Se connecter“Pergilah,” katanya pelan. “Tapi ingat satu hal.” Langkah Ivanka dan Byakta terhenti sesaat di depan pintu. “Semakin dalam kamu masuk,” lanjut Bagaspati, “semakin sulit kamu keluar.” Ivanka tidak menoleh. Dia hanya membuka pintu dan keluar lebih dulu. Lorong di luar ruang meeting terasa jauh lebih lega. Namun bukan berarti tekanan itu hilang. Justru sebaliknya, rasanya semakin nyata. Byakta berjalan di samping Ivanka, langkahnya masih sedikit tidak stabil. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Ivanka tanpa menoleh. “Hemmm.” Byakta mulai menyadari ada yang disembunyikan oleh Ivanka dan juga ayahnya. Dia yakin ada yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri sebelumnya. Ivanka mendengus pelan. “Jangan bercanda.” Ivanka akhirnya berhenti. Dia menoleh, menatap wajah Byakta yang mulai terlihat pucat lagi. “Kamu harus istirahat.” “Aku sudah bilang—” “Kali ini dengarkan aku.” Nada suara Ivanka berubah lebih tegas dari sebelumnya. Dan itu berhasil membuat Byakta bungkam. “Kamu tidak dalam k
“Rival,” lanjut Bagaspati tanpa mengalihkan pandangannya dari Ivanka, “pastikan dia mendapatkan akses yang cukup.” “Baik, Tuan,” jawab Rival singkat. “Dan Byakta,” suara Bagaspati berubah sedikit lebih rendah, “jangan buat keputusan bodoh.” Byakta tersenyum tipis. “Saya tidak pernah membuat keputusan tanpa alasan, Tuan.” Bagaspati mengangguk pelan. “Semoga saja alasanmu kali ini cukup kuat.” Meeting resmi ditutup. Kursi-kursi mulai bergeser. Beberapa orang berdiri, membereskan berkas mereka. Suasana yang tadinya tegang perlahan berubah menjadi formal kembali. Namun Ivanka tahu, bahwa tidak ada yang benar-benar selesai di sini. Satu per satu orang mulai keluar dari ruangan. Hanya tersisa beberapa orang inti. Bagaspati masih berdiri di tempatnya. Tidak bergerak. Tidak pergi. Dia seperti sedang menunggu sesuatu. “Keluar dulu,” ujar Bagaspati akhirnya, tanpa melihat siapa pun secara spesifik. Rival mengernyit samar. Namun dia tetap menunduk patuh. “Baik, Tuan.” Satu per satu oran
Lift terbuka. Mereka masuk bertiga. Angka lantai terus bertambah dalam kesunyian. “Jangan terlalu banyak bicara di dalam nanti,” ujar Rival tiba-tiba. Ivanka melirik sini. Lagi-lagi Ivanka selalu saja mengajarkan hal yang tidak penting. “Aku tidak butuh diatur.” “Kamu butuh diingatkan,” balas Rival singkat. “Soalnya kamu keras kepala.” “Berhenti berdebat.” Suara Byakta membuat keduanya bungkam. Pintu lift terbuka. Ruang meeting sudah menunggu di ujung lorong. Pintu kayu besar dengan ukiran sederhana, tapi terasa berat. Rival membuka pintu itu. Dan suasana di dalam langsung terasa sangat berbeda. Beberapa pria duduk mengelilingi meja panjang. Semuanya berpakaian rapi. Wajah-wajah serius. Mata yang tajam. Namun yang paling mencolok di sana adalah Bagaspati. Pria itu sudah duduk di sana lebih dulu. Dia duduk di ujung meja, seperti pusat dari semuanya. Tatapannya langsung tertuju pada Byakta, lalu bergeser ke Ivanka. Senyumnya yang tipis mengudara. “Ah,” gumamnya pelan. “Akhirnya
