Home / Romansa / Om Ganteng, Nikah Yuk! / Oleh-Oleh dari Paris

Share

Oleh-Oleh dari Paris

Author: Anny Djumadi
last update publish date: 2026-09-12 18:08:46

Hari-hari terakhir di Paris akhirnya tiba.

Pagi itu, Alena duduk di lantai kamar hotel sambil mengeluarkan satu per satu barang dari lemari kecil yang mereka gunakan untuk menyimpan belanjaan.

Koper yang sebelumnya masih cukup lega kini mulai terlihat penuh. Leon yang baru selesai bersiap hanya berdiri sambil memperhatikannya.

“Sayang…”

“Hmm?”

“Kayaknya kita harus beli koper baru.”

Leon mengangkat alis.

“Kenapa?”

Alena menunjuk tumpukan barang.

“Lihat ini.”

Leon mendekat.

Ada beberapa suvenir P
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Zulaikha
wah enak jadi teman Alena hehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Hadiah Besar

    Sudah hampir dua bulan sejak Alena dan Leon kembali dari Paris. Kehidupan mereka perlahan menemukan ritmenya.Leon kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sementara Alena mulai serius mengembangkan proyek kecil yang sebelumnya hanya dia kerjakan untuk mengusir rasa bosan.Pagi itu, Alena duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka. Namun baru beberapa menit bekerja, dia tiba-tiba menutup hidung.“Aduh…”Pelayan yang sedang membereskan meja menoleh.“Bu Alena?”“Tidak apa-apa.”Alena berdiri dan berjalan menjauh dari meja. Entah kenapa, aroma makanan yang baru saja disiapkan terasa sangat mengganggu. Padahal biasanya dia menyukai aroma tersebut.“Kenapa sekarang jadi tidak suka?”Dia menggelengkan kepala.“Mungkin aku belum sarapan.”Alena mengambil segelas air. Namun baru dua teguk, perutnya kembali terasa tidak nyaman.Dia segera duduk. Beberapa menit kemudian rasa mual itu perlahan menghilang. Alena menghela napas lega.“Sepertinya aku terlalu lelah.”Beberapa hari terakhir m

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Jangan-Jangan Cemburu

    Sejak Alena mulai menjalankan proyek pertamanya, rumah mereka perlahan berubah menjadi tempat kerja kecil. Bukan berarti Alena harus mengurus semuanya sendiri.Leon justru meminta seorang pelayan untuk membantu pekerjaan rumah agar Alena bisa lebih fokus pada proyeknya. Karena itu, sejak pagi Alena sudah duduk nyaman di ruang keluarga dengan laptop terbuka, sementara pelayan menyiapkan minuman dan camilan di meja.Hari itu Raka datang untuk membahas persiapan acara.“Untuk bagian ini, kalau kita menggunakan konsep yang kemarin, sepertinya lebih hemat,” kata Raka sambil menunjukkan proposal.Alena mengangguk.“Iya. Aku juga berpikir begitu.”“Lalu untuk dekorasi?”“Aku ingin sederhana saja. Jangan sampai anggaran habis hanya untuk dekorasi.”Raka tersenyum.“Berarti kita sepakat.”Mereka kembali membahas beberapa bagian proposal. Alena terlihat serius. Sesekali dia mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya.Tanpa mereka sadari, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Leon pulan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Proyek Pertama

    Seminggu berlalu sejak Alena mulai mengerjakan proyek kecilnya. Awalnya dia hanya membuat konsep di rumah. Namun semakin dipikirkan, semakin serius pula rencana itu.Pagi itu Alena duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Di sampingnya terdapat buku catatan, beberapa lembar kertas, dan secangkir kopi yang sejak tadi belum disentuh. Dia sedang melakukan panggilan video dengan seorang kenalan lama.“Jadi untuk acaranya, kita tidak perlu membuat konsep terlalu mewah,” kata Alena. “Yang penting suasananya nyaman dan orang-orang bisa menikmati.”Setelah percakapan berakhir, Alena menutup laptop. Dia menghela napas panjang.“Lumayan.”Ternyata membuat sesuatu dari nol tidak semudah yang dibayangkan. Namun justru itu yang membuatnya bersemangat.Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Leon muncul di layar.“Halo, sayang.”“Kamu sedang apa?”“Kerja.”“Sudah makan?”Alena melihat jam.“Belum.”Leon langsung terdiam.“Alena.”“Aku lupa.”“Aku sudah bilang apa?”“Jangan lupa makan.”“Dan?”“Jangan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Jalan Baru Alena

