공유

Refleks

작가: Helen.Sky
last update 게시일: 2026-07-29 22:56:48

Tubuh Eva masih gemetar saat lengannya berada dalam genggaman seseorang. Selama beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.

Perlahan, Eva mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang sejak tadi ia perhatikan.

"Mas David..." Suara itu nyaris tak terdengar.

David masih menggenggam lengannya erat. Wajah pria itu terlihat tegang, napasnya sedikit tersengal karena berlari beberapa detik sebelumnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan.

Eva hanya mampu mengangguk.

Sete
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Telepon

    "Teman Eva, Pa... Nisa," jawab Eva terbata, menyebut nama rekan kerja barunya sambil berusaha keras menguasai getaran pada suaranya. Hendra menatap putrinya lekat-lekat, menyipitkan mata seolah mencari celah kebohongan di raut wajah Eva. "Nisa? Malam-malam begini ada urusan pekerjaan apa?" "Mung-mungkin ada dokumen yang mau ditanya, Pa," sahut Eva beralasan kilat. Ia buru-buru berdiri dari sofa, mengepal ponselnya erat-erat di dalam genggaman. "Ya sudah, Pa... Eva ke kamar dulu ya, mau angkat teleponnya." Eva lalu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah terburu-buru menuju lorong kamar. Di belakangnya, Hendra tetap bergeming di sofa. Pria paruh baya itu menatap punggung putrinya yang menjauh dengan raut wajah sangat dingin dan penuh selidik. Kecurigaan yang samar mulai merayapi pikirannya. Eva menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tebal. Layar ponselnya m

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Peringatan

    Langkah kaki beberapa peserta rapat perlahan menghilang di ujung koridor. Suasana yang tadinya bising oleh diskusi, mendadak menyusut. David keluar dari ruangan boardroom dengan langkah tenang. Jas gelapnya terpasang rapi, jemarinya memegang map dokumen proyek. Hanya beberapa meter di depannya, Hendra berjalan tegak menuju arah lift utama. Langkah keduanya melambat secara bersamaan saat posisi mereka sejajar di tengah lorong yang sepi. Keduanya memilih bungkam. Tidak ada basa-basi formalitas bisnis. David menghentikan langkahnya, menatap sahabatnya dengan wajah datar namun menaruh rasa hormat yang tertahan. Ia memilih diam, membiarkan posisinya tetap tenang seraya menakar langkah selanjutnya. Sementara itu, Hendra melirik David dari sudut matanya. Sepasang matanya menyipit, memancarkan rasa benci yang mendalam. Bagi Hendra, pembelaan David di ruang rapat tadi bukannya membuat ia berutang budi, melainkan terasa seperti tamparan keras di wajahnya. David baru saja memamerkan keku

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Membela

    Hari kedua bekerja terasa jauh lebih melelahkan bagi Eva, karena pikirannya yang terus menerus dipenuhi antisipasi.Meski jemarinya memegang berkas laporan, sepasang matanya tidak berhenti bergerak, melirik ke arah pintu masuk utama dan koridor lalu lalang setiap kali ada suara langkah mendekat.Kok Mas David nggak lewat-lewat, ya? Apa hari ini dia nggak ke sini? batin Eva, diliputi rasa gelisah yang sukar diredam."Eva! Ayo kita cek kamar-kamar di lantai empat yang sudah mulai dipasang furniture-nya kemarin," panggil Nisa."Ayo!" sahut Eva cepat. Matanya langsung berbinar penuh semangat.Kesempatan keliling kamar demi kamar di setiap lantai adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu. Bersama Nisa, Eva mulai melangkah menyusuri koridor panjang berkarpet tebal. Mereka memasuki satu per satu kamar suite untuk memeriksa presisi pemasangan headboard tempat tidur, lemari pakaian tanam, hingga credenza TV.Saat sedang memeriksa kehalusan permukaan meja rias di salah satu kamar, suara tawa y

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Menegang

    Eva akhirnya memaksakan kakinya melangkah maju mendekati pintu mobil yang terbuka lebar. Setiap helaan napasnya terasa begitu berat.Ia memberanikan diri mengintip ke dalam kabin penumpang belakang. Di sana, sosok Hendra tampak bersandar di sudut jok. Matanya terpejam rapat, dan deru napasnya terdengar secara teratur. Papanya tertidur pulas.Eva mengembuskan napas panjang. Rasa lega yang luar biasa mendadak membanjiri dadanya, membuat seluruh persendiannya yang tegang perlahan melunak.Ia bergerak sangat pelan, menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin lalu mendarat di jok sebelah Hendra. Saat Pak Jamal—supirnya—hendak mendorong pintu untuk menutupnya, Eva dengan refleks cepat menahan pinggiran pintu itu dengan ujung jarinya."Aku saja, Pak," bisik Eva setengah berdesis, suaranya sangat pelan, memberi sinyal penuh kewaspadaan lewat tatapan matanya.Pak Jamal yang mengerti maksud majikannya langsung mengangguk pelan dan melepaskan pegangannya dari gagang pintu. Eva menarik pintu mobil

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Ditunggu

    David ikut memajukan tubuhnya sedikit, melemparkan pandangan tajam ke luar jendela, mengamati gerak-gerik pria paruh baya yang berdiri gelisah di samping mobil jemputan Eva."Mas tidak pernah lihat sopir yang itu," ucap David datar. "Mungkin dia sopir baru. Kalau dia baru kerja, dia pasti tidak tahu ini mobil milik siapa."Eva bernapas lega. "Oh, begitu ya? Ya sudah, semoga saja dia benar-benar tidak tahu mobil siapa ini."Eva memutar tubuhnya, tangannya sudah bersiap menyentuh gagang pintu mobil. "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Mas.""Iya, hati-hati," balas David pelan.Namun, tepat saat jemari Eva baru saja hendak menekan engsel pintu kabin, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dari samping. Membuat gerakan Eva terhenti seketika.Ia memutar kepalanya kembali, menatap David dengan dahi berkerut halus. "Kenapa, Mas?""Minum itu dulu. Obatnya," tegas David sambil mengarahkan dagunya ke arah botol cokelat yang masih berada di pangkuan Eva."Oh... iya, sampai lupa," gumam Eva cepat.

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di dalam mobil

    Pintu kabin sedan hitam milik David tertutup rapat. Eva menyandarkan kepala di jok kulit. Tangan kanannya yang masih berada di atas paha David, bergerak lembut naik turun. David menyalakan mesin. Tangannya merogoh konsol tengah, menarik kabel pengisi daya, lalu menyambar ponsel mati milik Eva dari jemari wanita itu. "Duduk yang benar. Batateraimu habis total," ucap David, mencoba menegakkan jarak aman di antara mereka. Namun, jarak sempit di dalam kabin mobil justru memisahkan mereka terlalu dekat. Eva tidak membenarkan posisi duduknya. Sebaliknya, ia malah mencondongkan tubuh ke arah tengah, menatap David dengan senyum tipis. "Makasih ya, Mas..." bisik Eva pelan. David menancapkan kabel ke ponsel Eva, berjuang keras mengabaikan tatapan itu. Namun, ketika ia hendak menarik tangannya kembali, jemari lentur Eva justru bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan David. "Mas kan sudah bilang, jangan minum," ucap David merusak ketegangan yang sudah membara di dada Eva. "Tadi di d

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Tangan yang Gemetar

    Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Luar Kendali

    Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Bawah Meja Makan Malam

    Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Keputusan Final

    Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status