เข้าสู่ระบบKeesokan harinya adalah hari Minggu.Alena baru saja keluar dari rumah ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar. Ia sempat mengira Leon datang seperti biasanya. Namun, begitu pintu mobil terbuka, Alena langsung terdiam.Leon turun dengan pakaian yang jauh lebih santai dari biasanya. Hanya kaus polos dan celana jeans, tanpa kemeja rapi, tanpa jas, bahkan rambutnya pun tidak ditata terlalu formal. Alena sampai memperhatikannya selama beberapa detik."Ih, Om."Leon menoleh."Kenapa?"Alena tersenyum."Om beda banget.""Beda bagaimana?""Jadi tambah muda."Leon langsung tersenyum puas."Hehehe... memang itu tujuan Om."Alena tertawa."Buat apa?"Leon berjalan mendekat."Biar dipuji sama Lena."Alena langsung menggeleng."Masa orang seperti Om butuh pujian?""Memangnya menurut kamu Om orang seperti apa?"Alena berpikir sebentar."Om hebat."Leon tersenyum."Seorang CEO."Senyumnya semakin lebar."Kaya raya."Leon mengangguk puas."Dan tampan."Kali ini senyum Leon semakin lebar."Pokokn
Sore itu, Alena masih memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Bukan tentang pekerjaan. Bukan pula tentang proyek. Melainkan satu hal konyol yang dipaksakan Bu Mira kepadanya.*Sayang.*Alena sampai merasa malu sendiri hanya dengan mengingatnya. Apalagi Bu Mira bahkan memintanya mengucapkan kata itu dengan suara lembut dan sedikit manja."Astaga..."Alena menutup wajahnya. Untung saja tadi Leon tidak ada. Kalau pria itu mendengarnya, entah berapa lama ia akan menggoda Alena. Namun belum selesai memikirkan itu, suara klakson terdengar dari depan rumah.Alena mengintip melalui jendela. Mobil Leon sudah berhenti. Leon memang berjanji akan pergi bersamanya setelah urusan beres."Ya ampun..."Ia segera mengambil tas dan keluar. Leon turun dari mobil seperti biasa."Sudah siap?"Alena mengangguk."Iya."Leon membuka pintu untuknya.Namun sebelum masuk, Alena tiba-tiba teringat pesan Bu Mira.*Kalau nanti Leon datang, coba panggil begitu.*Alena menelan ludah.nIa menatap Leon. Pria itu mengang
Alena sebenarnya sudah mulai pasrah. Sejak Leon menghentikan beberapa proyek yang seharusnya ia kerjakan, ia tahu tidak ada gunanya lagi berdebat.Pria itu sudah punya alasan sendiri. Menurut Leon, kalau Alena terus menerima proyek baru, pekerjaan tidak akan pernah selesai dan satu tahun yang dimintanya untuk menunda pernikahan benar-benar akan berjalan selama satu tahun penuh, bahkan mungkin saja lebih dari satu tahun.Dan Leon jelas tidak menginginkan itu. Namun Alena tidak menyangka, ternyata bukan hanya Leon yang tidak sabar.Pagi itu, ketika Alena sedang duduk di ruang keluarga sedangkan sang ibu sedang ke pasar, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, Bu Mira muncul dengan senyum lebar."Alena!"Alena langsung menoleh."Tante Mira?""Iya."Bu Mira masuk sambil membawa sebuah tas besar. Alena mengerutkan kening."Tante bawa apa?""Persiapan.""Persiapan apa?"Bu Mira duduk di sampingnya."Persiapan pernikahan."Alena langsung terdiam."Tante...""Jan
Keesokan paginya, Alena datang ke kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi percakapannya bersama Cyntia. Satu kalimat terus terngiang-ngiang di kepalanya."Masa lalu Leon belum benar-benar hilang."Alena menghela napas. Ia masih ingin menanyakan hal itu kepada Leon. Namun belum sempat memikirkan lebih jauh, Alex sudah memanggilnya."Alena.""Iya, Pak?""Ke ruangan saya sebentar."Alena segera menghampiri. Alex menunjukkan beberapa dokumen."Ada proyek baru dari klien yang kamu dapatkan kemarin."Alena langsung tertarik."Proyek baru?""Iya. Mereka cukup puas dengan hasil pekerjaanmu."Alena tersenyum."Bagus, Pak.""Saya sebenarnya ingin kamu ikut menangani proyek ini, karena waktu itu saya sudah berjanji padamu kalau proposal kita goal, aku akan masukkan kamu ke tim."Alena mengangguk antusias."Baik, Pak. Saya siap."Namun Alex tiba-tiba terdiam."Ada masalah?" tanya Alena."Bukan."Alex menggaruk kepalanya."Sebenarnya saya sudah bicara dengan Pak Leon."Alena langsung mengerutkan
Pagi itu Alena berangkat bersama Alex menuju salah satu perusahaan yang menjadi klien mereka.Proyek yang mereka kerjakan sudah memasuki tahap akhir, sehingga Alex memutuskan untuk turun langsung bersama Alena. Bagaimanapun, Alex adalah atasannya dan Alena merupakan orang yang paling memahami detail proyek tersebut.Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan beberapa hal mengenai pekerjaan."Setelah presentasi hari ini selesai, kemungkinan besar proyek ini tinggal menunggu persetujuan terakhir," ujar Alex sambil melihat beberapa dokumen.Alena mengangguk."Semoga tidak ada revisi lagi.""Kalau ada pun seharusnya tidak banyak."Alena tersenyum. Ia memang sudah bekerja keras untuk proyek ini. Bukan hanya karena ingin membuktikan kemampuannya kepada Nadia dan karyawan lain, tetapi juga karena ia tidak ingin keberadaannya di perusahaan selalu dikaitkan dengan hubungannya bersama Leon.Ia ingin orang-orang mengenalnya karena kemampuan, bukan karena siapa kekasihnya.Begitu tiba di perusahaa
Pagi itu, setelah Alena berangkat bersama Leon, Bu Rina baru saja selesai membereskan meja makan ketika terdengar suara pagar dibuka."Bu Rina!"Bu Rina yang sedang membawa beberapa piring langsung menoleh."Bu Siti?"Bu Siti berjalan masuk sambil membawa sebuah kotak kue yang cukup besar."Ini saya bawakan kue.""Wah, terima kasih."Bu Rina menerima kotak tersebut. Namun bukannya langsung pulang, Bu Siti malah mengikuti Bu Rina masuk ke ruang tamu. Bu Rina mulai merasa ada sesuatu."Bu Siti mau minum?""Boleh."Bu Rina tersenyum. Iasudah tahu. Kalau Bu Siti hanya ingin mengantar kue, seharusnya dari tadi sudah pulang.Beberapa saat kemudian, teh sudah tersedia di meja. Bu Siti menyeruput minumannya, lalu bertanya dengan nada santai."Bu Rina.""Hm?""Itu tadi yang menjemput Alena siapa?"Bu Rina tersenyum."Leon.""Oh..."Bu Siti mengangguk-angguk."Jadi benar?""Benar apa?""Yang katanya calon suaminya itu?"Bu Rina mengangguk."Iya."Mata Bu Siti langsung berbinar."Astaga, benar-b
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