    Dua hari setelah percakapannya dengan Leon, Alena memutuskan mengunjungi rumah ibunya.Bukan karena ada masalah.Dia hanya ingin bercerita.Begitu sampai, Bu Rina yang sedang menyiram tanaman langsung tersenyum melihat putrinya turun dari mobil.“Lena? Kok datang sendiri?”“Leon masih di kantor, Bu.”“Tumben.”Alena tertawa kecil.“Ibu seperti tidak senang melihat anak sendiri.”“Senang. Tapi biasanya kalau Leon tidak ikut, ada apa?”“Tidak ada apa-apa.”Bu Rina meletakkan selang.“Kalau begitu masuk. Ibu baru bikin teh.”Mereka duduk di teras sambil menikmati teh hangat dan beberapa potong kue. Beberapa menit mereka berbicara tentang Paris. Alena bercerita tentang Menara Eiffel, makanan Prancis, restoran Indonesia yang mereka temukan, sampai tingkah Leon selama perjalanan. Bu Rina beberapa kali tertawa.“Berarti honeymoon kalian menyenangkan?”“Banget.”“Leon baik?”Alena tersenyum.“Baik.”“Tidak bikin kamu kesal?”“Kadang.”“Nah, berarti normal.”Alena tertawa. Setelah beberapa saa

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bosan di Rumah

    Sudah hampir satu minggu sejak mereka kembali dari Paris. Dan ternyata, menjadi istri seorang CEO tidak selalu berarti hidup penuh kemewahan seperti yang dibayangkan orang. Setidaknya, bagi Alena.Pagi itu, setelah mengantar Leon sampai ke depan pintu, Alena berdiri sambil melambaikan tangan.“Hati-hati, sayang.”Leon masuk ke mobil, lalu menurunkan kaca jendela.“Kamu di rumah saja, ya.”“Iya.”“Jangan lupa sarapan.”“Iya.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”Alena mengerutkan kening.“Memangnya aku mau memikirkan apa?”Leon tersenyum.“Nanti kamu tahu.”Mobil pun meninggalkan halaman. Alena masuk kembali ke rumah.Awalnya dia merasa senang. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada rapat. Tidak ada deadline. Tidak ada telepon dari klien.Dia bahkan sempat membuat daftar kegiatan.Membersihkan kamar.Merapi­kan lemari.Membaca buku.Memasak.Selesai menulis daftar, Alena melihat jam. Baru pukul delapan lewat lima belas.“Masih pagi.”Dia mulai membereskan kamar. Sepuluh menit kemudian selesai. Di

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bukan Lagi Karyawan

    Pagi pertama setelah kembali dari Paris terasa sedikit berbeda bagi Alena.Tidak ada jadwal jalan-jalan.Tidak ada koper yang harus dibawa.Tidak ada pemandangan Menara Eiffel dari jendela hotel.Yang ada hanya dirinya, Leon, dan sebuah dapur yang sejak pagi sudah membuatnya berpikir keras.Alena berdiri di depan kompor dengan rambut yang diikat seadanya. Di atas meja sudah tersedia telur, roti, dan beberapa bahan makanan.“Seharusnya membuat sarapan itu gampang,” gumamnya.Dia memecahkan telur ke dalam mangkuk. Satu telur masuk dengan sempurna. Telur kedua juga. Telur ketiga...Pluk!Cangkangnya ikut masuk. Alena menghela napas.“Tidak apa-apa. Tinggal diambil.”Dia mengambil kulit telur itu, lalu mengocoknya. Beberapa menit kemudian, aroma telur goreng memenuhi dapur.Leon muncul dari kamar setelah selesai mandi. Begitu melihat istrinya berdiri di depan kompor, dia tersenyum.“Selamat pagi, sayang.”Alena menoleh.“Pagi.”Leon mendekat.“Kamu sedang apa?”“Bikin sarapan.”Leon melih

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Om Ganteng Mau Nikah

    Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Gadis Aneh

    Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Demi Bakso, Ajak Nikah

    “Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bawa Dia ke Ruang Saya

    Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status