LOGINSepulang dari kantor, Alena sempat mengira Leon akan langsung mengantarnya pulang. Namun setelah beberapa menit berjalan, ia mulai menyadari bahwa arah mobil bukan menuju rumahnya. Alena menoleh kepada Leon."Om.""Hm?""Kita mau ke mana?""Ke suatu tempat.""Tempat apa?""Nanti juga tahu."Alena memperhatikan Leon beberapa saat."Apakah Om mau kasih Alena proyek lagi?"tanya Alena dengan mata berbinar.Leon langsung tertawa."Kenapa pikiranmu selalu proyek?""Karena Om tadi bilang mau membicarakan sesuatu.""Iya.""Berarti proyek?""Bukan."Alena malah terlihat sedikit kecewa."Sayang sekali."Leon meliriknya."Kamu kecewa tidak dapat proyek?""Iya."Leon menggeleng."Om sudah susah payah menghentikan proyekmu.""Kan Alena masih suka kerja.""Om tahu.""Kalau ada proyek menarik, Alena pasti mau.""Nah, itu masalahnya."Leon tersenyum."Makanya Om tidak boleh memberi kesempatan."Alena tertawa."Om takut Alena lupa menikah?""Betul.""Padahal Alena sudah janji.""Om tetap harus waspad
Senin pagi, suasana kantor berjalan seperti biasa. Alena baru saja meletakkan tas di meja ketika Amara tiba-tiba menghampirinya dengan senyum yang terlihat mencurigakan."Selamat ya, Lena."Alena mengangkat wajah."Selamat apa?"Amara tersenyum lebar."Jangan pura-pura tidak tahu.""Tahu apa?""Kamu benar-benar mau menikah dengan Pak Leon dalam waktu dekat ini kan?"Alena langsung membeku."Hah?"Amara terkekeh."Jadi benar?""Siapa yang bilang?"Belum sempat Amara menjawab, Sisca muncul dari belakang sambil membawa kopi."Sudah, jangan disiksa dulu."Alena semakin bingung."Kalian ngomong apa sih?"Sisca menatapnya penuh arti."Jadi kapan kami dapat undangan?""Undangan apa?""Pernikahanmu."Alena menutup wajahnya."Astaga..."Ia mulai memahami sesuatu. Tidak mungkin semua orang tahu kalau bukan ada yang membocorkannya."Tunggu."Alena menurunkan tangannya."Siapa yang bilang?"Amara dan Sisca saling pandang. Amara akhirnya berkata,"Kayaknya bukan Pak Leon.""Terus?""Ibunya."Alena
Senin sore, Alena baru saja pulang dari kantor ketika melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung mengenali mobil itu."Mobil Tante Mira?"Alena mengerutkan kening.Kenapa calon mertuanya datang lagi?Jangan-jangan ada urusan dengan proyeknya.Atau lebih parah... jangan-jangan datang membawa daftar pekerjaan baru.Alena segera masuk ke rumah. Begitu membuka pintu, ia melihat Bu Mira sudah duduk santai bersama Ibu Alena."Tante?"Bu Mira langsung menoleh dan tersenyum lebar."Nah, calon menantu Tante sudah pulang."Alena langsung menghela napas."Tante jangan mulai.""Mulai apa?""Jangan panggil begitu.""Kenapa?""Alena malu."Bu Mira justru tertawa."Sebentar lagi juga benar-benar jadi menantu."Alena menatap ibunya."Ibu kenapa diam saja?"Ibu Alena hanya tersenyum."Ibu tidak ikut-ikutan.""Bagus."Alena baru saja hendak duduk ketika Bu Mira mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Alena langsung curiga."Itu apa, Tante?""Persiapan.""
Bukan sekadar melihat-lihat brosur, ternyata Leon sudah mengambil keputusan. Setelah selesai melihat rumah yang telah dipersiapkannya untuk pernikahan mereka, Leon langsung mengajak Alena mendatangi toko perabot yang tadi mereka bicarakan.Leon menyalakan mesin mobil, lalu melirik Alena yang sudah duduk di sampingnya."Om mau mengajak Alena ke mana?""Ke suatu tempat.""Rahasia?""Bukan.""Lalu?""Belanja."Alena menoleh."Belanja apa?""Perabot rumah."Alena langsung teringat rumah Leon yang kemarin mereka bicarakan."Kan tadi sudah pilih.""Itu baru beberapa.""Lagipula lebih enak lihat langsung.""Terus nanti mau beli apa?""Yang kamu suka."Alena hanya bisa menggeleng. Ternyata Leon benar-benar serius mempersiapkan rumah untuk mereka.nTidak lama kemudian mereka tiba di sebuah toko perabot yang cukup besar.Begitu masuk, Alena langsung melihat berbagai macam furnitur tertata rapi. Ada sofa, meja makan, lemari, tempat tidur, hingga berbagai perlengkapan kamar."Om mau beli semuanya
Keesokan harinya adalah hari Minggu.Alena baru saja keluar dari rumah ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar. Ia sempat mengira Leon datang seperti biasanya. Namun, begitu pintu mobil terbuka, Alena langsung terdiam.Leon turun dengan pakaian yang jauh lebih santai dari biasanya. Hanya kaus polos dan celana jeans, tanpa kemeja rapi, tanpa jas, bahkan rambutnya pun tidak ditata terlalu formal. Alena sampai memperhatikannya selama beberapa detik."Ih, Om."Leon menoleh."Kenapa?"Alena tersenyum."Om beda banget.""Beda bagaimana?""Jadi tambah muda."Leon langsung tersenyum puas."Hehehe... memang itu tujuan Om."Alena tertawa."Buat apa?"Leon berjalan mendekat."Biar dipuji sama Lena."Alena langsung menggeleng."Masa orang seperti Om butuh pujian?""Memangnya menurut kamu Om orang seperti apa?"Alena berpikir sebentar."Om hebat."Leon tersenyum."Seorang CEO."Senyumnya semakin lebar."Kaya raya."Leon mengangguk puas."Dan tampan."Kali ini senyum Leon semakin lebar."Pokokn
Sore itu, Alena masih memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Bukan tentang pekerjaan. Bukan pula tentang proyek. Melainkan satu hal konyol yang dipaksakan Bu Mira kepadanya.*Sayang.*Alena sampai merasa malu sendiri hanya dengan mengingatnya. Apalagi Bu Mira bahkan memintanya mengucapkan kata itu dengan suara lembut dan sedikit manja."Astaga..."Alena menutup wajahnya. Untung saja tadi Leon tidak ada. Kalau pria itu mendengarnya, entah berapa lama ia akan menggoda Alena. Namun belum selesai memikirkan itu, suara klakson terdengar dari depan rumah.Alena mengintip melalui jendela. Mobil Leon sudah berhenti. Leon memang berjanji akan pergi bersamanya setelah urusan beres."Ya ampun..."Ia segera mengambil tas dan keluar. Leon turun dari mobil seperti biasa."Sudah siap?"Alena mengangguk."Iya."Leon membuka pintu untuknya.Namun sebelum masuk, Alena tiba-tiba teringat pesan Bu Mira.*Kalau nanti Leon datang, coba panggil begitu.*Alena menelan ludah.nIa menatap Leon. Pria itu mengang
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