Mobil hitam itu melaju mulus membelah jalanan kota. Tidak ada percakapan sejak mereka meninggalkan kediaman Bagaspati. Hanya suara mesin dan napas tertahan yang mengisi ruang sempit di dalamnya. Ivanka duduk di kursi belakang, tepat di samping Byakta. Tangannya masih siaga, berjaga jika pria itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan lagi. Namun yang membuatnya lebih tidak nyaman bukan kondisi Byakta—melainkan pikirannya sendiri. Entah itu tentang ucapan Davian, peringatan Byakta atau tentang tatapan Rival. Semua berputar tanpa henti sampai membuatnya muak. “Kamu diam saja dari tadi,” gumam Byakta pelan tanpa menoleh. “Ada masalah?” Ivanka melirik sekilas, sebelum akhirnya menatap kembali ke arah depan. “Kamu juga,” sahutnya. “Kamu seperti tidak suka melihatku.” “Karena aku sedang menahan rasa sakit,” balasnya ringan. Dia bahkan sudah terkekeh, walau sambil memegangi kepala sampingnya. Kini, Byakta sedikit memiringkan tubuhnya. Dia menatap Ivanka sambil menyandarkan kepalanya ke san
“Aku tidak akan membiarkan Byakta datang ke meeting itu,” ujar Ivanka akhirnya. “Kondisinya belum stabil. Hanya orang gila yang akan mengizinkannya pergi.” Rival menghela napas pelan. “Itu bukan keputusanmu. Lihat saja nanti. Dia bahkan lebih mementingkan perintah ayahnya, daripada kesehatannya sendiri.” “Kalau dia jatuh di sana, kamu yang akan tanggung jawab?” “Kalau dia tidak datang, Bagaspati akan tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Dan saat itu terjadi, bukan hanya Byakta yang kena.” Ivanka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Dia mulai menyadari rencana Bagaspati. “Dia sengaja,” gumamnya pelan. “Dia ingin memancing sesuatu.” Rival tidak menyangkal. Itu sudah cukup menjadi jawaban dari semua kecurigaannya. Beberapa detik berlalu sebelum Ivanka akhirnya berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya. “Kamu mau ke mana?” tanya Rival. “Kamar Byakta.” Rival menarik napas panjang. Dia tidak menahan, tapi dia juga mengikuti Ivanka menuju kamar Byakta. Ruangan itu kembali men
Ruang laboratorium kediaman Bagaspati terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang dihuni hampir dari lima orang. Baik Dr. Kaveri, Bagaspati, atau Ivanka yang ada di sana, tidak memiliki minat untuk memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tak lama, Rival datang. Pandangannya langsung turun pada Ivanka. “Kita harus ke kantor. Ada meeting sore ini,” katanya dengan nada yang selalu dingin. Bagaspati yang mendengar ini, hanya mengernyit. “Meeting apa, Rival?” Mendengar suara berat ini, tubuh Rival langsung menegang. Dia mundur satu langkah, lalu menunduk. “Maaf, Tuan, saya kira tidak ada tuan di sini,” ujar Rival. “Meeting untuk membahas proyek perumahan di Avernal Utara.” Bagaspati tidak langsung menjawab. Dia melirik Ivanka, lalu tersenyum samar. Dia tidak menyangka, kalau Byakta akan mempercayakan proyek sebesar ini pada wanita yang belum ada satu tahun dia kenal. “Kondisi Byakta?” tanya Bagaspati, ketika Ivanka hendak berdiri. Wanita itu meliriknya sekila
Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.
“Sial!” umpat Ivanka dengan tangan yang masih sibuk menata barang-barangnya. Dia sesekali berhenti, lalu mendengus, dan melanjutkan kegiatannya lagi. Jemarinya bergerak lebih kasar dari biasanya. Ritsleting tas ditarik terlalu keras, sampai hampir macet. Rah
Byakta sedikit menegakkan tubuhnya. Dia menatap Ivanka dengan tatapan yang tidak lagi dingin. Tatapan itu seolah mengatakan kalau ini adalah salam perpisahan terbaik yang sudah dia persiapkan untuknya. “Tepat ketika kontrak ini berakhir, kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan k
Byakta meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali terkekeh pahit. Pria tua itu tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Ini sudah biasa. Bahkan terlalu biasa untuk Byakta yang mendapat perlakuan seperti ini seumur hidupnya. Bagaspati selalu membuat kedo







