Partager

Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne
Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne
Auteur: Eji

Bab 1

Auteur: Eji
Pada saat yang sama, dia mengirimiku pesan.

[Pertunjukannya sudah selesai. Jatah sepuluh menit kita minggu ini dipindahkan ke minggu depan saja.]

Aku menghapus percakapan itu tanpa membalas.

Karena [Orang yang Paling Dicintai] kini sudah memiliki pendengar baru, sudah saatnya aku juga meninggalkan panggung.

....

Kelvano baru pulang ketika waktu hampir menunjukkan pukul satu dini hari.

Dia membawa kotak selonya, masih mengenakan kemeja hitam yang dipakainya saat pertunjukan.

Langkahnya mendadak terhenti saat sampai di belakangku dan melihat kata “Valenne” di layar.

“Kamu pergi ke Valenne hari ini?”

“Ya.”

Jari-jariku bergerak di papan sentuh, menghapus satu bagian catatan rekaman yang berulang.

“Aku mendadak mendapat tugas untuk mewawancarai seorang konduktor keturunan Barat.”

“Kapan kamu sampai di sana?”

“Sore.”

Kelvano terdiam selama dua detik.

“Kenapa kamu nggak datang menemuiku?”

“Aku sibuk bekerja. Begitu wawancaranya selesai, aku langsung pulang.”

Aku tidak mengangkat kepala.

Dari sudut mataku, kulihat bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.

Seolah-olah Kelvano akhirnya bisa memastikan bahwa aku tidak memasuki gedung konser itu dan tidak menyaksikan semua yang terjadi setelah pertunjukan berakhir.

Dia meletakkan kotak selonya di dekat dinding, lalu mengusap pergelangan tangannya.

“Hari ini aku bermain terlalu lama, tanganku kram lagi.”

Kelvano duduk di sampingku seolah tidak ada yang aneh, kemudian menyodorkan tangan kanannya.

“Tolong pijat tanganku sebentar, lalu siapkan air rendaman herbalnya.”

Selama delapan tahun terakhir, hal itu hampir menjadi kebiasaan di antara kami yang tidak perlu dibicarakan lagi.

Di masa terburuknya, tangan kanan Kelvano bahkan tak mampu menggengam gelas dengan stabil.

Demi mempelajari cara memijat tangannya, aku sampai konsultasi dengan fisioterapis untuk mendapatkan bimbingan. Setiap letak otot di tangannya kucatat dengan saksama dalam sebuah buku.

Jari mana yang kaku dan bagian mana yang harus dipijat.

Seberapa parah rasa sakitnya dan obat jenis apa yang perlu diganti.

Bahkan saat Kelvano memejamkan mata, aku tahu apa yang dibutuhkannya sesaat lagi.

Namun, malam ini, aku hanya menatap tangannya.

Ada bekas kemerahan baru di ujung jarinya akibat gesekan.

Bekas itu muncul karena dia bermain terlalu lama tanpa henti.

Tiga jam.

Demi membuat Lily terlelap, dia memainkan komposisi yang ditulisnya untukku berulang kali di gedung konser yang sudah kosong.

Pantas saja dia kelelahan.

Pantas saja tangannya sakit.

Dan setelah pulang, dia masih mengharapkanku untuk membantu meredakan rasa sakit itu.

Aku menutup laptop. “Biar tim yang ikut denganmu saja yang mengurusnya.”

Tangan Kelvano membeku di udara.

“Apa?”

“Timmu ‘kan punya fisioterapis.”

Aku memasukkan laptop ke dalam tas.

“Ke depannya, kalau pertunjukan sudah selesai, minta mereka saja yang memijatmu.”

Kelvano menatapku. Kedua alisnya perlahan berkerut.

“Soraya, kamu masih kesal gara-gara waktu 10 menit itu?”

Aku tidak menjawab.

Kelvano menarik kembali tangannya. Nada suaranya terdengar sedikit lelah.

“Kamu juga lihat sendiri jadwalku akhir-akhir ini. Aku bukan sengaja nggak menemanimu.”

“Hmm.”

“Minggu depan saja.”

Kelvano seolah sedang menghadapi pertengkaran sepele. Setelah berpikir sejenak, dia menawarkan kompensasi yang menurutnya sudah cukup murah hati.

“Waktu kita minggu depan kutambah jadi dua puluh menit. Bagaimana? Sudah cukup?”

Dua puluh menit.

Dua kali lipat dari jatah sepuluh menit yang semula dijanjikan.

Haruskah aku merasa senang?

Kalau dulu, aku pasti akan senang.

Aku akan meluangkan satu malam penuh jauh-jauh hari, menolak semua pekerjaan, memilih restoran dengan saksama, lalu berulang kali memastikan apakah ada pertunjukan mendadak dalam jadwalnya.

Sekalipun pada akhirnya hanya ada dua puluh menit yang benar-benar menjadi milikku, aku tetap akan menghibur diri dengan berpikir bahwa Kelvano sudah berusaha semaksimal mungkin.

Namun, baru tadi malam, Kelvano duduk di gedung konser yang kosong dan memainkan selo untuk Lily selama tiga jam penuh.

Perempuan itu tertidur di kursi barisan depan.

Kelvano takut suara selo yang berhenti akan membangunkannya. Karena itu, sambil menahan sakit di pergelangan tangannya, dia terus mengulang komposisi itu berkali-kali.

Bahkan sekali memainkan komposisi itu saja sudah memakan waktu lebih dari dua puluh menit.

Ternyata, waktu yang harus kutunggu selama seminggu penuh hanya cukup baginya untuk menidurkan perempuan lain.

Aku menunduk tanpa menjawab.

Kelvano menunggu beberapa saat.

Mungkin menganggap diamku sebagai persetujuan, raut wajahnya yang semula tegang perlahan mengendur.

“Rendaman herbalnya jangan terlalu panas, seperti biasa saja.” Setelah berkata demikian, dia berbalik dan masuk ke kamar mandi.

Tak lama kemudian, terdengar suara air mengalir.

Aku tidak mengambil kantong ramuan herbal.

Aku juga tidak lagi berjongkok di samping bak mandi seperti biasanya untuk mengatur suhu airnya dengan saksama.

Sebaliknya, aku kembali membuka laptop dan masuk ke sistem perusahaan.

Surat konfirmasi penugasan ke Westoria sudah berada di sana selama beberapa jam.

Masa penugasan tiga tahun.

Keberangkatan tujuh hari lagi.

Di bagian paling bawah halaman, terdapat kolom kosong yang menunggu tanda tanganku.

Saat itu, suara Kelvano terdengar dari dalam kamar mandi.

“Soraya, airnya sudah kamu siapkan?”

Aku menggenggam tetikus, lalu berhenti sejenak di atas tombol konfirmasi.

Sesaat kemudian, aku mengekliknya.

Sistem menampilkan sebuah pemberitahuan.

[Permohonan resmi berlaku.]

Aku menatap layar dan untuk pertama kalinya, tidak menjawab panggilannya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 10

    Tiga bulan setelah perceraian, Kelvano mengumumkan bahwa dirinya akan kembali ke panggung.Konser itu tidak menggunakan trik promosi apa pun dan tidak melibatkan tim film dokumenter.Komposisi terakhir dalam daftar pertunjukan adalah [Orang yang Paling Dicintai.]Setelah kabar itu tersebar, media ramai menebak-nebak apakah aku akan hadir.Kelvano menyisihkan satu tiket di barisan depan untukku. Kali ini, kartu nama di kursi itu dengan jelas bertuliskan Soraya. Namun, aku tidak pulang ke tanah air.Saat pertunjukan dimulai, aku sedang menyunting episode terakhir [Mereka yang Tak Dikenal.]Asistenku menjulurkan kepala ke dalam ruangan.“Kak Soraya, siaran langsungnya sudah dimulai. Kamu nggak mau menonton?”“Nggak mau.”“Benar nggak menonton? Di internet bilang, malam ini dia mau bikin gebrakan, tahu.”Aku mengenakan headphone.“Hasil akhirnya harus diserahkan besok pagi.”Asistenku mengangkat bahu, lalu menutup pintu.Belakangan, rekaman pertunjukan itu tersebar luas di internet.Setela

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 9

    Pernyataan terbuka Kelvano tidak menyisakan ruang untuk membela dirinya sendiri.Dia mengakui bahwa dirinya telah membiarkan film dokumenter itu memanipulasi kronologi kejadian.Dia juga mengakui bahwa pengaturan tempat duduk keluarga dan penempatan kamera saat pemutaran perdana merupakan keputusannya.Selain itu, dia mengakui bahwa selama tiga tahun terakhir, dia hanya meluangkan sepuluh menit setiap minggu untuk istrinya.Opini publik langsung meledak.Ada yang mencacinya sebagai pria yang tidak tahu berterima kasih.Ada pula yang mengatakan bahwa citranya sebagai pria setia dan penuh cinta selama ini hanyalah lelucon belaka.Sejumlah merek pun mengakhiri kontrak dengannya.Pertunjukannya ditunda.Bahkan, tur konser yang telah dipersiapkan selama setengah tahun pun terpaksa dibatalkan.Manajernya bertanya perlukah mereka menyiapkan penanganan humas.Dia menolak. “Yang mereka katakan itu fakta.”Film dokumenter itu ditarik secara permanen dari peredaran.Pihak produksi menyampaikan pe

