Se connecterTiga bulan setelah perceraian, Kelvano mengumumkan bahwa dirinya akan kembali ke panggung.Konser itu tidak menggunakan trik promosi apa pun dan tidak melibatkan tim film dokumenter.Komposisi terakhir dalam daftar pertunjukan adalah [Orang yang Paling Dicintai.]Setelah kabar itu tersebar, media ramai menebak-nebak apakah aku akan hadir.Kelvano menyisihkan satu tiket di barisan depan untukku. Kali ini, kartu nama di kursi itu dengan jelas bertuliskan Soraya. Namun, aku tidak pulang ke tanah air.Saat pertunjukan dimulai, aku sedang menyunting episode terakhir [Mereka yang Tak Dikenal.]Asistenku menjulurkan kepala ke dalam ruangan.“Kak Soraya, siaran langsungnya sudah dimulai. Kamu nggak mau menonton?”“Nggak mau.”“Benar nggak menonton? Di internet bilang, malam ini dia mau bikin gebrakan, tahu.”Aku mengenakan headphone.“Hasil akhirnya harus diserahkan besok pagi.”Asistenku mengangkat bahu, lalu menutup pintu.Belakangan, rekaman pertunjukan itu tersebar luas di internet.Setela
Pernyataan terbuka Kelvano tidak menyisakan ruang untuk membela dirinya sendiri.Dia mengakui bahwa dirinya telah membiarkan film dokumenter itu memanipulasi kronologi kejadian.Dia juga mengakui bahwa pengaturan tempat duduk keluarga dan penempatan kamera saat pemutaran perdana merupakan keputusannya.Selain itu, dia mengakui bahwa selama tiga tahun terakhir, dia hanya meluangkan sepuluh menit setiap minggu untuk istrinya.Opini publik langsung meledak.Ada yang mencacinya sebagai pria yang tidak tahu berterima kasih.Ada pula yang mengatakan bahwa citranya sebagai pria setia dan penuh cinta selama ini hanyalah lelucon belaka.Sejumlah merek pun mengakhiri kontrak dengannya.Pertunjukannya ditunda.Bahkan, tur konser yang telah dipersiapkan selama setengah tahun pun terpaksa dibatalkan.Manajernya bertanya perlukah mereka menyiapkan penanganan humas.Dia menolak. “Yang mereka katakan itu fakta.”Film dokumenter itu ditarik secara permanen dari peredaran.Pihak produksi menyampaikan pe
Pada hari kedua Kelvano dirawat di rumah sakit, aku terbang ke Kota Cigana untuk mewawancarai seorang komponis keturunan Barat yang sudah lama pensiun.Dia telah menolak lebih dari sepuluh media.Setelah kami bertemu, dia melirik sekilas daftar pertanyaan wawancara yang kubawa.“Kamu juga mengerti selo?”“Sedikit.”“Ada anggota keluargamu yang memainkannya?”Aku terdiam sejenak.“Dulu ada.”Wawancara itu berlangsung selama tiga jam.Saat wawancara berakhir, pria tua itu tiba-tiba bertanya kepadaku, “Kenapa kamu selalu bertanya tentang orang-orang di balik sebuah karya yang diabaikan?”Salju turun di luar jendela.Aku mematikan alat perekam.“Karena aku pernah menjadi orang seperti itu.”Dia menatapku cukup lama, lalu mengangguk.“Kalau begitu, liputan ini kuserahkan kepadamu.”Setelah berita eksklusif itu diterbitkan, jumlah pembacanya segera melampaui rekor perusahaan.Atasanku memanggilku ke kantornya.“Laporan utama edisi depan, kamu yang tangani.”Aku menerima dokumen itu.Di sampu
Saat Kelvano muncul di depan gedung kantor, aku baru saja menyelesaikan rapat.Dia berdiri di tengah angin dingin, hanya mengenakan mantel hitam. Matanya memerah, dipenuhi urat-urat halus yang terlihat jelas.Aku berhenti melangkah.“Kenapa kamu datang ke sini?”Seolah akhirnya bisa bernapas lega, Kelvano segera menghampiriku dan meraih pergelangan tanganku.“Kita bicarakan setelah pulang.”Aku menarik tanganku kembali.“Aku nggak akan pulang.”Tangan Kelvano terhenti kaku di udara.“Soraya, jangan buat keributan di sini.”“Aku bekerja di sini.”Aku menatapnya.“Kamu yang justru menerobos masuk ke perusahaan orang lain.”“Baiklah.”Dia berusaha menahan emosinya.“Kalau begitu, kita cari tempat untuk bicara.”Ada sebuah kafe di lantai bawah gedung kantor.Setelah kami duduk, Kelvano mendorong selembar foto dari acara pemutaran perdana ke hadapanku.Dalam foto itu, aku duduk di barisan paling belakang, dengan sorotan lampu menyapu sisi wajahku.“Aku nggak tahu juru siaran akan mengalihka
Setelah mendarat, aku tidak menyalakan ponsel pribadiku.Cabang Westoria mengirim mobil untuk menjemputku.Tempat tinggalku yang baru tidak terlalu besar, tetapi dari jendelanya terlihat sungai.Rekan kerjaku membantuku membawa kardus-kardus ke ruang tamu, lalu menunjuk dinding yang masih kosong sambil tersenyum.“Untuk sementara, tinggal di sini dulu saja. Nanti kalau ada waktu, aku antar kamu beli perabotan, ya.”“Begini sudah cukup bagus.”Aku membuka kardus.Di bagian paling atas terdapat satu set peralatan wawancara.Tidak ada kantong ramuan herbal untuk berendam.Tidak ada plester pereda nyeri.Bahkan, tidak ada sandal bersol lembut yang biasa dipakai Kelvano setiap kali selesai tampil.Ternyata, kehidupan yang benar-benar menjadi milikku sendiri tidak membutuhkan banyak ruang....Sementara itu, keadaan di tanah air sudah kacau.Pada hari pesta perayaan keberhasilan film dokumenter, sutradara tiba-tiba menerima surat resmi dari pengacara.Aku secara tegas menolak memberikan izin
Setelah pesawat memasuki ketinggian jelajah, ponselku benar-benar kehilangan sinyal.Aku menyandarkan tubuh pada kursi dan memejamkan mata....Pada saat yang sama, Kelvano baru saja mengantar Lily pulang.Lily berdiri di samping pintu mobil dengan mata yang masih memerah.“Kak Kelvano, apa Kak Soraya salah paham?”“Belakangan ini suasana hatinya memang kurang baik.”Kelvano melirik ponselnya. Pesannya belum dibalas.Dia sedikit mengernyit, lalu mengirimkan satu pesan lagi.“Dua hari lagi juga dia akan baik-baik saja.”Lily menggigit bibirnya. “Ini semua salahku. Di pemutaran perdana tadi, seharusnya aku nggak duduk di kursi keluarga.”“Tempat duduk itu diatur oleh tim.”“Tapi tadi, lampu sorot hampir saja mengenai dia.” Suara Lily semakin pelan.“Aku yang bilang ke juru siaran, aku takut kamera dan ingin siap-siap lebih awal. Mungkin dia salah paham, makanya terus menyorotku.”Jari Kelvano terhenti sejenak.“Lain kali, jangan ambil keputusan sendiri,” ucapnya dengan nada tidak keras.







