MasukSejak mengetahui Alena hamil, kehidupan di rumah itu perlahan berubah. Bukan karena Alena merasa berbeda. Justru orang-orang di sekitarnya yang berubah. Terutama Leon.Pagi itu Alena baru saja bangun dan hendak turun dari tempat tidur.“Pelan.”Suara Leon langsung terdengar. Alena berhenti.“Aku cuma mau turun.”Leon yang sedang merapikan kemejanya segera mendekat.“Pegang tanganku.”Alena menurut, lalu turun dari tempat tidur.“Aku masih bisa turun sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Terus kenapa?”“Biar aku saja.”Alena menghela napas. Baru beberapa minggu hamil, tetapi rasanya dia sudah memiliki pengawal pribadi.Ketika hendak mengambil gelas air, Leon lebih dulu mengambilkannya.Ketika ingin mengambil tas di sofa, Leon sudah mengangkatnya.Ketika Alena berdiri terlalu lama, Leon bertanya,“Capek?”“Belum.”“Duduk dulu.”Alena akhirnya menatap suaminya.“Sayang.”“Hm?”“Aku hamil, bukan sakit.”Leon tersenyum.“Aku tahu.”“Terus?”“Aku cuma sedang belajar.”“Belajar apa?”“Menjaga dua o
Pagi itu, Leon sudah siap sejak pukul tujuh. Padahal jadwal pemeriksaan Alena baru pukul sembilan. Alena yang baru keluar dari kamar justru menemukan suaminya sudah berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan.“Sayang?”Leon menoleh.“Ayo.”Alena melihat jam.“Sekarang?”“Iya.”“Dokternya masih lama.”“Kita berangkat lebih awal.”Alena menahan tawa.“Kenapa kamu kelihatan seperti mau menghadiri rapat penting?”Leon memasukkan ponselnya ke saku.“Ini memang penting.”“Lebih penting daripada rapat direksi?”“Jauh.”Alena tersenyum.“Padahal yang hamil aku.”Leon mendekat dan mengambil tas kecil dari tangan istrinya.“Justru karena kamu yang hamil.”“Aku baru beberapa minggu.”“Aku tahu.”“Dan aku baik-baik saja.”“Aku juga tahu.”“Jadi kenapa kamu kelihatan tegang?”Leon terdiam sebentar.“Aku tidak tegang.”Alena mengangkat alis.“Benarkah?”“Benar.”“Dari tadi kamu sudah tiga kali memeriksa jam.”Leon melirik jam tangannya.“Karena takut terlambat.”“Kita bahkan bisa sampai se
Sudah hampir dua bulan sejak Alena dan Leon kembali dari Paris. Kehidupan mereka perlahan menemukan ritmenya.Leon kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sementara Alena mulai serius mengembangkan proyek kecil yang sebelumnya hanya dia kerjakan untuk mengusir rasa bosan.Pagi itu, Alena duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka. Namun baru beberapa menit bekerja, dia tiba-tiba menutup hidung.“Aduh…”Pelayan yang sedang membereskan meja menoleh.“Bu Alena?”“Tidak apa-apa.”Alena berdiri dan berjalan menjauh dari meja. Entah kenapa, aroma makanan yang baru saja disiapkan terasa sangat mengganggu. Padahal biasanya dia menyukai aroma tersebut.“Kenapa sekarang jadi tidak suka?”Dia menggelengkan kepala.“Mungkin aku belum sarapan.”Alena mengambil segelas air. Namun baru dua teguk, perutnya kembali terasa tidak nyaman.Dia segera duduk. Beberapa menit kemudian rasa mual itu perlahan menghilang. Alena menghela napas lega.“Sepertinya aku terlalu lelah.”Beberapa hari terakhir m
Sejak Alena mulai menjalankan proyek pertamanya, rumah mereka perlahan berubah menjadi tempat kerja kecil. Bukan berarti Alena harus mengurus semuanya sendiri.Leon justru meminta seorang pelayan untuk membantu pekerjaan rumah agar Alena bisa lebih fokus pada proyeknya. Karena itu, sejak pagi Alena sudah duduk nyaman di ruang keluarga dengan laptop terbuka, sementara pelayan menyiapkan minuman dan camilan di meja.Hari itu Raka datang untuk membahas persiapan acara.“Untuk bagian ini, kalau kita menggunakan konsep yang kemarin, sepertinya lebih hemat,” kata Raka sambil menunjukkan proposal.Alena mengangguk.“Iya. Aku juga berpikir begitu.”“Lalu untuk dekorasi?”“Aku ingin sederhana saja. Jangan sampai anggaran habis hanya untuk dekorasi.”Raka tersenyum.“Berarti kita sepakat.”Mereka kembali membahas beberapa bagian proposal. Alena terlihat serius. Sesekali dia mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya.Tanpa mereka sadari, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Leon pulan
Seminggu berlalu sejak Alena mulai mengerjakan proyek kecilnya. Awalnya dia hanya membuat konsep di rumah. Namun semakin dipikirkan, semakin serius pula rencana itu.Pagi itu Alena duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Di sampingnya terdapat buku catatan, beberapa lembar kertas, dan secangkir kopi yang sejak tadi belum disentuh. Dia sedang melakukan panggilan video dengan seorang kenalan lama.“Jadi untuk acaranya, kita tidak perlu membuat konsep terlalu mewah,” kata Alena. “Yang penting suasananya nyaman dan orang-orang bisa menikmati.”Setelah percakapan berakhir, Alena menutup laptop. Dia menghela napas panjang.“Lumayan.”Ternyata membuat sesuatu dari nol tidak semudah yang dibayangkan. Namun justru itu yang membuatnya bersemangat.Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Leon muncul di layar.“Halo, sayang.”“Kamu sedang apa?”“Kerja.”“Sudah makan?”Alena melihat jam.“Belum.”Leon langsung terdiam.“Alena.”“Aku lupa.”“Aku sudah bilang apa?”“Jangan lupa makan.”“Dan?”“Jangan
Dua hari setelah percakapannya dengan Leon, Alena memutuskan mengunjungi rumah ibunya.Bukan karena ada masalah.Dia hanya ingin bercerita.Begitu sampai, Bu Rina yang sedang menyiram tanaman langsung tersenyum melihat putrinya turun dari mobil.“Lena? Kok datang sendiri?”“Leon masih di kantor, Bu.”“Tumben.”Alena tertawa kecil.“Ibu seperti tidak senang melihat anak sendiri.”“Senang. Tapi biasanya kalau Leon tidak ikut, ada apa?”“Tidak ada apa-apa.”Bu Rina meletakkan selang.“Kalau begitu masuk. Ibu baru bikin teh.”Mereka duduk di teras sambil menikmati teh hangat dan beberapa potong kue. Beberapa menit mereka berbicara tentang Paris. Alena bercerita tentang Menara Eiffel, makanan Prancis, restoran Indonesia yang mereka temukan, sampai tingkah Leon selama perjalanan. Bu Rina beberapa kali tertawa.“Berarti honeymoon kalian menyenangkan?”“Banget.”“Leon baik?”Alena tersenyum.“Baik.”“Tidak bikin kamu kesal?”“Kadang.”“Nah, berarti normal.”Alena tertawa. Setelah beberapa saa
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang







