تسجيل الدخول"Kipli, cepat ganti baju kamu! Tim tata rias sudah menunggu di ruang sebelah!" seru Ciska setengah berteriak melalui HT di tangannya, sibuk memecah kepanikan para kru yang berlarian membawa perlengkapan panggung.Aku melangkah cepat menyusuri lorong bawah panggung yang pengap, penuh dengan gulungan kabel hitam tebal dan monitor teknis yang menyala berkedip-kedip. Bau uap dari mesin asap dan wangi parfum menyengat bercampur jadi satu di udara.Begitu aku melirik ke arah luar lewat celah tirai kain penutup, pemandangan di depanku bener-bener membuat bulu kudukku meremang seketika.Stadion malam ini bener-bener pecah. Lautan manusia memenuhi area festival, bergerak seirama dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh puluhan ribu kilauan lightstick berwarna merah muda milik penggemar setia Kanya. Rasa tegang mendadak mengocok perutku.Di balik panggung yang riuh rendah oleh instruksi sutradara pertunjukan melalui penelaah suara, aku berdiri kaku. Jas hitam kasual pilihan Ciska melekat pas d
Mendengar godaanku, wajah Kanya seketika merona merah padam. Dia baru sadar kalau kardigan sutranya sudah melorot sampai ke siku, menonjolkan keindahan tubuh bagian atasnya yang sempat bergesekan dengan dadaku."Ih! Mas Kipli mesum!" seru Kanya malu-malu, buru-buru menarik kardigannya ke atas dan merapatkannya kembali hingga menutupi lehernya.Aku tertawa renyah, merasa lega karena aura kesedihan di wajahnya sudah sepenuhnya hilang. "Nah, gitu dong. Kan cantik kalau senyum.""Tapi... Mas Kipli tetep temenin aku tidur di sini kan malam ini? Temenin aja, nggak usah ngapa-ngapain. Aku cuma mau tidur sambil meluk lengan Mas," pinta Kanya lagi, kali ini murni dengan nada manja seorang adik kepada kakaknya, tanpa ada kepalsuan media atau gairah yang berlebihan.Aku tersenyum lembut, lalu mengacak rambutnya pelan. "Iya, saya temenin di sini sampai Mbak tidur nyenyak. Tapi saya duduk di kursi sebelah kasur aja, ya?""Nggak mau! Harus di atas kasur, di sebelah aku!" tuntut Kanya sambil menepuk
Kanya tidak hanya diam menunggu jawabanku. Gadis itu mulai menggeser tubuhnya lebih dekat, merapatkan seluruh lekuk tubuhnya yang hanya terbalut kardigan sutra tipis itu ke dadaku.Dia mulai mengendus leherku, mendusel-duselkan hidung mancungnya ke ceruk leherku dengan gerakan lambat yang teramat manja sekaligus menuntut."Eh? Mbak Kanya, bentar dulu," ujarku dengan suara yang mendadak serak. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya."Nggak mau, Mas... aku mau kayak gini aja. Tubuh Mas Kipli anget banget, bikin aku lupa sama semua berita jahat di luar sana," bisik Kanya, suaranya terdengar seksi sekaligus polos di telingaku.Napasnya yang hangat berembus putus-putus di kulit leherku, membuat bulu kudukku meremang.Sebagai pria dewasa yang normal, apalagi baru saja melewati malam bersama Diva, dipancing secara fisik oleh seorang idol top se-Indonesia seperti ini bener-bener membuat pertahananku berada di ujung tanduk.Milikku di bawah sana yang tadinya sempat ditenangkan o
"Hendra licik, Kanya," sahut Ciska dengan nada frustrasi."Dia tahu kamu adalah titik paling lemah di manajemen ini karena status kamu sebagai idol remaja yang harus menjaga imej bersih. Sejak satu jam lalu, Hendra udah mengerahkan ratusan influencer dan akun gosip bayaran untuk menyerang reputasi kamu di media sosial.""Serangan kayak gimana, Mbak?" tanyaku, mengepalkan tangan dengan erat saat merasakan firasat buruk mulai merayapi dadaku."Mereka menyebarkan rumor kalau kamu tinggal di satu penthouse yang sama dengan Kipli, yang mereka cap sebagai aktor film dewasa murahan," jawab Ciska tegas, menatap layar tabletnya yang terus berkedip menampilkan notifikasi berita daring."Judul beritanya bener-bener menjijikkan. 'Idol Remaja Kanya, Diduga Terjebak di Sarang Pria Mesum Mantan Ojol'."Deg!Kanya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata seketika merebak di sudut matanya yang bulat. Tubuhnya bergetar hebat saat mendengar kalimat pembunuhan karakter yang begitu kejam da
