로그인Tiga hari berlalu dengan cepat. Alena hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai. Setiap pagi ia datang lebih awal, memeriksa kembali data yang sudah dikumpulkannya, lalu menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyusun proposal proyek tersebut.Bahkan ketika jam kerja hampir berakhir, ia masih sering terlihat di depan laptop.Maya yang awalnya hanya memperhatikan dari jauh mulai semakin sering melihatnya.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada orang yang mengerjakan tugas Alena.Bahkan ketika menemukan data yang tidak sesuai, Alena sendiri yang mencari sumbernya dan memperbaikinya.Suatu sore, Maya tanpa sengaja melihat Alena masih berada di mejanya ketika sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang."Kamu belum pulang?"Alena mengangkat wajah."Belum.""Masih banyak?""Sedikit lagi."Maya berdiri di dekat meja Alena."Besok presentasi, kan?"Alena mengangguk."Iya.""Kalau begitu jangan terlalu malam."Alena tersenyum."Aku tahu."Maya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti."Ale
Keesokan paginya, suasana kantor sudah jauh berbeda. Sejak hubungan Alena dan Leon diketahui, hampir tidak ada lagi bisikan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Sebagian besar karyawan justru mulai bersikap lebih terbuka. Ada yang mengucapkan selamat. Ada yang menggoda. Dan ada pula yang mulai memperlakukannya sedikit berbeda. Namun Alena justru ingin secepatnya kembali ke rutinitas. Ia tidak ingin statusnya sebagai calon istri Leon menjadi alasan orang-orang menilai pekerjaannya. Begitu sampai di mejanya, ia langsung membuka laptop. "Fokus." Ia menggumam pelan. "Kerja saja." Belum sempat membuka dokumen pertama, Nadia datang menghampirinya. "Alena." Alena langsung berdiri. "Iya, Bu?" "Ikut saya sebentar." Alena mengikuti Nadia menuju ruangannya. Begitu pintu tertutup, Nadia mengambil sebuah map tebal dari atas meja. "Saya punya proyek baru untukmu." Alena menerima map tersebut. "Proyek baru?" "Iya." Ia membuka halaman pertama. Matanya langsung membesar. "Ini..."
Leon akhirnya mengetik balasan."Iya."Beberapa detik kemudian, ia menambahkan,"Nanti kita bicara di rumah Lena saja."Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, tanda pesan sudah dibaca muncul. Balasan Alena segera masuk."Jangan. Nanti Om capek."Leon tersenyum kecil. Jarinyapun kembali mengetik."Mana mungkin capek.""Kalau ketemu Lena, Om malah tambah semangat."Beberapa detik kemudian, balasan Alena muncul."Dasar gombal."Leon tertawa kecil. Seorang staf yang kebetulan lembur dan berada tidak jauh dari meja langsung menoleh."Pak?"Leon segera mengembalikan wajah seriusnya."Ada apa?""Tidak ada, Pak."Staf itu buru-buru kembali bekerja. Leon menatap layar ponselnya lagi. Senyumnya muncul kembali. Setidaknya Alena belum benar-benar marah.Atau... mungkin justru sedang menunggu dirinya datang untuk mengomel. Leon menghela napas."Ya sudah.""Hadapi saja.""Berani berbuat, berani menanggung."---Malam itu, Leon tiba di rumah Alena saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan.
Siang itu, ketika Alena masih berada di kantor, Bu Mira datang berkunjung ke rumahnya. Bu Rina yang sedang berada di ruang tengah langsung tersenyum ketika membuka pintu."Eh, Bu Mira.""Hai, Bu Rina.""Silakan masuk."Bu Mira membawa sebuah tas besar di tangannya."Maaf mengganggu.""Ah, tidak.""Kebetulan Alena masih di kantor."Bu Mira mengangguk."Tidak apa-apa."Bu Mira tertawa kecil."Aku tiba-tiba ingin ngobrol saja dengan kamu."Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Rina tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin bertanya kepada Bu Mira, tetapi selalu mengurungkan niat. Namun kali ini kesempatan datang begitu saja."Bu Mira...""Hm?""Bu boleh tanya sesuatu?""Tentu."Bu Rina terlihat sedikit ragu."Dulu...""sebelum Leon menikah dengan Cyntia...""Leon pernah punya pacar?"Bu Mira langsung tertawa."Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"Bu Rina ikut tersenyum."Entahlah.""Aku c
Malam itu, Leon akhirnya tiba di rumah. Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat Bu Mira sudah menunggunya di sofa sambil menikmati secangkir teh. Bu Mira mengangkat wajah dan melirik jam di dinding."Hmm... cepat juga pulangnya.""Iya, Bu."Leon meletakkan kunci mobil di atas meja."Alena tadi kelihatannya agak lelah. Jadi aku langsung mengantarnya pulang.""Biar dia cepat istirahat."Bu Mira mengangguk pelan. Namun beberapa detik kemudian, tatapannya berubah penuh selidik."Leon.""Hm?""Sejak kapan kau mengundang Ibu datang ke perusahaanmu?"Leon yang baru hendak duduk langsung berhenti."Kenapa?""Jangan pura-pura tidak tahu."Bu Mira menyipitkan mata."Ibu datang membawa kue sebanyak itu.""Lalu memanggil Alena calon menantu di depan semua karyawanmu."Leon terdiam. Sementara Bu Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Padahal setahuku kalian sepakat merahasiakan hubungan kalian di perusahaan."Leon menghela napas."Iya.""Nah."Bu Mira menunjuk putranya."Berarti memang ada sesuatu.
Setelah semua kue dibagikan, suasana kantor perlahan kembali normal. Namun bagi Alena, semuanya justru terasa semakin kacau. Beberapa orang mengucapkan selamat kepadanya. Ada yang menggoda. Bahkan ada yang terang-terangan bertanya sejak kapan dirinya dan Leon berhubungan.Alena hanya bisa tersenyum malu. Untungnya, Bu Mira tidak terlalu lama berada di kantor. Setelah berpamitan, wanita itu meninggalkan beberapa kotak kue untuk dibagikan kepada para karyawan.Begitu semuanya selesai, Alena langsung menuju ruang Leon. Ia mengetuk pintu."Masuk."Alena membuka pintu. Leon yang sedang duduk di belakang mejanya mengangkat wajah. Begitu melihat ekspresi Alena, ia langsung mengerutkan kening."Kenapa?"Alena berjalan mendekat."Om tahu tidak apa yang baru saja terjadi?"Leon tampak tenang."Apa?""Ibu Om datang ke kantor."Leon mengangguk santai."Oh.""Oh?"Alena menatapnya tidak percaya."Ibu Om datang membawa kue sebanyak itu.""Terus memanggil aku calon menantu di depan semua orang!"Leo
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek