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 8

    Pada hari kedua Kelvano dirawat di rumah sakit, aku terbang ke Kota Cigana untuk mewawancarai seorang komponis keturunan Barat yang sudah lama pensiun.Dia telah menolak lebih dari sepuluh media.Setelah kami bertemu, dia melirik sekilas daftar pertanyaan wawancara yang kubawa.“Kamu juga mengerti selo?”“Sedikit.”“Ada anggota keluargamu yang memainkannya?”Aku terdiam sejenak.“Dulu ada.”Wawancara itu berlangsung selama tiga jam.Saat wawancara berakhir, pria tua itu tiba-tiba bertanya kepadaku, “Kenapa kamu selalu bertanya tentang orang-orang di balik sebuah karya yang diabaikan?”Salju turun di luar jendela.Aku mematikan alat perekam.“Karena aku pernah menjadi orang seperti itu.”Dia menatapku cukup lama, lalu mengangguk.“Kalau begitu, liputan ini kuserahkan kepadamu.”Setelah berita eksklusif itu diterbitkan, jumlah pembacanya segera melampaui rekor perusahaan.Atasanku memanggilku ke kantornya.“Laporan utama edisi depan, kamu yang tangani.”Aku menerima dokumen itu.Di sampu

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 7

    Saat Kelvano muncul di depan gedung kantor, aku baru saja menyelesaikan rapat.Dia berdiri di tengah angin dingin, hanya mengenakan mantel hitam. Matanya memerah, dipenuhi urat-urat halus yang terlihat jelas.Aku berhenti melangkah.“Kenapa kamu datang ke sini?”Seolah akhirnya bisa bernapas lega, Kelvano segera menghampiriku dan meraih pergelangan tanganku.“Kita bicarakan setelah pulang.”Aku menarik tanganku kembali.“Aku nggak akan pulang.”Tangan Kelvano terhenti kaku di udara.“Soraya, jangan buat keributan di sini.”“Aku bekerja di sini.”Aku menatapnya.“Kamu yang justru menerobos masuk ke perusahaan orang lain.”“Baiklah.”Dia berusaha menahan emosinya.“Kalau begitu, kita cari tempat untuk bicara.”Ada sebuah kafe di lantai bawah gedung kantor.Setelah kami duduk, Kelvano mendorong selembar foto dari acara pemutaran perdana ke hadapanku.Dalam foto itu, aku duduk di barisan paling belakang, dengan sorotan lampu menyapu sisi wajahku.“Aku nggak tahu juru siaran akan mengalihka

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 6

    Setelah mendarat, aku tidak menyalakan ponsel pribadiku.Cabang Westoria mengirim mobil untuk menjemputku.Tempat tinggalku yang baru tidak terlalu besar, tetapi dari jendelanya terlihat sungai.Rekan kerjaku membantuku membawa kardus-kardus ke ruang tamu, lalu menunjuk dinding yang masih kosong sambil tersenyum.“Untuk sementara, tinggal di sini dulu saja. Nanti kalau ada waktu, aku antar kamu beli perabotan, ya.”“Begini sudah cukup bagus.”Aku membuka kardus.Di bagian paling atas terdapat satu set peralatan wawancara.Tidak ada kantong ramuan herbal untuk berendam.Tidak ada plester pereda nyeri.Bahkan, tidak ada sandal bersol lembut yang biasa dipakai Kelvano setiap kali selesai tampil.Ternyata, kehidupan yang benar-benar menjadi milikku sendiri tidak membutuhkan banyak ruang....Sementara itu, keadaan di tanah air sudah kacau.Pada hari pesta perayaan keberhasilan film dokumenter, sutradara tiba-tiba menerima surat resmi dari pengacara.Aku secara tegas menolak memberikan izin

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 5

    Setelah pesawat memasuki ketinggian jelajah, ponselku benar-benar kehilangan sinyal.Aku menyandarkan tubuh pada kursi dan memejamkan mata....Pada saat yang sama, Kelvano baru saja mengantar Lily pulang.Lily berdiri di samping pintu mobil dengan mata yang masih memerah.“Kak Kelvano, apa Kak Soraya salah paham?”“Belakangan ini suasana hatinya memang kurang baik.”Kelvano melirik ponselnya. Pesannya belum dibalas.Dia sedikit mengernyit, lalu mengirimkan satu pesan lagi.“Dua hari lagi juga dia akan baik-baik saja.”Lily menggigit bibirnya. “Ini semua salahku. Di pemutaran perdana tadi, seharusnya aku nggak duduk di kursi keluarga.”“Tempat duduk itu diatur oleh tim.”“Tapi tadi, lampu sorot hampir saja mengenai dia.” Suara Lily semakin pelan.“Aku yang bilang ke juru siaran, aku takut kamera dan ingin siap-siap lebih awal. Mungkin dia salah paham, makanya terus menyorotku.”Jari Kelvano terhenti sejenak.“Lain kali, jangan ambil keputusan sendiri,” ucapnya dengan nada tidak keras.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status