"Duh... aduh, jangan rebutan gini dong, semuanya," ujarku panik, keringat dingin mulai membasahi pelipisku.Rasa panik dan tekanan emosi yang terlalu intens ini mendadak membuat aliran energi di dalam tubuhku bergejolak tanpa kendali.Sial, batu giok di dadaku belum sempat menahan lonjakan energi yang dipicu rasa panik ini. Angin aneh mendadak berputar cepat di bawah telapak kakiku.WUSH!Tanpa sengaja, emosiku yang tidak stabil memicu pecahan 'Jurus Angin Duduk'. Hantaman angin kencang mendadak tercipta dari bawah sofa, berhembus memutar ke atas meja kaca dengan sangat cepat.Sret! Sret! Sret!"Eh, draf kontraknya!" teriak Ciska panik.Lembaran-lembaran kertas draf kontrak "Aturan Main Bersama" yang tadi tertata rapi langsung beterbangan ke udara, berputar-putar di langit-langit ruang tengah akibat embusan angin kencang dari jurus konyolku."Kipli! Kontrol diri kamu!" seru Diva sambil refleks menutupi wajahnya dari amukan kertas yang beterbangan."Maaf, Mbak Diva! Saya panik tadi!" b
Melihat sang Ratu sudah mencapai puncaknya, aku pun ikut melepaskan sisa pertahanan fokus gua. Dengan satu hentakan pamungkas yang teramat dalam, aku menyemburkan gelombang benih kejantananku yang berlimpah, membanjiri bagian terdalam rahim Diva hingga terasa hangat meluap keluar."Nggghhhhh!"Kami berdua kembali ambruk saling mendekap di atas kasur. Napas Diva terdengar sangat memburu, dadanya naik turun dengan cepat dengan mata yang tampak sayu setengah terpejam karena kelelahan yang luar biasa pekat.Aku tersenyum miring, menatap wajah lemas sang Ratu yang kini bener-bener tak berdaya. "Gimana, Mbak Diva? Masih mau ronde ketiga?"Diva cuma bisa menggelengkan kepalanya lemah, memukul dadaku pelan dengan sisa tenaga yang dia punya. "Nggak... kamu monster, Kipli. Saya nyerah... kaki saya beneran lemas semua."Aku terkekeh puas, mengecup keningnya dengan penuh rasa kemenangan. Latihan kontrol emosi dan stamina menggunakan batu giok ini bener-bener sukses besar.Sinar matahari pagi meny
"I-Iya, namanya juga manajer keuangan. Harus teliti dong," sahutku cepat, langsung menyuap sesendok nasi goreng untuk mengalihkan pembicaraan. "Wah, enak banget nasi gorengnya, Mbak Sora!"Sora tidak membalas pujianku. Dia langsung merengut kesal. Bibirnya dikerucutkan ke depan sampai terlihat sang
Meja kerja kayu itu sesekali berderit pelan, tidak kuat menahan beban aktivitas panas kami. Layar monitor di samping kepala Ciska masih terus berkedip, menampilkan angka persentase enkripsi data.Namun, fokus kami berdua sudah hancur total dari urusan David.Malam ini, di atas meja kerja ini, hanya
"Kenapa ditahan, Mbak? Keluarin aja suaranya, gak ada yang dengar kok," godaku sambil mempercepat ritme remasanku."S-Sialan kamu, Kipli... ahhh! Ini di kantor... bagaimana kalau Diva kembali?" bisik Ciska panik namun tersirat gairah yang begitu besar."Mbak Diva kan udah pergi tadi. Lagian, Mbak s
Aku meremas gundukan kembarnya dengan kedua tangan sekaligus, menenggelamkan jemariku ke dalam kelembutan asetnya yang super montok. Bra renda hitam itu terasa sangat tipis, membuatku bisa merasakan dengan jelas bagaimana bagian putingnya mulai mengeras menegang di balik kain."Ahhh... Kipli..." Ci







