로그인"Teman Eva, Pa... Nisa," jawab Eva terbata, menyebut nama rekan kerja barunya sambil berusaha keras menguasai getaran pada suaranya. Hendra menatap putrinya lekat-lekat, menyipitkan mata seolah mencari celah kebohongan di raut wajah Eva. "Nisa? Malam-malam begini ada urusan pekerjaan apa?" "Mung-mungkin ada dokumen yang mau ditanya, Pa," sahut Eva beralasan kilat. Ia buru-buru berdiri dari sofa, mengepal ponselnya erat-erat di dalam genggaman. "Ya sudah, Pa... Eva ke kamar dulu ya, mau angkat teleponnya." Eva lalu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah terburu-buru menuju lorong kamar. Di belakangnya, Hendra tetap bergeming di sofa. Pria paruh baya itu menatap punggung putrinya yang menjauh dengan raut wajah sangat dingin dan penuh selidik. Kecurigaan yang samar mulai merayapi pikirannya. Eva menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tebal. Layar ponselnya m
Langkah kaki beberapa peserta rapat perlahan menghilang di ujung koridor. Suasana yang tadinya bising oleh diskusi, mendadak menyusut. David keluar dari ruangan boardroom dengan langkah tenang. Jas gelapnya terpasang rapi, jemarinya memegang map dokumen proyek. Hanya beberapa meter di depannya, Hendra berjalan tegak menuju arah lift utama. Langkah keduanya melambat secara bersamaan saat posisi mereka sejajar di tengah lorong yang sepi. Keduanya memilih bungkam. Tidak ada basa-basi formalitas bisnis. David menghentikan langkahnya, menatap sahabatnya dengan wajah datar namun menaruh rasa hormat yang tertahan. Ia memilih diam, membiarkan posisinya tetap tenang seraya menakar langkah selanjutnya. Sementara itu, Hendra melirik David dari sudut matanya. Sepasang matanya menyipit, memancarkan rasa benci yang mendalam. Bagi Hendra, pembelaan David di ruang rapat tadi bukannya membuat ia berutang budi, melainkan terasa seperti tamparan keras di wajahnya. David baru saja memamerkan keku
Hari kedua bekerja terasa jauh lebih melelahkan bagi Eva, karena pikirannya yang terus menerus dipenuhi antisipasi.Meski jemarinya memegang berkas laporan, sepasang matanya tidak berhenti bergerak, melirik ke arah pintu masuk utama dan koridor lalu lalang setiap kali ada suara langkah mendekat.Kok Mas David nggak lewat-lewat, ya? Apa hari ini dia nggak ke sini? batin Eva, diliputi rasa gelisah yang sukar diredam."Eva! Ayo kita cek kamar-kamar di lantai empat yang sudah mulai dipasang furniture-nya kemarin," panggil Nisa."Ayo!" sahut Eva cepat. Matanya langsung berbinar penuh semangat.Kesempatan keliling kamar demi kamar di setiap lantai adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu. Bersama Nisa, Eva mulai melangkah menyusuri koridor panjang berkarpet tebal. Mereka memasuki satu per satu kamar suite untuk memeriksa presisi pemasangan headboard tempat tidur, lemari pakaian tanam, hingga credenza TV.Saat sedang memeriksa kehalusan permukaan meja rias di salah satu kamar, suara tawa y
Eva akhirnya memaksakan kakinya melangkah maju mendekati pintu mobil yang terbuka lebar. Setiap helaan napasnya terasa begitu berat.Ia memberanikan diri mengintip ke dalam kabin penumpang belakang. Di sana, sosok Hendra tampak bersandar di sudut jok. Matanya terpejam rapat, dan deru napasnya terdengar secara teratur. Papanya tertidur pulas.Eva mengembuskan napas panjang. Rasa lega yang luar biasa mendadak membanjiri dadanya, membuat seluruh persendiannya yang tegang perlahan melunak.Ia bergerak sangat pelan, menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin lalu mendarat di jok sebelah Hendra. Saat Pak Jamal—supirnya—hendak mendorong pintu untuk menutupnya, Eva dengan refleks cepat menahan pinggiran pintu itu dengan ujung jarinya."Aku saja, Pak," bisik Eva setengah berdesis, suaranya sangat pelan, memberi sinyal penuh kewaspadaan lewat tatapan matanya.Pak Jamal yang mengerti maksud majikannya langsung mengangguk pelan dan melepaskan pegangannya dari gagang pintu. Eva menarik pintu mobil
David ikut memajukan tubuhnya sedikit, melemparkan pandangan tajam ke luar jendela, mengamati gerak-gerik pria paruh baya yang berdiri gelisah di samping mobil jemputan Eva."Mas tidak pernah lihat sopir yang itu," ucap David datar. "Mungkin dia sopir baru. Kalau dia baru kerja, dia pasti tidak tahu ini mobil milik siapa."Eva bernapas lega. "Oh, begitu ya? Ya sudah, semoga saja dia benar-benar tidak tahu mobil siapa ini."Eva memutar tubuhnya, tangannya sudah bersiap menyentuh gagang pintu mobil. "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Mas.""Iya, hati-hati," balas David pelan.Namun, tepat saat jemari Eva baru saja hendak menekan engsel pintu kabin, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dari samping. Membuat gerakan Eva terhenti seketika.Ia memutar kepalanya kembali, menatap David dengan dahi berkerut halus. "Kenapa, Mas?""Minum itu dulu. Obatnya," tegas David sambil mengarahkan dagunya ke arah botol cokelat yang masih berada di pangkuan Eva."Oh... iya, sampai lupa," gumam Eva cepat.
Pintu kabin sedan hitam milik David tertutup rapat. Eva menyandarkan kepala di jok kulit. Tangan kanannya yang masih berada di atas paha David, bergerak lembut naik turun. David menyalakan mesin. Tangannya merogoh konsol tengah, menarik kabel pengisi daya, lalu menyambar ponsel mati milik Eva dari jemari wanita itu. "Duduk yang benar. Batateraimu habis total," ucap David, mencoba menegakkan jarak aman di antara mereka. Namun, jarak sempit di dalam kabin mobil justru memisahkan mereka terlalu dekat. Eva tidak membenarkan posisi duduknya. Sebaliknya, ia malah mencondongkan tubuh ke arah tengah, menatap David dengan senyum tipis. "Makasih ya, Mas..." bisik Eva pelan. David menancapkan kabel ke ponsel Eva, berjuang keras mengabaikan tatapan itu. Namun, ketika ia hendak menarik tangannya kembali, jemari lentur Eva justru bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan David. "Mas kan sudah bilang, jangan minum," ucap David merusak ketegangan yang sudah membara di dada Eva. "Tadi di d
Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav
Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya
Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan







