “Anda collateral.” Pupil Ivanka menggelap, rahanya mengencang. “Saya bukan pion,” tegasnnya. “Tidak,” jawab Byakta masih tetap santai. “Pion bisa dikorbankan.” Kedua pasang mata itu kini sudah saling betemu. Byakta memiringkan wajahnya untuk bisa menatap Ivanka lebih dalam lagi. “Selama Anda ada disamping saya, Anda akan tetap aman. Tidak ada yang bisa menyentuh Anda—” “Saya menandatangani kontrak bukan untuk ini.” Byakta tidak menjawab, dia memilih pergi tanpa berucap. Meninggalkan Ivanka yang masih bertanya-tanya.Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata itu yang bukan main banyaknya. Ivanka mundur beberapa langkah seraya menelan ludah. Senyum miris terukir samar diwajahnya yang pucat. “Jadi ini alasan Anda membutuhkan kaca anti peluru?” tanya Ivanka tanpa menoleh. Byakta terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Ivanka, menyentuh pinggang rampingnya dengan sangat hati-hati, lalu mendekatkan wajahnya di antara ceruk leher Ivanka. Membuat sensasi aneh merambat di sana. “Itu lah sebabnya saya tidak bisa ceroboh,” bisiknya, kemudian kembali menjauh. “Jadi Anda yang mengendalikan peredaran ini?” Byakta mengangkat kedua bahunya. “Saya hanya menstabilkan—” “Dengan senjata?” Byakta kembali terkekeh pelan. “Dengan keseimbangan yang menuru
Alarm di ruang pemantauan masih berbunyi ketika Byakta mematikan notifikasinya dengan satu sentuhan. Di layar, sosok pria berjaket gelap masih berdiri di atap gedung parkir tua di distrik pelabuhan. Kamera professional di tangannya mengarah pada Obsidian Central, tepatnya ke arah penthouse. Ivanka masih beridiri di depan layar besar itu dengan napas yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Ini melebihi tindakan seorang stalker yang mengerikan. “Apa dia benar-benar tahu aku di sini?” tanya Ivanka ragu. "Tempat ini cukup jauh dan sulit dijangkau." "Tidak ada yang tidak mungkin." Ivanka kembali mendengus. Tak terasa, dia sudah meremas ujung mantelnya. Byakta melirik Ivanka sebentar. Wajah cemas wanita itu, membuat dia sedikit mengernyitkan kening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Anda takut?” tanya Byakta. “Ini bahkan belum apa-apa. Ada yang lebih menarik dari dia.” “Maksudnya?” pupil Ivanka menyusu
Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri. Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda terima?” Ivanka sempat ragu beberapa detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memberikan ponsel itu pada Byakta. “Jangan pergi,” katanya tenang. “Saya sudah tahu apa yang akan terjadi jika Anda memaksa untuk pergi.” Ivanka menarik kembali ponselnya dari tangan Byakta. “Mungkin ini tentang ibumu.” Sesuatu yang samar, melintas cepat di mata Byakta. Sesuatu yang belum pernah ia lihat, seperi sebuah bayangan masa lalu, tapi dia juga bingung apa itu. Byakta menyerupit bir di gelas k
Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya. Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipi
Setelah melakukan bergabai macam penolakan, akhirnya Ivanka tetap luluh karena rasa takutnya. Kini dia sudah berada di dalam lift privat bersama dengan Byakta. Ivanka berdiri di sudut kabin dengan koper kecil di samping kakinya. Ia bahkan tidak sempat mengemas banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat, melebihi kecepatan cahaya. Di depannya sudah ada Byakta yang berdiri tegak, dengan tangan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Ekspresi manusia itu selalu saja tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseroang yang baru saja membawa paksa seorang wanita di tengah malam buta. “Ayah saya?” Ivanka akhirnya bersuara. “Aman.” Ivanka menatap Byakta lelah. Tarikan napasnya yang berat, membuat Byakta menoleh ke arahnya. “Dia aman di tempat yang untuk sekarang ini tidak bisa Anda jangkau.” Ivanka menyipitkan matanya. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini padanya? Dia benar-benar ingin menjauhkannya dari ayahnya sendiri? Ivanka menatap tajam Byakta yang sudah kembali te
Beberapa jam kemudian, Ivanka pulang lebih awal. Dia tidak peduli dengan Byakta yang mungkin saja akan memarahinya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir dan berusaha keluar dari ketegangan sisa semalam. Rumah kecil itu, kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebuah amplop cokelat tanpa dibubuhi nama pengirimnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, Ivanka membuka amplop itu perlahan. Foto dirinya di dalam club semalam di dalam pelukan Byakta. Tepat dibelakang foto itu tertulis sesuatu dengan tinta merah: ‘Tinggalkan dia atau kau ikut dikubur bersamanya.’ “Sial!” umpatnya geram. Ivanka meremas foto itu. Dia bukanlah wanita yang penakut, tapi ini adalah pertama kalinya. Tidak heran kalau jantung dan napasnya bergerak tidak stabil. Rasanya dia hampir gila mengingat suara tembakan yang terus saja bersahutan ditelinga. Dan sekarang, dia juga harus menerima ancaman dari bajingan cupu y